Pages

Tuesday, April 28, 2015

Ulang Tahun di tanah suci

Ini sedikit cerita dari ulang tahun saya 24 Maret lalu. Mungkin buat saya ulang tahun tahun ini adlah ulang tahun terbaik sepanjang hidup saya, kenapa?
jawabanya karena saya melewatinya di dua tanah suci bagi orang Muslim, yaitu Madina dan Mekkah.
Pagi pada tanggal 24 itu saya membuka mata berada di Madinah, dan sempat menikmati ibadah dihari pertambahan usia saya di masjid Nabawi, dan ketika petang saya sudah berada di Mekkah dan hari itu saya menutup hari dengan menunaikan ibadah umroh di Masjidil Harom ,Mekkah.
Ini sebenernya tidak saya rencanakan sebelumnya, saya bahkan tidak tau akan merayakan hari jadi saya di dua kota tersebut.
Saya memang dihadiahkan oleh suami saya paket perjalanan umroh bersamanya, tepat di bulan Maret. Namun atas seizin Allah tanggal keberangkatan bertepatan dengan hari menjelang ulang tahun, dan hari ulang tahun tepat dengan hari ibadah umroh saya.



Bagaimana rasanya ya, sungguh gak bisa dijelaskan, saya benar2 merasa senang dan merasa berkelimpahan kasih sayang dari Allah. Saya merasa syukur atas apa yang Allah berikan kepada saya dan keluarga.

Berbicara tentang ibadah umroh maupun haji, say ameyakini itu adalah perjalanan yang bersifat spiritual. Saya mengalami banyak hal- hal yang mengejutkan dan membuat saya percaya bahwa Allah maha tau isi hati manusia.
Seperti contoh, sejak dari tanah air saya mengatakan kepada suami, "aku mau ibadah, jangan sampe deh tergoda belanja- belanja, sayang waktuku". berkali- kali saya mengulang itu pada suami saya, dan apa yang terjadi? Kita tak mungkin menampik, bahwa banyak penajaja barang dan pernak pernik berjualan dipinggiran masjid, namun setiap saya tertarik untuk melihat, maka saat itu juga saya terserang sakit pinggang luar biasa. Bahkan pernah pada saat saya berada di Mekkah, seorang tante saya di tanah air titip pesan minta dibelikan parfum di Hilton tower lantai 3, hilton tower terletak disebelah tower hotel say amenginap, logikanya tidak jauh kan? maka saya menunaikan titipan pesan itu, saya dan suami menuju tempat yang dimaksud dan sungguh tidak jauh, namun apa yang terjadi? pinggang saya sakit parah, saat itu saya benar2 dibilang hampir tidak sanggup untuk jalan, boro2 mau melirik barang2 lain atau mau mencari sajadah bagus secara khusus. .Saya hanya sempat belanja oleh2 sedikit untuk orang terdekat, itupun tempat belanja yg hanya dekat dng eskalator hotel, selebihnya saya tidak tertarik apa2. Allah menjawab perkataan saya, saya tidak mau belanja, hal yang tumben sekali datang pada diri saya :)

Kemudian soal makan, saya adalah orang yang cukup picky eater, saya enggak suka makanan timur tengah, saya tidak suka aroma herbs nya. Tapi dari tanah air saya selalu bilang sama diri saya sendiri, makanan disana enak semua, saya enggak mau jajan, saya mau makan apa yang hotel / pihak pnitia sediakan. Dan apa ang terjadi? saya disana tidak ada cerita lesu makan, saya nikamti semua makanan, apakah terpaksa? enggak sama sekali, di lidah saya semua makanan enak. Bahkan ketika sampai di Mekkah, hotel menyajikan setiap sajian adalah international food dan nasi yang tersedia pasti dimasak ala timur tengah, ditamabah lagi tak tersedia sama sekali sambel atau cabai. Lalu apakah saya mogok makan? sama sekali enggak, say atetap lahap makan. Saya pun selalau menanti waktu makan dengan suka cita. Saya sama sekali tidak jajan, ice cream pun dmata saya enggak menarik. Suami saya sampai heran dengan saya yang rajin mengeluh soal makan jadi begitu sangat makan tanpa rewel. Dan alhamdulilah say apun meminta dalam hati say amau sehat, balik ke tanah air dengan sehat. Dan karena pola makan saya yang teratur dan tidak jajan, saya sama sekali tidak terkena batuk, kulit kelupas atau merah pun tidak, semua tampak baik2 saja dan segar- segar saja, betapa Allah mengabulkan semua perkataan maupun bisikan dibatin saya, Subhanallah walhamdulillah :)

Jadi tips dari saya, berdoa lah yang baik- baik, maka Allah akan mengabulkan. Soal nafsu belanja yang hilang pun saya syukuri, karena saya sadar saya perempuan yang cenderung konsumtif karena sering membeli barang tanpa mikir perlu atau tidak, dan Allah melindungi saya dng isi dompet yg terbilang hampir utuh say abawa kembali ke tanah air, alhamdulilah lagi :)
Sungguh perjalanan yang indah dan penuh kenangan indah, jujur saja nagih untuk kembali kesana perasaan hati ini.

