Ini adalah cerita saya waktu pertama kali mendapat Raport akademik sekolah Lulla. Tidak sempat terposting, tapi sekarang saya posting ya :)
________________________________________________________________________________
Mungkin hampir seluruh ibu di dunia ini akan merasakan sama dengan apa yang saya rasakan, kawatir dengan prestasi anak- anaknya di sekolah. Yah,sejak Lulla masuk SD saya memang menjadi panik setiap kali dia akan menghadapi ulangan, karena saya tau betul bahwa psikologis anak yang dari TK ke SD itu lumayan berat.
Di TK anak-anak kan belum dituntut banyak, sementara di SD anak dituntut untuk mengejar prestasi. Kejadian pada Lulla, ia masih gak mengerti apa itu ulangan, kenapa harus ada jatah waktu pengerjaan soal, kenapa harus ngerjain PR, apa itu nilai, guna nilai itu apa. Dan lain sebagainya. Hal- hal yang gak mudah untuk dijelaskan.
Dengan kondisi seperti itu membuat Lulla seperti seperti malas2an dalam melakukan review pelajaran. Sebelum ulangan pun sepertinya santai2 saja, kadang malah saya yang sangat tegang dan panik, sementara ia tetap santai saja.
Saya akui Lulla adalah anak yang cerdas,dari sisi IQ ia memiliki keunggulan dengan berada di angka 120 (superior) jika diukur dengan skala Wechsler, tentunya tidak sulit baginya menangkap sebuah pelajaran, tapi menilik dari pola santai yang dia terapkan dalam belajar, saya tetap kawatir.
Ditambah dengan kesibukan saya mengurus Brave yang masih bayi dan mengurus karier saya yang juga gak tau kapan santainya, saya jadi terbatas untuk punya waktu mengajar Lulla.
Terkadang saya menyempatkan diri sepulang kerja mereview pelajaran, mengoreksi PR, mengajari pelajaran sekolah dan lain2. Kadang itu juga dirasa tidak kondusif, dimana di fisik saya yang lelah kadang membuat saya hilang kesabaran. Jadi yah, kadang seadanya saja.
Tapi memang kunci mengajar anak bukan kuantitas semata tapi kualitas dan kontiunuitas,jadi gak bisa asal2an dan suka2 aja yah. Harus tekun biar mental belajar anak terbentuk disitu. Jujur saya belum sukses untuk itu.
Di bagi raport kemarin saya merasa belum maksimal, dari nilai-nilai raport yang dibagikan oleh sekolah, Lulla mendapat dua angka 10 yaitu di mata pelajaran English dan Bahasa Indonesia, dan nilai paling kecil adalah angka 8 untuk olahraga. Sepintas terlihat memuaskan karena buku raport dihiasi dengan angka 8,9 dan 10, tapi ternyata Lulla hanya berhasil menempati peringkat ke 3 di kelasnya.
Not bad but not really good, ehehehe...masih gak puas aja. Karena saya yakin jika diasah dengna baik anak ini pencapaiannya akan lebih dari ini. Tapi saya cukup mengapresiasi dia atas pencapaian itu, lumayan lah untuk anak yang begitu santainya itu. Jadi saya tetap mengucap terimakasih atas persembahan prestasinya, dan saya juga masih berharap ada peningkatan yang berarti di semester mendatang.
Memang ini adalah fase yang gak mudah, dimana merawat bayi sendiri,mewujudkan impian memberi ASI sampai 2 tahun, harus dibarengi dengan memberi bimbingan belajar buat Lulla dan karier yang gak ada santainya, semoga Allah kasih kemudahan, karena balik ke prinsip hidup saya : HIDUP HARUS DIISI DENGAN KERJA KERAS AGAR BERMANFAAT BAGI UMAT DAN AGAR JADI AMALAN BEKAL AKHIRAT, ehehehhe...
Thursday, November 21, 2013
Wednesday, November 20, 2013
Menuju Life Satisfaction
M
|
anusia tidak akan
pernah cukup, istilah yang sering sekali kita dengar. Meski itu benar adanya,
saya berpendapat tiap manusia perlu untuk memiliki rasa kepuasan dalam
hidupnya, setidaknya berdamai dengan diri atas takdir dan kehidupan yang Allah
berikan kepadanya. Meski kita tidak boleh menyerah dan segera puas atas apa
yang kita peroleh, namun sebagai manusia yang bijak, anda punya hak untuk
memilah mana yang anda anggap cukup dan mana hal yang anda anggap harus terus
diperbaiki dan upayakan untuk jadi yang terbaik diantara manusia lainnya.
