Pages

Friday, May 1, 2009

Liburan Lombok - Part 2

Naaaah sekarang gilirannya crita tentang trip Lombok. Hari kedua kami di Lombok, kami habiskan dengan berkeliling Lombok, agenda pertama adalah hunting mutiara, lalu ke desa Banyumulek melihat kerajinan gerabah, lalu ke Desa Sukarara untuk melihat kerjainan tenun Ikat,lalu ke desa Sasak melihat kehidupan penduduk asli Sasak, lalu ke Pantai Kuta Lombok,Pantai Seger dan Tanjung Aan.

Ups..belom crita,kalo di Lombok kita akan sering melihat alat transportasi khas Lombok yaitu CIDOMO, cikar = berbadan kayu, dokar = ditarik oleh kuda, Mobil = karena beroda.



Berburu Mutiara

Nah kalo udah urusan sama ibu ibu, pasti deh kalo jalan-jalan ke Lombok yang paling siap diserbu adalah mutiara, siapa yang gak tau kalo Lombok terkenal sebagai penghasil mutiara?

Saya termasuk penggemar mutiara, karena mutiara itu adalah aksesoris yang menurut saya anggun, sederhana tapi elegant. Saya cenderung suka mutiara dari pada perhiasan logam mulia. Sejak lama saya mengumpulkan mutiara, termasuk dari Lombok. Beberapa kali kunjungan suami saya ke Lombok, dia kerap membawakan mutiara, kami sampai punya toko langganan, namanya Lipco Pearl Jewelry. Lipco ada cabangnya di Jakarta,jadi kalo untaian mutiara saya putus, bisa saya bawa ke cabang Jakarta yang terletak di ITC Cempaka Mas. Lipco sendiri yang di Lombok lokasinya tidak jauh dari Selaparang. Tapi di kunjungan kali ini saya mencoba untuk mengunjungi Toko Jewelry lain untuk jadi bahan perbandingan, saya mengunjungi Lombok Pearls di Jl. Ahmad Yani. Saya melihat harganya sama aja sama Lipco,tapi kalo model di Lipco agak lebih innovative.

Beberapa hal mengenai mutiara perlu teman-teman ketahui terlebih dahulu sebelum membeli. Mutiara ada 2 macam, mutiara air laut dan mutiara air tawar. Yang harganya mahal adalah mutiara air laut, kenapa?salah satu faktor utama adalah proses pengambilannya jelas gak mudah, orang harus menyelam ke dasar laut untuk mengambil mutiara-mutiara ini, beda dengan air tawar. Selain itu dari segi estetika, mutiara air laut lebih berkilau serta bentuknya lebih besar. No wonder harganya satu butir mutiara air laut yang diikat dengan emas tipis harganya mulai dari 2 jutaan. Dan untaian kalung full mutiara air laut bisa mencapai 50 juta rupiah.Menurut saya membedakan mutiara air laut dan mutiara air tawar gak begitu sulit,karena berat,bentuk dan kilaunya pun jelas beda. Nah kalo gak sanggup beli mutiara air laut yang mahalnya gak keruan itu, coba aja melirik ke mutiara air tawar, mutiara air tawar ini ada tingkatan mutu kualitas tersendiri, kalo menurut saya untuk amannya bagi anda yang belum berpengalaman mengenal mutiara, sebaiknya membeli mutiara di yang dilengkapi oleh sertifikat. Karena mutiara mudah sekali dipalsukan,meski emang ada sih cara khusus untuk membedakannya.

Cara sederhana untuk mengetahui keaslian Mutiara

1. Digosok dipermukaan kaca
Mutiara asli tidak akan lecet / cacat tapi akan meninggalkan bekas seperti kapur dipermukaan kaca tersebut, sebaliknya Mutiara palsu akan lecet / terkelupas.

2. Digosok pada gigi bagian luar
Mutiara asli akan terasa pasir / kasar, sedangkan Mutiara palsu akan terasa licin.

3. Dengan cara dibakar
Cara ini merupakan alternatif jika kedua cara diatas masih belum meyakinkan , jika dibakar dalam waktu yang tidak terlalu lama, Mutiara asli tidak akan terbakar sedangkan Mutiara palsu akan meleleh karena berasal dari bahan plastik.

