Jaman udah canggih banget, orang
jaman sekarang gak pernah kurang hiburan dan gak pernah kekurangan media
ngabisin kejenuhan. Semua udah ada dalam
sebuah benda kecil disebut smartphone semua jenis hiburan bahkan. Handphone
maupun tab laris manis di Indonesia,trakhir saya dapat info Indonesia adalah pengguna Tab terbesar di
dunia. Ya gimana enggak, anak 3 tahun jaman sekarang tinggal di Indonesia rata2
punya tab semua, masing2 nenteng gadget modern itu kemana pergi.
Dari games, playlist music,
berita sampe e-book ada semua di tab atau smartphone tiap orang. Saya juga
pengguna smartphone. Cukup gemar media social karena bisa berjumpa dan akrab-
akrab lagi sama teman- teman lama saya. Lalu saya juga sering ngandelin
playlist di smartphone untuk menghibur diri saat naik kereta sepulang kerja,
tapi untuk games, berita dan ebook jarang banget pake media smartphone. Saya
sendiri gak punya tab, awalnya punya, lalu merasa gak praktis, karena harus
bawa2 gadet yang butuh diperhatiin batere nya, ah ribet, akhirnya skrg cuma pake
satu smartphone saja, cukup dan tanpa power bank pula, saya bener2 orang jadul
yang gak suka ribet.
Saya nulis ini cuma mau
menggambarkan bahwa jamak banget bagi orang sekarang menikmati kesendiriannya
tanpa harus kesepian. Orang sekarang juga mungkin mulai menikmati masa2 antri
panjang menunggu sesuatu karena tak lagi menjemukan. Dan untuk itu semua orang
menghibur dirinya dengan gadget- gadget canggih dalam genggaman.
Saya enggak tau ya efek jangka
panjangnya orang- orang yang kecanduan menggunakan gadget dan ikut menulari
kebiasaan itu pada anak- anaknya. Tapi saya sendiri melihatnya, anak anak emang
cenderung meniru dan susah sekali untuk dihentikan sekalinya kita mengajarkan
gaya hidup tertentu pada mereka.
Saya ambil contoh soal gadget
play station, mungkin anak- anak saya terlihat ndeso saat pergi bersama, mereka
tidak menenteng gadget apa2, tidak juga smartphone, ipad atau tab apalagi
playstation portable. Tapi saya mensyukuri ini, karena anak2 jadi lebih banyak
aktif permainan fisik, dan khusus untuk Lulla ia menaruh minat yang besar pada
handcraft. Saya juga mudah mengarahkan Lulla untuk membaca buku. Saya pun
akhirnya tidak mengalami masa2 senewen karena harus pake perang melepaskan anak
balita saya maupun gadis kecil saya dari kecanduan PSP. Saya pernah lihat teman
saya sampe harus marah besar ketika melihat anaknya ngamuk karena harus
mematuhi aturan pembatasan main Playstation. Duh kok ya jadi repot ya gara gara
benda satu ini pikir saya.
Buat anak- anak saya, saya ingin
mereka tumbuh normal setidaknya mirip seperti saya kecil dulu. Saya kecil
bersama abang, adik dan kakak perempuan
saya yang lain, kami tidak pernah difasilitasi mainan mahal, abang saya pernah
punya SEGA kala itu anak2 lain sudah main PS, hahah… ktinggalan jaman banget.
Saya pun hanya pula 1 buah Barbie yang harus saya mainkan berdua dengan adik
saya. Itupun baju barbienya cuma 1 stel itu aja, membuat saya kreatif menjait
sendiri baju Barbie saya dengan kain bekas, saat itu usai saya kelas 5 atau
kelas 6 SD. Saya dan kakak2 pun jika mau beli buku jarang diprovide beli buku
baru di toko buku, tapi lebih banyak diarahkan hunting buku bagus di toko
bekas, oleh karena itu saya sampe sekarang saya punya rasa excited besar saat
menemukan bazaar buku murah, jaman sekarang beli buku murah kadang jauh lebih
hemat dibanding harus nawar di bursa buku bekas.
Saya ingin anak2 menjadi sekuat
dan sekreatif itu menjalani hidup. Saya gak setuju jika harus provide apa2 yang
sama dengan teman2 nya, bukan karena saya tidak mampu, tapi saya ingin mereka
lebih keras meraih keinginan mereka, mereka harus lebih kreatif menggapai
keinginan mereka.
Saya memang gak bisa ‘plek’
menyamakan situasi saya kecil yang tumbuh di kota kecil dengan kehidupan sederhana
dengan kondisi anak2 saya sekarang, tapi setidaknya hidup sederhana dan penuh
perjuangan telah saya tanamkan sejak dini. Konsep hidup hura hura, glamor dan
mudah, saya upayakan untuk tidak mereka biasakan dalam hidup mereka. Untuk itu saya
mulai dengan kebiasaan mereka untuk tidak saya fasilitasi dengan gadget mahal
sepertinya sebuah awalan yang sejiwa dengan prinsip didikan saya.
Saya tidak maksud menyatakan ini
pola didikan terbenar bagi semua parents, tapi bagi saya dan suami pola ini
yang kami pilih. Bagi para parents lain pasti punya strategi lain yang mungkin
lebih cocok dan pas dengan latar belakang maupun visi misi hidupnya.
No comments:
Post a Comment