Kemampuan memilah
ini saya kaitkan dengan life satisfaction
seseorang. Kalau menurut literatur, life
satisfaction adalah komponen kognitif dalam subjective well being, subjective
well being mengacu pada perasaan subjektif individu bahwa kehidupannya
berjalan dengan baik. Subjective well
being ini diidentifikasi sebagai positif affect dan negative affect.
Komponen afektif ini mengacu pada evaluasi langsung terhadap peristiwa yang
terjadi dalam kehidupannya, meliputi perasaan yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan yang dialami individu dalam hidupnya. Kepuasan hidup sendiri
merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman- pengalamannya yang
disertai dengan tingkat kegembiraanya. Dan life
satisfaction dapat diukur dari seberapa baik dan memuaskan hal- hal yang
sudah dilakukan individu tersebut dalam kehidupannya secara menyeluruh dan atas
area utama dalam hidup yang mereka anggap penting, seperti hubungan
interpersonal, kesehatan, pekerjaan, pendapatan, spiritualitas dan aktifitas di
waktu luang. Dan hal ini berpatokan dari kepercayaan orang tersebut dalam menilai
kehidupannya, ia yang dapat menilai apakah situasi dan kondisi kehidupannya
positif dan memuaskan atau tidak.
Intinya seberapa
besar seseorang merasa cukup puas atas kehidupannya, setidaknya untuk aspek-
aspek penting dalam hidupnya. Saya yakin sekali life satisfaction akan berkaitan erat dengan rasa syukur seseorang
atas kehidupan yang Allah berikan.
Mengapa demikian?
Karena, kadang kita
sebagai manusia sering lupa, bahwa hidup kita sudah cukup, bahkan jauh lebih
cukup dari orang lain. Contoh, saya pernah menemukan seseorang yang telah memiliki
pernikahan, anak-anak, rumah sendiri dan kendaraan, tapi orang itu tidak puas
atas apa yang dimilikinya, ia mudah terpancing ketika tetangganya membeli mobil
baru yang lebih bagus dari miliknya, ia kadang kurang bisa menerima dengan
lapang dada melihat orang lain naik jabatan sementara ia tidak. Padahal jika
dilihat dari apa yang ia miliki, ia memiliki hidup yang lebih dari cukup, namun
kehidupan orang yang ia nilai lebih baik dari dirinya membuat ia terusik, resah
dan mencari cari kesalahan pada banyak hal.
Saat menemukan hal- hal semacam ini, menurut
saya cobalah tenang, jangan tergesa- gesa melakukan judging pada banyak hal, entah pada tingkat keberhasilan diri anda
meraih materi ,maupun pertanyaan mengapa anda tidak meraih prestasi tertentu,
ada baiknya anda ‘bicara’ dengan diri sendiri terlebih dahulu. Anda sebaiknya
mengembalikan pada pemikiran bahwa tiap orang punya beban hidup dan prioritas masing-
masing yang sudah pasti tidak sama dengan anda. Dan jika anda melihat orang meraih
prestasi tertentu, pernah kah anda berfikir lebih bijaksana, bagaiamana cara
agar anda mampu meraih prestasi yang
sama baiknya, apakah anda memiliki kapasitas sebaik orang itu, apakah
kontribusi anda sebesar kontribusi orang itu? jika belum bagaimana meraihnya?.
Jika anda melihat orang memiliki barang
yang lebih bagus dari milik anda, pernahkah anda berfikir apakah benda yang
sama suitable for me? Dalam artian
sudah pantaskah anda memiliki hal yang sama, baik dari sisi kecukupan dana,
maupun kesesuaian antara barang tersebut dengan kebutuhan/ prioritas dalam
hidup anda?