4. Dengan melihat bentuk dan warna
Mutiara asli memiliki bentuk bulat, oval & bentuk yang tidak beraturan ( Baroque) serta memiliki warna yang natural. Sedangkan Mutiara palsu identik berbentuk bulat dengan warna yang variatif dan memiliki permukaan licin, bercahaya dan memiliki berat yang ringan.

Gampang kan?tapi agak susah implementasinya, coba kalo anda mo nyoba mutiara di toko tapi anda minta ke penjual untuk membakarnya terlebih dulu, saya sih gak yakin si penjual mutiara mau, jangan-jangan malah dilempar sandal,ehehehe….Makanya untuk amannya sebelum membeli mutiara tanya dulu ada sertifikat atau tidak,kalo tidak ya sebaiknya jangan kecuali anda sudah mengenal betul seluk beluk mutiara. Gak semua penjual menerbitkan sertifikat, seperti toko-toko kecil biasanya tidak memberikan sertifikat,tapi di toko-toko kecil seperti itu harga mutiara emang berbeda sama toko mutiara yang konsepnya butik seperti Lipco dan Lombok Pearls yang saya bilang tadi. Harga sebuah untaian kalung mutiara panjang yang bersertifikat adalah Rp.600.000,- ribu keatas,tapi kalo tanpa sertifikat bisa diperoleh hanya dengan 70 ribu saja, bueda banget kan?Oh iya,selain dapet sertifikat,kalo beli mutiara di butik maka akan terlihat bedanya, bentuk mutiaranya adalah mutiara terbaik dengan kilau dan bentuk yang kurang lebih seragam,meski mutiara emang bentuknya gak mungkin seragam kan?tapi emang harga gak pernah bohong,mutiara berkualitas dan tidak, jelas ada bedanya.

Mutiara murah pun gak ada masalah,asal kita bisa jeli membedakannya dengan imitasi.

Oh ya mutiara di era sekarang ini sudah beraneka rupa warnanya,tapi kalo mutiara laut warnanya standar pada 3 warna yaitu putih,gold dan hitam agak kelabu. Tapi kalo mutiara air tawar anda tentu bisa bisa melihat begitu banyak warna mulai dari putih,emas,pink,hijau,ungu,biru, hitam,kelabu etc deh…

Maaf ya foto2 mutiara belom saya posting nanti akan saya posting menyusul deh ya...

Desa Banyumulek,Penghasil Gerabah

Terletak di Lombok Barat, untuk mencapai desa ini dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari kota Mataram. Desa ini terkenal sebagai penghasil kerajinan gerabah,saat itu saya mengunjungi Berkat Sabar Artshop letaknya di kanan Jalan Desa Banyumulek. Tempat ini cukup lengkap,kita pun boleh melihat proses pembuatan gerabah itu sendiri. Kemudian kita diperkenankan melihat proses paking yang dilakukan. Jika tertarik,jangan ragu untuk membeli karena bisa dilakukan pengiriman, syaratnya minimal barang yang dikirim adalah 25 kilo dan harga per kilonya 10 ribu rupiah. Ini berlaku untuk pengiriman dalam dan luar negri,tapi kalo teman-teman hanya belanja barang seberat 15kilo maka Artshop akan tetap mengenakan ongkos kirim untuk 25 kilogram. Disini saya ngiler luar biasa, bener-bener amaze melihat gerabah bisa secantik cantik itu.
Gerabah berlapis kulit telur




Bahkan ada gerabah yang dilapisi oleh kulit telur, dan menjadi motif yang luar biasa anggun dan keren,gak nyangka kalo itu kulit telur. Ada juga yang dilapisi oleh batik, dihias oleh taburan pasir, dan dipercantik oleh anyaman rotan.

Nah yang dilengkapi anyaman rotan inilah yang merupakan gerabah khas Lombok.Ada lagi benda khas disini,yaitu kendi.Nah Kendi khas Lombok ini unik, karena cara memasukkan airnya bukan dari atas (kepalanya kendi),melainkan dari lubang yang ada di pantat kendi (alas kendi) yang dibalik,lalu diisi air.Setelah kendi kembali berdiri air tidak akan keluar dari alas kendi itu padahal bolongan air di alas kendi itu tidak ada tutupnya.Dan mekanisme keluarnya air sma adengan kendi lainnya,yaitu lewat bibir kendi. Waaaaaaaaaah…canggih banget,saya sampe beli satu untuk di rumah,meski pas di bandara ternyata pihak bandara tidak memperhatikan logo fragile di kotak kendi itu,maka si kendi patah di jalan..huuuuuu




Oh iya, gimana nih soal harga?saya gak bisa bilang murah juga,tapi emang sangat worthed,karena keindahan gerabah itu luar biasa,makin unik dan berukuran besar yam aka harganya makin mahal. Misalnya gerabah berlapis kulit telur, harganya mulai 100 ribu (kecil) dan jutaan untuk yang tingginya sekitar 90 cm.1 set kendi dengan 2 gelas dihargai 75 ribu,Vas gerabah tinggu 30-20 cm sekitar 50 ribu,asbak kura-kura sekitar 10 ribu rupiah.

