Pages

Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Wednesday, June 10, 2009

Back to Bali again...

Dapet Flight jam 10 pagi dari Selaparang to Ngurahrai,gak perlu buru-buru berangkat,dari Senggigi ke Selaparang pun deket banget.Maka pagi-pagi kita berenang dulu di Senggigi,Lulla paling suka pantai soalnya,jadi dia bangun paling pagi lalu sibuk aja untuk berenang dan ngumpulin kerang.

Pura Batu Bolong...



Pantai Senggigi
Gak seindah Kuta Lombok,pantainya gak jauh beda ma Pantai-pantai di Bali,waktu berkunjung paling tepat adalah Pagi atau sore menurut saya,karena udaranya gak terik.Pantai Senggigi kerap dipakai oleh turis asing untuk melakukan aktifitas olahraga laut,karena emang lautnya yang bersih dan ombaknya bagus.
Di sepanjang senggigi ini ada 2 objek wisata yang bisa di nikmati yaitu
Batubolong dan Batu layar,batu bolong adalah pura Hindu yang letaknya disebuah batu yang tengahnya bolong. Di Lombok gak semua orang kan muslim,ada sebagian yang Hindu,maka pura-pura semacam ini banyak di Lombok. Pura batu bolong ini cukup special karena letaknya yang di bibir pantai Senggigi dan batuny ayang unik membuat wisatawan tertarik untuk mampir.



Pantai Senggigi di Pagi hari



Nah yang satulagi adalah batu layar,batu layar bukanlah pura seperti batu bolong. Batu layar ini adalah sebuah batu yang ada di laut,sering dipakai untuk media peribadatan umat Hindu juga. Ada legenda tentang batu layar ini sendiri,konon jaman dulu batu layar ini adalah batu bernyawa yang bisa berenang,namun ketika sedang berenang di laut ada masyarakat yang melihat lalu sejak itu sang batu diam di tempatnya sampai saat ini,gitu katanya legendanya…
Seusai main di pantai kami meneruskan berenang sekalian bersihin tubuh,lalu sarapan.Semua barang sudah terpacking dari malam,setelah sarapan kami mandi lalu ke airport,rasanya terlalu cepat deh liburan di Lomboknya,masih merasa kurang aja…

Sampe Bandara,semua orang diributkan dengan keadaan,karena sampe jam segitu jam 9 pagi, Bandara Ngurahrai Bali katanya belom beroprasi,sementara pesawat yang akan menerbangkan saya dari Selaparang keberadaanya masih di Ngurahrai. Mungkin karena kemarinnya abis acara Nyepi yah,jadi operasional Bandara jadi melorot waktunya. Akhirnya pesawat yang harusnya terbang jam 10 itu delay jadi jam 12, huuuuuuuuuh…terpaksa nunggu.

Selaparang

Tiba di Bali…
Sampai di Bali sudah dijemput sama seseorang utusan suami,lalu kami pergi ke hotel untuk check in,meletakkan barang lalu pergi ke Ubud.
Tujuan utama ke Ubud adalah mencari Lukisan untuk diletakkan di ruangan makan rumah saya,kebetulan ada sebuah dinding yang lumayan ukurannya dan itu kosong yang kliatannya bagus kalo diisi lukisan.


Songket Bali
Dari Kuta perjalanan ke Ubud cukup jauh,mungkin sekitar 40 menit yah?Sebelum ke Ubud, Tori mengajak mampir mencari Songket Bali,lumayan udah sampe sini kalo gak nambah koleksi kain kan?Katanya sambil menuju Ubud kita bisa mampir di daerah Gianyar ada gallery bagus, Sari Amerta,ya udah sekalian aja mampir..Sampe sana mata saya berbinar-binar melihat isi gallery yang bagus-bagus semua.

