Pages

Wednesday, December 30, 2009

Bos saya atau saya yang bermasalah?

Kebanyakan orang melihat sosok atasan adalah sosok yang bossy,gak kerja tapi digaji gede..kesannya enak banget jadi atasan alias BOS,tinggal suruh-suruh anak buah maka dianggap berprestasi dan gaji besar pula…
Gak sedikit anak buah yang merasa iri dengan bos nya masing-masing,bahkan kadang menyimpan kebencian yang mendalam.Seakan-akan hidup mereka di kantor bagai di neraka karena si Bos.

Saya pun pernah punya bos yang selalu bikin saya merinding setengah mati,rasanya semua yang saya lakukan itu salah.Saya minder dengan ketangkasan orang itu berfikir sehingga sedetail apapun kesalahan saya,maka dia akan tau, he is so perfectionist!Lama saya mencoba memahami bos saya saat itu,saya malah kadang berfikir saya gak bisa kerja atau emang dia yang gak suka sama saya secara personal, perasaan…,beliau selalu saja menemukan kesalahan saya sementara karena dia berusia setengah baya,hubungan personal kami pun gak dekat,dia terkesan killer banget deh,jangan berharap ada obrolan ringan tentang keluarga, he never ask me about that!. Namun akhirnya,saya pun tau kenapa sikap dia demikian, gak lebih dari keinginannya dan memecut saya agar menjadi pekerja yang professional,tangkas,cekatan dan high motivated. Dari beliau saya belajar pentingnya ketelitian dan kecermatan dalam melihat berbagai situasi,dari beliau saya belajar untuk efisien dan mengutamakan kepentingan banyak orang. Dari beliau saya belajar untuk available dlm menampung segala macam penambahan beban kerja.Dari beliau saya belajar untuk secara fair kepada siapapun jika menemui sebuah kesalahan. Dan dari beliau saya belajar menjadi solitaire dan mementingkan pekerjaan daripada minat social di tempat kerja.
Dan jadilah saya seperti ini,kali ini duduk diposisi seorang atasan dengan beberapa anak buah yang kurang beruntung karena mereka tidak pernah mendapat gemblengan seperti saya ketika baru lulus kuliah dulu lalu bekerja dan dididik oleh seorang bos dengan kinerja yang luar biasa…Sehingga gak heran kalo pola pikir beberapa staff saya tidak seperti saya,dan boleh dibilang masih sulit untuk diajak mati-matian berprestasi.

Saya jujur saja kalau saya mewarisi sedikit sifat mantan bos saya,minat social saya rendah untuk ukuran perempuan, well..saya banyak teman,tapi di kantor saya gak punya satupun sahabat,karena buat saya berada di kantor ya untuk bekerja bukan untuk cari sahabat,kalo pun dapet sahabat ya itu merupakan bonus..simple sekali pikiran saya tentang itu.Tapi hubungan saya secara personal dengan para bawahan saya mengusahakan untuk tetap baik, saya mencoba untuk menjaga hubungan komunikasi, meski saya juga manusia,saya kadang lelah jika saya terus menerus mendorong bawahan sementara bawahan saya ‘mematung’ terhadap perubahan, saya bisa meledak marah jika begitu.Dan saya tetap seorang atasan, yang memiliki egosentris bahwa saya gak suka bawahan saya menikam saya dari belakang, mengingat segala pengorbanan saya untuk memikirkan dan mengupayakan perkembangan karier dan kemampuan mereka serta membela mereka diluar divisi kami.Saya adalah atasan yang benar-benar saklek dan rewel, kalo saya bicara A ya A, saya gak suka melihat anak buah saya terjebak dalam sesuatu yang salah, saya rajin memanggil mereka untuk mengkritik dan menunjukkan cara kerja yang harusnya mereka lakukan, saya justru harus dikawatirkan jika saya diam seribu bahasa,anda mau salah atau benar bukan urusan saya,artinya saya gak peduli lagi….Tapi gak semua orang demen dikritik, entah karena kebodohannya dalam melihat sesuatu dalam jangka panjang, atau manusianya yang PICIK dalam menyikapi sesutu,saya gak tau…jadi kadang kerewelan saya mengkritik para staff sering kali membuat beberapa dari mereka terlihat jelas mendendam dan tidak menggunakan kritikan saya menjadi ajang perbaikan diri,tapi justru sebalikanya!



