Pages

Showing posts with label Issue Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Issue Perempuan. Show all posts

Thursday, February 13, 2014

Menikah muda dan Bahagia


Dikantor saya saat ini, saya bagaikan maminya anak2, sebagai HRD maka saya tempat karyawan konsultasi banyak hal kadang terselip konsultasi percintaan mereka sekaligus. Mengingat karyawan di kantor rata2 berusia muda yaitu sekitar 20 an awal sampai dengan 30an awal.
Sebenarnya saya tidak terpaut jauh secara usia dari sebagian besar mereka, namun karena saya udah menikah dalam hitungan tahun yg lumayan lama dan memiliki 2 anak, bahkan salah satu anak saya hampir berusia 9 tahun. Maka saya terkesan jauh lebih banyak pengalaman krn duluan terjun ngadepin kehidupan, dan lama2 trasa jarak usia seperti jauh saja, hehehe

Pertanyaan yang paling banyak muncul dikala para ‘pasien’ saya ini curhat adalah, pertanyaan bgmn saya menjalani pernikahan di usiayang terbilang muda? Mereka semua tau bahwa saya adalah orang yang menikah di usia yang cukup muda untuk ukuran orang sekarang, 23 tahun!

Seiring banyaknya pertanyaan itu, saya kadang berfikir kebelakang, apakah ada sisi di diri saya yang hilang dengan saya menikah muda?
Saya menikah satu tahun setelah tahun kelulusan saya dari Hukum UI, 2004 silam. Teman seusia saya bahkan masih banyak yang belum lulus kuliah. Saya di gank yang duluan menikah, padahal isi gank saya ada 13 orang.

Saat itu banyak muncul pertanyaan, kalau dari keluarga besar bahkan ada beberapa yang bener2 menyayangkan keputusan saya, alasannya sederhana saja, kasian sama saya yang sudah susah payah kuliah di UI tapi blm sempet mengibarkan karier tinggi tinggi tapi sudah keburu nikah. Artinya dalam mindset orang2 itu bahwa dng keputusan saya menikah kurang dari setahun setelah lulus kuliah maka pupuslah kesempatan berkarier buat saya.
Bahkan ada lho beberapa tante yang merupakan keluarga saya yang memiliki anak sebaya dengan saya nyeletuk : “duh kalo anak saya mah masih pengen karier dulu, masih pengen seneng2 traveling kemana2 dulu, kalo sudah puas baru lah menikah.”

Herannya saat itu saya tidak terpengaruh pada komentar2 semacam itu. Saya seperti yakin aja bahwa saya menikah muda saya tetap punya kesempatan berkarier dan saya masih bisa menikmati traveling bahkan tetap punya kesempatan bermain dengan teman2.
Finally saya melangkah dengan ringan kedalam pernikahan bahkan tidak menunda2 kehamilan, semua berjalan mengalir saja, 10 bulan menikah lalu punya anak. Di awal pernikahan kami hidup bukan dengan kondisi financial yang sudah mapan,kami tidak dibekali warisan harta,rumah dan kendaraan tidak punya, saya dan husb sama2 berjuang di karier kami masing2 untuk memenuhi basic need kami. Husb memilih berwiraswata, lalu lanjut menekuni dengan profesi lawyernya dan saya memilih menekuni bidang HRD dan bekerja di perusahaan milik orang lain.

Semua terasa berjalan wajar saja, dng aktifitas saya sebagai wanita pekerja, saya secara tidak langsung saya tetap memiliki kesempatan bergaul,punya sahabat- sahabat, bahkan sempat aktif di beberapa komunitas. Seiring berjalannya waktu, financial beranjak baik, maka kami pun tetap bisa menikmati travelling, bahkan kerap menyenangkan orang tua dengan sering mengajak mereka turut serta diagenda travelling kami. Karier saya juga berkembang sesuai harapan, kesempatan saya untuk mengembangkan kapasitas saya pun tetap berjalan sesuai tahapannya.

Menjelang 1 dekade pernikahan kami, belakangan saya sering berfikir, kayaknya pernikahan dini saya tidak merusak apapun dalam diri saya deh?malah menurut saya justru sebaliknya, cukup mengakselerasi kedewasaan dan kemandirian saya. Saya bukan GR, ini yang saya dapatkan dari komentar teman2 saya, mnrt mereka diusia 30an awal saya sudah sangat independence dlm banyak hal.

Dan ternyata ketakutan yang disampaikan oleh orang2 kepada saya saat saya dulu hendak menikah itu terpatahkan semua. Kenapa bisa begitu ya?

Kalau saya menyimpulkan, faktor terbesar adalah faktor siapa pendamping saya. Saya menikahi lelaki soleh yang demokratis, posistif thingking dan optimis.

Banyangkan saja, ia mampu menerima kekurangan saya dengan begitu legowo, menikahi wanita pecicilan diusianya yang muda,tentu jauh belum bisa bersikap dewasa, blm wise dll, tentu harus punya kesabaran tersendiri, tapi dia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah menyudutkan saya. Ia sabar mendengar kegalawan saya ttg banyak hal. Ia tidak judging saya sebagai permepuan lemah apalagi tolol, justru ia boosting saya untuk kuat dan tegar.
Sebagai keluarga kecil yang mengawali kehidupan yang scr financial pas-pasan, membuat kami butuh kerjasama yang kuat, baik untuk urusan domestic maupun urusan membangun ketahanan financial keluarga. Sebagai kepala keluarga, ia sering membagi peran mengasuh anak atau menghadiri acara sekolah anak jika saya berhalangan. Ia pun siap berbagi pekerjaan domestic spt mencuci, bebenah maupun menjaga anak jika kami sedang krisis pembantu. Ia bukan type lelaki yg terima beres, ia tau kapan ia harus terima beres dan kapan harus terlibat. Dengan sikap itu saya tidak pontang panting sendirian di rumah tangga sehingga mengorbankan kesempatan karier saya.