Sebenarnya, tidak
ada yang salah dengan berupaya untuk meraih sesuatu, yang salah adalah jika kita
TIDAK menyusun prioritas pencapaian dengan baik, dan kita terlalu sibuk melihat
dengan barometer diluar diri kita tanpa melihat kedalam diri kita sendiri.
Jika kembali
mengangkat pada apa yang terjadi pada contoh yang saya berikan tadi, dimana seseorang
mudah terpancing melihat orang membeli kendaraan yang lebih bagus dari miliknya
lalu ia otomatis membentuk mindset bahwa “wah saya jangan sampe kalah dari dia”,
lalu mati- matian mengupayakan untuk memiliki benda yang sama, saya kawatir
orang ini menyusun prioritas yang salah dalam hidupnya. Karena sebuah benda
tidak merefleksikan apa- apa tentang diri anda. Dalam hal ini kendaraan
hakikatnya adalah kebutuhan dan berkaitan dengan kemampuan, tanpa memiliki
kendaraaan yang sama atau lebih baik dari yang dimiliki orang, anda akan tetap
hidup baik-baik saja dan tidak sengsara. Jika orang itu punya prioritas
tertentu, anda tentu memiliki prioritas lain dalam hidup, mungkin anda bisa
lebih fokus mempersiapkan hal hal yang lebih penting bagi kehidupan anda. Jika
memang prioritas penting dalam hidup anda sudah terpenuhi, anda pun ternyata memiliki
kebutuhan yang membuat anda harus membeli kendaraan yang lebih baik dari yang
dimiliki sekarang dan ternyata anda masih memiliki dana lebih dari cukup, itu
artinya anda memang patut memilikinya tanpa harus memaksakan diri. Sekali lagi
tujuannya bukan karena anda ingin dilihat oleh orang atau terlihat lebih hebat
dari orang, tapi karena prioritas hidup anda sudah beres, anda pun membutuhkannya
untuk kemudahan hidup anda sekeluarga serta anda pun punya dana lebih untuk hal
itu.
Inilah realita hidup yang saat ini kita
hadapi, orang kadang terpancing untuk aktif mengawasi hidup orang lain dan
mengabaikan Life Satisfaction nya
sendiri.
Untuk itu cobalah tips berikut ini :
1.
Susunlah prioritas-
prioritas hidup anda sesuai dengan porsi hidup anda, jangan mengacu pada
kehidupan orang, karena hidup kita, pandangan kita, kebutuhan kita dan rezeki
kita tentu tidak sama dengan orang lain.
2.
Berbahagia atas apa
yang anda punya, ikutlah berbahagia atas keberhasilan orang, dan jadikan
keberhasilan orang lain sebagai inspirasi dan energy positif yang ikut mendorong
anda untuk bahagia dan menjadi kekuatan anda dalam mengejar mimpi bukan sebagai
pengusik rasa bahagia dan tujuan hidup.
3.
Jujur atas hidup
anda, buat diri anda percaya diri atas diri anda bukan barang- barang atau hal-
hal lain yang melekat di diri anda. Menjadi percaya diri bukan berarti merasa
selalu lebih baik dari orang lain, menjadi percaya diri artinya mencoba jujur
dihadapan orang atas kekurangan diri anda, mau belajar, mau menerima kritik dan
dengan fair mengakui kesalahan dan meyakini diri sendiri untuk dapat
memperbaikinya. Jangan pernah menjadi orang yang gemar mencari kesalahan orang
lain dan mengkambing hitamkan orang lain atas kekurangan atau kesalahan anda,
karena hal ini dapat menghalangi proses belajar pada diri anda sendiri.
Menjadi pribadi seperti dikatakan tips
diatas akan membuat anda selalu merasa bersyukur dan secara damai dapat menerima
kenyataan apa yang anda dimiliki dan tidak dimiliki, secara tidak langsung hal
itu akan membuat anda berpacu melakukan perbaikan
diri dengan cara yang positif, saya yakin pula anda akan jauh lebih bahagia,
lebih menghargai diri dan hidup tenang tanpa harus berhenti berusaha
memperbaiki diri. Jika sudah demikian, maka katakan selamat datang pada Life Satisfaction!