Nah menghadapi situasi seperti ini butuh kebesaran jiwa dan positif thingking, hidup itu gak ada yang mudah, jika anda memiliki atasan-atasan yang anda rasa sulit bagi anda, coba sekali lagi koreksi diri anda dan lihat hal-hal kecil yang telah bos anda lakukan untuk anda. Anda jangan kekanak-kanakan dengan bersikap berang dan marah ketika atasan anda memarahi anda saat melakukan kesalahan, kenapa?anda harusnya bersyukur, ketika seseorang memarahi anda ketika melihat anda berbuat salah, artinya ada orang yang mau capek2 ngasih tau anda kalo anda itu salah, dan anda itu dibimbing untuk melakukan perbaikan. Silahkan dipilih, mau atasan model begini apa atasan yang ketika tau anda salah ia hanya diam,dan anda akan terus melakukan kesalahan berulang-ulang lantas suatu hari nanti disaat anda benar-benar tenggelam dalam kesalalahan anda si Bos merekomendasikan anda buruk ke perusahaan apalagi memberi opini bahwa anda gak bisa kerja?Artinya anda gak dikasih kesempatan memperbaiki diri tau-tau anda ‘dilempar’ begitu saja…sama aja dengan orang buta didiemin aja ketika nyeberang jalan, tanpa ada orang yang mau neriakin “woi..jangan kesana,ntar ketabrak mobil!!!”, gitu kira-kira analogi saya.Dan jadi atasan juga gak sama sekali mudah, memang seorang bos harus mampu mengayomi dan membimbing bawahannya.Namun..seorang bos itu manusia juga,punya batas kesabaran, dalam menangani bawahan yang selalu membuat kesalahan dan gak punya semangat kerja yang lebih baik tentu melelahkan.
Coba anda bayangkan, bekerja dalam team itu kan berarti saling bahu membahu, kalo yang lain lari kencang maka anda gak boleh slow,karena jalan anda yang slow pasti mempengaruhi hasil kerja yang lain, yang mungkin harusnya sempurna maka jadi gak sempurna karena ulah anda. Nah seorang atasan harus memastikan orang-orang dengan kinerja buruk itu diperbaiki,karena jika tidak maka akan jelek lah hasil kerja seluruh anggota team yang lain yang mungkin sudah bekerja keras.jadi sangat tidak tepat jika menyikapi hal seperti ini bos anda tetap diam mematung tanpa mau mengkritik pihak-pihak yang emang harus dikritik dan didik lebih keras.
Orang kadang gak mengerti kalau lajunya sebuah divisi itu adalah dipengaruhi oleh kinerja SELURUH anggota divisi tersebut. Dan atasan berfungsi untuk memange kerja orang-orang di divisi tersebut agar mampu berjalan dengan ritme dan kecepatan yang sama. Dan kalo ditemukan orang yang dianggap salah sehingga berpotensi tertinggal atau mengganggu pencapaian target divisi,sudah sebuah hal normal kalo orang tersebut ditegur,dikritik dan diperbaiki cara kerjanya. Kalo sudah begini apakah itu dikatakan tidak pantas?lebih pantas mana menegur lalu memperbaiki kesalahan orang yang berpotensi merusak tatanan atau membiarkan orang melakukan kesalahan terus menerus dan harus ditanggung oleh seluruh anggota divisi yang sudah kerja dengan benar?
Kenapa saya mengangkat hal ini?karena sebagian besar orang Indonesia sulit di kritik, sulit menerima jika ditegur jika melakukan kesalahan, kadang kritik bukanya dijadikan motivasi untuk membangun diri,malah dijadikan ajang untuk dendam, merasa gak trima,marah, menangis dan merasa tersudut. EGOIS dan PICIK sekali manusia semacam ini,dan menurut hemat saya,manusia-manusia begini lah yang bukannya mengambil ilmu dari atasannya tetapi malah menambah dosa dengan menyumpah-nyumpahi dan ngomong-ngomongin atasannya di belakang, nah anda mau jadi yang mana..mau jadi yang termotivasi atau mau jadi manusia tak berguna yang doyan bergosip?
Jika anda saat ini sedang merasa bermasalah dengan atasan anda, saya menyarankan anda untuk mencerna lebih lanjut, sudah benarkah anda, jika anda pun merasa masih memiliki kesalahan atau dng kata lain,kesalahan memang ada di tangan anda, cobalah untuk bersikap tegar, kita jauh dari sempurna begitu juga atasan kita mungkin inilah bentuk kita berlatih dan belajar menghadapi orang lain, lain waktu kalau kita diamanahkan menjadi atasan kita bisa meniru prilaku yang positif dan membuang prilaku yg negative. Tapi jika atasan anda tidak pernah melakukan tindakan yang diluar batas dan tidak pernah melakukan tindakan tidak senonoh (secara normative) lainnya, dan dia hanya perfectionist,anda jangan buru-buru menenggelamkan diri anda pada sebuah amarah, anda sebaiknya mengadopsi pemikirannya dan jalan pikirannya, biasakan diri anda menjadi perfectionist dalam bekerja…suatu hari nanti hal itu akan berguna bagi anda.
Tapi jika kelakuan atasan anda sudah melebihi batas yang menginjak-injak harga diri anda dan harkat martabat anda serta merusak pemikiran positif anda, ada baiknya anda mencari pekerjaan lain, lagi pula kalo anda memang berkualitas dan memang merasa lebih baik kenapa tidak mencari tempat lain, saya rasa kalo itu benar adanya anda pasti ‘laris’ manis diluar sana…
Mulai sekarang, berfikir lebih jauh dalam menyikapi interaksi bos dan bawahan, anda jangan cepat kecil hati dan patah semangat, yakinlah Allah memberi kita kesulitan supaya kita menjadi lebih baik!Dan menurut saya tidak ada manusia yang akan maju jika tidak mampu menerima kritik dan gemblengan…jangan terus menerus jadi manusia batu yang mudah marah dalam mencapai perubahan yang lebih baik…
Selamat tahun baru 2010 guys….