Bayangkan juga, saya bekerja di perusahaan yang gak sedikit jumlah lawan jenis yang menarik disekiling saya, tetapi saya tetap berinteraksi wajar dengan orang2 itu. Apakah suami saya cemburu? Walahu’alam, tp menurut pengakuannya ada beberapa case yang membuatnya cemburu dan merasa insecure. Tapi apakah ia bereaksi temperamen dng membabi buta cemburu dengan saya atau meragukan kesetiaan saya dan kemudian menuduh- nudah saya yang tidak2? Sama sekali TIDAK PERNAH, ia tidak pernah begitu. Tiap kali ia cemburu, ia akan lebih banyak meluangkan waktu untuk saya, lebih telaten menjemput saya di kantor,ia ingin menunjukan pada dunia, ini lho saya suami wanita ini. Ia pun membangun hubungan yang hangat pada orang yg dicemburuinya, dengan pembawaanya yg penuh wibawa dan humoris, ia seperti membuat org akhirnya mundur teratur gak berani punya niat macam2 sama saya, krn merasa respect padanya. Kepercayaannya atas integritas saya ini yang selalu ia berikan pada saya adalah penghargaan terbesar buat saya.

Ia juga bukan type orang yang sedikit2 marah, sedikit2 pridenya terganggu, ia cukup easy going, jika ada yang membuatnya marah memang ia akan menegur saya, tapi cara ia marah pun tidak membuatnya menjelma menjadi diktator yang galak. Kadang kami terlibat pertengakaran yang cukup seru, tapi kami membiarkan kami masing2 menenangkan diri dulu, selanjutnya kami akan membahas masalah dan sama2 membuat komitment perbaikan.

Untuk urusan financial, ia pun type pekerja keras, gak mau berpangku tangan, dan pantang bergantung pada istri. Buatnya hasil keringat saya adalah hak saya, silahkan jika mau diinvestasikan untuk anak2 atau untuk membantu keluarga saya, tapi untuk masalah domestik ia lelaki yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan kami.

Ia pun cukup sadar perlunya membiarkan saya menjadi pribadi yang tidak terlepas dr keluarga maupun pergaulan saya. Ia tidak pernah tidak adil dalam menjalin silaturahim dengan semua pihak dari pihak saya dan pihaknya.


Itu semua yang membuat saya merasa utuh, merasa punya kesempatan hidup wajar meski saya memutuskan menikah di usia yang masih muda.
Saya tidak kebayang jika menikah dengan lelaki yang bukan dia, misalnya lelaki yang pencemburu, suka mengekang, tidak mau saling membantu memanage rumah tangga,  tidak toleran atau temperamental. Jika itu terjadi saya yakin kedewasaan saya tidak akan berkembang, atau mungkin saya justru akan menjadi perempuan yang kurang puas sama masa muda yang hari gini masih suka asik sendiri mencari kebahagiaan diluar rumah.

Intinya ketika memutuskan ingin menikah muda, pastikan pasangan yang dipilih adalah orang yang memang memiliki karakteristik yang positif dan memiliki toleransi yang besar, sehingga mampu ikut membantu/mendorong kita untuk mendewasakan dan mengaktualisasikan diri. Pastikan pula anda menikah muda dalam keadaan anda dan pasangan siap menyongsong hidup mandiri, bukan dlm keadaan yang belum siap membangun hidup karena masih tersangkut urusan  pendidikan atau tidak punya pekerjaan.
 Menikah memang wajib dengan orang yang soleh, tapi harus kembali lagi saya ingatkan, soleh itu ukurannya tidak hanya dari banyaknya raka’at solat yang ia lakukan, atau banyaknya ayat yang dibaca atau dihapal, lihatlah apakah ia cukup konsisten dng ajaran Allah,sbg lelaki atau perempuan apakah prilaku dan keputusan2 hidupnya sudah sesuai tauladan Rasul junjungan kita atau jangan2 ia hanya melakukan peribatan sebatas dibibir dan simbolik semata?
Meski jodoh itu adalah rezeki Allah, tapi pastikan ketika ingin menikah muda, lebih banyak lah mendekatkan diri dengan Allah, lebih jeli lah melihat pasangan yang kita pilih, lebih tegas dan jujurlah pada pilihan kita, menikah ini bukan sebentar, tapi perjalanan panjang menghabiskan sisa usia. Menikah muda bukanlah masalah jika kita mampu mengenali pasangan kita dengan baik dan telah dipikirkan dengan matang, namun bisa jadi petaka jika logika kita tertutup oleh faktor2 lain dan pernikahan dilakukan dng dasar cinta buta apalagi jika terdapat unsur keterpaksaan.
 

Thursday, October 24, 2013

Make Your Husband Respect To You


Pesan orang tua : Make your husband respect to you, intinya peran perempuan harus seimbang dng laki2 di rmh tangga. Caranya gmn? Bantu dia melewati kesulitan hidup dengan berjuang bersama, bantu angkat bebannya dengan mendampingi dia, jadi teman diskusi yg baik dng menjadi sahabatnya, manjakan dirinya dng melayaninya sebaik mungkin, bantu ia menopang perekonomian keluarga dng kita turut menghasilkan, jadi mentornya disaat ia butuh masukan dan pendapat, dan jadilah orang yang membuatnya percaya bahwa segala apapun yg terjadi kita akan setia dan tetap menyemangatinya. Jangan sekali2 membiarkannya sendiri bergulat dng kesulitan hidup dan kita tidak ambil bagian sama sekali membantunya. Selamat Hari Kamis para Istri2 hebat!