Tempat ini panas dan pengap,udah gitu pengunjungnya bejibun, sebaiknya untuk berkunjung kesini pakai baju yang nyaman dan jangan lupa bawa kipas yah…

Desa Sukarara,Pusat kerajinan Tenun Lombok

Letak desa ini adalah di Kabupaten Praya,Lombok Tengah. Dari Mataram kita butuh waktu 1 jam untuk mencapainya.Beberapa waktu lalu suami saya sudah pernah kesini sebelumnya untuk membelikan songket Lombok sebagai tambahan koleksi buat saya.Tapi saya sendiri justru belom pernah. Saya mampir ke Patuh Artshop di depan kantor Desa Sukarara kecamatan Jonggat, disini bisa melihat langsung para ibu-ibu yang sedang menenun songket dan tenun ikat.Songket disini dengan songket di Palembang jauh berbeda yah, dari mulai warna maupun motif,ada bentuk khas tersediri bagi songket Lombok, bermotif lebih besar dan tenunannya tebal tebal. Motifnya mirip tenun Bali. Untuk memperoleh songket Lombok, setidaknya kita mengeluarkan kocek 800 ribu rupiah, untuk tenun ikat mengkilap mulai dari harga 300 ribu.Tenun ikat 1x 2 meter mualai dari 750 ribu (untuk interior), tenun meteran mulai dari 100 ribu per meter,dan yang paling mahal adalah tenun Dobi yang biasanya dipakai untuk pajangan,seharga 3 juta rupiah,padahal ukurannnya kecil hanya ½ x 1 meter.







Tenun Dobi

Apa yang membuat tenun Dobi menjadi mahal?karena tenun ini pewarnaannya dari pewarna alami,lalu tenunnya pun bersifat kombinasi,ada yang bolak balik sam adan ada yang satu sisi saja,repot deh menjelaskannya..tapi kalo kita pegang baru deh tau jawabannya kenapa tenun dobi mahal banget.


Rumah Asli Suku Sasak—Sasak Vilage Desa Lambitan

Ini adalah wisata yang ternyata selain memberi khasanah pemikiran baru dan pengalaman baru tapi juga membuat hati saya sedih. Well…desa ini adalah gambaran kehidupan penduduk asli yaitu suku sasak. Masuk ke area ini kita sudah akan disambut oleh salah satu penduduk asli yang akan menjadi guide bagi kita saat mengunjungi desa. Pertama kita masuk,kita disambut oleh sebuah bangunan khas Lombok,ternyata bangunanitu adalah lumbung padi.

Lumbung padi warga setempat

Dari sana kami diajak mengunjungi rumah penduduk.Rumahnay beratap sempit,pertama kali masuk kit akan disambut oleh pelataran rumah yang bisa disebut teras rumah lah.Lalu ada sebuah undakan menuju rumah.Rumah hanya dilengkapi dengan 1 pintu yang terbuat dari bamboo yang dianyam,pintu tersebut merupakan pintu geser,bukan pintu seperti pada umumnya,jadi pintu ini tidak dilengkapi dengan engsel besi sama sekali,cara pengoprasiannya adalah dengan cara menggeser. Badan rumah sendiri terbuat dari geribik,dan atap rumah dari rumbia. Yang memilukan dari rumah semaam ini adalah tidak adanya jendela maupun ventilasi dalam bentuk lain sama sekali.Saya gak berani bertanya,takut menyinggung perasaan pemilik rumah,tapi saya mempertanyakan kesehatan rumah tersebut karena minimnya perolehan udara dan cahaya matahari.Tapi penghuni rumah tersebut saya lihat sehat-sehat saja.