Saya berharap dapat diberikan rezeki berlimpah untuk kembali kesana bersama anak2, suami, orang tua dan saudara2 saya. Setiap saya berdoa itulah yang saya ikut panjatkan selain doa- doa saya yang lain.
Beribadah bersama keluarga akan menjadi penglaaman tak terlupakan seumur hidup, dan saya berharap Allah akan mengabulkannya, amin.
Saya pun berharap saya diberi rejeki untuk memberi kesempatan bagi orang lain untuk menikmati kesempatan yang sama, amin :)


Monday, January 12, 2015

Hidup Sederhana yang makin langka


Sekelumit uneg- uneg saya yang sedang menikmati hujan di meja kerja saya di daerah Selatan Jakarta. Saya pengguna media social yang lumayan aktif, saya memiliki akun Facebook, Twitter, Instagram, dan Path. Memang tidak semuanya aktif, belakangan yang paling aktif adalah path. Karena path lebih dirasa mengasyikkan karena relative lebih privat, kita boleh memilih siapa2 teman yang boleh berteman dengan kita.

Kegiatan saya di path biasanya enggak jauh2 dari memposting tentang masakan saya, makanan kesukaan, mengabadikan kegiatan dng teman, saudara maupun kerabat, tingkah laku konyol2 saya dan teman2 dan sisanya lebih banyak tentang tingkah anak2 saya. Saya rasa itu yang masih sesuai dengan etika kepantasan untuk di share dengan khalayak. Meskipun path cukup limited tetapi saya masih merasa yang ada didalam jejaring path saya kesemuanya bukanlah masuk kategori orang- orang yang merupakan sahabat terdekat saya, saya harus katakan mereka adalah orang lain buat saya.
Untuk itu saya rasa masih perlu untuk memilah mana informasi yang patut dibagikan kepada mereka dan mana yang tidak patut. Sejauh ini saya menutup sekali informasi mengenai hal2 berkaitan dng masalah pribadi terlebih lagi mengenai materi. Buat saya kepemilikan materi adalah privacy, selain itu ada nilai kepantasan yang saya yakini bahwa urusan mengumbar kepemilikan atas materi itu bagian dari sifat pamer. Dan sifat pamer bukan sifat yang dapat dikatakan benar, mengapa? Karena ditinjau dari pemahaman agama sudah jelas salah, ditinjau dari aspek psikologis pun itu salah satu prilaku yang memprihatinkan karena menjurus pada gejala Hedonisme. Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.

Tidak ada yang salah dengan memakai barang yang dirasa nyaman bagi kita apalagi sesuai dengan isi kantong. Tapi yang salah adalah jika situasinya secara sengaja menampilkan materi yang dimiliki apalagi jika tujuannya untuk membanggakan diri apalagi show up materi demi diberi label dirinya mapan dan sesuai dengan standar kekayaan yang menurutnya dianut orang lain.
Coba jika diperhatikan dengan seksama, mungkin teman2 dapat memperhatikan banyaknya teman dalam jejaring socialnya kita masing2 yang aktif memposting foto – foto yang menunjukkan hal ini, seperti, memposting gambar perhiasan emas yang baru dibelinya, gambar tas maupun sepatu koleksinya dengan harus memotret label nya, memajang foto mobil yang digunakannya lengkap dengan plat mobilnya (mungkin supaya semua orang tau itu mobil masih baru), memotret struk belanjaan milikinya, memajang foto2 situasi ruangan lengkap dengan perabot dalam rumahnya, memajang progress pembangunan rumah barunya dan postingan lain sebagainya yang menunjukkan sikap pamer. Bahkan saya pernah menemukan teman yang berpose di toilet (WC) rumah barunya untuk menunjukkan pada dunia tentang kemewahan rumahnya. Sejujurnya yang dilihat ini menimbulkan reaksi berbeda dari banyak orang, mungkin ada yang gerah karena iri, mungkin juga ada yang kecil hati karena tidak memiliki barang yang sama, mungkin juga menjadi jijik karena tidak sepaham dengan kesombongan orang2 ini atau mungkin justru seperti saya dan teman2 yang melihat itu semua malah menjadikannya guyonan karena tindakan itu saya nilai sangat konyol dan tidak menunjukkan sikap yang elegant. 