Tuesday, December 15, 2009

Pelayanan Medis a'la RS Pemerintah

Pernah nonton serial Emergency Room (ER)?kalo pernah, pernah gak kelintas dipikiran temen-temen betapa kagumnya kita dengan kinerja dan pelayanan paramedis di film itu.Di film itu digambarkan betapa reaktifnya paramedic di rumah sakit dalam menangani pasien, semua pasien yang datang dengan penyakit baik ringan maupun parah, baik miskin maupun kaya,baik berpangkat maupun tidak, selalu mendapat penanganan serius. Dokter-dokter dalam serial itu pun senantiasa terlihat terlibat secara total dalam menangani pasiennya tanpa pilah pilih latar belakang pasien, dari dokter maupun perawat semua professional, benar-benar gambaran tentang idealnya sebuah pelayanan medis. Saya engak tau apakah emang pada kenyataan begitulah yang terjadi di luar negri,apakah hanya di film saja, mungkin teman-teman yang tingal di luar negri bisa menjawab pertanyaan saya.

Mungkin gak pemandangan kek gini kita liat di RS pemerintah?


Yang membuat saya tergelitik untuk menulis disini adalah,tentang pengalaman saya pagi ini. Ceritanya gini:sesampainya saya di kantor, seperti biasa saya kerap bertukar senyum maupun bertukar sapa dengan receiptionist, selang 15 menit berlalu,ada karyawan melaporkan ke saya kalo si receiptionis itu (Melly) mengalami sesak nafas. Di pikiran saya, ini astma mungkin..ketika saya mendatangi TKP ternyata ybs sudah ‘kepayahan’ bernafas bahkan mengaku nyeri di kedua tangan,dada dan perut, semacam kram. Wah saya panic, saya pikir harus bertindak cepat,mengingat di kantor kami gak punya persediaan oksigen untuk case semacam ini.Maka tanpa pikir panjang,dikomandolah untuk mempersiapkan kendaraan dan tenaga untuk mengangkat Melly ke RS terdekat.

Saya sih saat itu gak kepikiran RS mana yang bagus,pokoknya yang terdekat aja deh. Kebetulan kurang dari 500m dari gedung kantor ada sebuah RSUD (RS Umum Daerah) .Saya pikir kesana aja deh,masukin ke UGD mudah-mudahan cepat dapet pertolongan,minimal oksigen.

Sampai RS saya turut mengantar ke ruangan periksa,saya damping terus Melly sebagai gantinya keluarga (karena keluarga belom datang).Tak lama seorang suster melihat kondisinya,lalu dengan enaknya nyeletuk “Ini hysteria namanya”, what the maksud dengan hysteria,pikir saya. Saya tanyakan lebih lanjut,katanya ini penyakit gak bahaya,Cuma sekedar emosi yang tertahan,jadi gak berbahaya. Saya sih gak habis pikir,ini kan masih pagi,emangnya sudah ada masalah apa di kantor?Ternyata setelah melihat latar belakang kesehatan ybs,ternyata ybs memang memiliki kelainan jantung,dan ketika dilakukan rekam jantung,hasilnya pun menunjukkan hal serupa,kelainan jantung,dan sedang colaps.Nah lo tu suster seenaknya aja ngomong,kesannya kok ngentengin banget!