Rumah penduduk yang hanya di lengkapi dengan satu pintu

Suasana pemukiman warga desa Sasak

Yang menarik dari rumah asli penduduk desa ini adalah, lantainya terbuat dari kotoran sapi,nah lo!!!!pasti pada kaget deh,saya pun tidak mengira kalo lantai yang saya pijak dan undakan yang saya injak adalah terbuat dari kotoran sapi,karena bentuknya keras seperti lantai semen pada umumnya dan tidak berbau kotoran sama sekali yah..Menurut penduduk,bau kotoran hanya akan tercium pada saat rumah baru berdiri,tapi lama kelamaan tidak tercium lagi.Inovatif banget yah???

Rumah-rumah tersebut hanya terdiri dari 1 ruangan saja,hanya anak-anak dan perempuan yang tidur di dalam rumah,pria dan anak laki-laki yang sudah akil balig harus tidur di teras. Hanya pada waktu-waktu tertentu pria bisa tidur bersama di dalam,mungkin hanya pada saat-saat melakukan aktifitas untuk berkembang biak kali yaa?ehehhe…



Lantai yang terbuat dari kotoran sapi

Sapi yang diplihara untuk diambil dagingnya dan kotorannya untuk membangun rumah

Mata pencarian penduduk asli adalah dengan cara bertani,namun penduduk disini hanya kan mengalami panen 1 kali setahun,karena mereka bertani hanya mengandalkan hujan.Disana belom ada irigasi,entah kenapa pemerintah tidak membangun irigasi untuk desa itu. Sehingga setelah panen kaum pria desa itu akan beralih profesi menjadi kuli dan kaum perempuan menenun.Dan hasil tenun tersebut dijual kepada wisatawan yang mengunjungi desa mereka.

Saya agak pilu melihat kondisi disini, penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, tinggal di rumah yang tidak layak,entah lah apakah anak-anak mereka bersekolah dan bergizi cukup…Desa tradisional memang harus dilestarikan tapi kesulitan ekonomi dan kebodohan tidak perlu dilestarikan saya rasa…


Pantai Kuta Lombok,Pantai Seger dan Tanjung Aan

Dari desa Lambitan kita hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapai Pantai Kuta Lombok, pantai yang terkenal dengan pasirnya yang menyerupai butiran merica.Sampai di Kuta Lombok tepat saat jam makan siang,jam 1 siang.Maka agenda pertama adalah cari tempat untuk ngisi perut.


Pasir 'merica' alias pasir berbentuk butiran, khas Kuta Lombok


Ugh..ternyata realtif susah cari tempat makan disini, kalo warung-warung kecil sih gak susah ditemui tapi tempat makan yang ‘layak’ sungguh gak banyak. Akhirnya kami mampir ke Restoran Tastura di Jl Raya Kuta Lombok. Ini restoranyang paling besar yang saya liat di wilayah itu, semua pengunjung saya liat adalah turis-turis, gak heran disini akan banyak ditemui bis-bis pariwisata.Disini saya menemukan makanan yang unik,yaitu sate ayam..eheheh..uniknya dimana coba sate ayam?di Jakarta juga banyak…,tapi jangan salah..sate ayam disini lain, bumbunya beda banget,lebih encer tapi lebih terasa,rasanya juga lain,enak deh..Trus ayamnya gak dibakar sampai gosong,daging ayamnya matang tapi gak gosong, dijamin karsinogen-nya gak ada,ehehhe…Lulla sangat suka sama bumbu sate di tempat ini,dia makan lahap banget.





Setelah kenyang dan solat dzuhur,kami ke pantai,waaaaaaaaaaah…pantai kuta Lombok luar baisa bagus. Pasirnya putih banget,lautnya warnanya biru dengan gradasi kehijauan,airnya bening banget, speechless deh liat keindahan disini. Dan saya akhirnya menemukan pasir merica yang tersohor itu,kalo gak pake sandal dan berlarian di atas pasir itu kaki mudah terasa perih.

Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Seger,masih di kawasan yang sama.Pantai seger saat itu lagi surut. Di pantai ini tiap bulan Februari diadakan festival nyale. Apa itu Nyale?nyale adalah semacam cacing laut,yang hanya keluar setahun sekali pada bulan februari setalah purnama.Tidak ada tanggal pasti kemunculan nyale ini, pokoknya nyale akan muncul dengan ditandai adanya hujan besar setelah purnama (pertengahan bulan gitu kali ye?).Penduduk memepercayai nyale adalah jelmaan Putri Mandalika. Nyale rasanya persis kayak ikan asin, diolah menjadi menu pepes biasanya. Ini adalah festival terkenal di Lombok.




