Pages

Wednesday, April 30, 2008

Jakarta Trail-Wisata Kota Tua @ World Book Days


Museum Fatahilah

Nama Batavia sering kali melekat erat di benak kita, kadang dalam imajinasi gw Batavia itu gw gambarkan sebagai kota eksotis yang berpenduduk multietnis dengan lintangan sungai mengaliri kotanya, duh indah pisan lah kalo ngebayangin Jakarta dahulu kala, dikala masih dikenal sebagai Batavia.
Well itulah Jakarta, Ibu kota Negara ini, sebuah kota kebanggan Negara ini, yang mungkin sebagian orang berfikir bahwa Jakarta enggak lebih dari sebuah kota metropolis yang bisa dibilang ‘nothing special’ bahkan sempet dibilang enggak punya obyek wisata.
OH YAAAAAAAA??? kayaknya pemikiran itu emang enggak bisa dibiarkan terus, secara ya menurut pendapat gw sendiri, DKI memiliki obyek wisata yang enggak ada di tempat lain, yaitu pesona Batavia-nya.Sayang disayang makin berkembangnya gedung-gedung megah, dan meningkatnya jumlah mal-mal atau pusat-pusat belanja,pesona Batavia semakin terkubur sedalam-dalamnya.Sayang ya……
Kenapa gw bilang gini?please deh sobat…kalian semua tengok kawasan yang pernah jadi pusat Batavia, yaitu daerah Kota. Apa yang terjadi disana?Kita hanya melihat barisan bangunan kuno yang berdiri tegak menentang langit namun tak dapat kita prediksi sampai kapan akan berdiri disana, tanpa penghuni…tanpa dirawat …tanpa guna…, padahal bangunan-bangunan itu adalah sepenggal sejarah, sepenggal cerita masa lalu tentang Jakarta, tempat kami berpijak, tempat Negara ini berpusat.Ironis….
Entah sampai kapan kawasan Kota Tua kita akan tetap berdiri dalam kondisi seperti itu, mengenaskan. Padahal dalam ajaran agama manapun gw yakin membiarkan sesuatu terbengkalai percuma adalah bentuk dari prilaku mubazir, iya gak sih?


Kelompok Tour dari MUC

Yang gw heran, kenapa bangunan-bangunan indah yang sarat akan sejarah itu tidak diberdayakan, mungkin jadi tempat wisata atau museum atau bahkan mungkin tempat pementasan teaterical atau seni panggung lainnya?Seperti halnya di Semarang, ada sebuah restoran yang berdiri diatas gedung Kuno yang di furnish ulang, hasilnya?Resto itu megah banget. Gw pernah posting tentang resto ini pas gw jalan-jalan beberapa waktu lalu.
Padahal kalo kita lihat di Negara-negara maju, tempat-tempat semacam itu sangat dibanggakan dan dilestarikan, bahkan kerap menjadi icon tempat wisata sebuah Negara.Karena tempat itulah yang merekam peristiwa demi peristiwa yang terjadi dari abad ke abad…
Entah apa yang akan terjadi jika tempat itu dibiarkan hancur atau justru dihancurkan, mungkin di era anak gw, enggak akan lagi mengenal Batavia, enggak kenal apa itu Sepeda ontel, gak kenal lagi Sunda Kelapa dll, padahal itulah cikal bakal tempat kami berpijak, Jakarta Raya…
Berangkat dari keprihatinan gw itu, gw jadi sangat tertarik untuk ikutan Jakarta Trail, atau Wisata Kota Tua Jakarta.Bertepatan dengan perayaan World Book Day tanggal 23-27 April lalu, panitia penyelenggara bekerjasama dengan Klub Historia mengadakan acara spektakuler tersebut.
Jakarta Trail diselenggarakan tanggal 26 April lalu, semua peserta berkumpul di Museum Bank Mandiri di depan St. Kota.Acara pertama dibuka oleh panitia dengna ditayangkannya film-film kuno yang menggambarkan kota Batavia jaman dulu, duh…ampe merinding deh pas liat film-nya.Kala itu daerah Kota udah maju banget, ada trem segala, persis kayak di Eropa.Dan keren-nya lagi kala itu restoran-restoran punya konsep makan outdoor, jadi sambil makan bisa nyaksiin pemandangan khas sebuah kota.Kebayang gak sih kalo hari gini kita makan di luar gitu yang ada kita disembur metromini kali yah?wakakakk…


Heheheh..ada kompeni nih


Dari sana kami dibagi kelompok,kebetulan anggota kelompok gw mayoritas adalah temen-temen kantor gw, Cicha, Fitri, Rina, Mbak Mey, Yasmin, Iksan dan adik gw Epit. Untuk memandu kami ditunjuk satu orang yang menjadi guide, kebetulan kelompok gw adalah kelompok 2 dengan guide seorang mahasiswa dari UI kalo enggak salah, namanya Bondan ( hi Bondan thx ya udah nemenin jalan-jalan kelompok kami….).Acara tour dimulai dengan melintasi bangunan eks Kantor Dagang Belanda yang menghadap ke anak sungai Ciliwung.Sampe saat ini gedung itu penampakannya sangat menyeramkan, enggak kerawat sama sekali sih, jangan-jangan gak berpenghuni manusia lagi, wekekekek..
Dari sana kami melintasi bangunan-bangunan lain, yang dahulu kala digunakan sebagai sentra bisnis Batavia.Dari sana kami ke Museum Fatahilah, tempat yang menyimpan berjuta banyak cerita penjajahan di Negara ini.




