Itu status facebook saya hari ini, kenapa saya menulis ini?
Awalnya emang terkenang aja sama ajaran orang tua tentang hal itu, terutama mama dan eyang saya yang rajin ngasih wejangan bagaimana jadi istri yang bener.Mindset ini saya lihat juga mulai bergeser di kehidupan sekarang, entah karena banyak orang memaknainya salah atau memang sudah begitu bedanya pola pikir orang sekarang.

Saya teringat pada seorang teman yang bisa menikmati hidup dengan berjauhan dengan suaminya, padahal suaminya kerja di kota yang sangat memungkinkan untuk membawa istrinya, alasan si istri tidak mau ikut adalah karena istrinya kesulitan karena tidak punya pembantu, jika ia dirumah orang tuanya ia merasa lebih nyaman karena ia bisa focus mengurus anaknya yang baru satu itu. Ada juga kisah teman yang memilih meningggalkan suaminya dan kembali ke rumah orang tua karena lebih nyaman di rumah orang tua yang masakannya lebih pas dilidah, dan ada yang menemani jika ia butuh teman. 
Ada juga banyak kejadian yang paling sering terjadi sekarang adalah maraknya para ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk gaul diluar, dan pengurusan anak dan rumah  diserahkan ke PRT, alasannya sederhana aja, kita kan perempuan sudah kewajiban suami menafkahi kita.

Saya cuma agak kurang paham bagaimana ketika wanita- wanita itu minta pembenaran atas keputusannya itu kepada saya. Saya tidak diajarkan begitu dengan orang tua jadi enggak bisa bilang sepakat dengan langkah yang mereka ambil.
Saya teringat jaman orang tua saya dahulu, mama saya ikut pindah ke kota Lampung saat menikah, padahal mama hidup cukup nyaman di kota besar seperti Jakarta bersama eyang, mama papa saat itu pun judulnya nebeng di rumah nenek saya di Lampung. Sampai mama saya punya anak 4, belum pernah sekalipun mama saya meninggalkan papa saya sendiri melewati hidupnya. Susah senang mama saya jalani tanpa mengeluh. Saya pun melihat mama saya tetap bekerja mencari nafkah membantu papa, tapi mama enggak pernah ninggalin kewajiban masak dan ngebimbing anak2, mama saya taking care rumah tangganya dengan baik dari ada pembantu sampe enggak ada, mama saya tetap ibu yang baik dengan kemampuan financial yang independent.

Saya mentauladani itu, buat saya jika suami sibuk bekerja mencari nafkah, maka tugas kita adalah menjaga dan mengurus rumah tangganya dengan sebaik baiknya. Ini pola yang seimbang. Sangat tidak bertanggungjawab jika kita mengikat suami dlm sebuah ikatan pernikahan dan ia berkewajiaban menafkahi kita namun kita tak mau menjalani peran untuk mendampinginya. Kita para wanita bisa bilang bahwa lelaki itu tidak bertanggungjawab jika tidak menafkahi istri, lantas apa tudingan bagi istri yang tidak mau menjalani kewajibannya sebagai istri dan memilih kehidupan yang lebih nyaman daripada disamping suaminya? 

Intinya saya menulis ini saya ingin kembali mengingatkan bagi seluruh perempuan pembaca blog saya bahwa sebagai perempuan, kita harus kenal peran kita, jika kita kenal peran kita, bertanggungjawablah disana, jangan pernah merasa baik-baik saja dengan bersantai santai sementara suami kita berjuang keras menghidupi kita. 
Ini fair play sebenernya, karena setiap lelaki akan merasa tersanjung jika perempuannya ikut merasakan kesulitannya dengan ikut berjuang bersama. Lelaki akan jauh lebih respect pada istri2 yang semaksimal mungkin menjalani perannya (papun yang dipilih untuk jadi ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja) seperti  mereka yang semaksimal mungkin menjalani perannya dengan baik seperti sebagai pencari nafkah.
Insyallah kalo niatnya mulia pasti Allah memudahkan.

Tuesday, October 8, 2013

Ibu Bekerja VS Ibu Rumah Tangga


Saya adalah salah seorang ibu bekerja , kadang banyak orang yang bolak balik tanya ke saya, kenapa saya harus kerja? Apa suami saya kurang mencukupi? apa saya enggak sayang anak-anak saya?
Saya kadang malas untuk menjawab ini semua, karena menurut saya, itu privacy saya, gak perlu menjelaskan pada siapa2 tentang pilihan saya bekerja.

Namun melihat perkembangan saya sekarang, mungkin orang melihat suami saya makin mengembangkan kariernya, saya pun terkesan memiliki kesibukan kerja yang tidak sederhana, makin banyak orang yang mungkin merasa iba melihat anak2 saya, terkesan saya dan suami asik bekerja dan anak2 pun terlantar.

Sebenarnya apa yang terjadi, apakah benar anak anak terlantar karena karier saya khususnya?
Saya merasa semua masih tertangani dengan baik, kesehatan anak2 saya cukup baik , attitude anak2 pun begitu, serta nilai akademik Lulla sejak keals 1 selalu rata2 9. Saya merasa masih biasa saja, tapi sulit menjelaskan hal ini kepada orang lain, saya nanti terkesan pamer dan sombong, tapi enggak begitu sebenarnya, saya hanya ingin menjelaskan.

