Thursday, November 21, 2013
Prestasi di raport pertama Lulla
________________________________________________________________________________
Mungkin hampir seluruh ibu di dunia ini akan merasakan sama dengan apa yang saya rasakan, kawatir dengan prestasi anak- anaknya di sekolah. Yah,sejak Lulla masuk SD saya memang menjadi panik setiap kali dia akan menghadapi ulangan, karena saya tau betul bahwa psikologis anak yang dari TK ke SD itu lumayan berat.
Di TK anak-anak kan belum dituntut banyak, sementara di SD anak dituntut untuk mengejar prestasi. Kejadian pada Lulla, ia masih gak mengerti apa itu ulangan, kenapa harus ada jatah waktu pengerjaan soal, kenapa harus ngerjain PR, apa itu nilai, guna nilai itu apa. Dan lain sebagainya. Hal- hal yang gak mudah untuk dijelaskan.
Dengan kondisi seperti itu membuat Lulla seperti seperti malas2an dalam melakukan review pelajaran. Sebelum ulangan pun sepertinya santai2 saja, kadang malah saya yang sangat tegang dan panik, sementara ia tetap santai saja.
Saya akui Lulla adalah anak yang cerdas,dari sisi IQ ia memiliki keunggulan dengan berada di angka 120 (superior) jika diukur dengan skala Wechsler, tentunya tidak sulit baginya menangkap sebuah pelajaran, tapi menilik dari pola santai yang dia terapkan dalam belajar, saya tetap kawatir.
Ditambah dengan kesibukan saya mengurus Brave yang masih bayi dan mengurus karier saya yang juga gak tau kapan santainya, saya jadi terbatas untuk punya waktu mengajar Lulla.
Terkadang saya menyempatkan diri sepulang kerja mereview pelajaran, mengoreksi PR, mengajari pelajaran sekolah dan lain2. Kadang itu juga dirasa tidak kondusif, dimana di fisik saya yang lelah kadang membuat saya hilang kesabaran. Jadi yah, kadang seadanya saja.
Tapi memang kunci mengajar anak bukan kuantitas semata tapi kualitas dan kontiunuitas,jadi gak bisa asal2an dan suka2 aja yah. Harus tekun biar mental belajar anak terbentuk disitu. Jujur saya belum sukses untuk itu.
Di bagi raport kemarin saya merasa belum maksimal, dari nilai-nilai raport yang dibagikan oleh sekolah, Lulla mendapat dua angka 10 yaitu di mata pelajaran English dan Bahasa Indonesia, dan nilai paling kecil adalah angka 8 untuk olahraga. Sepintas terlihat memuaskan karena buku raport dihiasi dengan angka 8,9 dan 10, tapi ternyata Lulla hanya berhasil menempati peringkat ke 3 di kelasnya.
Not bad but not really good, ehehehe...masih gak puas aja. Karena saya yakin jika diasah dengna baik anak ini pencapaiannya akan lebih dari ini. Tapi saya cukup mengapresiasi dia atas pencapaian itu, lumayan lah untuk anak yang begitu santainya itu. Jadi saya tetap mengucap terimakasih atas persembahan prestasinya, dan saya juga masih berharap ada peningkatan yang berarti di semester mendatang.
Memang ini adalah fase yang gak mudah, dimana merawat bayi sendiri,mewujudkan impian memberi ASI sampai 2 tahun, harus dibarengi dengan memberi bimbingan belajar buat Lulla dan karier yang gak ada santainya, semoga Allah kasih kemudahan, karena balik ke prinsip hidup saya : HIDUP HARUS DIISI DENGAN KERJA KERAS AGAR BERMANFAAT BAGI UMAT DAN AGAR JADI AMALAN BEKAL AKHIRAT, ehehehhe...
Wednesday, June 20, 2012
Melatih anak belajar sebagai bentuk kerja keras
3. Saya adalah seorang ibu yang memiliki kewajiban mendampingi dan mendidik anak saya di rumah
Alasan- alasan itu yang membuat saya merasa masih memiliki kontribusi besar dalam hasil sekolah Lulla.
Saat ini Lulla dalam golden age, saya dituntut membentuk dia untuk terbiasa dalam memperjuangkan sesuatu, meraih sesuatu, memenuhi sebuah qualifikasi tertentu, berkompetisi secara fair, perfectionis terhadap hasil kerja dan bertanggungjawab terhadap waktu. Dan proses belajar dan ujian itu harus dilihat sebagai sebuah sebuah wadah ia berlatih untuk itu semua.