Sayang..koleksi Songketnya gak banyak,tapi koleksi tenun tenun lainnya beragam,jadi kalo bapak-bapak akan senang karena kemeja berbahan sutra tenunnya banyak. Harga enggak bohong, untuk sepotong kemeja pria harga bisa mencapai jutaan dari 400 ribu,tapi kilau kainnya jelas berbeda dari sutra biasa,warna warna nya juga fresh. Tori dapet 1 kemeja yang cukup indah warna dan coraknya untuk dipakai ke acara semi resmi.Tadinya saya hopeless untuk menemukan songket yang saya idamkan,tapi tau-tau disalah satu sudut saya melihat songket Bali warna ungu bermotif perak indah banget,maka langsung saya samber tuh di jantung hati,ehehehe…

Mesin Pembuat Songket

Papa Pilih2 tenun Bali

Songket Bali ternyata gak jauh beda sama Songket Palembang harganya,mulai dari 900 ribu sampai jutaan.Tapi jangan pernah bayangkan songket Bali bermotif meriah seperti songket Palembang yang saking meriahnya ampe gak boleh dilipat.Kalo Songket Bali gak masalah kalo dilipat karena emang benangnya enggak terlalu padat,tapi tetep antic untuk dikenakan…

Berburu Lukisan

Setelah membungkus si songket pilihan,kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Ubud,melewati tempat pengrajin perak dan ukiran,tapi kami enggak mampir.Saya kurang suka jewelry,jadi mendingan lanjut aja terus mencari Lukisan.Kami mampir ke Galery Lukisan Semar Kuning di Lotunduh Ubud. Waaah ini adalah surganya Lukisan,di tempat ini banyak sekali seniman Bali yang menitipkan lukisannya disini untuk di jual,dari berbagai aliran ada deh..Dan semuanya berkualitas baik semua,diatas rata-rata..No wonder harga paling murah 2 jutaan,ehehhe…Makin besar ukuran lukisan maka makin mahal pula harganya.Saya paling menyukai lukisan abstrak,karena terkesan complicated dan gak mudah ditebak..
Itu kalo rekan-rekan punya budget lebih,silahkan mampir ke tempat ini,tapi kalo hanya punya kocek ratusan ribu rupiah,sebaiknya lanjutkan pencarian menuju batubulan or di pasar ubud,kita lagi-lagi akan menemukan begitu banyak tempat penjualan lukisan yang lumayan.Di kios-kios penjual lukisan di pinggiran jalan,saya menemukan harga lukisan yang bisa dijangkau mulai dari 30 ribu sampai dengan 200 ribu. Untuk lukisan yang besar-besar ukuran 1,5 m harganya murah bener,kurang dari 200 ribu,tapi ya harus pinter nawar..
Sepulang dari perburuan lukisan ini saya akhirnya pulang membawa segulungan Lukisan besar seseuai dengan yang saya cari. Lalu saya juga membeli lukisan-lukisan kecil untuk di teras rumah, dan gak ketinggalan Lulla sibuk menenteng lukisan sedang yang ngotot dia beli untuk di kamarnya. Kejadian ini agak lucu,mengingat anak saya kan anak balita,tapi sudah terlihat begitu tertarik ketika dibawa ke gallery lukisan,pake acara milih sendiri lagi…ehehhee ada-ada aja.


Ubud
Next kalo ke Bali,saya berfikir untuk menginap di Ubud aja..tempat ini begitu menarik banget,suasanyanya pedesaan,terus jalan-jalan kecilnya yang padat dan penuh dengan artgalery membuat kita akan merasa begitu menikmati kedekatan alam dengan peradaban maju yang berimbang…
Kalo sudah ke Ubud yang paling diincar orang adalah menyaksikan pemandangan persawahan yang indah ituw. Terlintas di benak saya,hebat ya orang Indonesia,nanem padi aja bisa serapih dan seindah itu,dan khususnya orang di Bali yang daya imaji seninya tinggi banget..







