Pages

Tuesday, November 12, 2013

Belajar Public Speaking

Saya senang bergaul dan berteman, dari kecil seperti itu, tapi ternyata cukup pengecut jika harus berbicara di public, apalagi bicara di forum yang serius. Saya saat saat SMA bukan anak bodoh, saya begini begini selalu masuk rangking 3 teratas di kelas, tapi jangan harap guru melihat saya sebagai siswa tauladan yang aktif di kelas, saya jarang bertanya atau kasih pendapat. Karena menurut saya saat itu bersikap begitu kelihatan lebay dan show off, selain itu saya juga grogi jika harus bicara di depan kelas dan menatap mata guru, padahal kalau tidak ada guru saya juara nakal nya di kelas.



Kebiasaan itu terus berlangsung sampai saya lulus kuliah, padahal ketika kuliah cukup aktif di organisasi, tapi ya itu saya tidak kehabisan akal untuk cari orang lain yang bisa saya sodorkan untuk bicara di forum selain diri saya pokoknya!  Sampai pada suatu titik saya mau gak mau harus memberanikan diri bicara di depan umum, saat saya jadi HRD, gak ada orang lain yang wajib menyampaikan kebijakan perusahaan selain saya, finaly saya kehabisan gaya untuk meyodorkan orang lain, maka saya pun menghadapi kenyataan, bicara di depan umum untuk pertama kalinya!

Hal itu akhirnya terus berlangsung, saya mulai terbiasa menerima tugas- tugas untuk menghadapi audience dari internal karyawan di perusahaan tempat saya bekerja.
Saya gak tau awalnya dimana, sampailah akhirnya saya mulai dapat tawaran ngisi seminar-seminar bertemakan soft skill diluar perusahaan dengan audiencenya adalah orang- orang diluar karyawan perusahaan tempat saya bekerja, orang- orang yang betul- betul asing buat saya. Dan hasilnya betul- betul berjalan lancar, bahkan kembali dapat undangan demi undangan serupa. Saya amazed sendiri, saya enggak pernah diajarkan public speaking apalagi kursus public speaking, tau- tau sudah dapat beberapa kali undangan jadi trainer di beberapa universitas.

Secara otodidak pun saya berlatih membuat materi- materi presentasi untuk training – training yang dibawakan, sekali lagi tanpa kursus formal, semua bergulir begitu saja.
Disini saya cuma mau share untuk pembaca yang mungkin memiliki masalah yang sama seperti saya dulu, takut jika harus bicara di depan umum, bagaimana menghadapinya? Saya yang dulunya sama sekali tidak terbayang untuk (akhirnya) memiliki skill ini dan ternyata bisa membuat orang cukup mencerna dan memahami apa yang saya sampaikan, merasa perlu berbagi tips, supaya apa yang saya dapat bisa bermanfaat, minmal untuk pembaca blog ini.

Berikut tips dari saya :
1.      Amati dan adopsi caranya
Amati trainer- trainer professional yang anda temui di media televisi maupun di acara training yang anda hadiri, lihat cara mereka luwes dalam bergerak. Lihat cara mereka berbicara kata perkata, dengan artikulasi yang jelas dan kepercayaan diri yang kuat. Gaya luwes bagaimana mereka memegang mic, saat batuk, saat curious menanggapi pertanyaan,cara mereka memposisikan diri bahkan materi menarik dan gaya joke mereka di panggung.

2.      Kuasai Materi

Kuasai materi training yang akan anda sampaikan, untuk awalan saya anjurkan anda melakukan riset sendiri, menyusun sendiri materi anda meski anda memiliki team persiapan yang cukup. Mengapa? Karena dengan anda menyusun sendiri materi anda, anda menguasinya secara tidak langsung, anda akan hapal luar kepala, tau betul detail- detail yang akan anda sampaikan. Saat anda di hadapan audience anda bukan menjadi orang yang membacakan slide anda, tapi menjadi orang yang menjelaskan isi slide anda, ingat semakin ringkas slide anda semakin terbuka ruang lebar bagi anda untuk menjelaskan isi materi anda.
 
