Pages

Friday, February 16, 2007

Poligami?lagi?oh No..........

Haruskah saya jelaskan, isi tulisan berikut?inilah tulisan yang menceritakan kekecewaan rekan- rekan saya di milist perempuan,...

Ironis...tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan betapa rentannya posisi perempuan, paparan nyata dari mbak venny dan ibu magdalena yang begitu tragis, dengan jelas memperlihatkan betapa kejujuran, sensitivitas, keberpihakan dan kecerdasan selalu terkalahkan dengan egoisme dan kepentingan diri sendiri.Bicara tentang kejujuran, mestinya pelaku poligami itu introspeksi diri. jika selama ini selalu berlindung dengan menggunakan dalil keagamaan (dengan penafsiran yang patriarkhi) dan pembolehan poligamai sesuai UU Perkawinan tahun 74. sekali-kali mereka merenung dong, apakah tidak terluka jika sang istri yang dicintai dan menjadi pengharapan juga tauladan anak ternyata berlaku tidak setia meski dengan berbagai alasan. lalu bertanyalah pada pasangan, sudah cukup baikkah prilakunya selama ini? cukup memuaskankah mereka sebagai seorang laki-laki?jangan- jangan mereka tak berani bertanya karena sudah tahu jawabannya.Tentang sensitivitas, adil itu gak hanya soal harta (tapi coba rasakan lagi apa benar sudah mapan---jangan- jangan ada harta tapi hasil korupsi, tipu sana tipu sini) tapi juga adil dalam hati (dalam membagi cinta). Dalam praktek poligami, yang terluka itu tidak hanya istri yang di madu atau diceraikan, tapi juga anak-anak yang polos dan masih butuh kasih sayang.Pun keluarga besar yang dari kedua belah pihak acapkali turut bertikai. kalau sudah begini bagaimana bisa damai, bagimana bisa dikatakan poligami untuk menolong dan kemaslahatan.Lalu soal keberpihakan, omong kosong jika pada prakteknya mereka yang mengaku anti kekerasan, pembela kemanusiaan, aktivis, pejabat publik, agamawan toh tetap berpoligami. Karena dengan langsung mereka telah melukai, menyakiti dan menindas pihak yang begitu dekat. ke keluarga sendiri saja tega...apalagi ke orang lain, masyarakat kebanyakan yang tidak mereka kenal. karenanya mereka tak layak kita tauladani. SungguhDan terakhir mengenai kecerdasan, pelaku poligami meskipun memiliki ilmu segudang, titel berderet2 ternyata tidak secara otomatis menunjukan orang yang cerdas. sebab kecerdasan itu adalah keselarasan antara pemahaman dan tingkah laku. bahkan dalam agama dikatakan ilmu yang bermanfaat itu ilmu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. ilmu yang diamalkan oleh diri sendiri demi kemaslahatan. jadi jika mengamalkan ilmunya saja belum mampu. tak pantaslah mereka kita sebut cerdas.Jadi, mari kita teriakan menolak poligami dengan mulai mencermati pejabat publik (baik pemerintah maupun sipil), jika mereka berpoligami mari kita tuliskan nama mereka dalam daftar hitam sebagai orang-orang yang tak layak memimpin negeri ini.salam,lolly