Di sepanjang jalan ini kalo mau beli pernak pernik apa aja ada,dari lukisan,ukiran sampe pahatan,jadi sambil jalan sambil belanja pun wokeh..emang Bali surganya pernak pernik sih ya..
Tadinya mau mampir ke Pasar Ubud untuk cari pernak pernik,tapi Tori dah males,Lulla udah gak sabar menuju batu bulan untuk nonton tarian Barong,ya udah akhirnya mama ngalah,ehehhe..


Desa Batubulan
Desa seni yang terkenal banget di Bali,kali ini saya datang untuk menonton tarian disini..kadang-kadang orang datang ke Bali suka lupa menikmati hibiran taraiannya,entah karena enggak mengerti atau juga karena gak interest sama olah gerak tari. Tapi saya dan Lulla adalah penggemar tari-tarian,kunjungan ke Bali kalo gak nonton tari kecak,itumah rugi…











Untuk menonton tarian kita harus mengeluarkan kocek 50 ribu per orang,pertunjukan dilaksanakan jam enam sore.Pas kami masuk ke area pementasan,kami celingukan bingung,karena orang Indonesianya bisa diitung pake jari,selebihnya semua orang asing,dan turis mancanegara yang berkunjung itu semua masih muda,rata-rata masih usia sekolah dan kuliah,tapi saya melihat mereka semua interest dan serius mengamati dan mencerna jalannya pertunjukan. Saya prihatin aja,kalo lambat laun anak-anak Indonesia tidak tertarik untuk melestarikan budayanya apa jangan-jangan tari-tarian kita akan punah atau malah lebih dikuasai oleh orang asing daripada sama kita sendiri?
Acara pementasan tari kecak era sekarang ini lebih seru,karena tidak hanya melulu berisi tari kecak,tapi disisipkan tari 2an lain yang menceritakan legenda rama dan shinta,jadi lebih penuh isi cerita dan variasi gerak. Tarian berlangsung hampir 2 jam,selama itupula Lulla tidak bosan,dia tertarik melihat pementasan di depannya,saya besyukur dia banyak satu minat dengan saya..

Sepulang dari sini kami cari tempat makan,lalu pulang ke hotel…besok mau lanjut lagi liat upacara kuningan di Tanalot…

Friday, May 1, 2009

Liburan Lombok - Part 2

Naaaah sekarang gilirannya crita tentang trip Lombok. Hari kedua kami di Lombok, kami habiskan dengan berkeliling Lombok, agenda pertama adalah hunting mutiara, lalu ke desa Banyumulek melihat kerajinan gerabah, lalu ke Desa Sukarara untuk melihat kerjainan tenun Ikat,lalu ke desa Sasak melihat kehidupan penduduk asli Sasak, lalu ke Pantai Kuta Lombok,Pantai Seger dan Tanjung Aan.

Ups..belom crita,kalo di Lombok kita akan sering melihat alat transportasi khas Lombok yaitu CIDOMO, cikar = berbadan kayu, dokar = ditarik oleh kuda, Mobil = karena beroda.



Berburu Mutiara

Nah kalo udah urusan sama ibu ibu, pasti deh kalo jalan-jalan ke Lombok yang paling siap diserbu adalah mutiara, siapa yang gak tau kalo Lombok terkenal sebagai penghasil mutiara?

Saya termasuk penggemar mutiara, karena mutiara itu adalah aksesoris yang menurut saya anggun, sederhana tapi elegant. Saya cenderung suka mutiara dari pada perhiasan logam mulia. Sejak lama saya mengumpulkan mutiara, termasuk dari Lombok. Beberapa kali kunjungan suami saya ke Lombok, dia kerap membawakan mutiara, kami sampai punya toko langganan, namanya Lipco Pearl Jewelry. Lipco ada cabangnya di Jakarta,jadi kalo untaian mutiara saya putus, bisa saya bawa ke cabang Jakarta yang terletak di ITC Cempaka Mas. Lipco sendiri yang di Lombok lokasinya tidak jauh dari Selaparang. Tapi di kunjungan kali ini saya mencoba untuk mengunjungi Toko Jewelry lain untuk jadi bahan perbandingan, saya mengunjungi Lombok Pearls di Jl. Ahmad Yani. Saya melihat harganya sama aja sama Lipco,tapi kalo model di Lipco agak lebih innovative.