Pantai Seger yang lagi surut

Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan, masih di kawasan yang sama.Sebelum sampai ke Tanjung Aan,kita akan melewati Mandalika Resort, disini ada hotel Novotel, satu-satunya hotel besar di kawasan ini, karena hotel/ penginapan lain biasanya bentuknya motel kecil.

Tanjung Aan adalah pantai terindah yang pernah gw kunjungin,pasirnya putiiiiiiiiiiiiiiiiiih banget, airnya bening dan air lautnya tampak membiru bergradasi hijau.

Saya,Lulla dan Tori berteriak gembira banget main di pantai ini.Lulla sibuk mencari kerang,Tori sibuk menahan hasrat pengen berenang. Sayangnya gak ada fasilitas pemandian umum untuk membilas jadi Tori mengurungkan niatnya.


Saya agak heran, sepanjang jalan di antara 3 pantai ini saya wondering sendiri, agak aneh menurut saya,di pantai yang seindah ini kok gak dikembangkan sama sekali ya?Masuk ke pantai-pantai ini sama sekali tidak dikenakan bayaran,pantainya adalah pantai liar yang tidak dikelola,jadi fasilitas umum kayak toilet nya pun gak ditemui.Bahkan di pantai seger, ketika saya masuk area pantai,masih banyak ilalang dan ada beberapa kerbau lagi merumput di pinggiran pantai,wow…belom pernah saya berwisata kepantai disambut oleh kawanan kerbau..




Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan, masih di kawasan yang sama.Sebelum sampai ke Tanjung Aan,kita akan melewati Mandalika Resort, disini ada hotel Novotel, satu-satunya hotel besar di kawasan ini, karena hotel/ penginapan lain biasanya bentuknya motel kecil.

Tanjung Aan adalah pantai terindah yang pernah gw kunjungin,pasirnya putiiiiiiiiiiiiiiiiiih banget, airnya bening dan air lautnya tampak membiru bergradasi hijau.

Saya,Lulla dan Tori berteriak gembira banget main di pantai ini.Lulla sibuk mencari kerang,Tori sibuk menahan hasrat pengen berenang. Sayangnya gak ada fasilitas pemandian umum untuk membilas jadi Tori mengurungkan niatnya.

Saya agak heran, sepanjang jalan di antara 3 pantai ini saya wondering sendiri, agak aneh menurut saya,di pantai yang seindah ini kok gak dikembangkan sama sekali ya?Masuk ke pantai-pantai ini sama sekali tidak dikenakan bayaran,pantainya adalah pantai liar yang tidak dikelola,jadi fasilitas umum kayak toilet nya pun gak ditemui.Bahkan di pantai seger, ketika saya masuk area pantai,masih banyak ilalang dan ada beberapa kerbau lagi merumput di pinggiran pantai,wow…belom pernah saya berwisata kepantai disambut oleh kawanan kerbau..

Seharian jalan-jalan rasanya lelah banget,dari Kuta Lombok ke Senggigi cukup jauh pula,butuh waktu 1,5 jam perjalanan.Kalo di Lombok,sepanjang jalan saya lebih sering tidur,soalnya di Lombok gak seperti di Bali yang sudah ramai dan banyak hal yang bisa diliat. Jadi ketika sore hari kami lebih memutuskan untuk stay di hotel sambil melihat sunset di senggigi dari balkon kamar kami.



Malamnya baru lah kami menikmati geliat Senggigi di kala malam, banyak café dan restoran yang menyajikan wisata kuliner dan hiburan malam. Tinggal dipilih, mengenai harga lagi-lagi saya gak bisa bilang murah, kami makan bertiga selama di Lombok gak pernah kurang dari 350 ribu rupiah,padahal Cuma ber-3 dan Lulla pun harusnya gak keitung karena makannya benar-benar sedikit.

Setelah makan malam kami naik Cidomo untuk kembali ke hotel,Lulla seneng banget…Semalaman kami istirahat,besok pagi mau main di senggigi lalu siap-siap kembali ke Bali…

2 comments:

Lia said...

wah keren banget tempat2nya :) lucu2

niariniyuniarti said...

Mbak, kalo yang untuk pakaian itu songket yah? Mahal juga yah 800 ribu :((
Ga ada yang dibawah itu yah?
Kalo yang garis2 di belakang Nafisah itu songket atau tenun ikat, Mbak??

Thanks :)