Dewasa ini jarang  orang memposting kegiatan belanja di pasar, kegiatan sederhana di alam, kegiatan alamiah manusia yang tidak melibatkan proses pamer harta ini, makan makanan kampung, melakukan aktifitas yang sederhana, naik kendaraan umum, maupun kegiatan biasa- biasa saja lainnya. Hanya segelintir orang yang tampil  nyaman dengan dirinya sendiri tanpa membawa embel2 harta seperti ini, jarang sekali orang tampil alamiah layaknya manusia normal. Gaya seperti itu belakangan ini dinilai hal normal, malah cenderung diposting norak dan ketinggalan jaman.
Tapi dibalik itu, tanpa sadar seseorang yang melakukan kegiatan pamer di media social sudah menjatuhkan martabatnya seolah tidak memahami intelektualitas dan etika. Tapi apa daya, saat ini orang tidak banyak berfikir tentang hal itu, orang seperti berlomba2 ingin terlihat kaya, entah ingin pujian atau apa. Yang pasti gejala hedonism ini mulai merambat kemana- mana. Mulai dari orang kaya baru, pegawai swasta, PNS sampai ibu rumah tangga. Semua berlomba untuk menunjukkan gaya hidup jet set. Ini mengerikan, jika dalam sebuah keluarga, ayah maupun ibunya terjangkit virus hedonism akut seperti ini, lantas bagaimana anak2 yang dihasilkan dari keluarga tersebut? 

Tapi mungkin inilah tantangan kita, gaya hidup hedonism ini memiliki daya tarik yang kuat, apalagi dengan kuatnya pengaruh media social yang membuat orang mudah tergiur untuk eksis dan show off. Ini adalah ujian berat bagi kita untuk mengambil langkah- langkah aman untuk menjauhkan diri kita dari godaan gaya hidup hedonism. Para pihak harus kembali menyadari pentingnya kembali menjalani hidup yang normal, maka mulailah untuk terbiasa menampilkan kesederhanaan dan membiasakan bersikap bersahaja. Karena kita adalah role model generasi kedepan.

Tidak ada yang salah dengan menampilkan citra diri yang mapan, sepanjang tetap memperhatikan sikap sederhana dan tidak pamer. Mulailah berimbang untuk menunjukkan sisi diri kita yang sebenarnya, berhentilah terobsesi membangun image ‘saya orang kaya’. Anda harus sadar anda tidak perlu bersaing dengan siapapun untuk itu, anda cukup membuktikan diri untuk diri anda sendiri bahwa anda adalah orang yang mampu bertahan hidup dengan normal dan memegang teguh prinsip hidup anda, tentu prinsip hidup yang positif. Anda tidak perlu sibuk menunjukkan diri anda sukses, orang yang sebenarnya sukses malah jauh lebih fokus pada hal- hal bermanfaat bukan hal2  yang sama sekali tidak memiliki manfaat seperti pamer.
Anda tidak perlu menjadi orang lain dan menarik perhatian orang lain, yang perlu anda titik beratkan adalah bagaimana anda bisa survive di masa depan anda, bagaimana anda menciptakan generasi berikutnya yang berkualitas bukan yang hedonism.

Monday, July 14, 2014

Mari kita menciptakan Pemilu Damai



Mungkin ada dari pembaca blog sama merasakan hal yang sama dengan saya, muak dengan PILPRES!
Ini yang saya rasakan, awalnya saya semangat menyonsong PILPRES, saya pun sibuk mencari bahan untuk membuka cakrawala pemikiran saya, karena PILPRES kali ini terasa begitu ketat, sungguh dari hati yang paling dalam saya sulit memilih, bukan saja karena dua-duanya bagus,tapi dua- duanya punya ‘catatan’ bagi saya.

Saya diawal merasa pantas jika disebut swing voters, karena benar2 gamang mau milih Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Saya benar2 cukup mengandalkan riset pribadi dan mengamati Debat Capres. Pada debat Capres kedua,saya akhirnya bulat membuat keputusan, saya punya kepastian mau milih siapa di PILPRES ini. Saya enggak perlu sebut pilihan saya di sini ya, karena cukuplah FB, PATH, Twitter sekitar saya saling serang gara- gara beda pilihan ini.

Saya nulis ini karena saya sungguh muak, muak semuak muaknya dengan para pendukung Capres yang seperti orang gila membabi buta.
Satu sisi saya senang melihat orang- orang sekarang punya concern dalam memilih presidennya, mau punya peduli pada politik negaranya. Tapi ternyata masih juga ada yang tidak siap dalam mengemban demokrasi. Orang2 awam yang dadakan paham politik ini tau- tau mulai aktif dan massif. Mereka dengan pengetahuan yang mungkin baru segitu tidak diimbangi kebesaran jiwa dan memaknai demokrasi dengan benar.
Sehingga dengan info sedikit yang juga belum tentu benar, akhirnya siap menyerang siapa saja yang berbeda dengannya. Dan enggak pandang bulu, mau saudara kandung, mau orang tua, mau sahabat, mau kenal mau enggak, pokoknya kalo beda ya wajib serang.
Apa sebutan yang pantas disematkan dengan prilaku seperti ini? Egois?? Mungkin, saya enggak tau yang pasti saya lelah dan muak liat sikap2 itu.