Ini sample saja ya, saya memang karier, saya pergi pagi setiap hari sekalian antar anak sekolah, saya pulang sore, biasanya sampai rumah pukul 6 paling lambat pukul 7. Setelah itu saya sempatkan makan malam bersama anak2, lalu main sebentar dan dilanjutkan dengan belajar sama Lulla sambil membiarkan Berry main didekat kami. Belajar paling lama dalam satu malam paling 2 jam kurang sampai pukul 9.30. Lalu saya masih sempatkan mengajak anak saya solat Isya dan menggantikan anak2 piyama dan mengantarkan mereka tidur. 

Sebelum tidur jika Berry tidak rewel saya sering berdiskusi dengan Lulla, anak seusianya sudah tidak terlalu tertarik dibacakan buku apalagi dongeng. Saya cenderung menceritakan apa yang saya temui tadi di kantor. Profesi saya yang membuat saya menjadi counselor masalah orang, kadang memberi wawasan baru bagi anak saya. Saya cenderung berbagi kisah perjalanan hidup  maupun masalah ‘pasien’ saya pada Lulla.
Saya pun sebagai ibu bekerja, paham betul bahwa saya jarang memiliki waktu untuk sekedar menyuapi anak2, karena saya hanya bertemu mereka saat sarapan dan makan malam.Tapi sekalinya saya bisa, maka saya upayakan kegiatan makan bersama saya adalah hal yang cukup seru, karena setiap saya ada waktu mereka akan saya masakkan masakan terenak yang mampu saya buat, yang insyallah mereka pun suka.
Sampai detik ini, untuk urusan makanan anak2, saya lah yang berbelanja sendiri, saya tau betul apa yang anak2 konsumsi, karena sayalah yang belanja untuk itu, bukan saya delegasikan ke pembantu saya.
Setiap hari lebaran saya sendiri yang memasak masakan lebaran, saya pula yang menghias meja makan dan rumah. Sengaja saya lakukan itu, karena saya sedang membentuk sebuah budaya di rumah, bahwa sudah jadi budaya kami dirumah bahwa hari lebaran adalah hari yang semarak, karena rumah tampak berbeda dan masakan pun jadi special, semua itu akan dirindukan anak2 saya kelak.

Disaat sibuk saya, saya betul2 selektif memilih event2 yang dapat saya hadiri dan tidak, saya cenderung menggeser kehadiran yang sifatnya kongkow kongkow belaka, terutama jika undangannya di malam hari sekolah, saya memilih untuk segera pulang dan menjalani rutinitas saya seperti biasa. Saya tidk terpaksa menjalaninya, saya cenderung merasa ada yang salah jika harus membiarkan anak2 di rumah tanpa pengawasan saya di malam hari yang esoknya sekolah.
Jarak rumah saya dan kantor tidak terlalu jauh, namun kemacetan jua lah yang bikin saya bisa satu jam lebih dijalan, saya pun menyiasatinya dengan menghindari naik kendaraan mobil pribadi, saya cenderung memilih commuterline.Banyak yang tanya apa enggak penuh sesak tuh? Kan lebih enak naik mobil pribadi, disupirin pula? Jawaban saya sederhana saja, bahwa itu tidak menjawab kebutuhan saya untuk lebih cepat sampe rumah,. Maka urusan penuh sesak atau apaun saya kesampingkan, terpenting saya bisa menghemat waktu saya dan bisa segera berjumpa anak2 di rumah.

Lalu mengenai quality time, saya sadar betul betapa banyak keluarga muda dari kalangan menengah saat ini jauh lebih sering membawa anak2 mereka mengunjungi mall untuk rekreasi dan mereka merasa kebersamaan keluarga kecil mengunjungi mall adalah salah satu wujud menciptakan quality time. Saya pribadi bagaimana? Saya gak terlalu setuju, saya begah melihat banyaknya mall di Jakarta, saya pun lelah melihat gaya konsumerisme orang sekarang yang rela antri hanya untuk belanja pakaian brand yang sedang sale. Saya cenderung memilih membawa anak2 berwisata outdoor, meski cuma ke UI atau ke Kebun Raya Bogor sekalipun. Anak2 saya didik bahwa jika harus ke mall kita harus punya tujuan jelas, mau makan atau tidak memang mau membeli sebuah keperluan. Jangan sampai anak2 menginjak mall tanpa guidance yang jelas, kita mau apa kesini atau sekedar window shopping belaka, hal semacam itu memancing sifat konsumerisme, anak yg mungkin niat awalnya gak pengen apa2 bisa merengek minta belikan sesuatu yang mungkin tidak ia butuhkan. Itu mungkin banget terjadi, control diri anak2  mungkin tidak sebaik kita orang dewasa yang mungkin lebih bisa memilah apa yang perlu dan apa yang butuh. Dan waktu di mall pun gak akan membuat kita fokus membuat komunikasi yang intens dengan anak2 karena terlalu banyak orang lalu lalang dan suara yang bising di mall.