Bangunan yang masih tegak berdiri itu ternyata sarat akan penderitaan bangsa yah, terbukti dari terdapatnya penjara-penjara wanita dan pria yang sungguh mengenaskan kondisinya. Gak kebayang anak-anak bangsa kita pernah menghuninya…Apalagi penjara wanitanya, oh God enggak bisa dibilang deh, syerem buangeth!!!!, enggak manusiawi banget.
Perjalanan penjelajahan di museum ini ternyata enggak sebentar ya,kami ke lantai 2 gedung ini untuk menyaksikan dan mencoba membayangkan bangunan ini dimasanya.Seperti yang dijelaskan oleh Bondan, bahwa dahulu kala, di gedung ini tempat para hakim memutuskan hukuman penggal bagi pemberontak, dan acara pemenggalan kepala dilaksanakan di pelataran gedung dan pada saat pemenggalan para hakim menyaksikannya dari lantai 2 gedung ini.Di gedung ini juga dipajang si Pedang Maut yang udah memenggal ribuan kepala anak bangsa ini, fhuuuuuuuuuuuuuuuiiih miris!
Dari Museum Fatahilah, kami melanjutkan berkunjung ke museum BI, well di tempat ini acaranya adalah penelusuran sejarah perekonomian Indonesia.Gak jauh-jauh ngomongin soal duit yeh… hehehehe… Honestly, gw kurang tertarik sama kunjungan ke museum ini, well meski tempatnya mewah banget, gw ternyata lebih jatuh hati sama Museum Fatahilah.





























Penjara bawah tanah


Setelah berkunjung ke museum BI, kami istirahat makan siang di Museum Mandiri lagi, dari sana baru melanjutkan perjalanan ke Museum Wayang. Hehehehehe…di perjalanan kedua ini, kelompok gw udah menciut, Rina, Fitri,Yasmine dan Mbak Meyda udah pada teller dan memutuskan untuk mengakhiri perjalanan dan langsung ke JCC nyambangin INAcraft.Sementara gw, Cicha dan Iksan masih semangat, meski Epit udah lemes lunglai, ihihihihihi…
Seperti yang pernah diceritain Anis ke gw, bahwa museum Wayang itu rada menyeramkan, maka aura syerem pun udah merebak di batin gw pas gw masuk museum ini.Setelah ngikutin tour gw baru nyadar kenapa tu tempat nyeremin, mungkin karena tempat itu adalah tempat yang pernah dipakai untuk menyemayamkan jenazah para petinggi VOC jaman dulu dan adanya koleksi boneka dari penjuru dunia yang dipajang disana membuat suasana makin cihuy aja seremnya, wekekekekek…gak janji deh kalo malem-malem tour kesono, pasti merinding buanget.












Sebenernya acara dilanjutkan ke museum keramik, tapi kali ini gw enggak ikutan lagi, alesannya karena emang gw relative sering ke Museum Keramik, secara disana sering diselenggarakan acara pameran lukisan.
Well…capek juga yah menjelajah Kota Tua, tapi herannya gw enggak kapok tuh, malah berharap dapet ijin dari Tori untuk ikutan Wisata Tua dikala Malam, waaaaaaaaaaaaahhh…
Dari acara jelajah Kota Tua gw, Cicha dan Epit melanjutkan perjalanan ke INACraft, hahhaha…ntar liputannya ya,pokoknya seru!
Well..gitu lah liputan gw soal Wisata Kota Tua, mulai sekarang yuk kita lestarikan warisan sejarah bangsa kita.Jadi jangan biarkan tempat-tempat bersejarah milik kita dibumi hanguskan, tolak penggusuran jalan Surabaya juga kalo gitu, ehehhehe...
See ya on next trip!

3 comments:

widie said...

Iya ya sayang banget kalo peninggalan bersejarah cuma dibiarkan begt saja..pdhl dilihat bangunannya seh udah bagus sayang ngga dirawat dan diperbaiki lagi...biasanya biayanya keburu habis jdnya yaa..tinggal puing2nya doang hehehee..

btw, fotonya keren-keren neh..

taNti mustika said...

jeng...

*setelah googling* hiyyaaa...ikut jaktrail juga ya? hehehe...btw punya foto yg pas duduk2 di tangga lobby museum BI (pas mau udahan dari BI itu loohh..) gag? mau dooong... secara di milis blom di upload... kamera gw juga tidak berhasil mengcapturenya... hiks... :P

btw... salam kenal yaaa... :)

ary said...

mantab nih acara jalan2nya. Smoga gue bisa ikutan tuk kloter di bulan Juni, eh betul kan Juni ?