Saya menyimpan rapat pilihan saya di dalam hati, mungkin suami saya tau siapa pilihan saya, tapi kami pun  enggak banyak membahasnya. Saya sering lihat orang2 di lingkaran pergaulan media social saya sering menyanjung Capres Pilihannya yang sering juga beda dengan pilihan saya, tapi saya enggak pernah mau nyerang. Saya berfikir, ini demokrasi, silahkan pilih yang anda suka karena saya menghormati anda, dan saya ingin anda melakukan hal yang sama terhadap saya.
Tapi lain kenyataannya dengan beberapa orang di lingkaran media social saya, yang kadang melihat orang lain yang menyanjung capres pilihannya lantas ‘diserbu’, disudutkan, diolok bahkan berujung pada adu argument.

Suami saya yang dikenal cukup vocal pernah ikut menyuarakan isi kepalanya, ia menulis sesuatu di laman FB nya tentang pilihannya, saya pikir itu gak salah. Toh selama ini teman2 di FB saya banyak yang begitu, dan saya pikir itu hak azasi dia, kalo saya enggak sepakat ya saya gak usah capek2 mikirin apalagi ngabisin waktu mendebat. Karena media social bukan tempat paling fair untuk berdebat.
Lagi pula apa sih yang perlu diperdebatkan, toh salah satu Capres akan jadi presiden kita. Apakah kalau presiden pilihan kita kalah kita akan diusir dari Negara ini?
Apakah pula kalau presiden pilihan kita terpilih kita pun tiba2 jadi kaya mendadak atau dikasih jabatan mentri? Enggak kan? Kita akan menjalani hidup kayak biasanya kan apapun itu?
Jadi kenapa kalau hidup akan berjalan seperti biasa siapapun yang terpilih, kenapa kita harus kehilangan sahabat, saudara, kerabat maupun kenalan hanya karena ini?

Saya merasa hubungan silaturahim dengan semua orang adalah hal penting, saya enggak mau menjadi orang yang gegabah dalam menentukan sikap. Yang saya pahami, hidup saat ini tidak bisa dipandang hitam atau putih, tapi ada abu- abu yang kita mungkin gak mampu menterjemahkannya.
Didalam ketidakpastian itu, kita akan tetap hidup dalam masyarakat, kita tetap hidup bersama di Negara ini, sebuah perpecahan gak berguna apa2 untuk kita, gak akan membangun apa2 buat Negara kita. 

Maka dalam tulisan ini, saya mau bilang pada semua orang, jangan menjadi pemicu masalah dengan terus menerus terpancing emosi dan memancing emosi orang lain dalam urusan Pilpres, apapun hasilnya, Negara kita harus tetap dipimpin seorang Presiden dan Negara kita harus maju. Gak akan ada kemajuan sebuah bangsa yang dng adanya perpecahan apalagi sebuah kerusuhan. Mari dukung
kedamaian untuk Indonesia.

Friday, May 30, 2014

Memilih Presiden 2014

Hampir tiap bertemu teman dan kerabat, gak jauh- jauh yang dibahas adalah, milh siapa 9 Juli mendatang?
Dan rata2 orang yang saya temui pasti bingung, gak tau mau milih siapa.
Peta perpolitikan Indonesia kian rumit saat ini, menjelang Pilpres suasana ssemakin panas.
Kubu Jokowi-JK makin santer menebar segala issue2 miring tentang kubu Prabowo-Hatta, demikian sebaliknya.
Bahkan saya merasakan ada partai di Kubu Prabowo-Hatta yang sejak Pileg sudah begitu kejam alias nyinyir menebar issue SARA atas Jokowi, dimana itu skali lagi masih belum dpt dipastikan kebenarannya.
Yang lucunya, dulu saat Pileg beberapa oknum partai menghina dan menebar issue jelek tentang Prabowo, seputar pelanggaran HAM yg dilakukan lah,tentang kepribadian ototriternya lah, namun sekarang malah berkoalisi menggadang- gadang Prabowo.

Saya jujur muak dengan komentar para simpatisan atau pendukung yg saling hujat. Liat aja dilaman facebook masing2, pasti eneg liat issue2 yg dilontarkan.

Sejujurnya tiap orang berhak menganalisis pilihannya, tanpa hrs maksain ke org lain lagi.
Gak perlu jg ngebagus2in atau menjelek2 kan yang belum tentu terbukti.
Saya punya pilihan, dan saya keep itu dalam hati saya, saya pun tak keberatan jika suami saya berbeda pilihan debgan saya, karena saya meyakini hal hal spt ini adl hak azasi masing2 orang.

Kita mau ribut2 apapun jg pasti satu dari mereka kelak akan jd pemimpin kita. Maka cukup serahkan pilihan kita kepada Allah swt, berpasrahlah untuk meminta petunjuknya, karena kelak negara ini akan spt apa tentu atas izin Allah swt.

Jadi teman2, jadilah pemilih yg sehat, yang memilih dengan hati dan pertimbangan yg matang, dan tak lupa pasrahkan pada Allah, apapun itu hasilnya doakan yg terbaik untuk bangsa kita.

Selamat memilih, terpenting jangan golput dan jangan jadi gak rukun karena perbedaan pilihan! 