Saya pun merasa, secara etika anak2 saya saat ini masih dalam tataran santun dan penuh dengan etika, ini bukan hal sepele loh, butuh perjuangan karena anak2 sebelum tidur rajin kami ajak diskusi, terutama saya yang lebih banyak dirumah ketimbang suami. Saya pernah takjub melihat perubahan Lulla hanya dari sebuah diskusi. Ia yang biasanya sering bersikap semberono dan kurang bertanggungjawab pada benda2 miliknya, sekarang jauh lebih hati-hati dan bisa menghargai apa2 yang kami beli dengan uang. Itu hanya bermula dari inisiatif saya mengajaknya kesebuah pasar malam buat kalangan bawah, saya suruh dia membeli kaos kaki di pedagang emperan. Sepulang di rumah, saya mengajak diskusi, berapa omset penjual kaos kaki itu dalam semalam, dia yang mulai paham tentang perkalian mulai mengkali-kalikan, lalu saya ajak dia mengurangi biaya2 yang harus dikeluarkan oleh pedagang itu seperti transportasi, listrik dan sewa lapak, ia tercengang menyadari bahwa omset pedagang itu kecil sekali bahkan tidak layak untuk hidup. Disitu saya masukkan nilai betapa kita yang jauh lbh mapan harus jauh lebih bersyukur dan memahami arti sulitnya mencari uang.

Saya pun kerap mengajarkan kepada Lulla betapa pentingnya untuk memahami sulitnya orang tua sehari- hari untuk memeperjuangkan hidup. Sekali waktu saya pernah mengajak dia naik commuterline di jam sepulang kerja, dia tercengang luar biasa melihat begitu orang berdesakan untuk pulang ke rumah. Dan saya katakan, mama tiap hari seperti itu, demi cepat sampai rumah dan ingin kamu lebih banyak waktu belajar sama mama. Hasilnya sangat terasa dia yang selalu sulit diajak belajar, mulai berubah, mulai merasa segan jika malas- malasan, karena mungkin dia paham, bahwa bagi ibunya untuk bisa mengajaknya belajar butuh pengorbanan yang luar biasa.

Saya menulis ini bukan buat show off, tapi saya menulis ini untuk menggambarkan, bahwa bagi para sebagaian ibu yang memilih untuk bekerja, mereka punya tujuan, mereka mungkin tidak memiliki pilihan untuk hidup tenang dirumah bersama anak2nya. Banyak jutaan ibu berjuang dengan memilih menjadi ibu bekerja untuk memperoleh biaya tambahan demi anak2nya, dan kita tidak boleh judging bahwa ibu2 itu bukan ibu yang baik. Dan bagi ibu2 yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang lebih banyak ada waktu untuk anak2nya itu pula pilihan. Jangan sekalipun mengecilkan seolah ibu yang bekerja itu bukan ibu yang bertanggungjawab atau ibu- ibu yang patut dikategorikan sebagai ibu yang gak baik.

                                                      Saya dan anak2 di commuterline

Ada banyak kasus kok ibu rumah tangga yang justru asik sendiri dengan dunianya yang mungkin bahkan memasukkan nilai2 yang gak baik dengan kebanyakan menghabiskan waktu kongkow dengan teman maupun tour ke mall menghamburkan uang suami daripada menjalankan kewajibannya sebagai ibu dan istri yang baik. Ada pula ibu bekerja yang hanya sibuk mencari materi lantas merasa tidak perlu membangun kedekatan dengan anak karena sudah merasa cukup dengan mengirimkan anak ke berbagai les. Tapi ada pula kok ibu bekerja yang mati matian bekorban untuk tetap seimbang mengatur waktu untuk mendidik dan mendampingi anaknya walaupun harus pakai cara ‘akrobat’ sekalipun.

Intinya semua ibu memiliki perjuangannya sendiri sendiri,tidak ada yang salah jika memilih menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, yang salah adalah jika ada ibu2 yang memilih untuk tidak berjuang apa2 demi anak2nya. Jadi bagi saya,ini bukan mengenai lebih baik mana atau lebih mulia mana ibu bekerja atau ibu rumah tangga, karena semua  ibu adalah  luar biasa sepanjang mereka menjalankan peran sebagai ibu dan istri yang baik dan  berjuang untuk anaknya dan rumah tangganya, entah bagaimana dan apa perjuangannya itu.
Selamat berjuang para ibu, apapun profesi mu J

Friday, October 12, 2012

Pilihan untuk Bekerja


Setiap hari saya pergi bekerja, dari pagi hingga petang. Hal yang sungguh enggak mudah, selain lelah perjalanan, juga lelah fikiran karena rasanya tiada hari tanpa sibuk dan harus menyelesaikan berbagai tumpukan tanggungjawab. Lebih lagi saya adalah seorang istri dan ibu sekaligus. Saya mungkin sudah ratusan kali mengalami kejenuhan, kecapean dan demotivasi terhadap rutinitass kerja saya ini.

Adalah bohong jika ada manusa yang tidak pernah jenuh, capek dan demotivasi dlm menjalani rutinitas kerja sehari hari, karena pada dasarnya semua manusia selalu ingin hidup enak dan bahagia.

Tapi ini kan hidup, mana bisa isinya seneng terus, mana bisa isinya mudah terus, pasti ada titik enggak enaknya dan titik susahnya.

Jadi saya melihat kerja itu bukan sebagai beban, tapi sesuatu yang emang suatu pilihan yang harus dijalanin. Ketika harus berhenti nanti ya bukan karena pertimbangan yang sepele atau bukan karena emosional. Apalagi gak bisa terus kerja karena alasan dikeluarin orang atau karena dipaksa dengan alasan kita tidak produktif lagi dan jadi beban orang.