(ErryTMRiyadi)
Tuesday, November 12, 2013
Belajar Public Speaking
Saya senang bergaul dan berteman, dari kecil seperti itu,
tapi ternyata cukup pengecut jika harus berbicara di public, apalagi bicara di
forum yang serius. Saya saat saat SMA bukan anak bodoh, saya begini begini
selalu masuk rangking 3 teratas di kelas, tapi jangan harap guru melihat saya sebagai
siswa tauladan yang aktif di kelas, saya jarang bertanya atau kasih pendapat.
Karena menurut saya saat itu bersikap begitu kelihatan lebay dan show off,
selain itu saya juga grogi jika harus bicara di depan kelas dan menatap mata
guru, padahal kalau tidak ada guru saya juara nakal nya di kelas.
Kebiasaan itu terus berlangsung sampai saya lulus kuliah, padahal ketika kuliah cukup aktif di organisasi, tapi ya itu saya tidak kehabisan akal untuk cari orang lain yang bisa saya sodorkan untuk bicara di forum selain diri saya pokoknya! Sampai pada suatu titik saya mau gak mau harus memberanikan diri bicara di depan umum, saat saya jadi HRD, gak ada orang lain yang wajib menyampaikan kebijakan perusahaan selain saya, finaly saya kehabisan gaya untuk meyodorkan orang lain, maka saya pun menghadapi kenyataan, bicara di depan umum untuk pertama kalinya!
Amati trainer- trainer professional yang
anda temui di media televisi maupun di acara training yang anda hadiri, lihat
cara mereka luwes dalam bergerak. Lihat cara mereka berbicara kata perkata,
dengan artikulasi yang jelas dan kepercayaan diri yang kuat. Gaya luwes
bagaimana mereka memegang mic, saat batuk, saat curious menanggapi pertanyaan,cara
mereka memposisikan diri bahkan materi menarik dan gaya joke mereka di
panggung.
2. Kuasai Materi
Kuasai materi training yang akan anda sampaikan, untuk awalan saya anjurkan anda melakukan riset sendiri, menyusun sendiri materi anda meski anda memiliki team persiapan yang cukup. Mengapa? Karena dengan anda menyusun sendiri materi anda, anda menguasinya secara tidak langsung, anda akan hapal luar kepala, tau betul detail- detail yang akan anda sampaikan. Saat anda di hadapan audience anda bukan menjadi orang yang membacakan slide anda, tapi menjadi orang yang menjelaskan isi slide anda, ingat semakin ringkas slide anda semakin terbuka ruang lebar bagi anda untuk menjelaskan isi materi anda.
3. Hadapi Rasa Grogi
Saya percaya, trainer atau public speaker sekaliber apapun pasti memiliki rasa grogi, bohong kalau tidak. Tapi ada beberapa cara menghadapinya, pertama peganglah pulpen di salah satu tangan yang bebas, buat saya pulpen atau pointer adalah benda yang paling mungkin dipegang saat jd trainer, gak mungkin juga megang hp atau dompet kan? Heheh
4. Kenali suara anda
Maksudnya gini, ada orang yang terlahir dengan suara cempreng, nah saya salah satunya, saya kalau bicara biasa sungguh tidak enak didengar, nyanyi pun begitu, jauh dari merdu. Tapi saya realize bahwa jika saya bicara dalam keadaan,serius saya mampu mengeluarkan suara2 yang lebih dalam atau berat. Nah saya latih ini kesekian kali, sampai saya tau ini suara saya yang akan saya tampilkan di public, bukan suara cempreng berisik saya biasanya. Mengapa? Setidaknya orang butuh kenyamanan saat mendengar kita bicara, agar materi yang disampaikan dapat dicerna tanpa harus membuat telinga orang lain sakit.
5. Kontak mata
Ini masalah klasik yang sering timbul bagi public speaker, materi bagus, outlook bagus tapi gak menatap audience, justru menatap ke slide dan seolah hanya membacakan slide saja. Saya jamin trainer seperti ini hanya akan membuat audiencenya ngantuk, karena seolah tidak ada interaksi antara audience dengan trainernya. Anggaplah kita ngobrol dengan audience kita, anggaplah kita berdiskusi atau seolah kita sedang mengemukakan pendapat dihadapan mereka, dengan cara itu anda akan terus jaga kontak mata anda dengan mereka. Belakangan ini saya selalu akan menatap mata audience saya yang terlihat sudah mulai ngantuk atau sering bisik2, tujuannya agar mereka kembali focus kepada saya.
