Pages

Monday, January 30, 2012

Efek Reuni via BBM group

Siapa yang gak punya blackberry dewasa ini?kayaknya bisa dibilang jarang, orang yang memiliki kemampuan financial menengah rata- rata memiliki blackberry sebagai bagaian penting dalam hidupnya, gak ubahnya sebuah dompet saja. Kalo di era tahun 1990 an pertengahan orang mulai tergiur handphone dan kemudian mulailah menjamur handphone sebagai gaya hidup yang begitu umum dan lumrah, siapa saja punya Hp. Dulunya HP sama kayak blackberry diciptakan untuk mereka kaum sibuk. yang kehidupannya begitu mobile, dan dituntut untuk bereaksi cepat dan aktif. Seperti pebisnis, pekerja level atas dan profesi sibuk lainnya. Namun seperti tak ubahnya hp juga, lambat laun semua orang entah kenapa jadi merasa perlu memiliki blackberry. Dari mulai direktur, politisi,ibu rumah tangga sampe pembantu maupun driver merasa perlu memiliki BB.

Pertama kali saya pakai BB mungkin sekitar 3 tahun lalu, itu didorong oleh nyamannya teknologi email yg bisa diakses dngan mudah dari layar handphone semudah menggunakan SMS. Dulu saya berfikir, wah asiknya ada alat begini, dimana aja kapan aja saya bisa jawab seluruh email, saya bisa kerja dan meremote kerjaan dari mana saja. Awalnya itu saja yang menjadi sasaran saya. Lama kelamaan seluruh team kerja management di kantor memiliki BB, lalu terbentuklah group BBM (black berry messenger) urusan kantor, saya cukup merasakan kenyamanan, dimana kesibukan seluruh pemimpin perusahaan seperti disatukan dalam ruang itu, nyaman dan mudah.Rasanya meeting koordinasi bisa dipindahkan ke ruang itu tanpa kami harus saling bertemu, ada yg di Kalimantan, di Pengadilan, di WC kantor, dimanapun semua bs ikut berdiskusi masalah kantor di group chat itu. Tak lama muncul group- group serupa, mulai dari teman sepergaulan, teman kuliah, teman SMP,teman SMA dan teman kenal- kenal saja.

Awalnya harus jujur saya akui, saya menikmati keberadaan group2 tersebut, seperti makin punya banyak teman, seperti berada lebih dekat dengan teman2 dan sahabat2 lama. bahkan yang sudah tidak bertemu sejak SMP pun akhirnya bisa berakrab-akrab lagi.Disitu pula biasanya ada ajakan untuk kopi darat alias reuni, namun sampai detik ini saya hanya nyanggupin kegiatan reuni semacam itu 1 kali saja. Selain karena agenda hidup saya cukup sibuk, saya pun merasa ada kejanggalan jika kegiatan kongkow baik melalui kopi darat maupun melalui group chat yang aktif dilakukan terlampau sering.Saya merasa kurang wajar aja karena yang namanya reuni masa lalu akan hilang rasa nya jika terlalu sering dilakukan.Yang namanya masa lalu ya masa lalu gak perlu di bongkar bolak balik, dipakasakan sejalan dengan apa yang ada di hidup kita sekarang. Toh tak bertemu juga sudah bertahun- tahun, maka tujuan hidup dan kesibukannya pun jadi beda, jadi akan terkesan maksain kalo dari berbagai perbedaan itu disatukan dalam satu ruang yang intens, itu menurut cermatan saya.

Dan benar saja, diperjalanan saya merasa gak nyaman dengan komunikasi masa lalu yang intens kembali itu. Saya perhatikan member dari group sekolah itu seperti terbawa ke alam masa lalu, dimana saat itu semua adalah anak remaja dalam status 'orang bebas' seolah saat ini semua jadi mengidap amnesia saja, lupa bahwa masing2 sudah punya pasangan dan anak2. Ini terlihat dari tidak segannya mengumbar obrolan seputar mantan pacar, mantan gebetan, becandaan yang kekanakan dan obrolan gombal yang tidak pantas, nah belum lagi trafic pengiriman gambar/video berbau pornografi yang seolah begitu wajarnya. Padahal seharusnya tidak demikian, mengingat masa-masa itu sudah lewat, kita sekarang bertemu lagi dalam situasi dan kondisi yg sudah berbeda, sebagian besar sudah menikah, sudah memiliki keluarga dan tanggungjawab.Dan ada aturan berupa etika pergaulan yang membatasi itu. Karena tidak dibatasinya interaksi yang demikian, tentu akan membuat orang jadi lupa dirinya, lupa statusnya. Bahkan mungkin jika ada seorang member yang sedang tidak harmonis malah bisa membuat group sebagai pelarian, atau bagi member yang memiliki pasangan yang tidak suka melihat interaksi semacam itu jadi tersinggung, atau parahnya dengan ketersinggungan itu bisa mengakibatkan keretakan rumah tangganya.