Wednesday, March 19, 2014

Haters



Minggu lalu saya cuti karena sakit, saya begitu lemah sampe membaca buku pun pusing skali rasanya, akhirnya saya hanya mampu menikmati gambar demi gambar yang ada di media social Instagram supaya tidak bosan di tempat tidur. Saya gak sengaja membuka link Instagram salah seorang putri pasangan artis (yg finaly bercerai) Anang dan Krisdayanti, anak itu mungkin usianya baru 15 tahun, saya enggak terlalu tau. Saya kaget saat melhat instagramnya, bahwa untuk ukuran anak umur segitu haters nya luar biasa banyak. Saya yang ketinggalan jaman atau bagaimna, seingat saya anak ini belum punya karya seperti film layar lebar, sinetron ataupun album sendiri, ia hanyalah (kebetulan) anak sepasang selebrity. Namun yang mencengankan adalah betapa haters anak ini kejam dalam melontarkan hinaan demi hinaan. Yang dihina pun bukan karena karyanya karena anak ini spt saya bilang tadi belum punya karya apa2 dan emang bukan artis. Saya lihat para haters itu mencerca anak itu dengna sangat terang- terangan seperti: dasar lo item, dasar lo jelek, paha lo tuh kayak kaki sapi, entah apalagi saya gak sanggup menuliskan disini.


Hal serupa saya lihat juga di akun instagram salah seorang mantan kekasih putra sulung Ahmad Dhani, yang sama sekali bukan artis, dan hatersnya banyak sekali, yang cercaan-cercaanya begitu tajam, yang jika dilihat juga bukan karena si pemilik akun melakukan foto yang aneh, isinya caci-cacian yang terasa penuh kedengkian.

Saya enggak paham duduk permasalahan para haters ini dengan orang yang bersangkutan. Saya rasa buka urusan orang juga ya melihat ada orang berpose dengan gaya apapun, toh itu media social milik orang tersebut. Kalo tidak suka tinggal unfollow kan beres.Apalagi kalau ada foto- foto yang biasa- biasa saja tapi tetap mendapat cercaan yang enggak nyambung, seperti pose orang lagi sama pacarnya, lalu dihina : dih mau aja lagi dia sama elo dasar jelek, dasar permepuan gak bener. Nah looo kacau kan?
Belum lagi kalau kita menilik prilaku kicauan miring si pengacara yang sedang berusaya mencalonkan diri jd capres RI, Farh*t Ab*s.  Saya melihat kenapa orang ini ringan sekali menghujat orang lain melalui akun twiternya, padahal kemungkinan ia pun tidak mengetahui duduk permasalahan utama yang sedang dihadapi orang yang dijuatnya.

Tapi yang menarik disini, saya melihat orang mulai terkikis rasa tenggang rasa dan saling menghormatinya. Menghujat sudah seperti budaya. Bahkan kedengkian seperti menjadi hal yang lumrah serta cukup sah untuk dilontarkan tanpa malu bahwa apa yang dilontarkan itu menunjukkan kekerdilan jiwanya.
Saya enggak bilang orang yang yang dicecar para haters ini mutlak benar, misal anak seusia belasan tahun tapi gaya berdandan lengkap dan kadang tidak sesuai usianya, ataupun gaya bercelana pendek memamerkan aurat (mohon maaf), emang ada yang yang kurang tepat, tapi itu sekali lagi hak azasi orang itu. Gak perlu ditanggapi dengan hujatan yang sungguh tidak manusiawi.Atau seperti pengacara itu, apakah perlu menanggapi hal- hal remeh yang mungkin tidak penting sementara harusnya ia sibuk dng karier pengacaranya?
Menanggapi anak- anak dibawah umur yang di bully para haters melalui media social pun membuat saya gak paham kemana orang tuanya?
Apa tidak lebih baik meminta anak2 mereka membuat social media mereka dlm kondisi private agar tidak dihampiri haters yang komentar- komentarnya sungguh merusak kepercayaan diri anak2 itu.
Atau jangan2 orang tua anak2 ini pun mementingkan popularitaas sang anak sehingga membiarkan para haters lalu lalang meninggalkan komentar2 kejam seperti itu di media social anaknya?
Kalo terjadi pada Lulla  (amit- amit) mungkin saya akan meminta Lulla mengubah media social mjd lbh private, agar secara mental anak saya pun tidak dirongrong oleh cercaan para haters.
Saya yakin cercaan haters ini pun mampu membangun mental seseorang untuk lebih berbesar hati, namun saya rasa ada waktunya untuk menempa mental seseorang melalui hal tersebut, dan saat yang tepat itu bukanlah usia masih belasan tahun.