"Student.Women_ Motivation" <student.women_ motivation@ yahoo.com> wrote:
Dear Mbak Magdalena,Entah mengapa, Ratna benar-benar menangis membaca email dari Mbak ini. "Dunia ini panggung sandiwara" itu memang ternyata benar. Tak terjangkau akal bila kita bertanya mengapa semua ini terjadi. Dan diluar jangkauan kita pula bila kita ingin ini tidak terjadi. Lalu apa daya kita sebagai wanita ya Mbak?Karena Mbak seorang aktivis yang pasti sudah banyak pengalaman mendampingi anak, bolehkah ratna bertanya : menurut pendapat Mbak, apa yang dapat kita lakukan/sampaikan kepada anak-anak, utamanya anak perempuan, mengenai hal-hal serupa ini. Karena pada kehidupan kelak dari anak-anak ini, bukan tidak mungkin mereka pun akan menghadapi atau bahkan mengalami sendiri hal-hal serupa ini. Bekal apa yang bisa kita berikan kepada mereka, agar kelak mereka siap menghadapi semua kenyataan serupa itu. Harapan sih tidak pernah, dan jangan pernah ada seorangpun wanita yang mengalami hal serupa itu. Tapi rasanya itu mustahil.Mbak...lalu, bagaimana pendapat dan perasaan Mbak sendiri terhadap hal-hal serupa itu (laki-laki yang selingkuh atau poligami, bahkan ada yang orang terkemuka pula, bahkan pula ada yang so feminis di muka umum, lalu ada wanita yang mau di poligami, dan bahkan ada pula wanita kedua yang tega kepada wanita lainnya).Saran Mbak sangat saya harapkan, karena kerap saya memberikan motivasi di sebuah SMP. Saya ingin mempermampukan diri saya sendiri dalam menyampaikan kepada siswa/i saya guna menyiapkan diri terhadap hal-hal serupa ini, bila memungkinkan untuk dapat menolaknya.Salam penuh harapan mendapat jawaban,Ratna08121977817