Jadi saya melihat potensi- potensi bahaya disini jika semua orang dalam group tidak memahami etika yang baik dalam bergaul.
Saya yang tadinya (diawal terbentuknya group) cukup rajin membalas sapaan teman- teman, makin kesini makin sering mengabaikan, selain karena kesibukan, saya juga kawatir saya terbawa jauh, jadi saya memagari diri saya sebelum saya merasa ketidak nyamanan mengganggu diri saya. Namun karena semakin banyak group, emang BB jadi lemot, itu juga yang membuat saya malas pakai BB, jadi gak praktis dan jadi kurang gesit fungsi si BB itu.

Namun suami saya yang memiliki beberapa group BBM, jadi sempat merasakan dampak negatif dari groupnya. Dikarenakan alasan yang sama, suami saya sempat menikmati pertemanan melalui BBM. Maka ia rajin mengirim joke2 lucu dan terbawa suasana obrolan yang ngalor ngidul kalo bisa dibilang hampir kurang bermanfaat. Saya rajin mengingatkan tapi karena ia orang yang lempeng, ia merasa warning saya gak akan terjadi. Ternyata dan ternyata dari komunikasi di group gak bisa dihindari ada yang saling tersinggung yang menimbulkan sakit hati, sehingga kadang dari becandaan di group akhirnya ada yang leave group dengan alasan yang kurang enak, yaitu tersinggung. Ada juga yang pasangannya tersinggung.

Sebenarnya situasi-situasi tersebut tidak serta merta membuat suami saya yang tadinya aktif di group jadi leave group, namun yang terjadi adalah terdapat indikasi negative dari pertemanan group bbm ini ‘mampir’ ke kehidupan kami. Ada seorang teman member group bbm yang memiliki ketertarikan negative pada suami saya yang mengarah ingin masuk ke rumah tangga saya dan suami, bahkan dengan gamblang pelaku mengadakan pendekatan intes ke privat messenger (japri) bahkan dengan berani menyakan rasa sukanya pada suami saya, padahal situasinya wanita itu bersuami dan dia tau persis suami saya sudah memiliki keluarga.Awal ketertarikan negative itu memang diakui si wanita berawal dari intensitas percakapan di group, dari lelucon2 yang kerap suami saya sampaikan di group, dari sikap ramah suami saya yang tergambar di interaksi group dan hal-hal baik yang dinilai simpatik akhirnya mengantarkan pada rasa suka wanita ini kepada suami saya, dimana rasa suka itu adalah rasa suka yang tidak pada tempatnya ini. Dan yang cukup parah, ada seorang teman dari group tersebut yang seolah berperan menjadi ‘mak comblang’ alias provokator, dimana dia tau wanita ini menempatkan perasaan yang salah pada suami saya, namun si provokator bukannya melerai malah seperti memberi angin segar dan dari percakapan yang saya baca si provokator member reaksi yang sama sekali tidak mencegah bahkan malah mensupport. Padahal si provokator adalah istri orang juga, entah apa pikirannya perempuan2 ini, bagaimana jika kondisi itu terjadi pada suaminya yang sedang di rayu wanita lain sementara ada wanita lain yang ‘menseponsori’? apa tidak sakit hati kita sebagai istrinya??