Beberapa hal mengenai mutiara perlu teman-teman ketahui terlebih dahulu sebelum membeli. Mutiara ada 2 macam, mutiara air laut dan mutiara air tawar. Yang harganya mahal adalah mutiara air laut, kenapa?salah satu faktor utama adalah proses pengambilannya jelas gak mudah, orang harus menyelam ke dasar laut untuk mengambil mutiara-mutiara ini, beda dengan air tawar. Selain itu dari segi estetika, mutiara air laut lebih berkilau serta bentuknya lebih besar. No wonder harganya satu butir mutiara air laut yang diikat dengan emas tipis harganya mulai dari 2 jutaan. Dan untaian kalung full mutiara air laut bisa mencapai 50 juta rupiah.Menurut saya membedakan mutiara air laut dan mutiara air tawar gak begitu sulit,karena berat,bentuk dan kilaunya pun jelas beda. Nah kalo gak sanggup beli mutiara air laut yang mahalnya gak keruan itu, coba aja melirik ke mutiara air tawar, mutiara air tawar ini ada tingkatan mutu kualitas tersendiri, kalo menurut saya untuk amannya bagi anda yang belum berpengalaman mengenal mutiara, sebaiknya membeli mutiara di yang dilengkapi oleh sertifikat. Karena mutiara mudah sekali dipalsukan,meski emang ada sih cara khusus untuk membedakannya.

Cara sederhana untuk mengetahui keaslian Mutiara

1. Digosok dipermukaan kaca
Mutiara asli tidak akan lecet / cacat tapi akan meninggalkan bekas seperti kapur dipermukaan kaca tersebut, sebaliknya Mutiara palsu akan lecet / terkelupas.

2. Digosok pada gigi bagian luar
Mutiara asli akan terasa pasir / kasar, sedangkan Mutiara palsu akan terasa licin.

3. Dengan cara dibakar
Cara ini merupakan alternatif jika kedua cara diatas masih belum meyakinkan , jika dibakar dalam waktu yang tidak terlalu lama, Mutiara asli tidak akan terbakar sedangkan Mutiara palsu akan meleleh karena berasal dari bahan plastik.

4. Dengan melihat bentuk dan warna
Mutiara asli memiliki bentuk bulat, oval & bentuk yang tidak beraturan ( Baroque) serta memiliki warna yang natural. Sedangkan Mutiara palsu identik berbentuk bulat dengan warna yang variatif dan memiliki permukaan licin, bercahaya dan memiliki berat yang ringan.

Gampang kan?tapi agak susah implementasinya, coba kalo anda mo nyoba mutiara di toko tapi anda minta ke penjual untuk membakarnya terlebih dulu, saya sih gak yakin si penjual mutiara mau, jangan-jangan malah dilempar sandal,ehehehe….Makanya untuk amannya sebelum membeli mutiara tanya dulu ada sertifikat atau tidak,kalo tidak ya sebaiknya jangan kecuali anda sudah mengenal betul seluk beluk mutiara. Gak semua penjual menerbitkan sertifikat, seperti toko-toko kecil biasanya tidak memberikan sertifikat,tapi di toko-toko kecil seperti itu harga mutiara emang berbeda sama toko mutiara yang konsepnya butik seperti Lipco dan Lombok Pearls yang saya bilang tadi. Harga sebuah untaian kalung mutiara panjang yang bersertifikat adalah Rp.600.000,- ribu keatas,tapi kalo tanpa sertifikat bisa diperoleh hanya dengan 70 ribu saja, bueda banget kan?Oh iya,selain dapet sertifikat,kalo beli mutiara di butik maka akan terlihat bedanya, bentuk mutiaranya adalah mutiara terbaik dengan kilau dan bentuk yang kurang lebih seragam,meski mutiara emang bentuknya gak mungkin seragam kan?tapi emang harga gak pernah bohong,mutiara berkualitas dan tidak, jelas ada bedanya.