Saya pun menanamkan padanya bahwa dalam hidup harus kerja keras untuk mendapat hasil terbaik, kenapa? karena hidup itu adalah anugrah Allah swt. Hidup itu ada amanah yang kita emban, yaitu waktu dan penggunaan waktu dengna sebaik mungkin adalah kewajiban terutama umat muslim. Jika saya dan ayahnya bekerja keras dengan cara bekerja mencari nafkah dan menjalani kewajiban kami mendidik anak- anak, maka seorang anak punpunya bentuk kerja keras yang tidak sama, yaitu belajar untuk meraih hasil pendidikan terbaik, dan kerja keas adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap umur yang diberikan oleh Allah.
Semester lalu ia mendapat rangking 3, tidak terlalu sempurna, saya tidak memarahinya. Saya mengucapkan selamat padanya, tapi secara fair saya mengatakan padanya bahwa saat ini ia belum maksimal bekerja keras, masih ada 2 teman lainnya yang menduduki rangking 1 dan 2. Artinya mereka lebih baik dari Lulla, Lulla harus sadar itu bahwa ia masih punya 'pe er' untuk mengejar prestasi temannya, karena inilah persaingan, yang dicari adalah yang terbaik, maka selalu semangat ntuk mengejar prestasi untuk menjadi yang terbaik adalah wajib.
Saya bukan ambisius, tapis aya secara fair memberi gambaran pada anak saya bahwa hidup tidak mudah. orang tidak boleh mudah puas atas sesuatu yang dicapai, karena hidup ini isinya ya perjuangan sampai akhir hayat. membiasakan diri bekerja keras menurut saya adalah baik adanya daripada kit amembiarkan kemalasan tumbuh dalam diri anak- anak kita.
Dan dalam golden age ini, saya berusaha semaksimal mungkin membiasakan Lulla untuk bekerja keras, karena insyalah bisa ia lekatkan dalam ingatannya dan ia tanamkan semangat ini seumur hidupnya. Intinya menjadikan bekerja keras adalah kebiasaan dirinya.
Monday, March 19, 2012
Raport Pertama Lulla di SD
Mungkin hampir seluruh ibu di dunia ini akan merasakan sama dengan apa yang saya rasakan, kawatir dengan prestasi anak- anaknya di sekolah. Yah,sejak Lulla masuk SD saya memang menjadi panik setiap kali dia akan menghadapi ulangan, karena saya tau betul bahwa psikologis anak yang dari TK ke SD itu lumayan berat.
Di TK anak-anak kan belum dituntut banyak, sementara di SD anak dituntut untuk mengejar prestasi. Kejadian pada Lulla, ia masih gak mengerti apa itu ulangan, kenapa harus ada jatah waktu pengerjaan soal, kenapa harus ngerjain PR, apa itu nilai, guna nilai itu apa. Dan lain sebagainya. Hal- hal yang gak mudah untuk dijelaskan.
Dengan kondisi seperti itu membuat Lulla seperti seperti malas2an dalam melakukan review pelajaran. Sebelum ulangan pun sepertinya santai2 saja, kadang malah saya yang sangat tegang dan panik, sementara ia tetap santai saja.
Saya akui Lulla adalah anak yang cerdas,dari sisi IQ ia memiliki keunggulan dengan berada di angka 120 jika diukur dengan skala Wechsler, tentunya tidak sulit baginya menangkap sebuah pelajaran, tapi menilik dari pola santai yang dia terapkan dalam belajar, saya tetap kawatir.
Ditambah dengan kesibukan saya mengurus Brave yang masih bayi dan mengurus karier saya yang juga gak tau kapan santainya, saya jadi terbatas untuk punya waktu mengajar Lulla.
Terkadang saya menyempatkan diri sepulang kerja mereview pelajaran, mengoreksi PR, mengajari pelajaran sekolah dan lain2. Kadang itu juga dirasa tidak kondusif, dimana di fisik saya yang lelah kadang membuat saya hilang kesabaran. Jadi yah, kadang seadanya saja.
Tapi memang kunci mengajar anak bukan kuantitas semata tapi kualitas dan kontinuitas,jadi gak bisa asal2an dan suka2 aja yah. Harus tekun biar mental belajar anak terbentuk disitu. Jujur saya belum sukses untuk itu.
Di bagi raport kemarin saya merasa belum maksimal, dari nilai-nilai raport yang dibagikan oleh sekolah, Lulla mendapat dua angka 10 yaitu di mata pelajaran English dan Bahasa Indonesia, dan nilai paling kecil adalah angka 8 untuk olahraga. Sepintas terlihat memuaskan karena buku raport dihiasi dengan angka 8,9 dan 10, tapi ternyata Lulla hanya berhasil menempati peringkat ke 3 di kelasnya.