6. Lemparkan Joke dan Berita Masa kini
Saya menyukai gaya trainer yang update,
gaul, bisa kasih joke yang terkini dan mengangkat issue2 update. Saya
perhatikan audience juga begitu mereka cukup senang jika kita memberi sample-
sample kasus yang berkaitan dengan berita yang sedang hangat. Atau saya
melemparkan joke2 yang terkait dengan topik2 yang hangat atau saya menampilkan
video/ gambar yang terkait dengan issue2 yang sedang happening. Untuk itu
banyak-banyaklah membaca berita, dengar radio dan media social yang rajin menyuguhkan
berita dan isue2 hangat, combine lah dengan materi- materi training anda.
7. Berpakaianlah dengan wajar
Menjadi pembicara di depan umum, sungguh menimbulkan efek deg- deg an tersendiri, semua orang tampak memperhatikan kita, itu benar adanya. Orang menatap kita, untuk mereka menatap kita tanpa membuat mereka harus melemparkan pandangan aneh apalagi bisik2, cobalah berpakaian yang aman, artinya normal dan tidak mencolok, tapi rapi, resmi dan tanpa aksesoris mencolok, agar sebagai awalan anda tidak perlu cemas atas pandangan orang yang terfokus terhadap pakaian anda.
Kebiasaan itu terus berlangsung sampai saya lulus kuliah, padahal ketika kuliah cukup aktif di organisasi, tapi ya itu saya tidak kehabisan akal untuk cari orang lain yang bisa saya sodorkan untuk bicara di forum selain diri saya pokoknya! Sampai pada suatu titik saya mau gak mau harus memberanikan diri bicara di depan umum, saat saya jadi HRD, gak ada orang lain yang wajib menyampaikan kebijakan perusahaan selain saya, finaly saya kehabisan gaya untuk meyodorkan orang lain, maka saya pun menghadapi kenyataan, bicara di depan umum untuk pertama kalinya!
Hal itu akhirnya terus berlangsung, saya mulai terbiasa menerima
tugas- tugas untuk menghadapi audience dari internal karyawan di perusahaan
tempat saya bekerja.
Saya gak tau awalnya dimana, sampailah akhirnya saya mulai
dapat tawaran ngisi seminar-seminar bertemakan soft skill diluar perusahaan
dengan audiencenya adalah orang- orang diluar karyawan perusahaan tempat saya
bekerja, orang- orang yang betul- betul asing buat saya. Dan hasilnya betul-
betul berjalan lancar, bahkan kembali dapat undangan demi undangan serupa. Saya
amazed sendiri, saya enggak pernah diajarkan public speaking apalagi kursus
public speaking, tau- tau sudah dapat beberapa kali undangan jadi trainer di
beberapa universitas.
Secara otodidak pun saya berlatih membuat materi- materi
presentasi untuk training – training yang
dibawakan, sekali lagi tanpa kursus formal, semua bergulir begitu saja.
Disini saya cuma mau share untuk pembaca yang mungkin
memiliki masalah yang sama seperti saya dulu, takut jika harus bicara di depan
umum, bagaimana menghadapinya? Saya yang dulunya sama sekali tidak terbayang
untuk (akhirnya) memiliki skill ini dan ternyata bisa membuat orang cukup
mencerna dan memahami apa yang saya sampaikan, merasa perlu berbagi tips,
supaya apa yang saya dapat bisa bermanfaat, minmal untuk pembaca blog ini.
Berikut tips dari saya :
1.
Amati dan adopsi caranya
2. Kuasai Materi
Kuasai materi training yang akan anda sampaikan, untuk awalan saya anjurkan anda melakukan riset sendiri, menyusun sendiri materi anda meski anda memiliki team persiapan yang cukup. Mengapa? Karena dengan anda menyusun sendiri materi anda, anda menguasinya secara tidak langsung, anda akan hapal luar kepala, tau betul detail- detail yang akan anda sampaikan. Saat anda di hadapan audience anda bukan menjadi orang yang membacakan slide anda, tapi menjadi orang yang menjelaskan isi slide anda, ingat semakin ringkas slide anda semakin terbuka ruang lebar bagi anda untuk menjelaskan isi materi anda.