Mutiara murah pun gak ada masalah,asal kita bisa jeli membedakannya dengan imitasi.

Oh ya mutiara di era sekarang ini sudah beraneka rupa warnanya,tapi kalo mutiara laut warnanya standar pada 3 warna yaitu putih,gold dan hitam agak kelabu. Tapi kalo mutiara air tawar anda tentu bisa bisa melihat begitu banyak warna mulai dari putih,emas,pink,hijau,ungu,biru, hitam,kelabu etc deh…

Maaf ya foto2 mutiara belom saya posting nanti akan saya posting menyusul deh ya...

Desa Banyumulek,Penghasil Gerabah

Terletak di Lombok Barat, untuk mencapai desa ini dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari kota Mataram. Desa ini terkenal sebagai penghasil kerajinan gerabah,saat itu saya mengunjungi Berkat Sabar Artshop letaknya di kanan Jalan Desa Banyumulek. Tempat ini cukup lengkap,kita pun boleh melihat proses pembuatan gerabah itu sendiri. Kemudian kita diperkenankan melihat proses paking yang dilakukan. Jika tertarik,jangan ragu untuk membeli karena bisa dilakukan pengiriman, syaratnya minimal barang yang dikirim adalah 25 kilo dan harga per kilonya 10 ribu rupiah. Ini berlaku untuk pengiriman dalam dan luar negri,tapi kalo teman-teman hanya belanja barang seberat 15kilo maka Artshop akan tetap mengenakan ongkos kirim untuk 25 kilogram. Disini saya ngiler luar biasa, bener-bener amaze melihat gerabah bisa secantik cantik itu.
Gerabah berlapis kulit telur




Bahkan ada gerabah yang dilapisi oleh kulit telur, dan menjadi motif yang luar biasa anggun dan keren,gak nyangka kalo itu kulit telur. Ada juga yang dilapisi oleh batik, dihias oleh taburan pasir, dan dipercantik oleh anyaman rotan.

Nah yang dilengkapi anyaman rotan inilah yang merupakan gerabah khas Lombok.Ada lagi benda khas disini,yaitu kendi.Nah Kendi khas Lombok ini unik, karena cara memasukkan airnya bukan dari atas (kepalanya kendi),melainkan dari lubang yang ada di pantat kendi (alas kendi) yang dibalik,lalu diisi air.Setelah kendi kembali berdiri air tidak akan keluar dari alas kendi itu padahal bolongan air di alas kendi itu tidak ada tutupnya.Dan mekanisme keluarnya air sma adengan kendi lainnya,yaitu lewat bibir kendi. Waaaaaaaaaah…canggih banget,saya sampe beli satu untuk di rumah,meski pas di bandara ternyata pihak bandara tidak memperhatikan logo fragile di kotak kendi itu,maka si kendi patah di jalan..huuuuuu




Oh iya, gimana nih soal harga?saya gak bisa bilang murah juga,tapi emang sangat worthed,karena keindahan gerabah itu luar biasa,makin unik dan berukuran besar yam aka harganya makin mahal. Misalnya gerabah berlapis kulit telur, harganya mulai 100 ribu (kecil) dan jutaan untuk yang tingginya sekitar 90 cm.1 set kendi dengan 2 gelas dihargai 75 ribu,Vas gerabah tinggu 30-20 cm sekitar 50 ribu,asbak kura-kura sekitar 10 ribu rupiah.