Akhirnya suami saya menarik kesimpulan ini group jadi gak sesuai semangat awal lagi, yaitu untuk menjalin silaturahmi, dan malah menjurus pada arah sebaliknya. Jadi melalui diskusi panjang dengan saya, ia menarik kesimpulan untuk menarik diri dari group, bukan berarti benci pada member group, tapi lebih pada memagari diri dari hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Saya appreciate dia yang mau mengambil langkah itu meskipun dia adalah orang yang cukup aktif di group tersebut. Jadi proteksi diri itu perlu dilakukan manakala kita merasa apa yang terjadi sudah tidak sejalan lagi dengan semangat membangun masa depan yang baik.
Pertemanan yang awalanya diharapakan adalah pertemanan yang positif dimana saling mendorong untuk kebaikan, baik kehidupan profesi maupun keluarga, namun yang terjadi sebaliknya, dengan tidak menafikkan rasa suka orang, menurut kami rasa suka harus ada rem nya dan tepat sasarannya, karena kita orang2 beriman, mengganggu rumah tangga orang dengan alasan karena suka atau mencintai atau ingin memiliki atau apalah itu juga, menurut kami itu hanya akan membawa dampak buruk bagi kehidupan orang lain, jadi sebagai orang beriman sebaiknya mampu menahan dirinya. Disituasi ini, suami saya berinisiatif untuk melepaskan diri dari itu semua, agar tidak ada satu pihak pun yg terperosok lebih jauh lagi.

Dan sekilas yang saya dapat simpulkan, bahwa kemajuan teknologi jika tidak diperuntukkan sesuai dengan manfaatnya, emang jadi menimbulkan banyak mudarat daripada manfaat.

Berikut beberapa penglihatan saya efek negatif yang bisa terjadi bila tidak menempatkan reuni via bbm di tempat yang benar:
1. group sekolahan yang dimaknai sebagai ruang hidup yang baru kurang tepat membangun kedewasaan jika diisi dengan trafic pembicaraan yang mayoritas ttg masa lalu maupun pepesan kosong, namun jika diisi dengan pertukaran informasi yang membangun mungkin akan lain dampaknya.

2. group sekolah yang terlalu aktif berlebihan berpotensi menggangu kesinambungan hidup orang, karena tidak berhentinya percakapan yg terjadi, membuat efek tidak konsentrasi bagi org yang memang butuh untuk konsentrasi

3. group sekolah berpotensi membangkitkan cinta masa sekolah dan merusak kehidupan rumah tangga yang sedang berjalan.

4.group sekolah yang diisi dengan postingan-postingan yang tidak membangun (contoh artikel/gambar/video porno) mendorong kemaksiatan bukan kebaikan.

5.group sekolah berpotensi membuat seseorang addicted untuk terus mencurahkan waktunya berbincang didalamnya sehingga tidak mengindahkan kehidupan di dunia real nya.

6.group sekolah yang tidak diatur etika komunikasi dan batasan becandanya berpotensi menimbulkan perpecahan antara member group maupun antara member group dengan keluarganya.

7.group sekolah yang dibuai atmosphere masa lalu sehingga menimbulkan efek amnesia bahwa semua member sudah berkeluarga berpotensi dapat menimbulkan cinta- cinta2 terlarang yang gak seharusnya berkembang.

8.bagi beberapa pihak yang mengalami masalah cenderung melarikan diri ke group dan bukan mencarai penyelesaian masalah.

Dan entah apa efek lainnya, tapi inilah yang kerap terjadi disekeliling saya, bahwa reuni yang tergabung dalam group bbm teman-teman sekolah kadang jika tidak disikapi secara benar dapat menimbulkan kerugian. Dilingkungan terdekat saya sudah terjadi beberapa kasus perceraian akibat perselingkhuhan yang diawali dengan adanya intensitas pergaulan di dalam group bbm semacam ini.

Jadi menurut pandangan saya,penyikapan reuni harus dalam tataran wajar, bahwa pertemanan masa lalu adalah bagian dari kisah lalu, jika harus kembali lagi di masa sekarang masuk kedalam kehidupan kita, maka tempatkan di tempat seharusnya. Karena setiap orang dalam kurun waktu yang lama tentu sudah mengalami perubahan, baik perubahan pendidikan, lingkungan sosial, pola pikir, tujuan masa depan dan tanggungjawab, jadi pertemanan yang sudah lama tidak terjalin, jika harus terjalin kembali situasinya jangan dimundurkan ke masa lalu tapi di tempatkan sesuai ruangnya di kehidupan masa sekarang dan harus memberikan implikasi positif untuk masa depan bukan sebaliknya.

Semoga berkenan, Happy Monday all, tetap semangat ya...

4 comments:

Puan Pasifica said...

Mbak Erry,nice post....Salam kenal

ekasoraya said...

Salam. Makasih ya. Tulisannya sgt bermanfaat. Semangat.

Dular Budi Jatmiko said...

Gud ! keren!

Sriyono Waluya said...

Bagus dan sangat bermanfaat.... Izin share ya