Not bad but not really good, ehehehe...masih gak puas aja nih si ibunya ehehehe. Tapi saya cukup mengapresiasi dia atas pencapaian itu, lumayan lah untuk anak yang begitu santainya itu. Jadi saya tetap mengucap terimakasih atas persembahan prestasinya, dan saya juga masih berharap ada peningkatan yang berarti di semester mendatang.
Memang ini adalah fase yang gak mudah, dimana merawat bayi sendiri dengan impian memberi ASI sampai 2 tahun, harus dibarengi dengan memberi bimbingan belajar buat Lulla dan karier yang gak ada santainya, saya Cuma berdoa semoga Allah kasih kemudahan,saya harus tetep semangat dan optimis karena saya harus konsisten sama prinsip hidup saya bahwa "HIDUP HARUS DIISI DENGAN KERJA KERAS AGAR BERMANFAAT BAGI UMAT DAN AGAR JADI AMAL BAIK SEBAGAI BEKAL AKHIRAT..
Thursday, November 4, 2010
Menghadapi Teman Berkebutuhan Khusus
Keberadaan anak autis diantara anak-anak normal kerap dianggap miring oleh beberapa orang tua murid, mungkin karena prilaku anak autis yang kadang tak terkendali membuat kecemasan tersendiri bagi para orang tua murid lainnya.
Saya pun kadang agak kawatir, tapi rasa kawatir kita tidak dapat kita jadikan pembenaran jika kita tidak memberi kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk berkembang. Mereka butuh latihan untuk hidup normal dan memahami aturan main di kehidupan sosial, dan itu bisa mereka pelajari dengan berbaur dengan anak normal. Jadi saya mencoba mengenyahkan rasa kawatir saya dan mencoba untuk mensupport pihak sekolah untuk memanage dengan baik keberadaan anak berkebutuhan khusus ditengah-tengah anak normal.

Namun di perjalanannya ternyata enggak mudah, putri saya sejak duduk di kelas A kebetulan sekelas dengan seorang anak autis. Dan kebetulan pula anak autis ini memiliki prilaku yang agak agresif,terutama pergerakan tangannya yang begitu kuat dan cepat. Sehingga anak ini sering tanpa sadar mendorong temannya terutama bila sedang excited dan senang. Dan pada tahun lalu Lulla menjadi ‘korban’ keaktifan ini,ia mendorong Lulla saat Lulla akan mengambil wudhu di sekolah, sehingga dengkul Lulla menabrak pembatas keran wudhu. Akibatnya dengkul Lulla memar dan Lulla otomatis menangis sehingga harus di amankan di UKS.
Sepulang sekolah saya mendapat surat laporan ‘kecelakaan’ tersebut, saya kaget dan jelas prihatin dengan luka memar yang Lulla alami. Tapi ada luka lain yang harus saya tangani selain memar ini,yaitu trauma, saya kawatir Lulla trauma terhadap anak autis itu. Ini ‘luka dalam’ yang harus segera di recovery,krn jika Lulla trauma, ia bisa enggan ke sekolah atau bergabung dengan teman-teman sekelasnya,ini kan jadi masalah. Alhamdulilah dari obrolan dan motivasi yang kami berikan, Lulla tidak trauma atau takut berhadapan dengan anak itu, ia pun dengan tegas mengatakan ia memaafkan anak itu. Dan kami juga akhirnya menjelaskan kenapa anak itu berprilaku demikian,kami menjelaskan secara garis besar mengenai penyakit autis,dan sekali lagi saya bersyukur Lulla memahami dan menganggap temannya itu bukan anak nakal,ia memaklumi kekurangan itu.
Ternyata kejadian kecelakaan itu menimbulkan reaksi yang cukup heboh dikalangan orang tua murid lain, berita menyebar bagaikan angin di kalangan ibu-ibu yang rajin kumpul di sekolah. Saya juga heran kenapa bisa seheboh itu, intinya ibu-ibu meributkan dan mengecam keberadaan anak itu disekolah.Sampai ada yg menghubungi saya ke handphone dan mendorong saya memanfaatkan moment itu agar pihak sekolah memisahkan anak autis tersebut. Jelas saya menolak, bukan apa-apa, itu terlalu konyol.
Buat saya, ini bentuk latihan bagi anak saya juga untuk bertahan menghadapi teman-teman yang berbeda dengannya,ia harus punya strategi dan keberanian menghadapi hal-hal seperti itu. Sungguh bukan berarti saya gak sayang anak saya,tapi saya percaya ini adalah bagian dari belajar.Selain itu sangat tidak manusiawi jika kita mengkotakkan anak semacam ini,ia tetap punya kesempatan dan hak yang sama toh untuk berkembang?