Kerja itu saya buat sebagai salah satu bentuk ibadah saya sama Allah. Saya kerja bukan cuma sekedar nutupin kebutuhan hidup. Saya memang bekerja motivasi awalnya untuk anak2 saya, yap! Saya punya mimpi besar atas masa depan mereka, dan biaya untuk itu saya rasa tidak sedikit, dengan saya bekerja maka saya memiliki income yang bisa saya persiapkan untuk itu. Tapi karena ini untuk masa depan anak-anak maka saya mau income yg masuk itu harus lewat jalur halalan thoyiban, artinya halal dan atas ridho Allah SWT. Saya enggak mau se-sen pun income saya masuk dengan unsur ketidakadilan. Saya mau income saya emang setara dengan hasil kerja saya. Artinya, saya mau kerja keras dan atas itu pula saya ingin dibayar pantas. Saya enggak mau kalo saya magabut (makan gaji buta) karena saya anti jika tidak menunaikan kewajiban saya dengan baik sementara saya dapat hak saya utuh. Oleh karena itu effort kerja saya minimal harus sepadan dengan apa yg perusahaan bayar ke saya. Ini ada kaitannya dengan barokahnya pendapatan saya yang saya peruntukkan untuk anak2. Bayangin kalo dari sisi dana simpanannya aja enggak barokah, gmn jalan kedepan anak2 saya? Jangan2 saya malah jadi org tua yg tidak amanah krn memasukkan rezeki tidak halal untuk anak2 saya yang kemudian menjadi penghalang masa depan mereka? Na’udzubilaminzalik.

Itu alasan utama saya, alasan kedua saya ingin anak- anak punya role model yang memberikan mereka referensi tentang kerja keras, orang tua mereka memperlihatkan betul kehadapan mereka bahwa hidup itu tidak mudah, semua harus dikejar dengan kerja keras. Setiap manusia punya peran, dan itu semua harus berjalan dengan baik dan penuh tanggungjawab.

Alasan ketiga , saya ingin punya prestasi yang saya persembahkan untuk anak- anak saya, saya tidak semata mengincar jabatan demi pendapatan, tapi saya ingin mewarisi gaya kerja yg professional, berintegritas dan penuh prestasi. Karena saya pun melihat papa saya dulu bekerja penuh dengan integritas, bahkan bisa senantiasa menjaga prinsip dirinya di sebuah instansi kerja yang lumayan dinilai terkorup di negeri ini. Saya percaya anak2 akan melihat apa yg orang tuanya lakukan.

Jadi sebagai ibu bekerja, saya ingin sedikit berbagi perasaan, bahwa saat kalian para ibu memilih untuk bekerja dengan pertimbangan apapun, lakukanlah dengan penuh tanggungjawab kepada Allah swt. Karena peran kita sesungguhnya adalah ibu, pendidik anak- anak, maka jangan pernah memilih untuk berkarier hanya karena untuk status/ prestige dan prinsip asal dapat uang bulanan sementara cara kerja seenaknya, tidak berintegritas,professional dan tidak jujur, apalagi sering membohongi perusahaan dengan mengatasnamakan anak supaya dapat dispensasi untuk malas- malasan.

Ingat setiap kita pergi bekerja, sesungguhnya kita telah merenggut waktu yang seharusnya kita peruntukkan untuk anak2, jadi jika memilih untuk bekerja jangan sampai pilihan itu malah membawa keburukan kepada anak2 kita, seperti rezeki yang tidak halal, kita memupuk keburukan karena sikap kerja kita yang pemalas, tidak professional, tidak jujur maupun mental kerja buruk lainnya, jangan pula kita mewariskan atau mencontohkan mental kerja yang buruk semacam itu kepada anak2.

Pilihan menjadi pekerja ada pada diri masing2 orang, tapi bekerja itu harus dikembalikan kepada tujuan yang hakiki, bahwa hak dan kewajiban kita selaku pekerja dan mahluk Allah harus memenuhi unsur adil, agar hasil kerja kita dan waktu yang kita habiskan untuk bekerja mendapat ridho Allah dan barokah buat anak- anak kita…

 

Selamat berjuang!

Wednesday, February 1, 2012

Ibu rumah tangga adalah profesi tersibuk di dunia

Tulisan ini saya buat sebenarnya berkaitan dengan fenomena baru yang menjamur dewasa ini, fenomena Ibu Gaul, ehehehe...wajar sebenarnya kalo ibu2 bergaul, lha wong manusia kan?tapi wajar atau tidaknya pola gaul yang dimaksud itu menarik untuk ditelaah. Awalnya saya prihatin karena membaca email balasan dari seorang teman suami saya yang baru saya tegur karena prilakunya yang pernah (secara intens)merayu suami saya (saya pernah bercerita di postingan bertema reuni sebelumnya). Si teman ini kebetulan ibu rumah tangga, di permintaan maafnya ia beralasan ia sedang merasa jenuh dan reuni via bbm adalah hiburan satu2nya buatnya dalam menghadapi kejenuhannya, dan disitulah ia jadi bertindak salah dengan menaruh hati pada suami orang.

Disini saya sebagai sesama kaum ibu merasa prihatin, yang saya tau profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi tersibuk yang ada di bumi ini. Dimana sejak bangun pagi hingga tidur, mata dan pikirannya terus berputar. Dari mulai anak, rumah tangga hingga suami. Sehingga seharusnya keinginan untuk berprilaku negatif tidak sempat terfikir, karena padatnya kesibukan seorang ibu rumah tangga.