3. Hadapi Rasa Grogi
Saya percaya, trainer atau public speaker sekaliber apapun pasti memiliki rasa grogi, bohong kalau tidak. Tapi ada beberapa cara menghadapinya, pertama peganglah pulpen di salah satu tangan yang bebas, buat saya pulpen atau pointer adalah benda yang paling mungkin dipegang saat jd trainer, gak mungkin juga megang hp atau dompet kan? Heheh
4. Kenali suara anda
Maksudnya gini, ada orang yang terlahir dengan suara cempreng, nah saya salah satunya, saya kalau bicara biasa sungguh tidak enak didengar, nyanyi pun begitu, jauh dari merdu. Tapi saya realize bahwa jika saya bicara dalam keadaan,serius saya mampu mengeluarkan suara2 yang lebih dalam atau berat. Nah saya latih ini kesekian kali, sampai saya tau ini suara saya yang akan saya tampilkan di public, bukan suara cempreng berisik saya biasanya. Mengapa? Setidaknya orang butuh kenyamanan saat mendengar kita bicara, agar materi yang disampaikan dapat dicerna tanpa harus membuat telinga orang lain sakit.
5. Kontak mata
Ini masalah klasik yang sering timbul bagi public speaker, materi bagus, outlook bagus tapi gak menatap audience, justru menatap ke slide dan seolah hanya membacakan slide saja. Saya jamin trainer seperti ini hanya akan membuat audiencenya ngantuk, karena seolah tidak ada interaksi antara audience dengan trainernya. Anggaplah kita ngobrol dengan audience kita, anggaplah kita berdiskusi atau seolah kita sedang mengemukakan pendapat dihadapan mereka, dengan cara itu anda akan terus jaga kontak mata anda dengan mereka. Belakangan ini saya selalu akan menatap mata audience saya yang terlihat sudah mulai ngantuk atau sering bisik2, tujuannya agar mereka kembali focus kepada saya.
6. Lemparkan Joke dan Berita Masa kini
7. Berpakaianlah dengan wajar
Menjadi pembicara di depan umum, sungguh menimbulkan efek deg- deg an tersendiri, semua orang tampak memperhatikan kita, itu benar adanya. Orang menatap kita, untuk mereka menatap kita tanpa membuat mereka harus melemparkan pandangan aneh apalagi bisik2, cobalah berpakaian yang aman, artinya normal dan tidak mencolok, tapi rapi, resmi dan tanpa aksesoris mencolok, agar sebagai awalan anda tidak perlu cemas atas pandangan orang yang terfokus terhadap pakaian anda.
Yah paling saya baru
bisa kasih contekan segitu tentang gimana saya melewati masa ketakutan saya
saat menghadapi audience. Yang terpenting, semua trainer/ public speaker itu
wawasannya luas, membuat dirinya tak habis akal menyampaikan sesuatu, jadi
sekali lagi, membaca itu penting buat anda yang mau mulai belajar public
speaking! Selamat Belajar J
Wednesday, November 6, 2013
Kids and Gadgets
Jaman udah canggih banget, orang
jaman sekarang gak pernah kurang hiburan dan gak pernah kekurangan media
ngabisin kejenuhan. Semua udah ada dalam
sebuah benda kecil disebut smartphone semua jenis hiburan bahkan. Handphone
maupun tab laris manis di Indonesia,trakhir saya dapat info Indonesia adalah pengguna Tab terbesar di
dunia. Ya gimana enggak, anak 3 tahun jaman sekarang tinggal di Indonesia rata2
punya tab semua, masing2 nenteng gadget modern itu kemana pergi.
Dari games, playlist music,
berita sampe e-book ada semua di tab atau smartphone tiap orang. Saya juga
pengguna smartphone. Cukup gemar media social karena bisa berjumpa dan akrab-
akrab lagi sama teman- teman lama saya. Lalu saya juga sering ngandelin
playlist di smartphone untuk menghibur diri saat naik kereta sepulang kerja,
tapi untuk games, berita dan ebook jarang banget pake media smartphone. Saya
sendiri gak punya tab, awalnya punya, lalu merasa gak praktis, karena harus
bawa2 gadet yang butuh diperhatiin batere nya, ah ribet, akhirnya skrg cuma pake
satu smartphone saja, cukup dan tanpa power bank pula, saya bener2 orang jadul
yang gak suka ribet.