Tempat ini panas dan pengap,udah gitu pengunjungnya bejibun, sebaiknya untuk berkunjung kesini pakai baju yang nyaman dan jangan lupa bawa kipas yah…

Desa Sukarara,Pusat kerajinan Tenun Lombok

Letak desa ini adalah di Kabupaten Praya,Lombok Tengah. Dari Mataram kita butuh waktu 1 jam untuk mencapainya.Beberapa waktu lalu suami saya sudah pernah kesini sebelumnya untuk membelikan songket Lombok sebagai tambahan koleksi buat saya.Tapi saya sendiri justru belom pernah. Saya mampir ke Patuh Artshop di depan kantor Desa Sukarara kecamatan Jonggat, disini bisa melihat langsung para ibu-ibu yang sedang menenun songket dan tenun ikat.Songket disini dengan songket di Palembang jauh berbeda yah, dari mulai warna maupun motif,ada bentuk khas tersediri bagi songket Lombok, bermotif lebih besar dan tenunannya tebal tebal. Motifnya mirip tenun Bali. Untuk memperoleh songket Lombok, setidaknya kita mengeluarkan kocek 800 ribu rupiah, untuk tenun ikat mengkilap mulai dari harga 300 ribu.Tenun ikat 1x 2 meter mualai dari 750 ribu (untuk interior), tenun meteran mulai dari 100 ribu per meter,dan yang paling mahal adalah tenun Dobi yang biasanya dipakai untuk pajangan,seharga 3 juta rupiah,padahal ukurannnya kecil hanya ½ x 1 meter.







Tenun Dobi

Apa yang membuat tenun Dobi menjadi mahal?karena tenun ini pewarnaannya dari pewarna alami,lalu tenunnya pun bersifat kombinasi,ada yang bolak balik sam adan ada yang satu sisi saja,repot deh menjelaskannya..tapi kalo kita pegang baru deh tau jawabannya kenapa tenun dobi mahal banget.


Rumah Asli Suku Sasak—Sasak Vilage Desa Lambitan

Ini adalah wisata yang ternyata selain memberi khasanah pemikiran baru dan pengalaman baru tapi juga membuat hati saya sedih. Well…desa ini adalah gambaran kehidupan penduduk asli yaitu suku sasak. Masuk ke area ini kita sudah akan disambut oleh salah satu penduduk asli yang akan menjadi guide bagi kita saat mengunjungi desa. Pertama kita masuk,kita disambut oleh sebuah bangunan khas Lombok,ternyata bangunanitu adalah lumbung padi.

Lumbung padi warga setempat

Dari sana kami diajak mengunjungi rumah penduduk.Rumahnay beratap sempit,pertama kali masuk kit akan disambut oleh pelataran rumah yang bisa disebut teras rumah lah.Lalu ada sebuah undakan menuju rumah.Rumah hanya dilengkapi dengan 1 pintu yang terbuat dari bamboo yang dianyam,pintu tersebut merupakan pintu geser,bukan pintu seperti pada umumnya,jadi pintu ini tidak dilengkapi dengan engsel besi sama sekali,cara pengoprasiannya adalah dengan cara menggeser. Badan rumah sendiri terbuat dari geribik,dan atap rumah dari rumbia. Yang memilukan dari rumah semaam ini adalah tidak adanya jendela maupun ventilasi dalam bentuk lain sama sekali.Saya gak berani bertanya,takut menyinggung perasaan pemilik rumah,tapi saya mempertanyakan kesehatan rumah tersebut karena minimnya perolehan udara dan cahaya matahari.Tapi penghuni rumah tersebut saya lihat sehat-sehat saja.


Rumah penduduk yang hanya di lengkapi dengan satu pintu

Suasana pemukiman warga desa Sasak

Yang menarik dari rumah asli penduduk desa ini adalah, lantainya terbuat dari kotoran sapi,nah lo!!!!pasti pada kaget deh,saya pun tidak mengira kalo lantai yang saya pijak dan undakan yang saya injak adalah terbuat dari kotoran sapi,karena bentuknya keras seperti lantai semen pada umumnya dan tidak berbau kotoran sama sekali yah..Menurut penduduk,bau kotoran hanya akan tercium pada saat rumah baru berdiri,tapi lama kelamaan tidak tercium lagi.Inovatif banget yah???

