Pages

Thursday, November 4, 2010

Menghadapi Teman Berkebutuhan Khusus

Putri saya bersekolah di sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus dalam hal ini anak autis. Sudah sangat umum anak autis diterima di sekolah normal. Tentunya anak autis mempunyai porsi pendidikan lain selain di sekolah normal,mungkin ada theraphy theraphy lain yang dapat menstimulus kemampuan social anak-anak semacam ini. Saya salah satu kelompok orang yang setuju dengan adanya anak autis yang mulai digabung dengan anak normal, asal kondisi pendukungnya juga memadai, seperti adanya pengawasan dan pendampingan dari guru shadow yang mumpuni.

Keberadaan anak autis diantara anak-anak normal kerap dianggap miring oleh beberapa orang tua murid, mungkin karena prilaku anak autis yang kadang tak terkendali membuat kecemasan tersendiri bagi para orang tua murid lainnya.
Saya pun kadang agak kawatir, tapi rasa kawatir kita tidak dapat kita jadikan pembenaran jika kita tidak memberi kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk berkembang. Mereka butuh latihan untuk hidup normal dan memahami aturan main di kehidupan sosial, dan itu bisa mereka pelajari dengan berbaur dengan anak normal. Jadi saya mencoba mengenyahkan rasa kawatir saya dan mencoba untuk mensupport pihak sekolah untuk memanage dengan baik keberadaan anak berkebutuhan khusus ditengah-tengah anak normal.




Namun di perjalanannya ternyata enggak mudah, putri saya sejak duduk di kelas A kebetulan sekelas dengan seorang anak autis. Dan kebetulan pula anak autis ini memiliki prilaku yang agak agresif,terutama pergerakan tangannya yang begitu kuat dan cepat. Sehingga anak ini sering tanpa sadar mendorong temannya terutama bila sedang excited dan senang. Dan pada tahun lalu Lulla menjadi ‘korban’ keaktifan ini,ia mendorong Lulla saat Lulla akan mengambil wudhu di sekolah, sehingga dengkul Lulla menabrak pembatas keran wudhu. Akibatnya dengkul Lulla memar dan Lulla otomatis menangis sehingga harus di amankan di UKS.

Sepulang sekolah saya mendapat surat laporan ‘kecelakaan’ tersebut, saya kaget dan jelas prihatin dengan luka memar yang Lulla alami. Tapi ada luka lain yang harus saya tangani selain memar ini,yaitu trauma, saya kawatir Lulla trauma terhadap anak autis itu. Ini ‘luka dalam’ yang harus segera di recovery,krn jika Lulla trauma, ia bisa enggan ke sekolah atau bergabung dengan teman-teman sekelasnya,ini kan jadi masalah. Alhamdulilah dari obrolan dan motivasi yang kami berikan, Lulla tidak trauma atau takut berhadapan dengan anak itu, ia pun dengan tegas mengatakan ia memaafkan anak itu. Dan kami juga akhirnya menjelaskan kenapa anak itu berprilaku demikian,kami menjelaskan secara garis besar mengenai penyakit autis,dan sekali lagi saya bersyukur Lulla memahami dan menganggap temannya itu bukan anak nakal,ia memaklumi kekurangan itu.

Ternyata kejadian kecelakaan itu menimbulkan reaksi yang cukup heboh dikalangan orang tua murid lain, berita menyebar bagaikan angin di kalangan ibu-ibu yang rajin kumpul di sekolah. Saya juga heran kenapa bisa seheboh itu, intinya ibu-ibu meributkan dan mengecam keberadaan anak itu disekolah.Sampai ada yg menghubungi saya ke handphone dan mendorong saya memanfaatkan moment itu agar pihak sekolah memisahkan anak autis tersebut. Jelas saya menolak, bukan apa-apa, itu terlalu konyol.
Buat saya, ini bentuk latihan bagi anak saya juga untuk bertahan menghadapi teman-teman yang berbeda dengannya,ia harus punya strategi dan keberanian menghadapi hal-hal seperti itu. Sungguh bukan berarti saya gak sayang anak saya,tapi saya percaya ini adalah bagian dari belajar.Selain itu sangat tidak manusiawi jika kita mengkotakkan anak semacam ini,ia tetap punya kesempatan dan hak yang sama toh untuk berkembang?

Rupanya reaksi diam saya membuat para ibu itu tidak kehabisan akal,mereka mulai melancarkan entah aksi apa sehingga suatu hari saya mendapat telepon dari ibu anak autis tersebut,ia dengan suara tersendat meminta maaf atas kejadian tersebut. Ya Tuhan disitu saya merasa ikut bersedih,saya saja tidak bereaksi,lantas kenapa ibu-ibu lain justru yang protes pada orang tua anak itu?kalo pun mau disalahkan kita bisa menyalahkan shadow yg bertugas mengawasi anak itu,artinya ia lalai,jadi bukan menyalahkan anak autis itu,anak itu kita tau memang punya kekurangan.