Saya nulis ini cuma mau
menggambarkan bahwa jamak banget bagi orang sekarang menikmati kesendiriannya
tanpa harus kesepian. Orang sekarang juga mungkin mulai menikmati masa2 antri
panjang menunggu sesuatu karena tak lagi menjemukan. Dan untuk itu semua orang
menghibur dirinya dengan gadget- gadget canggih dalam genggaman.
Saya enggak tau ya efek jangka
panjangnya orang- orang yang kecanduan menggunakan gadget dan ikut menulari
kebiasaan itu pada anak- anaknya. Tapi saya sendiri melihatnya, anak anak emang
cenderung meniru dan susah sekali untuk dihentikan sekalinya kita mengajarkan
gaya hidup tertentu pada mereka.
Saya ambil contoh soal gadget
play station, mungkin anak- anak saya terlihat ndeso saat pergi bersama, mereka
tidak menenteng gadget apa2, tidak juga smartphone, ipad atau tab apalagi
playstation portable. Tapi saya mensyukuri ini, karena anak2 jadi lebih banyak
aktif permainan fisik, dan khusus untuk Lulla ia menaruh minat yang besar pada
handcraft. Saya juga mudah mengarahkan Lulla untuk membaca buku. Saya pun
akhirnya tidak mengalami masa2 senewen karena harus pake perang melepaskan anak
balita saya maupun gadis kecil saya dari kecanduan PSP. Saya pernah lihat teman
saya sampe harus marah besar ketika melihat anaknya ngamuk karena harus
mematuhi aturan pembatasan main Playstation. Duh kok ya jadi repot ya gara gara
benda satu ini pikir saya.
Buat anak- anak saya, saya ingin
mereka tumbuh normal setidaknya mirip seperti saya kecil dulu. Saya kecil
bersama abang, adik dan kakak perempuan
saya yang lain, kami tidak pernah difasilitasi mainan mahal, abang saya pernah
punya SEGA kala itu anak2 lain sudah main PS, hahah… ktinggalan jaman banget.
Saya pun hanya pula 1 buah Barbie yang harus saya mainkan berdua dengan adik
saya. Itupun baju barbienya cuma 1 stel itu aja, membuat saya kreatif menjait
sendiri baju Barbie saya dengan kain bekas, saat itu usai saya kelas 5 atau
kelas 6 SD. Saya dan kakak2 pun jika mau beli buku jarang diprovide beli buku
baru di toko buku, tapi lebih banyak diarahkan hunting buku bagus di toko
bekas, oleh karena itu saya sampe sekarang saya punya rasa excited besar saat
menemukan bazaar buku murah, jaman sekarang beli buku murah kadang jauh lebih
hemat dibanding harus nawar di bursa buku bekas.
Saya ingin anak2 menjadi sekuat
dan sekreatif itu menjalani hidup. Saya gak setuju jika harus provide apa2 yang
sama dengan teman2 nya, bukan karena saya tidak mampu, tapi saya ingin mereka
lebih keras meraih keinginan mereka, mereka harus lebih kreatif menggapai
keinginan mereka.
Saya memang gak bisa ‘plek’
menyamakan situasi saya kecil yang tumbuh di kota kecil dengan kehidupan sederhana
dengan kondisi anak2 saya sekarang, tapi setidaknya hidup sederhana dan penuh
perjuangan telah saya tanamkan sejak dini. Konsep hidup hura hura, glamor dan
mudah, saya upayakan untuk tidak mereka biasakan dalam hidup mereka. Untuk itu saya
mulai dengan kebiasaan mereka untuk tidak saya fasilitasi dengan gadget mahal
sepertinya sebuah awalan yang sejiwa dengan prinsip didikan saya.
Saya tidak maksud menyatakan ini
pola didikan terbenar bagi semua parents, tapi bagi saya dan suami pola ini
yang kami pilih. Bagi para parents lain pasti punya strategi lain yang mungkin
lebih cocok dan pas dengan latar belakang maupun visi misi hidupnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)