Berbicara soal haters, saya pun memiliki orang yang diam- diam gemar menghujat dan mencerca saya dibelakang, dari mulai masalah interaksi saya dengan jajaran direksi, kehidupan financial keluarga saya,sampai cara mendidik anak saya. Semua itu dng gamblangnya ia uraikan ke temannya yang kemudian menyampaikan lagi kepada saya akan cercaan- cercaan itu. Tapi karena usia saya yang sudah begini banyak, tentu saya menyikapi orang- orang bermulut jahat dan pendengki  begini dengan sikap lebih legowo dan penuh keiklasan. Tidak perlu terbawa emosi apalagi memasukkan hati, saya cenderung menjadikannya angin lalu, dan hanya dengan kunci memaafkan dengan iklas yang akhirnya membuat saya tidak dendam apalagi sakit hati. Tapi mungkin kalo orang begini berhadapan dengan saya 10 tahun lalu, mungkin saya tidak akan sesabar ini.
Ini mengingatkan saya akan cercaan para haters kepada anak2 ini di media social ang saya sebut diatas, saya rasa 100x lipat lebih jahat dari yang saya terima dari orang ini, apakah anak- anak itu mampu berdiri tegar tanpa emosi sama sekali menerimanya?
Apakah cukup sehat untuk perkembangan psikologis mereka saat kecaman- kecaman yang cenderung tak berdasar itu melukai perasaan mereka setiap harinya?
Yang saya tau banyak case bunuh diri yang dilakukan anak2 muda diluar sana karena ulah haters. Mereka tak kuat menangkal cercaan demi cercaan tersebut sehingga memilih bunuh diri.


Jadi saya pikir, sebagai orang tua mestinya bisa mulai mencermati media social anak2 kita.Jika ada orang tua yang kelak ingin anaknya memiliki popularitas, perlu perencanaan matang langkah yang lebih tepat untuk anak kita agar mampu mengemban popularitas,karena popularitas tidak lepas dari yang namanya para haters dan tidak bisa kita cegah juga keberadaannya. Maka kesiapan mental pun harus dibangun sebelum anak menjadi bulan- bulanan kekejaman manusia iseng diluar sana.

Sementara fenomena banyaknya manusia yang bertransformasi menjadi pendengki yang lebih sering disebut haters ini ,perlu juga kita cermati, jangan sampai anak- anak kita justru berkembang menjadi para haters seperti ini. Yang saya lihat jaman sekarang orang sungguh minim dalam memahami pendidikan moral. Adanya kemajuan teknologi nampaknya tidak disikapi dengan bijaksana, orang cenderung makin mudah menjadi manusia2 kejam dan seenaknya  yang gemar menyakiti perasaan orang. Social skill seseorang pun tidak berkembang, karena orang cenderung berani berhadapan hanya dibalik dunia maya, dan cenderung ciut jika harus berdebat secara langsung atau  berhadap- hadapan secara fair. Bagi para orang- orang yang memang pendengki, tentu ini jadi tameng yang baik sekali untuk mereka, karena tanpa harus memilki keberanian mengkritik dihadapan orangnya langsung secara face to face mereka tetap mampu melontarkan kedengkiannya.

Bagaimana mungkin sifat sejelek itu mampu tumbuh dalam diri seseorang? Ini semua  kembali lagi kepada bagaimana seseorang terdidik, baik dirumah, disekolah dan pergaulan. Tugas utama semua pihak bgmn  bagaimana anak mampu mendapat pendidikan moral yang tepat, agar mereka agar lebih bertenggang rasa, lebih saling menghormati, lebih mampu memahami perbedaan dan jauh dari sikap pendengki.Kita pun punya tugas  menciptakan generasiyang kritis yang  berani mengungkapkan kritik secara gentle karena memang  memiliki alasan kuat atas pendapatnya. Bukan seperti sekarang ini, ketidaksukaan terhadap orang lain tidak dapat dicari dasarnya karena apa, dan kadang hanya dengan enteng mengatakan : “ya pokoknya gue enggak suka aja sama dia”.

Perlu juga adanya penanaman pikiran bahwa gadget dan segala kemajuan teknologi harus disikapi sebagai penyambung silaturahim. Dan terpenting, sejak dini anak2 diajarkan untuk tidak melakukan hal yang sia2, menjadi haters yang gemar menghujat, menggunjingi dan memfitnah orang adalah prilaku yang  sia- sia yang justu dosanya sungguh besar.
Ini menjadi PR bagi kita bagi kita semua, jangan geser kebiasaan kita sebagai manusia berbudaya menjadi manusia yang tak kenaal etika dan budi pekerti.
Dan untuk semua moms, aware lah dengan gadget anak- anak anda, jangan sampai anak2 jadi bahan bully maupun pelaku bully meski melalui media social. 

Semoga berkenan  :)

Tuesday, February 25, 2014

Pentingnya Membangun Integrity dan Character Pada Anak


Beberapa hari lalu saya diundang oleh sebuah universitas swasta terkemuka di Jakarta untuk memberikan advice ttg kurikulum perkuliahan mereka. Ada kecemasan dari pihak universitas berkaitan dng kualitas lulusan mereka, mereka ingin mengetahui kualitas semacam apa yang diperlukan oleh freshgraduate untuk dapat bersaing di bursa kerja. Saat itu saya duduk bersama dengan beberapa perwakilan dari beberapa kementrian dan beberapa institusi perbankan besar di Indonesia sebagai narasumber.

Sekelumit cerita, selama 10 tahun lebih saya menjadi HRD saya memang merasakan begitu banyak perubahan pada candidate pekerja yg saya test dan interview. Perubahan yang saya tangkap adalah, kualitas freshgraduate saat ini lebih melek teknologi, semua yang berkaitan dng skill computer sampai dengan pem-program-an computer hampir semua dikuasai. Tapi negaatifnya, saya menemukan hampir semua freshgraduate yg kami test memiliki masalah berupa stabilitas emosi dan daya tahan terhadap stress. Setelah 2 masalah ini saya juga menemukan permasalahan persuasive communication,writing skill, inisiatif dan proactive.

Di lapangan kami sebagai HRD sangat mendapat tantangan berat untuk menyuntikkan budaya2 baru kepada anak2muda dengan masalah ini. Kami dihadapkan pada kenyataan bahwa para pekerja baru ini secara mental belum bisa siap dilepas, harus bayak diberikan tantangan dan guidance. Kami punya PR terbesar yaitu harus selalu mencreate program2 yang mampu menstimulus kekurangan anak2 ini.

Kalau jaman dahulu HRD bisa sekedar mengawasi, tapi saat ini HRD harus kreatif membangun sistem2 yang menstimulus, jadi fungsi pengawasan bukan sekedar pengawasan saja. Menjalankan peran develop itu bahkan menjadi tugas utama.

Saat acara di universitas yang saya katakan tadi, kami para narasumber bersepakat bahwa universitas memang perlu memiliki sistem2 yang menstimulus hal itu. Kemampuan teknis adalah hal yang diperlukan, tapi teknis semata tidak cukup untuk membentuk mental pekerja yang professional dan kompeten.

Saya pribadi merumuskan, aspek yang diperlukan bagi seorang calon pekerja dan pekerja adalah :

  1. Integrity
  2. Character
  3. Technical Skill & Language

Saya meletakkan integrity diatas karena saya menilai, seseorang harus tau aturan main secara otomatis. Setiap orang harus tau apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan kesadaran yang kuat akan hal itu maka seseorang akan sangat mudah diberikan tanggungjawab. Tanpa diperintah tanpa diawasi terus menerus orang ini akan menjalani tanggungjawabnya dengan baik dan jujur. Coba lihat kenyataan sekarang para politisi muda yang terlibat korupsi adl orang2 yang berpendidikan tapi sayangnya minim integritas,maka apa yang terjadi, kekuasaan yang dimiliki tidak untuk memperbaiki Negara tapi dipakai untuk kepentingan pribadi dan memperkaya, inilah yang saya artikan bahwa integritas harus diletakakan paling atas.

Saya meletakkan character diurutan kedua, karena saya yakin faktor kepribadian dapat menggerakkan seseorang untuk meraih cita2. Contoh, seseorang yang tidak punya kesempatan menimba ilmu di sekolah terbaik bukan berarti ia tidak akan berhasil, semua berpulang pada kemauan ia untuk bekerja keras, mental yang gigih dan optimis. Serta karakter kepribadian positif lainnya. Saya pernah menemukan di lapangan, ada orang lulusan USA, dng IQ yang tinggi dan kemampuan bahasa yang handal. Namun ia memiliki banyak catatan permaslaahan pada faktor kepribadiannya. Seperti kerjasama, stabilitas emosi, persuasive communication dll. Akhirnya orang ini tidak mampu bekerja dengan baik dalam team kerjanya, ia pun tidak mampu mengendalikan diri saat emosi memuncak. Akhirnya kerjasama yang kami harapakan dng orang ini tidak berjalan baik. Maka dengan sangat menyesal hubungan kerja pun tidak dapat diteruskan.

Dan terakhir adalah faktor technical skill. Untuk beberapa jenis pekerjaan memang kemampuan teknis perlu dimiliki. Kemampuan teknis yang dimaksud adalah kemampuan mengerjakan pekerjaan utamanya. Jikalau konsultan pajak, maka knowledge pajaknya harus mumpuni. Ini memudahkan ia menyelesaikan pekerjannya, memudahkan dirinya meraih prestasi di bidang teknis pekerjaanya.

Tapi jika faktor ketiga dimiliki namun faktor pertama dan kedua tidak dimiliki, saya yakin sepintar dan sehebat apapun teknis yang dikuasai, orang ini tidak akan mampu bekerjasama dengan orang lain, atau mungkin yang lebih parah mungkin tidak akan mmapu diberikan kepercayaan untuk memegang suatu tanggungjawab besar.