Rumah-rumah tersebut hanya terdiri dari 1 ruangan saja,hanya anak-anak dan perempuan yang tidur di dalam rumah,pria dan anak laki-laki yang sudah akil balig harus tidur di teras. Hanya pada waktu-waktu tertentu pria bisa tidur bersama di dalam,mungkin hanya pada saat-saat melakukan aktifitas untuk berkembang biak kali yaa?ehehhe…



Lantai yang terbuat dari kotoran sapi

Sapi yang diplihara untuk diambil dagingnya dan kotorannya untuk membangun rumah

Mata pencarian penduduk asli adalah dengan cara bertani,namun penduduk disini hanya kan mengalami panen 1 kali setahun,karena mereka bertani hanya mengandalkan hujan.Disana belom ada irigasi,entah kenapa pemerintah tidak membangun irigasi untuk desa itu. Sehingga setelah panen kaum pria desa itu akan beralih profesi menjadi kuli dan kaum perempuan menenun.Dan hasil tenun tersebut dijual kepada wisatawan yang mengunjungi desa mereka.

Saya agak pilu melihat kondisi disini, penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, tinggal di rumah yang tidak layak,entah lah apakah anak-anak mereka bersekolah dan bergizi cukup…Desa tradisional memang harus dilestarikan tapi kesulitan ekonomi dan kebodohan tidak perlu dilestarikan saya rasa…


Pantai Kuta Lombok,Pantai Seger dan Tanjung Aan

Dari desa Lambitan kita hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapai Pantai Kuta Lombok, pantai yang terkenal dengan pasirnya yang menyerupai butiran merica.Sampai di Kuta Lombok tepat saat jam makan siang,jam 1 siang.Maka agenda pertama adalah cari tempat untuk ngisi perut.


Pasir 'merica' alias pasir berbentuk butiran, khas Kuta Lombok


Ugh..ternyata realtif susah cari tempat makan disini, kalo warung-warung kecil sih gak susah ditemui tapi tempat makan yang ‘layak’ sungguh gak banyak. Akhirnya kami mampir ke Restoran Tastura di Jl Raya Kuta Lombok. Ini restoranyang paling besar yang saya liat di wilayah itu, semua pengunjung saya liat adalah turis-turis, gak heran disini akan banyak ditemui bis-bis pariwisata.Disini saya menemukan makanan yang unik,yaitu sate ayam..eheheh..uniknya dimana coba sate ayam?di Jakarta juga banyak…,tapi jangan salah..sate ayam disini lain, bumbunya beda banget,lebih encer tapi lebih terasa,rasanya juga lain,enak deh..Trus ayamnya gak dibakar sampai gosong,daging ayamnya matang tapi gak gosong, dijamin karsinogen-nya gak ada,ehehhe…Lulla sangat suka sama bumbu sate di tempat ini,dia makan lahap banget.





Setelah kenyang dan solat dzuhur,kami ke pantai,waaaaaaaaaaah…pantai kuta Lombok luar baisa bagus. Pasirnya putih banget,lautnya warnanya biru dengan gradasi kehijauan,airnya bening banget, speechless deh liat keindahan disini. Dan saya akhirnya menemukan pasir merica yang tersohor itu,kalo gak pake sandal dan berlarian di atas pasir itu kaki mudah terasa perih.

Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Seger,masih di kawasan yang sama.Pantai seger saat itu lagi surut. Di pantai ini tiap bulan Februari diadakan festival nyale. Apa itu Nyale?nyale adalah semacam cacing laut,yang hanya keluar setahun sekali pada bulan februari setalah purnama.Tidak ada tanggal pasti kemunculan nyale ini, pokoknya nyale akan muncul dengan ditandai adanya hujan besar setelah purnama (pertengahan bulan gitu kali ye?).Penduduk memepercayai nyale adalah jelmaan Putri Mandalika. Nyale rasanya persis kayak ikan asin, diolah menjadi menu pepes biasanya. Ini adalah festival terkenal di Lombok.