3.      Hadapi Rasa Grogi
Saya percaya, trainer atau public speaker sekaliber apapun pasti memiliki rasa grogi, bohong kalau tidak. Tapi ada beberapa cara menghadapinya, pertama peganglah pulpen di salah satu tangan yang bebas, buat saya pulpen atau pointer adalah benda yang paling mungkin dipegang saat jd trainer, gak mungkin juga megang hp atau dompet kan? Heheh

4.      Kenali suara anda
Maksudnya gini, ada orang yang terlahir dengan suara cempreng, nah saya salah satunya, saya kalau bicara biasa sungguh tidak enak didengar, nyanyi pun begitu, jauh dari merdu. Tapi saya realize bahwa jika saya bicara dalam keadaan,serius saya mampu mengeluarkan suara2 yang lebih dalam atau berat. Nah saya latih ini kesekian kali, sampai saya tau ini suara saya yang akan saya tampilkan di public, bukan suara cempreng berisik saya biasanya. Mengapa? Setidaknya orang butuh kenyamanan saat mendengar kita bicara, agar materi yang disampaikan dapat dicerna tanpa harus membuat telinga orang lain sakit.

5.      Kontak mata
Ini masalah klasik yang sering timbul bagi public speaker, materi bagus, outlook bagus tapi gak menatap audience, justru menatap ke slide dan seolah hanya membacakan slide saja. Saya jamin trainer seperti ini hanya akan membuat audiencenya ngantuk, karena seolah tidak ada interaksi antara audience dengan trainernya. Anggaplah kita ngobrol dengan audience kita, anggaplah kita berdiskusi atau seolah kita sedang mengemukakan pendapat dihadapan mereka, dengan cara itu anda akan terus jaga kontak mata anda dengan mereka. Belakangan ini saya selalu akan menatap mata audience saya yang terlihat sudah mulai ngantuk atau sering bisik2, tujuannya agar mereka kembali focus kepada saya.

6.      Lemparkan Joke dan Berita Masa kini
Saya menyukai gaya trainer yang update, gaul, bisa kasih joke yang terkini dan mengangkat issue2 update. Saya perhatikan audience juga begitu mereka cukup senang jika kita memberi sample- sample kasus yang berkaitan dengan berita yang sedang hangat. Atau saya melemparkan joke2 yang terkait dengan topik2 yang hangat atau saya menampilkan video/ gambar yang terkait dengan issue2 yang sedang happening. Untuk itu banyak-banyaklah membaca berita, dengar radio dan media social yang rajin menyuguhkan berita dan isue2 hangat, combine lah dengan materi- materi training anda.

7.      Berpakaianlah dengan wajar
Menjadi pembicara di depan umum, sungguh menimbulkan efek deg- deg an tersendiri, semua orang tampak memperhatikan kita, itu benar adanya. Orang menatap kita, untuk mereka menatap kita tanpa membuat mereka harus melemparkan pandangan aneh apalagi bisik2, cobalah berpakaian yang aman, artinya normal dan tidak mencolok, tapi rapi, resmi dan tanpa aksesoris mencolok, agar sebagai awalan anda tidak perlu cemas atas pandangan orang yang terfokus terhadap pakaian anda.

 Yah paling saya baru bisa kasih contekan segitu tentang gimana saya melewati masa ketakutan saya saat menghadapi audience. Yang terpenting, semua trainer/ public speaker itu wawasannya luas, membuat dirinya tak habis akal menyampaikan sesuatu, jadi sekali lagi, membaca itu penting buat anda yang mau mulai belajar public speaking! Selamat Belajar J

1 comment:

Jonathan Li said...

 Great blog post. I had trouble in pubic speaking too. But I finally found the system that worked for me and my friends. I have free info about this on my site at www.expressivedegrees.com