Saya pernah menemukan di lapangan, ada seorang lulusan terbaik dari sebuah fakultas bergengsi di Universitas Indonesia, ketika terjun di dunia karier, kariernya mandek, bener2 mandek tidak menunjukkan gerakan positif. Ia mengeluh bahwa lingkungannya didominasi oleh orang2 lulusan luar negeri. Saya prihatin melihat ini. Dari cara ia bertutur pun saya menilai orang ini tidak memiliki karakter siap bersaing, meskipun secara teknis ia setara, saya yakin itu, tidak mungkin salah satu lulusan terbaik dari UI kapasitasnya buruk. Dan ketika saya amati orang ini integritasnya ternyata memang agak menghawatirkan, ia bertutur pada saya sangat ringan bahwa alasan ia bertahan ditempat kerja saat ini karena  bisa leluasa untuk meninggalkan kantor dengan mudah sehingga ia bisa sambil bekerja menjalankan bisnis sampingan dijam kantornya. Saya tidak perlu menjelaskan, saya yakin atasan orang ini pun terganggu dengan habbit orang ini, saya yakin disaat seseorang mencuri2 waktu kerja untuk kepentingan pribadi, pasti achievement kerjanya pun akan menurun. Dan apakah salah bahwa jika orang ini kariernya mandek? Yang salah bukan karena ia lulusan dalam negri dan sekitarnya lulusan luar negeri, tapi apa boleh buat secara mental mungkin orang sekelilingnya jauh lebih bisa diandalkan daripada dirinya. Saya sudah mencoba memberikan masukan ini pada orang itu, tapi saya tidak tau lagi sekarang seperti apa. Tapi disini saya share karena bagi saya ini bukti nyata, bahwa case by case seperti ini terjadi di dunia nyata.

Inilah PR kita semua, tugas bagi semua orang tua dan pendidik di Indonesia. Kita membutuhkan generasi muda yang kuat dan mampu bersaing di era globalisasi. Beberapa tahun lagi disaat pasar bebas mulai masuk di Indonesia, kita harus siap menerima gempuran tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, maka apa kabar dengan anak2 kita jika mereka tidak dibekali system pendidikan yang mengedepankan faktor2 diatas?

Saat saya menulis ini saya ingin mengingatkan pada semua pembaca blog saya, bahwa pendidikan tidak mutlak diserahkan kepada pihak sekolah atau universitas, pendidikan paling mendasar bagi anak2 kita dimulai dari rumah. Jangan lelah untuk mencari strategi untuk membangun karakter yang kuat bagi anak2 kita di rumah, jangan menyeplekan komunikasi dng anak2, jangan sekali2 membiarkan anak2 tumbuh begitu saja tanpa perhatian dan kasih sayang. Jangan menyamakan zaman kita dahulu dengan zaman anak2 kita kelak. Bukalah mata, kita memang tidak bisa santai dalam mendidik anak2 kita, karena ini tugas berat.

Thursday, February 13, 2014

Memperlakukan Si Tukang Selak Antrian


Pernah gak diselak orang saat mengantri?

Pernah gak ada orang ujug- ujug serasa asik sendiri motong barisan kita saat ngantri di kasir pas mau bayar apa gitu?

Pernah gaaak?
Gimana reaksi kalian?
Ngedumel?
Cemberut?
Protes ke kasirnya?
Atau langsung negur orangnya?

Hehehe ini  kejadian nih pagi tadi saat saya mengantri di depan kasir sebuah supermarket.
Sebelum saya ngantor, saya mampir ke supermarket deket kantor yang menjual sayur2an organic untuk makanan anak2 saya,stok di rumah habis. Saya enggak belanja banyak2 amat, tapi sekeranjang emang agak full.
Saya mengantri dibelakang seorang ibu dengan sabar. Ketika ibu di depan saya sedang menunggu uang kembalian dari kasir, saya langsung memindahkan isi keranjang ke meja kasir. Lalu tiba- tiba muncul ibu2 lain di depan saya dan menyorongkan barang belanjaanya ke hadapan kasir sambil berkata :
Ibu : nih mbak, kan belanjaan saya enggak banyak

Kasir, security dan saya sama2 bengong, tp kl saya mungkin bukan bengong tepatnya tapi melotot.

Saya langsung komentar : Bu, kalo anda buru- buru saya juga sama buru- burunya,tapi bukan alasan buat saya untuk nyelak orang didepan saya tadi. Jadi kamu sekarang silahkan mundur kebelakang, antri dibelakang saya.

Ibu itu langsung pucet dan malu, lalu mundur ke belakang. Untung enggak ngomel balik, kl ngomel balik mungkin lebih seru jadinya hehehe. Tapi saya lihat kok ia agak malu.

Sebenernya saya enggak bermaksud membuat dia malu, tapi sikap seenaknya itu sudah mempermalukan dirinya sendiri. Mungkin selama ini org bisa toleransi dng hanya ngomel sendiri melihat prilaku org begini, tp menurut saya pesan moralnya enggak dapet, jadi mending ditegor aja langsung. Gak perlu memaki- maki sih, cukup dengan tegas dan jelas menunjukkan kita enggak suka diperlakukan begitu.Mudah2an di lain kesempatan enggak diulang sama dia.