Dokter menyarankan untuk periksa darah untuk memastikan.Okelah,kemudian saya mengurus administrasi pengambilan darah,saya balik lagi ke UGD menyerahkan bukti bayar dll,tak lama suster menghampiri saya lalu menyerahkan sample darah dan seluruh dokumen bukti bayar sambil berkata :”Ini bu,silakan ibu antar sendiri samplenya ke Lab di lantai 2” (si suster nyerahin 2 tube berisi darah Melly kepada saya).

Whohoohohoo..saya melongo,kok saya yang nganter?aneh banget,bukannya saya tugasnya bayar aja trus setelah itu terima beres ya?aneh ni RS pikir saya..jujur ini pengalaman pertama saya berurusan sama RS pemerintah..jadi masih melongo aja.Well,saya trima aja tu sample dan saya sendiri yang nyerahin ke lab di lantai 2,sambil saya mikir,aduh kalo kayak gini apa gak kejadian tuh kasus2 tertukarnya sample darah seperti yang ada di sinetron-sinetron?eheheh…Nah kalo pasiennya datang sendiri apa harus mereka bangun dari tempat tidur dan membawa tu sample darah ke lab dengan tenaganya sendiri??aneh...M

Kejadian lucu kedua adalah,ketika saya menemani melly di ruang UGD sambil nunggu hasil lab selesai, suster menghampiri saya dan berkata :”dikasih minum aja bu..”, nah dengan begonya saya celingukan liat kanan dan kiri,kasih minum?mana minumnya ya?saya lagi bener-bener berfikir seseorang petugas telah memberikan setidaknya segelas saja air putih untuk Melly yang sudah kehilangan banyak cairan karena keringat dingin dan air mata.namun kenyataanya melihat saya celingukan gitu,si suster kembali menambahkan :”beli teh manis aja bu diluar..”

Whats the maksud lagi neh,beli teh manis diluar??ya ampun…konyol sekali. Kenapa saya bilang konyol?,pertama ini kan RS tempat orang sakit,berarti apapun yg dikonsumsi leh pasien berarti kan harus hygienis dan terjaga kebersihannya dong,nah kalo untuk segelas air minum or teh manis kita harus membeli diluar yang entah terjaga entah tidak kebersihannya,saya pikir bukannya nambah sehat malah nambah penyakit bukan sih?trus yang saya pikirin lagi adalah gimana kejadiannya sih kalo ada korban tabrak lari yang dilarikan ke RS tanpa satupun orang yang dikenal mendampingi,apakah kalo mereka haus juga harus beli sendiri ke kantin di luar…

Kejadian berikutnya adalah,selang 2 tempat tidur dari tempat tidur Melly di UGD tampak seorang pasien yang sedang ditunggui oleh keluarganya,kelihatannya kondisi sudah kritis,tak lama saya memperhatikan ketika keluarganya histeris memanggil suster untuk mendekat karena tampaknya pasien makin anjlok kondisinya,saat itu pasien saya liat hanya memakai oksigen,tanpa alat lainnya sama sekali (pacu jantung maupun alat monitor nadi dll),saya tunggu beberapa menit saya ingin melihat ketika keluarga bereaksi histeris begitu apakah para suster akan bergerak cepat menghampiri, dan ternyata TIDAK!para suster dan 2 orang dokter yang ada diruangan yang sama itu tampak duduk tenang di tempat masing-masing, selang beberapa menit seorang suster dengan langkah lenggak lenggok santai baru menghampiri si pasien,bener-bener terlihat santai seolah tu pasien sakit pilek!halo..tu orang sekarat lho??? Dan selang 40 menit dari situ,si pasien pun meninggal…., saya miris melihatnya,penangannya jauh dari cekatan dan professional.

Gila…ini pengalaman pertama saya menggunakan layanan RS Pemerintah,dan langsung terheran-heran dengan penanganannya yang asal-asalan..jangan-jangan kalo ada orang jatoh tergeletak di tengah jalan tanpa siapapun yg bisa menjamin coverage biayanya dan ketika dilarikan RS,tidak akan dilayani pulak?na’udzubillah…inikah yang namanya pelayanan kesehatan dari pemerintah untuk rakyat?

Duh saya miris pisan,jauh dari ideal banget ni pelayanannya,okelah gak usah merujuk pada style pelayanan ala paramedis di ER,tapi please lah..hargai nyawa orang..berikan pelayanan terbaik mbagi rakyat,karena kesehatan itu adalah hak azasi manusia,siapapun juga orang tersebut. Catatan untuk menkes kali ya untuk memperbaiki pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil….

Our Wedding Anniversary

Our 4th Anniversary
Daisypath Ticker