Pantai Seger yang lagi surut

Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan, masih di kawasan yang sama.Sebelum sampai ke Tanjung Aan,kita akan melewati Mandalika Resort, disini ada hotel Novotel, satu-satunya hotel besar di kawasan ini, karena hotel/ penginapan lain biasanya bentuknya motel kecil.

Tanjung Aan adalah pantai terindah yang pernah gw kunjungin,pasirnya putiiiiiiiiiiiiiiiiiih banget, airnya bening dan air lautnya tampak membiru bergradasi hijau.

Saya,Lulla dan Tori berteriak gembira banget main di pantai ini.Lulla sibuk mencari kerang,Tori sibuk menahan hasrat pengen berenang. Sayangnya gak ada fasilitas pemandian umum untuk membilas jadi Tori mengurungkan niatnya.


Saya agak heran, sepanjang jalan di antara 3 pantai ini saya wondering sendiri, agak aneh menurut saya,di pantai yang seindah ini kok gak dikembangkan sama sekali ya?Masuk ke pantai-pantai ini sama sekali tidak dikenakan bayaran,pantainya adalah pantai liar yang tidak dikelola,jadi fasilitas umum kayak toilet nya pun gak ditemui.Bahkan di pantai seger, ketika saya masuk area pantai,masih banyak ilalang dan ada beberapa kerbau lagi merumput di pinggiran pantai,wow…belom pernah saya berwisata kepantai disambut oleh kawanan kerbau..




Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan, masih di kawasan yang sama.Sebelum sampai ke Tanjung Aan,kita akan melewati Mandalika Resort, disini ada hotel Novotel, satu-satunya hotel besar di kawasan ini, karena hotel/ penginapan lain biasanya bentuknya motel kecil.

Tanjung Aan adalah pantai terindah yang pernah gw kunjungin,pasirnya putiiiiiiiiiiiiiiiiiih banget, airnya bening dan air lautnya tampak membiru bergradasi hijau.

Saya,Lulla dan Tori berteriak gembira banget main di pantai ini.Lulla sibuk mencari kerang,Tori sibuk menahan hasrat pengen berenang. Sayangnya gak ada fasilitas pemandian umum untuk membilas jadi Tori mengurungkan niatnya.

Saya agak heran, sepanjang jalan di antara 3 pantai ini saya wondering sendiri, agak aneh menurut saya,di pantai yang seindah ini kok gak dikembangkan sama sekali ya?Masuk ke pantai-pantai ini sama sekali tidak dikenakan bayaran,pantainya adalah pantai liar yang tidak dikelola,jadi fasilitas umum kayak toilet nya pun gak ditemui.Bahkan di pantai seger, ketika saya masuk area pantai,masih banyak ilalang dan ada beberapa kerbau lagi merumput di pinggiran pantai,wow…belom pernah saya berwisata kepantai disambut oleh kawanan kerbau..

Seharian jalan-jalan rasanya lelah banget,dari Kuta Lombok ke Senggigi cukup jauh pula,butuh waktu 1,5 jam perjalanan.Kalo di Lombok,sepanjang jalan saya lebih sering tidur,soalnya di Lombok gak seperti di Bali yang sudah ramai dan banyak hal yang bisa diliat. Jadi ketika sore hari kami lebih memutuskan untuk stay di hotel sambil melihat sunset di senggigi dari balkon kamar kami.



Malamnya baru lah kami menikmati geliat Senggigi di kala malam, banyak café dan restoran yang menyajikan wisata kuliner dan hiburan malam. Tinggal dipilih, mengenai harga lagi-lagi saya gak bisa bilang murah, kami makan bertiga selama di Lombok gak pernah kurang dari 350 ribu rupiah,padahal Cuma ber-3 dan Lulla pun harusnya gak keitung karena makannya benar-benar sedikit.

Setelah makan malam kami naik Cidomo untuk kembali ke hotel,Lulla seneng banget…Semalaman kami istirahat,besok pagi mau main di senggigi lalu siap-siap kembali ke Bali…