Pages

Wednesday, January 12, 2011

Poligami, surga atau neraka?

Banyak orang mengatakan poligami adalah jalan untuk mengikuti jejak Rasul,mengingat Rasul adalah contoh sukses pelaku poligami. Bahkan beberapa pria yang saya pernah temui menyatakan poligami adalah cita-citanya, entah apa perasaan istrinya jika punya suami yang berkelakar / bercita-cita untuk berpoligami.

Saya bukan ahli agama, saya perempuan biasa , seorang istri dan seorang ibu yang merasakan betul bahwa berumah tangga dan memiliki anak itu tidak mudah, saya juga melihat suami saya pun berfikir demikian. Membangun rumah tangga yang ‘sehat’ itu gak semudah membalikkan telapak tangan,apalagi mendidik anak, menciptakan anak-anak yang sukses nantinya. Wacana itu sudah kami sama-sama bahas, dan butuh kerja keras luar biasa untuk mewujudkan itu semua.itu baru membangun satu keluarga ya, gmn kalo beberapa keluarga atau kalo istilah teman saya adalah gimana kalo 'rumah tangganya buka cabang'?

Banyak contoh di sekitar saya yang ‘gagal’ dalam menerapkan poligami seperti yang Rasul contohkan. Banyak yang cenderung malah mengantarkan keluarga mereka yang tadinya baik-baik saja menjadi keluarga yang kualits hidupnya menurun, bahkan malah hancur berkeping-keping.

Seorang yang saya kenal melakukan poligami, awalnya saya dengar istri pertama setuju,lalu tak lama kemudian terlihat sekali gejala ketidakrukunan antara istri pertama dan kedua,bahkan dua perempuan ini berlomba-lomba melahirkan anak, bahkan gak tanggung-tanggung dalam waktu yang berdekatan. Akhirnya si suami morat-marit menghidupi keluarganya yang makin hari anggotanya makin membengkak jumlahnya. Kualitas hidup yang tadinya dimilikinya saat beristri satu beranak 4 bisa dilbilang cukup menjadi kekurangan, karena dari penghasilan suami yang gak juga meningkat pesat si suami sekarang harus menghidupi 2 istri dan 11 anak, dalam kurun waktu 5 tahun lelaki itu sudah memporakporandakan kualitas hidup yang tadinya ia, istrinya dan anak-anaknya miliki. Si suami saat ini sudah tidak konsentrasi bekerja, setiap hari kerjaanya hanya mencari uang untuk menutupi kebutuhan ini dan itu buat keluarganya. Yang paling parah adalah pinjam sana pinjam sini, menumpuk hutang disana- sini hanya untuk menutupi kebutuhan hari-hari. Kualitas hidup apa yang didapat dari kehidupan yang bergantung dari satu utang ke utang lainnya?
Ada juga kasus menarik di masyarakat,yaitu kasus perceraian dai kondang AA Gym yang diduga dipicu dari poligami, nah lu..kalo dai kondang aja bisa gagal apalagi masyarakat biasa yang pemahaman agamanya pas pas an?



Poligami ini gak mudah, selain soal materi yang harus benar-benar mampu, soal pemenuhan rasa keadilan bagi tiap pihak itu perlu sekali. Karena wanita berfikir selalu dengan perasaannya, tentu perempuan mudah merasa cemburu dan tersaingi. Istri Rasul saja bisa cemburu apalagi perempuan biasa?

Selain itu, poligami jika tidak berhasil,maka akan mempertaruhkan masa depan anak-anak yang ada di keluarga itu. Betapa menyakitkan bagi anak-anak yang awalnya hidup tenang lalu tiba2 harus ikut terguncang karena keputusan nekat ayahnya untuk menambah istri. Semua anak tentu ingin hanya ada ayah dan ibunya dalam keluarganya,anak-anak jauh lebih posesif untuk tidak membagi keutuhan itu, jadi sedikit saja ada yang berani menyandingkan ibunya dengan wanita lain, tentu menjadi hal yang gak mudah diterima oleh anak-anak.

Bayangkan, apabila tadinya keluarga itu bahagia dan sejahtera, dan setelah ada perempuan lain itu keadaan berubah sehingga mereka merasa kurang bahagia dan jauh dari sejahtera, tentu anak-anak lah yang terpengaruh dampak ini. Mungkin yang dulunya setiap malam anak-anak dapat berbagi kemanjaan dengan sang ayah, maka setelah poligami, anak-anak harus gigit jari apabila giliran ayahnya sedang tidak pulang karena harus ‘menggilir’ ibu lain mereka. Tentu anak-anak harus mengorbankan quality time mereka dengan sang ayah.

Ada pula yang merasakan keputusan poligami sampai mengganggu kesejahteraan financial anak-anak ini, mungkin yang dulunya mereka bisa berekreasi bersama,sekarang tidak lagi, mungkin yang dulunya mereka bisa memilih sekolah terbaik manapun karena punya biaya sekarang jadi gak bisa karena sang ayah harus membagi penghasilan untuk keluarga lainnya.Sekali lagi anak yang menjadi korban.

Apalagi jika poligami yang dilakukan sang ayah sampai menimbulkan pertengkaran demi pertengkaran dengan ibu mereka, selain emosional anak akan terganggu karena melihat orang tua mereka tidak akur, seorang ibu yang hatinya hancur pun pasti tidak maksimal mendampingi anak-anaknya, disinilah anak-anak kembali di rugikan, keutuhan keluarga yang mereka miliki sebelummnya sekan terenggut dari mereka, kebahagiaan yang dulu mereka raih dengan melihat kerukunan kedua orang tuanya sudah tak mereka dapatkan. Padahal keluarga yang rukun tentu akan membawa dampak positif bagi seorang anak.

Dan bagaimana jadinya jika poligami berujung pada perceraian?siapa yang paling dirugikan?tentu anak-anak?saya gak perlu jelaskan seberapa hancurnya perasaan anak2 yang harus melihat ayah dan ibu nya ‘bubar jalan’ meninggalkan komitmen mereka.
Menurut saya, poligami itu bukan sekedar pemenuhan hasrat, ada banyak hal yang harus dipikirkan lebih lanjut. Alasan poligami pun harus benar-benar tepat,apabila hanya karena sebuah hasrat semata seseorang berani mengambil langkah poligami tanpa mempertimbangkan masak-masak, ini akan terlalu besar resikonya. Nasib masa depan anak-anak dipertaruhkan disini, padahal kita hidup lalu diberikan amanah anak itu untuk apa sih? Apalagi kalo bukan untuk menjadikan mereka anak-anak yang sukses dunia dan akhirat kan? Bagaiamana kit amau meraih itu jika kita tidak mampu memberikan kualitas hidup dan kualitas kasih sayang yang memadai,apalagi sampai menghancurkan mental mereka?Apa jadinya jika karena hasrat kita hancurkan amanah ini?Jangan-jangan poligami yang dilakoni malah bukan mengantarkan seseorang ke surga melainkan neraka.

2 comments:

xurband said...

Tadinya aku kepikiran untuk poligami, tapi setelah aku baca dengan pikiran tenang ya betul juga poligami belum tentu dapat kesenangan yg udah pasti dapat 2beban

MErrytaRiyadi said...

alhamdulilah kalo stl membaca ini jd berfikir ulang dan mengurungkan niat,smg mjd keputusan akhir untuk tidak berpoligami, sukses!