Rupanya reaksi diam saya membuat para ibu itu tidak kehabisan akal,mereka mulai melancarkan entah aksi apa sehingga suatu hari saya mendapat telepon dari ibu anak autis tersebut,ia dengan suara tersendat meminta maaf atas kejadian tersebut. Ya Tuhan disitu saya merasa ikut bersedih,saya saja tidak bereaksi,lantas kenapa ibu-ibu lain justru yang protes pada orang tua anak itu?kalo pun mau disalahkan kita bisa menyalahkan shadow yg bertugas mengawasi anak itu,artinya ia lalai,jadi bukan menyalahkan anak autis itu,anak itu kita tau memang punya kekurangan.
Setahun berselang,anak saya kembali dimasukkan dalam kelas yang sama dengan anak autis itu,saya menganggapnya tidak big deal. Dan kejadian serupa pun terjadi meski efeknya tidak sebesar efek yang pertama.Lulla nampak fine, selang beberapa minggu kejadian lagi, dan pelaku serta korbannya masih sama. Saya pun menanggapinya masih biasa,sepanjang Lulla fine ya gak apa-apa. Saya paling memotifasi dirinya untuk bisa menghadapi anak itu,jika perlu lebih waspada jika dekat dengan anak itu,takut anak itu reflek mendorong Lulla sebagai ekspresi gemasnya melihat Lulla.
Namun saya sangat kesal ketika kembali lagi masalah yang ada menimbulkan reaksi lagi dari para ibu-ibu di sekolahan. Dan kali ini saya mulai tidak suka karena mereka jadi menyalahkan pihak sekolah karena menerima anak seperti ini yang mereka anggap mengganggu.Kejadian ini yang lantas membuat saya menyurati pihak sekolah untuk berhati-hati apabila ada issue-issue panas semacam ini merebak dikalangan orang tua murid. Saya intinya mengingatkan pihak sekolah untuk be aware.
Disini saya berfikir, betapa menjadi orang tua yang dikaruniai anak-anak normal dan sehat cenderung membuat manusia hilang empati pada orang lain. Padahal memiliki anak yang normal harusnya kita syukuri dengan sangat dan bentuk dari rasa syukur itu kita harusnya membagi dengan orang yang mungkin gak seberuntung kita. Jangan malah mengecam dan menyudutkan. Ini pemahaman yang saya rasa gak wise.
Harusnya pada semua kejadian kita melihat dari sisi positif lalu kita pelajari hal negatifnya untuk menjadi pelajaran berharga. Keberadaan anak dengan kebutuhan khusus dan berprilaku berbeda di tengah-tengah anak-anak normal harusnya jadi ajang belajar bagi anak-anak kita,berikut poin yg saya pikir bisa kita tanamkan pada anak-anak kita:
1. Kenalkan kepada anak-anak kita bahwa manusia itu berbeda-beda, ada yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan. Ajari anak untuk respect terhadap hal itu.
2. Ajari anak untuk berani menghadapi situasi yang sulit, jangan sampai kita meng-kotakkan anak kita ke dalam situasi yang selalu aman tanpa konflik dan masalah. Dengan kesulitan mereka belajar bertahan,dengan adanya masalah mereka belajar menyelesaikan masalah.
3. Tanamkan keberanian pada anak untuk menghadapi situasi dan prilaku orang seperti apapun itu.Stimulus ia untuk survive dan mencari strategi menghadapi orang di dunia luar sana.
4. Tumbuhkan rasa kasih sayang dan emphaty terhadap orang yang tidak beruntung di hati anak kita,kondisi teman yang berkebutuhan khusus adalah sesuatu yang layak mendapat emphaty dari anak kita.
Demikian para bunda, sedikit coretan dari saya, saya juga orang tua yang terus belajar dari anak,dari mereka saya banyak terinspirasi untuk menjalani hidup di masyarakat maupun di karier saya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya…cao!
Tuesday, June 29, 2010
a lot of stories...