Setahun berselang,anak saya kembali dimasukkan dalam kelas yang sama dengan anak autis itu,saya menganggapnya tidak big deal. Dan kejadian serupa pun terjadi meski efeknya tidak sebesar efek yang pertama.Lulla nampak fine, selang beberapa minggu kejadian lagi, dan pelaku serta korbannya masih sama. Saya pun menanggapinya masih biasa,sepanjang Lulla fine ya gak apa-apa. Saya paling memotifasi dirinya untuk bisa menghadapi anak itu,jika perlu lebih waspada jika dekat dengan anak itu,takut anak itu reflek mendorong Lulla sebagai ekspresi gemasnya melihat Lulla.
Namun saya sangat kesal ketika kembali lagi masalah yang ada menimbulkan reaksi lagi dari para ibu-ibu di sekolahan. Dan kali ini saya mulai tidak suka karena mereka jadi menyalahkan pihak sekolah karena menerima anak seperti ini yang mereka anggap mengganggu.Kejadian ini yang lantas membuat saya menyurati pihak sekolah untuk berhati-hati apabila ada issue-issue panas semacam ini merebak dikalangan orang tua murid. Saya intinya mengingatkan pihak sekolah untuk be aware.

Disini saya berfikir, betapa menjadi orang tua yang dikaruniai anak-anak normal dan sehat cenderung membuat manusia hilang empati pada orang lain. Padahal memiliki anak yang normal harusnya kita syukuri dengan sangat dan bentuk dari rasa syukur itu kita harusnya membagi dengan orang yang mungkin gak seberuntung kita. Jangan malah mengecam dan menyudutkan. Ini pemahaman yang saya rasa gak wise.
Harusnya pada semua kejadian kita melihat dari sisi positif lalu kita pelajari hal negatifnya untuk menjadi pelajaran berharga. Keberadaan anak dengan kebutuhan khusus dan berprilaku berbeda di tengah-tengah anak-anak normal harusnya jadi ajang belajar bagi anak-anak kita,berikut poin yg saya pikir bisa kita tanamkan pada anak-anak kita:

1. Kenalkan kepada anak-anak kita bahwa manusia itu berbeda-beda, ada yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan. Ajari anak untuk respect terhadap hal itu.
2. Ajari anak untuk berani menghadapi situasi yang sulit, jangan sampai kita meng-kotakkan anak kita ke dalam situasi yang selalu aman tanpa konflik dan masalah. Dengan kesulitan mereka belajar bertahan,dengan adanya masalah mereka belajar menyelesaikan masalah.
3. Tanamkan keberanian pada anak untuk menghadapi situasi dan prilaku orang seperti apapun itu.Stimulus ia untuk survive dan mencari strategi menghadapi orang di dunia luar sana.
4. Tumbuhkan rasa kasih sayang dan emphaty terhadap orang yang tidak beruntung di hati anak kita,kondisi teman yang berkebutuhan khusus adalah sesuatu yang layak mendapat emphaty dari anak kita.

Demikian para bunda, sedikit coretan dari saya, saya juga orang tua yang terus belajar dari anak,dari mereka saya banyak terinspirasi untuk menjalani hidup di masyarakat maupun di karier saya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya…cao!

4 comments:

Yuliana-Fun said...

mba...piye kabarmu? hehehe :) sudah lama ga denger ceritanya lage... :)

mengenai anak autis, pernah denger kesaksian dari ortu yang punya anak autis, bahwa mereka juga ga pernah nyangka bakal dikasi anak autis... mereka menganggap semua anak yang sudah dikasi sama Tuhan adalah anugerah.. jadi semua anak sama.
Yang penting Lulla sekarang jadi tau kalo ada orang autis di sekelilingnya.. semoga lulla jadi lebih peka yak.. :)

MErrytaRiyadi said...

Yul!!!!apa kabar??maaf ya lama ga balas komen2 mu.Hadeeeuh aku cm sempat nulis tp ga sempat balas komen,parah ya..

Iya bener,mana ada org tua yg mau anaknya berkebutuhan khusus,kita ga bisa menyudutkan mereka u hal itu,justru harus emphaty. ini yg perlu kita ajarkan u anak2 kita.

Take care ya yul!nice to meet u here...

primaningrum said...

kalau boleh menawar kepada Tuhan, saya adalah orang yang berada di antrian pertama! menawar agar tidak diberikan anak berkebutuhan khusus. tetapi saya tidak bisa melakukan hal tersebut, sama dengan orangtua lainnya yang juga memiliki ABK ^_^.

minimnya informasi membuahkan hasil pandangan negatif masyarakat awam terhadap ABK. padahal ABK, hanya meminta sedikit saja apa yang sudah menjadi 'hak'nya. dan jika diberikan kesempatan, ABK juga bisa berprestasi ^_^

kesulitan pada penerimaan masyarakat itulah yang kerap membuat aku patah semangat dan gemas sendiri. plisss deee jaman gini hari masih juga mengkotak kotakkan.

tapi disitulah ujian dan tantangan kami... tetap semangat dan tetap tersenyum, membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik bagi ABK.

terimakasih tulisannya. inspiratif

MErrytaRiyadi said...

Dear mbak prima, ini bagian dan tantangan buat kita. Emang saya menyesali, di lingkungan berpendidikan pun kadang masih gak punya emphaty u mendorong kemandirian dan kesuksesan ABK. Thx n tetap semangat ya mbak!salam u anak2 di rmh...