Coba ayo kita runut circle kerja ibu rumah tangga, bangun pagi harus ibadah, lalu menyiapkan sarapan bergizi sambil mempersiapkan keperluan anak2 untuk sekolah, belom lagi harus nyiapin baju suami bekerja. lalu sebelum suami bangun harus mandi mempercantik diri, biar suami pergi dilepas dng istri yg enak dipandang. Lalu antar anak2 sekolah, tak lama kepasar untuk menyediakan stok makanan di rumah, sampai rumah harus nyiapin makanan untuk makan siang dan malam, sesiangan harus berkutat dengan urusan rumah tangga lainnya, sampai waktunya jemput anak sekolah harus berangkat lagi, lalu antar anak les. Tibalah sore hari, mengurus anak2 lagi, mengajari anak pr sekolah dan mengajari anak pelajaran sekolah untuk esoknya, waktunya makan malam harus disiapkan dulu, minimal dihangatkan, lalu makan malam dengan anak2, tak lama anak2 disiapkan untuk pergi tidur, mulai dari sikat gigi dan ganti piyama, lalu membacakan dongeng.kemudian retouch wajah dan rambut supaya suami pulang kita kece dilihat. Tak lama suami datang, harus disiapkan makan, disiapkan pakaian tidur dll, lalu diajak ngobrol dan mungkin harus ditutup dengan melayani suami di tempat tidur.

Nah panjang bukan aktifitas harian seorang ibu rumah tangga?kalo dibilang kurang kerjaan sehingga akhirnya membuang waktu aktif di group chat sampe harus terbawa perasaan disana saya melihat itu hal yang kontra produktif sementara urusan rumah tangga sebenernya seabreg.

Namun yang saya cermati belakangan ini, ibu rumah tangga jaman sekarang cenderung menyerahkan tanggungjawabnya kepada pembantu rumah tangga.
Saya sering melihat ibu2 disekitar rumah saya, sampai punya pembantu lebih dari satu padahal kegiatannya di rumah saja, karena terlalu banyak orang yang dipekerjakan,sehingga diri sendiri jadi kurang produktif.
Seperti begini, suatu pagi saya sudah rapih mau ke kantor, sambil gendong si bayi yang mau dititipkan ke daycare, tau- tau saya bertemu para ibu rumah tangga disekitar rumah yang juga sudah rapi jali, saya pikir mau antar anak2 ke sekolah bareng2, ternyata rombongan ibu2 tersebut mau 'menabung' ke Tanah Abang.
Fine kelihatannya, mungkin sekali- sekali boleh lah, tapi ternyata para pembantu mengeluhkan hal itu, si-nyonya terbilang hampir tiap pagi punya agenda yang padat pasca melepas si tuan pergi ngantor, mulai dari ke tanah abang, ngopi ke PIM, reuni sama teman SMA, SMP, gosip berjamaah berkedok pengajian, belom lagi urusan salon dan hang out dengan alasan lainnya, kalo pun dirumah tangan kayak nempel sama blackberry, lalu gak lama senyum2 sendiri ke layar blackberry yang mungkin meyuguhkan sesuatu yg manis. Kalo udah di rumah dengan sindrom ‘ketempelan’ blackberry begini ,maka semua urusan anak pun dikit2 neriakin si pembantu. Keluhan semacam ini saya dapat dari curhat para pembantu ke si Eneng pembantu saya dan curhat pembantu2 lain yang pernah kerja sambilan di rumah saya.

Jadi bisa disimpulkan pendelegasian tugas ke pembantu itu jadi berlebihan. Padahal ada hal2 yang harusnya tetap dipegang peranananya oleh si ibu, seperti:

1. Fungsi pengelolaan buget rumah tangga, saya melihat itu tugas ibu, karena agama yang saya anut menyatakan bahwa tugas perempuan adalah menjaga harta suami. Semakin ia cermat menghabiskannya meski untuk urusan rumah tangga, semakin terjaga harta suaminya. Namun yang terjadi umumnya, para ibu menyerahkan semua urusan ke pembantu, pembantu yg atur menu masakan, pembantu yang berwenang nentuin mau belanja apa aja, si nyonya pun membuang uang untuk urusan hang out dan shopping yang keliwat sering, bahkan ada yang menggunakan fasilitas suaminya berikan untuk flirting/ goda menggoda lawan jenis yang gak halal untuknya hanya dengan alasan kesepian. Ini cara salah menafkahkan harta suami saya menurut saya, jauh dari anjuran agama untuk menjaga harta suami.

2. Lalu fungsi mendidik dan mendampingi anak, banyak yang menyepelekan quality time. Padahal quality time itu bisa diperoleh dari hal-hal kecil, misalnya mengantar anak ke sekolah, di perjalanan sekolah, kita bisa menggali anak-anak tentang apa yang mereka rasakan, sayangnya para ibu yang gak bekerja lebih suka menyuruh pembantu untuk mengantar jempt anak sekolah atau bahkan menaikkan anak ke antar jemput sekolah meski memiliki kendaraan ekstra di rumah. Pada waktu menjemput anak2 itulah waktunya kita mendampingi anak2, ada kalanya anak sedang berkonflik dengan temannya,ada kalanya anak sedang drop mentalnya karena pelajaran yang mungkin sulit baginya dan bagi yang sudah besaran mungkin akan merasakan gejolak jatuh cinta. Intinya hal2 kecil yang dapat digali untuk perbaikan ke depannya. Dan nilai2 baik dapat ditanamkan dari waktu ngobrol yang ada.

3. Mengajari anak pelajaran sekolah, ini hal kecil yang sering didelegasikan para ibu ke guru les, padahal seorang ibu juga harus menakar kemampuan anak2nya terhadap suatu pelajaran, sehingga jika dilihat ada masalah, para ibu dapat men drive dan menjadi teman diskusi si guru les untuk mencari solusi atas masalah itu.Yang ada dewasa ini, para ibu, menyerahkan semua ke guru les, padahal itu kan anak2 sendiri, kenapa prestasinya digantungkan pada si guru les?jadi terbalik bukan?Padahal saat ini banyak lembaga kursus bagi para ibu untuk mengajari anak2nya, bahkan ada kursus matematikan for mom, sehingga para ibu dapat merefresh kembali ingatannya tentang pelajaran sekolah yang anak2nya akan hadapi, sehingga ia bisa menjadi mitra anak dalam mempelajari pelajaran di sekolah.