"A.Nababan Family" <magda@idola. net.id> wrote:
Rekan-rekan sekalian,Tulisan Adriana Venny adalah realitas nyata yang dapat dikatakan bahwatidaklah menjadi jaminan ketika seorang laki-laki yang dikenal sangatfeminist, memahami soal perempuan, memahami soal kekerasan, benar adanyatidak menjadi pelaku kekerasan terutama terhadap perempuan. Sering kitasebagai perempuan berdecak kagum melihat penampilan, membaca tulisan,mendengar ceramah atau penyuluhan seorang feminis laki-laki di dalamforum-forum. Dalam pengamatan dan pengalaman nyata saya juga melihat hal yang samaseperti Armando tetapi dalam bentuk lain. Tapi saya juga mau mencatatbahwa ada juga laki-laki yang antara ucapan dan perbuatannya selarasalias tidak terjadi penyimpangan.Beberapa contoh antara lain : * Seorang penyiar TV stasiun swasta dalam kesehariannya tercermin sangatmenyayangi istrinya. Di dalam pergaulannya juga sangat mendukungperempuan untuk maju dan punya toleransi yang tinggi terhadap temansekerja terutama perempuan. Sangat menunjang karier teman-temanperempuannya. Tapi ucapannya adalah : "Aku oke-oke saja untuk mendukungkarir teman-teman perempuanku agar maju dan berkembang, pergaulan luassepanjang Ia bukan istriku. Istriku adalah ratu di rumah dan tidakboleh bekerja. Sejak aku menikahinya, Ia sudah aku kontrak untukmembesarkan anakku "Banyak dalam realitas seorang laki-laki sangat supel denganperempuan-perempuan teman sekerjanya, open minded, toleransi tinggi,penuh pengertian dll yang pokoknya sangat menjadi idaman perempuantetapi bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan terhadap istrinyasendiri.
* Seorang aktivist kemanusiaan yang sudah beristri dan mempunyai duaorang anak sangat mengejutkan karena dalam kesehariannya sangat membuatbanyak kesan simpatik terhadap rekan-rekannya terutama perempuan.Sangat mengejutkan ketika satu hari ia mengawini sekretarisnya yangjauh lebih muda. Istri pertamanya berpendidikan, cukup cantik, punyakarir baik, cerdas, mempunyai dua anak perempuan yang manis- manis.Istri pertamanya kemudian minta bercerai dan si aktivist dengan segalasenang hati mengabulkannya. Ia tetap beraktivitas sebagai seorangactivist dan menganggap tidak terjadi kekerasan terhadap keluarganya.Kalau ada yang bertanya maka jawabannya adalah :" Apa mau di bilangkarena sudah tidak ada kecocokan lagi"Dia tetap sebagai aktivist karena tidak ada sangsi sosial. Diamenguasai UU dan seluruh materi tentang kemanusiaan maka ia tetapdipakai sebagai konsultan dibadan-badan inernasional mapun didepartemen2. Tidak ada yang mempersoalkan karena toh itu kan urusan pribadinya, tidak mengganggu hubungan kerja dan kepiawaiannya memangdibutuhkan oleh pihak-pihak yang memerlukannya.
* Lagi-lagi seorang aktivist memutuskan menceraikan istrinya yang selamaperkawinannya sangat mendukung pekerjaannya dan setia terhadap suaminya.Ketika ia jatuh cinta lagi denganperempuan yang konon dulu kala ada lah cinta pertamanya tanpa tedeng aling-aling menceraikan istri pertamanya.Sama dengan aktivist yang diatas, ia tetap berkibar bekerja di bidangkemanusiaan karena cerdasnya tentang materi-materi kemanusiaan.
* Seorang penulis terutama tentang cerita anak-anak yang membuat terpukau yang membacanya Orang melihatnya sebagai sosok seorang pencintadan pelindung anak. Padahal dalam realitasnya terhadap anak kandungnyasendiri sangat otoriter yang membuat anak-anaknya tertekan. Ia juga dikenal sangat anti perselingkuhan. Dalam setiap aturan kerja dimana iaterlibat selalu yang pertama adalah tidak boleh terjadi perselingkuhandi lingkungan dimana ia berada. Eh.... satu waktu dia justru berselingkuh dengan teman sekerjanya dan malah terang2an kepada semua orang bahwa dia hidup bersama dengan perempuan tersebut. Istri dan anak-anaknya tidak bisa protes karena tergantung secara ekonomi.
* Saya pernah hadir dalam satu workshop tentang kekerasan. Ketika masuk dalam kerja kelompok yang membahas tentang kekerasan saya bersama denganseorang aktivist perempuan yang tidak menjadi rahasia umum lagi hidup bersama dengan seorang laki-laki yang sudah berkeluarga dimana istri dari laki-laki tersebut adalah temannya. Dengan demikian ia bukantertipu. Dalam kerja kelompok tersebut ia dengan lugasnya memberikan masukan tentang isu kekerasan dan membahas secara dalam. Saya agak terbingung-bingung dan malu untuk bertanya: "Apakah yang ia lakukan sebenarnya tidak menjadi bagian dari tindak kekerasan terhadap perempuan lain"
*Suatu hari ketika saya pergi keluar kota secara tidak sengaja sayabertemu dengan seorang aktivist perempuan yang sudah terkenal sedang bergandengan mesra dengan seorang laki-laki yang jelas-jelas bukansuaminya (saya kenal suaminya) Saya tidak bisa menghindar saat itukarena saya yang justru malu berpapasan seperti itu. Dalam hati saya:"apakah ini bukan tindak kekerasan baik terhadap suaminya maupun terhadapistri dari laki-laki itu? Saat itu situasinya menjadi erbalik. Yang gugup justru saya sementara teman activist itu tenang-tenang saj danmalah memperkenalkan laki-laki itu kepada saya.
*Suatu hari ketika saya masih menjadi Direktur SIKAP sekaligus menjadi konselor bagi anak dan perempuan korban tindak kekerasan, datang seorang perempuan mengadukan kasus kekerasan yang dialaminya. Dia berhubungandengan seorang laki-laki yang sudah berkeluarga sampai mengalamikehamilan dan melahirkan seorang anak. Ia minta pertanggung jawabanuntuk dinikahi. Laki-laki tersebut meminta agar jangan mengadukan kasustersebut ke kantornya karena bisa berakibat kehilangan pekerjaan.Laki-laki itu berjanji akan menanggung kehidupan perempuan dan anaknya.Yang terjadi adalah hanya awal2nya saja berjalan lancar tetapi kemudian menjadi jarang datang dan malah mengancam. Yang membuat saya shockadalah ketika kemudian saya ketahui laki-laki tersebut adalah seorang pejabat dari satu deprtemen tertentu yang sekaligus aktivist bidang anak dan saya sering menumpang dengan bapak tersebut kalau kami ada rapat bersama kalau saya kebetulan tidak membawa kendaraan dan kebetulan kantornya tidak jauh dengan kantor saya saat itu. Yah ampun,terngiang-ngiang dan terbayang kalau bapak itu sedang melakukan pembelaan terhadap pemenuhan Hak Anak. Begitu memukau dan simpatik dan menunjukkan perspektif anak yang sekaligus menunjukkan keberpihakannya terhadap anak.
Ini hanya contoh-contoh pengalaman nyata saya. Menurut saya adalah bahwa siapa saja tidak dibenarkan melakukan hal-hal diatas terlebihlagi kalau predikatnya pekerja kemanusiaan ( joke-nya: aktivist jugamanusia).
Siapa saja, kapan saja, dimana saja (kayak iklan coca colasaja) orang bisa jatuh cinta. Persoalannya adalah apakah jatuh cinta itu harus diteruskan untuk direalisasikan menjadi hubungan nyata yang berkelanjutan tanpa terkendali. Karena manusia berakal budi maka yangharus dilakukan adalah meng-kontrol diri. Kita mampu menghentikansepanjang kita mau. Magdalena SitorusRekan Anak dan PerempuanAnggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia --

Kamis, 15 Februari 2007*
Berpoligami di Hari Kasih Sayang *
Oleh: *Adriana Venny*
Berikut adalah sms saya terakhir kepada Ade Armando, Dosen FISIP UI,salahsatu anggota Komisi Penyiaran Indonesia, penulis Jurnal Perempuan,narasumber dalam sosialisasi YJP tentang "Remaja Perempuan Melek Media"dan narasumber kampanye 16 hari "Anti Kekerasan terhadap Perempuan":
Selasa, 13 Februari 2007: sms ke No. HP Ade Armando: 0818-1794.*
Halo Mas Ade, ini Venny dari YJP, maaf saya mau nanya apa benar Mas Adeberpoligami?

**Dijawab dari No. HP Ade Armando:**
Benar.*

Sms saya selanjutnya:
*Sejak kapan? Kok Mas Ade tega banget sih? Apa itu berarti anda tidakakanmemperjuangkan lagi isu perempuan di KPI?

*..Rabu pagi, 14 Februari 2007*
Jawaban dari No.HP Ade Armando:
**Maaf baru baca. Kalau anda menganggap saya jahat, tentu saya nggak bisabilang apa2. Masing2 orang punya jalan hidup masing2. Oh ya saya dalamwaktu dekat nggak di KPI lagi.

*Sms saya selanjutnya:
*Bukan salah anda Mas. Ini salah UU Perkawinan di Indonesia yang tidak seperti di negara2 lain melarang poligami untuk melindungi hakperempuan.Doakan perjuangan kami Mas. Salam untuk Mbak Nina.

**Jawaban dari No.HP Ade Armando:
**Terimakasih. Saya doakan anda semua.

*Sms saya selanjutnya:
*Mudah-mudahan amandemen UU Perkawinan berhasil dan kami tidak perlulagikehilangan penulis JP yang bagus seperti anda.