Pertama soal gegernya negeri ini akan beredarnya vido porno yang dilakoni artis kenamaan, bahkan dua diantaranya (ada 3 pelaku) adalah orang- orang yang cukup saya kagumi, yeaaay....Ariel peterpan yang menurut saya cukup genius dalam menciptakan lagu dan Luna maya si mata indah, artis bermata paling indah menurut saya. Well, mungkin pendapat saya sama dengan jutaan orang lainnya, sehinga ketika meledaknya kasus video itu,maka luluh lantaklah semua pembritaan nasional, didominasi oleh berita video itu.kasus politik, kisruh kisruh KPK,kepolisian,Korupsi yang dilakukan oleh karyawan pajak si milyarder kagetan Gayus tambunan, semua seolah pyarrrrrrrr oleh berita ini. Sejak pertama bergulir hanya itu kekawatiran saya, yaitu tertutupnya kasus Negara lainnya karena si video gak pantas itu,dan terbukatilah, masyarakat seolah menengok video itu,kasus kasus penting yang lainterabaikan lah,luput dari pandangan.Saya akui kasus ini penting,karena merusak moral anak bangsa kalo didiamkan,tapi diperkarakan bukan berarti peredaran video itu tidak dihentikan, walau bagaimana semua pihak harus mendapat ganjaran, sama-sama kita dalam semangat yang sama anti pornografi!semalatkan mental anak-anak kita kelak…

Kedua, soal Lulla ku yang sudah menginjak kenaikan kelas menuju TK B. Saat ini ia sedang menikmati liburannya. Gak kemana-mana kok, hanya ke Puncak saja weekend ini (3 dan 4 juli 2010), sisanya ia habiskan dengan kursus melukis di Mitrahadiprana Kemang. Saya sengaja atur kegiatan untuknya di pagi hari,sama aja kayak jam pergi sekolah. Kesannya saya kejam ya?anak liburan kok disuruh kursus.
Gak gak gitu, jgn salah paham dulu sama saya, ide aawalanya adalah saya ingin Lulla punya kebiasaan untuk selalu aktif.Saya rada gak suka sama orang yang punya kebiasaan membuang- buang waktu untuk bermalas-malasan. Okelah jika weekend, tapi kalo sepanjang hidupnya ia malas-malasana dan tidak menghargai kehidupan yang diberikan Allah, saya gak setuju. Jadi sejak kecil saya mengajarkan Lulla untuk mampu memanfaatkan waktu yang dia miliki untuk sesuatu yang berguna yang mampu meng improve dirinya. Dengan adanya waktu libur selama 3 minggu,saya gak mau melihat Lulla membiasakan diri bangun siang, selain alasan yang tadi saya sebutkan, saya juga gak mau ketika nantinya tiba mulai masuk sekolah lagi Lulla jadi sulit dibangunkan kalo pagi hari.Saya lagi yang repot.

Ide kursus harus benar-benar dicermati oleh orang tua, mengisi liburan anak dengan kursus gak boleh sembarangan ditentukan oleh orang tua. Kembali lagi tanyakan pada anak, akan minatnya kegiatan apa?lukis kah, menari,berenang,bola,robot,bahasa,music atau apa?
Sebelum anda menawarkan ada hal mendasar yang perlu dilakukan, mulailah kenali hobby anak anda sejak dini,jika anda mengenal apa minat anak anda,maka mulai lah perkenalkan kegiatan-kegiatan realnya. Misalnya,pada anak laki-laki ada yang suka mainin bola, gak ada salahnya sekali-kali sejak ia bisa berjalan perkenalkan permainan bola di rumput lapangan terdekat dengannya,seiring bertambahnya umur gak ada salahnya jika ia mulai diperkenalkan permainan bola di tv lalu aturan main bola.Jika itu memang minatnya ia kan memilih minat itu untuk menjadi hobbynya.
Jika anak suka menyanyi, gak ada salahnya anda mulai memperkenalkan alat music, insyallah lambat laun stimulus anda akan berjalan.

Tapi sekali lagi, jangan memaksa,biarkan anak anda melakukan karena ia ingin dan terhibur selama melakoninya.
Apa yang menurut anda baik belom tentu disukai anak anda, jadi gak ada gunannya memaksa nak-anak atas hobby yang ia tidak suka.
Sekedar tips dari saya…back to Lulla, ia mengikuti kegiatan melukis sejak holiday tahun lalu, ia kepincut dunia corat coret ini sejak 7 bulan, ia sudah kenal pensil warna.anehnya itu pensil sudah dia pahami untuk menggambar bukan digigit gigit. Sejak itu saya mulai menstimulus dengan menyiapkan fasilitas seperti menyediakan alat gambar,buku sketsa dan lainnya. Kami bahkan mengapresiasikan untuk menempel karyanya di pintu kulkas.Ia makin semangat.
Lalu setelah ia berumur 4 tahun kami mengajak nya untuk menghabisi liburan dengna melukis, dan ia sangat semangat karenanya. Ia semangat untuk membuat karya terbaik nya. Maka ia pun menjadi tidak sabar tiap kali harus datang ke Mitrahadiprana..
Gak terasa mulai 12 Juli ia duduk di kelas B,ia masih kerepotan membaca kalo kata-katanya panjang,ia mulai menyukai menghitung menggunakan metode jarimatika, dan yang selalu stabil adalah maslah art.
Masalah di sekolah, ia baru-baru ini berkonflik dengan teman yang membuat gank (omaigat anak tk bikin gank?), saya selaku orang tua gak mau juga membuat anak saya takut menghadapi prilaku teman seperti itu (rada suka bullying dan mengganggu) tapi juga saya gak mau membuat anak saya jadi dendeman,jadi saya mengajarkannya untuk tetap jadi diri sendiri dan memperbanyak teman, kaloa da yang nyebelin ya tinggalkan,masih banyak teman lain.Sofar Lulla sukses melalui nya.Dan siapa sangka hasil rapornya bagus,begitu banyak pujian sekolah terhada[pnya, terutama kemampuannya menangani konflik dan kedewasaanya dalam bersikap.Sungguh rasa malu menjalari saya, saya gak banyak waktu untuknya,tapi ia berkembang dengan dewasa dan bijaksana, darimana ia belajar semua itu?

Ya itulah perkembangan saat ini, saya masih di pekerjaan saya,ngurus karyawan, saya belom juga hamil dan ini membuat saya jadi begitu kepikiran, dan saat ini Tori sedang banyak-banyaknya membela klien di persidangan dan persidangannya di daerah pula, jadi semingu kami hanya bertemu 2- 3 hari saja di rumah…
Ya begitulah ulasan dan pemanasan saya untuk kembali menulis..cao!
Thursday, July 30, 2009
Yang Ini bayu Keyeen...
Hay..hay.lama ya gak nulis, kali ini bener2 kangen sama acara nulis disini..kali ini mo crita ttg Lulla tersayang.
Ada-ada aja..punya anak perempuan emang terasa banget ya lonjakan perkembangan pemikirannya,seperti Lulla saat ini,dia berubah menjadi begitu mature. Bisa banyak berkomentar akan banyak hal,sudah bisa diajak diskusi untuk banyak hal dan sudah sangat kooperatif untuk dikoreksi.
Misalnya,saya membeli majalah fashion,ada banyak pilihan baju-baju, dia sudah bisa memberikan pilihan yang menurutnya cocok untuk saya, dan pilihannya gak bisa saya pungkiri, sangat bagus dan ‘gue banget’. Gitu juga kalo say angajak belanja,dia sudah bisa komentar ke saya apa yang bagus dan tidak untuk saya.
Ketika dia melakukan suatu tindakan yang tidak kami sukai,dengan mudahnya saya mengajaknya berdiskusi akan hal tersebut,saya menjelaskan apa motivasi saya tidak menerima tindakan dia,dan dia pun understandable dan konsisten untuk mematuhi, kunci komunikasi dengan dia tidak bisa lagi dengan cara mengomel, cukup diskusi dengan memaparkan argument kita maka dia bisa kooperatif.Sudah begitu dewasa kliatannya…
Sampai sekarang Lulla tumbuh dan berkembang sebagai gadis kecil yang kalem, jarang bicara jika sama orang yang tidak terlalu dekat, gerakannya pun terarah dan teratur, terkesan diarahkan oleh kami,padahal anak itu yang memutuskan untuk banyak bertingkah kalem. Dia gak sembarangan berceloteh dan pecicilan, dia sudah cukup baik dalam menempatkan posisinya. Saya gak kerepotan membawa dia pergi kemana-mana,baik ke kantor,ke pasar tradisional, ke mall maupun ke acara social kami.
Kemajuan saat ini adalah, putri kami sudah bisa dibatasi agenda menonton televisinya, saya mencoba menjelaskan kepadanya apa efek buruk televisi dan apa yang bisa dilakukannya selain menonton televisi, dan syukur Alhamdulillah dia nurut dan patuh untuk tidak menonton tv pada jadwal yang telah kami sepakati. Dia lebih banyak melukis dan membuat handcraft ala dia, lalu memajangnya di pintu kulkas,sehingga pukul 9 malam dia sudah berangkat tidur,dan besoknya bisa ikut solat subuh, Alhamdulillah…
Dari semua kemajuan yang dialaminya, saya begitu bertrimakasih kepada Allah, betapa saya bahagia dengan perkembangannya, perkembangan emosinya amat sangat pesat. Terimakasih ya Allah…
Rasanya gadis kecil saya sudah siap memiliki adik,mohon doa agar dimudahkan jalannya untuk proses penambahan anak ini…semoga semua lancar ya…
Monday, March 16, 2009
Ultah Calulla ke-4
Haiyaaaaaaa…Lulla ulang tahun ke empat 15 Maret lalu, as usual gw dan Tori berupaya memberikan hadiah yang kami mampu untuk nya. Sejak jauh hari si gadis cilik dah meminta dibelikan biola. Mengingat harga biola gak murah,maka saya dan Tori meminta komitment Lulla untuk serius belajar biola,jadi adanya hadiah ini justru mendorong gadis cilik kami untuk mulai berlatih biola. Insyallah bulan depan udah mulai ikutan kursus,thanks to Allah ada juga lembaga kursus music yang mau menerima murid dibawah 5 tahun.
Kue ultah sederhana made in Mama-nya Lulla..
Gimana reaksi Lulla pas menerima kado yang dia inginkan?wah wah wah..saya dan Tori jadi ikutan seneng,karena melihat Lulla begitu excited luar biasa.Langsung dicoba..tapi aneh!soalnya biolanya gak bunyi pas digesek-gesek.Lho???Otak atik sana sini,tapi tetep jg no clue untuk membuat biola bersuara. Saya dan Tori yang emang baru kali pertama megang alat music ini juga jelas sam aaja bingungnya. Akhirnya dibawa balik ke Toko yang jual, ternyata rahasainya ada pada Rosin, si rosin belom digosokkan ke senar alat geseknya si biola,pantes gak bunyi,dasar dodol…
Sejak bisa bunyi, si Lulla jadi bolak-balik buka case-nya si biola,bolak balik digesek, duh semangat amat…
Lulla bersemangat bersama biola barunya
Selain itu, ada hal lain yang membuat Lulla bahagia, hari ini ada perayaan bersama-teman-teman disekolah, semua kenang-kenangan yang akan diberikan sudah dipersiapkan oleh saya,dan saya pun membuat sendiri semua isi goody bag makanan-nya, yang salah satu isinya adalah favorit Lulla yaitu cup cake hias..
Gak lupa saya juga membuat satu buah tart untuk Lulla, no wonder Lulla sempet bilang “wow..mama hebat”,eheheh, si mama jelas langsung shiny..ge er sendiri..eheheh..
Cup cake hias yang siap dimasukkan dalam goodybag
Acara tiup lilin tadinya mau di rumah aja,karena si papa sore-nya harus rapat,tapi pagi-pagi denger kabar kalo eyang buyut sakit,dan di dalam sakit itu si eyang sempet nelpon Lulla untuk mengucapkan selamat ulang tahun, OMG eyang saya yang lagi sakit-sakitan itu dan mulai pikun itu tetep inget ultah Lulla,mungkin karena si Lulla adalah cicit pertamanya,jadi hari kelahirannya begitu berkesan. Sore itu akhirnya kami jadi ke rumah eyang,nengok eyang sekalian tiup lilin ulang tahunnya Lulla, dalam sakit eyang tersenyum tampak segar dan penuh canda, dalam hati saya miris..OMG..akankah tahun depan ia bisa melihat gadis kecil saya tiup lilin di hari ulang tahun?mengingat hampir tiap tahun eyang berperan aktif untuk memberi sesuatu di hari spesial putri saya..Semoga Allah juga memberikan kesehatan bagi eyang saya,buyut tersayangnya Lulla..amin...
Happy birthday Calulla...wish all d best for you ya nak!Monday, February 23, 2009
Cowok Ganteng Pertama Buat Lulla...

Ini kejadian tadi malem,obrolan saya dan Lulla yang di kamar.
Lulla : “Mah,papa kan gak cakep”, Lulla berbisik ke saya pas liat papanya baru pulang dan melepas dasi di kamar.
Ekspresi saya bingung,maksudnya yang cakep siapa kalo bukan papa nya?saya kali ya maksudnya *gee r modeon*
Saya : “Oooh gitu ya,emang yang cakep siapa?Mama??” (sumpah gaya gw pe de najong deh)
Lulla : “Enggak..,bukan mama..”(Gleg!tuh kan bener saya kege er-an..)
Saya : “jadi siapa?”
Lulla :“itu loh,temennya Binda (Binda = Epit adik gw)”
Saya :“Ooh..Oom Dono (pacaranya Epit)”
Lulla : “Bukan,itu Ma..,yang temen mama juga..”
Idiiiiiiih siapa sih, yang dimaksud temen epit yang juga teman gw selain Dono?Penasaran gw..
Saya : “yang mana Kak?”
Lulla : “itu yang bobo di rumah kita itu..”
Waks!nginep rumah kita?setau saya temen-temen saya belom ada yang nginep rumah,yang ada juga sepupu-sepupu saya yang abis pada nginep rumah pas malem minggu kemaren sepulang karoke bareng.Kayaknya yang dimaksud Lulla sepupu2 saya itu deh,dia kan gak ngerti apa itu arti istilah sepupu.
Saya : “ooooh ..,4 Oom yang kemaren nginep sini?,mangnya yang mana yang cakep?”
Lulla cengar cengir,dan saya jadi geli pisan liat muke-nye..
Sambil memutar mouse,saya mengarahkan ke album foto bersama sepupu-sepupu saya yang dimaksud (Yuda,Adit,Fikar dan Kemal).
Saya: “Yang mana?”
Lulla : “ini nih,..yang ini..,dia cakep..”
OMG..yang ditunjuk adalahFikar,sepupu saya yang berumur 17 tahun,emang sih ganteng,buat ukuran cowok yang bergaya khas ABG. Selama ini dia sering ketemu Fikar tapi gak seintens belakangan ini,karena 3 minggu berturut-turut kami ketemuan dan terakhir Fikar menginap di rumah kami.
Ya ampun sodara-sodara..ini kali pertama anak saya berkomentar tentang lawan jenis yang menurut dia cakep atau ganteng.
Dia gak pernah memuji teman seusianya seperti itu,event Sutan sekalipun yang emang terkenal ganteng.Jadi inilah kali pertama putri saya mengenal konsep ‘cowok ganteng”,ahhahaa..
Buat saya ini lucu-lucuan aja,mengingatkan saya bahwa anak saya sudah besar dan bisa memberi penilaian.Toh ini bukan genit atau apa,dia punya mata dan selera,maka menurut dia ini yang ganteng atau cakep ya sah-sah aja,artinya dia sudah mampu mengungkapkan penilaiannya terhadap orang lain.
Tapi bokapnya jangan ditanya lagi deh gimana kecut cemberutnya,si papa emang agak posesif kalo berurusan sama anak kesayangannya ini…
Thursday, January 15, 2009
Menuai banyak pertanyaan dari sebuah Duka Palestine
Gak bisa dibohongi,makin besar seorang anak,maka makin canggih pula logika berfikirnya.Kadang kita sebagai orang tua harus siap memberi jawaban atas semua pertanyaan mereka.
Sebagaimana diketahui bersama,belakangan ini seluruh dunia tercengang dan geram atas tindakan ‘brutal’ Israel yang menyerang wilayah Gaza, dan yang lebih memilukan yang menjadi korban adalah warga sipil dan kebanyakan adalah anak-anak. Berita mengenai pembantaian biadab itu menjadi headline news di berbagai Koran,dan anak saya punya akses langsung melihat Koran langganan kami di rumah.
Beberapa kali dia mempertanyakan tentang gambar-gambar korban kebiadaban Israel tersebut,tapi karena hanya bentuk gambar tidak bergerak,maka jawabannya juga bisa singkat. Namun suatu malam,dia masih terjaga dan secara gak sengaja dia menyaksikan cuplikan di televisi yang menggambarkn kondisi Gaza yang dengan jelas diperlihatkan gambar-gambar orang-orang yant terluka,korban-korban yang meninggal dunia, dan gambar kepedihan warga setempat.
Maka disitulah muncul begitu banyak pertanyaan dari putri saya,dan untuk pertama kalinya saya harus menjelaskan padanya apa itu perang dan kedasyatan dari sebuah BOM. Benar-benar gak mudah ternyata menjabarkan apa itu perang,kenapa ada perang dan bagaimana menyelesaikan perang dalam bahasa yang mudah ditangkap oleh anak-anak. Akhirnya saya meng-analogikan perang seperti orang berkelahi,kemudian salah seorang diantaranya memukul dan melukai yang lain.Tapi ternyata anak saya malah menambahkan pendapatnya sendiri, menurut dia si Israel harus minta maaf pada keluarga Palestina yang anak/ anggota keluarganya terluka. Dan menurut Lulla,kalo Israel gak minta maaf,nanti Allah akan marah.
Nah pendapat ini yang membuat saya tercengang,anak saya aja dah tau kalo kita sesama manusia gak boleh melukai manusia lain,kenapa orang-orang dewasa dan terpelajar itu seolah gak mengerti??? Hal tersebut membuat saya bingung menceritakannya ke Lulla,untung dia gak bertanya lebih lanjut,kalo dia bertanya saya berarti harus menjelaskan konsep amarah dan dendam, duh bingung milih bahasanya…