4. Melayani suami, suami sibuk bekerja seharian di rumah, sibuk mencari solusi keuangan agar seluruh biaya2 di rumah tangga bisa tertutupi, fasilitas dan masa depan ntuk anak2 bisa dipenuhi, begitu juga memberikan nafkah bagi kita. Sepulang ke rumah, ia layak untuk dibahagiakan, mungkin mencicipi masakan enak bikinan istrinya, merasakan suasana kamar yang selalu segar dilihat, berkomunikasi dengan istrinya dengan lancar dan hangat, dan segala hal lain yang membuat dia merasa hanya istrinya yang dapat memenuhi itu semua.Namun bagaimana itu mau dicapai jika si istri tak kalah sibuk agendanya dengan pergaulannya, namun sayangnya genda sibuknya sama sekali tidak membantu, baik diri sisi financial maupun dari sisi psikologis. Ini yang sangat berbahaya menurut saya.

5. Menjadi role model keluarga, ibu adalah role model keluarga, disadari atau tidak prilaku kita adalah contoh bagi anak2 kita, bahkan kadang mempengaruhi prilaku suami. Lihat saja, seorang ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak, gerak gerik kita dilihat oleh anak, gak jarang anak selalu ingin meniru ibunya. Kadang dalam hal mengerjakan sesuatu si anak selalu menggunakan cara ibunya melakukan pekerjaan itu. Sebagai role model tentu kita harus semangat untuk selalu tampail baik, menjadi orang yang menginspirasikan prilaku baik pada anak2 kita dan keluarga di rumah. Bagaimana caranya?selalu upgrade diri. Banyak membaca, banyak2 membuka wawasan, jangan letih dan bosan untuk belajar hal-hal baru yang bermanfaat, banyak2 menggali informasi yang menunjang sekolah anak2 kita kedepan, banyak2 menggali informasi tentang apa2 yg menjadi hobby suami,agar bisa menjadi mitra sejajar dan teman diskusi bagi suaminya. Jadi menjadi ibu harus pandai menyisipkan waktu untuk kegiatan up grade diri, karena ini mutlak diperlukan untuk menunjang perannya sebagai role model.


Ibu Rumah Tangga Juga Harus Terus Belajar

Jika anak-anak senantiasa belajar di sekolah, para suami mengupgrade diri agar lebih berkualitas dan lebih menghasilkan,maka ibu rumah tangga juga demikian. Jangan merasa menjadi ibu rumah tangga lalu selesai sudah urusan belajar ini. Ibu rumah tangga juga waktu untuk mengupgrade diri, memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menambah ilmu dan pengetahuan.

Untuk apa?
pertama, anak-anak terus berkembang, untuk dapat menjadi orang yang mampu memahami dan mendidik anak2 dengan baik, kita harus dapat mengikuti perkembangannya, supaya dapat memberikan advice dan arahan terbaik bagi mereka.Bagaimana caranya? ya banyak membaca, banyak diskusi dengan orang yang eksperts disitu, perluas jaringan yang memiliki semangat sama yaitu pendidikan anak, dan terus menimba ilmu agar mampu menjadi contoh bagi anak-anak kita bahwa hidup memang harus disi dengan sesuatu yg produktif.

Kedua, suami dengan kariernya diluar rumah itu setiap hari mengalami proses pembelajaran yang tujuannya untuk meningkatkan mutu diri agar penghasilan yang didapat mengikuti kebutuhan yang terus meningkat. Mau tidak mau mereka berkembang, entah sengaja maupun tidak suami mengupgrade dirinya terus, nah kita yang di rumah apakah hanya mau begitu saja?tentu tidak, suami pulang ingin diajak ngobrol, ingin mendapat advice dan ingin punya mitra dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Namun apa yang terjadi jika kita tidak mengembangkan diri?suami hanya pulang secara fisik, ia akan tetap sendiri menyelesaikan urusannya sendiri, lama- kelamaan mungkin kita hanya pihak yang tidak berarti yang senantiasa hanya menggantungkan hidup pada mereka, gak bermakna lebih dari itu semua.

Dan terakhir, kita harus mengupgrade diri adalah untuk diri kita sendiri, hidup harus dimanfaatkan sebaik mungkin, makin berisi 'kepala' seseorang, gak bisa dipungkiri makin wise dirinya menyikapi sesuatu dan akan jauh bermanfaat bagi orang banyak. Jadi karena hidup hanya sekali, kenapa kita hanya berpangku tangan tidak memperbaiki diri sendiri, toh semua kebaikan ganjarannya surga? Jika para ibu merasa kurang ruang gerak sementara energi dan fasilitas di rumah tangganya berlebih, kenapa tidak kembali bekerja, kembali menimba ilmu ataupun aktif di kegiatan sosial dengan hasil kerja yang kongkrit untuk masyarakat?daripada membuang waktu, energi dan fikiran hanya untuk pergaulan apalagi pergaulannya menjurus ke sesuatu yang negatif? Bukankah hidup harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai ungkapan syukur kepada Allah?

Mengutip dari statement Nurcholis Majid,”bahwa bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulilah dan istigfar”, ini berlaku BUKAN hanya untuk orang2 yang memiliki karier, tapi juga para Ibu rumah tangga yang memiliki profesi paling sibuk di dunia ini, yaitu: Ibu Rumah Tangga, dengan komitment seumur hidup, bahkan ini adalah profesi yang tidak mengenal istilah cuti.