*..Nampaknya itulah salam perpisahan kami dengan seorang ex feminislaki-laki,meski itu bukan perpisahan yang pertama. Beberapa tahun lalu kami jugaterpaksa mengucap selamat jalan kepada Masdar Mar'soedi, seorang *publicfigure* laki-laki yang memahami gerakan perempuan, namun lalu memutuskan untuk berpoligami.Kenapa kami terpaksa harus mengucapkan selamat tinggal adalah karena kepercayaan gerakan perempuan bahwa praktek poligami melanggar hak-hak perempuan dan hak asasi manusia secara universal. Yakni bahwa:*Negara harus membuat peraturan-peraturan yang tepat termasuk pembuatanundang-undang untuk mengubah dan menghapuskan undang-undang,peraturan-peraturan , kebiasaan-kebiasaan , dan praktek-praktek yangdiskriminatif terhadap wanita.*(Pasal 2f UU RI No.7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenaiPenghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita-CEDAW)*Negara peserta wajib membuat peraturan yang tepat untuk mengubah polatingkah laku social dan budaya pria dan wanita dengan maksud untukmencapaipenghapusan prasangka-prasangka , kebiasaan-kebiasaan dan segala prakteklainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satujenis kelamin atau berdasarkan peranan stereotip bagi pria dan wanita.*(Pasal 5a UU RI No.7 tahun 1984)*Setiap manusia dilahirkan bebas dan sama kedudukannya dalam martabatdanhak.*(Pasal 1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia)Pertanyaan selanjutnya: bagaimana dengan orang biasa jika seorang yangsehari-harinya mengajar di universitas terkemuka, mengenyam pendidikantinggi di manca negara, bahkan ahli di isu kesetaraan gender pula,menjawabalasan berpoligami yang paling dangkal yaitu bahwa masing-masing orangpunyajalan hidup sendiri-sendiri.Hal lain yang biasanya yang menjadi alasan laki-laki Indonesia untukberpoligami adalah ingin punya anak atau anak laki-laki. Seolah-olahkomitmen, cinta, kesetiaan, bukanlah satu hal yang layak diperjuangkan.Dan tidak ada apa-apanya dengan obsesi punya anak kandung atau bahkan dibanding nafsu syahwat yang paling-paling cuma 2 menit berereksi: tidak beda jauh dengan kambing atau monyet.
Pertanyaan yang lalu menjadi absurd di hari kasih sayang: Apakah kita memang tidak bisa menuntut kesetiaan laki-laki, sementara perempuan justru selalu dituntut untuk setia? Lalu cinta macam apa yang seperti itu? Cinta yang selalu menuntut pengorbanan perempuan tapi tidak menuntut apapun dari laki-laki, adalah cinta yang mengerikan.Jika demikian, waspadalah wahai para perempuan. Karena ternyata konsep cinta yang selama ini kita pahami adalah timpang dan merugikan. Cinta yangmenjadi dasar perkawinan pun tidak cukup melindungimu dari praktek ini, buktinyaUUPerkawinan di Indonesia memperbolehkan kali-laki berpoligami, itumengapa UUtahun 1970 ini sangat mendesak untuk diamandemen. Sebelum kekasihmu yangsekarang ini suatu saat akan menuntut untuk boleh berpoligami.Namun sayapun salut karena masih ada beberapa laki-laki Indonesia yangselalu setia dengan pasangannya sampai selamanya apapun yang terjadi,meskitidak punya anak, bahkan meski pasangannya sakit keras. Sayangnyajumlahnyahanya satu dari sejuta. Namun satu dari sejuta itu lalu memberi maknayangterdalam bagi kita sebagai manusia. Bahwa nilai-nilai cinta, kesetiaan,rasahormat dan saling menghargai jauh lebih berharga ketimbang nafsu untukkawinlagi.Karenanya tidak terlalu berlebihan jika hari kasih sayang tahun ini kitapersembahkan bagi para laki-laki yang masih menggunakan akal sehatnya,yangtetap berkomitmen untuk setia, menghormati pasangannya dan percaya bahwajalinan kasih sayang hanya bisa terwujud dalam relasi yang setara.*Adriana Venny, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan[Non-text portions of this message have been removed]

No comments: