Pages

Showing posts with label My Day. Show all posts
Showing posts with label My Day. Show all posts

Tuesday, April 28, 2015

Ulang Tahun di tanah suci

Ini sedikit cerita dari ulang tahun saya 24 Maret lalu. Mungkin buat saya ulang tahun tahun ini adlah ulang tahun terbaik sepanjang hidup saya, kenapa?
jawabanya karena saya melewatinya di dua tanah suci bagi orang Muslim, yaitu Madina dan Mekkah.
Pagi pada tanggal 24 itu saya membuka mata berada di Madinah, dan sempat menikmati ibadah dihari pertambahan usia saya di masjid Nabawi, dan ketika petang saya sudah berada di Mekkah dan hari itu saya menutup hari dengan menunaikan ibadah umroh di Masjidil Harom ,Mekkah.
Ini sebenernya tidak saya rencanakan sebelumnya, saya bahkan tidak tau akan merayakan hari jadi saya di dua kota tersebut.
Saya memang dihadiahkan oleh suami saya paket perjalanan umroh bersamanya, tepat di bulan Maret. Namun atas seizin Allah tanggal keberangkatan bertepatan dengan hari menjelang ulang tahun, dan hari ulang tahun tepat dengan hari ibadah umroh saya.



Bagaimana rasanya ya, sungguh gak bisa dijelaskan, saya benar2 merasa senang dan merasa berkelimpahan kasih sayang dari Allah. Saya merasa syukur atas apa yang Allah berikan kepada saya dan keluarga.

Berbicara tentang ibadah umroh maupun haji, say ameyakini itu adalah perjalanan yang bersifat spiritual. Saya mengalami banyak hal- hal yang mengejutkan dan membuat saya percaya bahwa Allah maha tau isi hati manusia.
Seperti contoh, sejak dari tanah air saya mengatakan kepada suami, "aku mau ibadah, jangan sampe deh tergoda belanja- belanja, sayang waktuku". berkali- kali saya mengulang itu pada suami saya, dan apa yang terjadi? Kita tak mungkin menampik, bahwa banyak penajaja barang dan pernak pernik berjualan dipinggiran masjid, namun setiap saya tertarik untuk melihat, maka saat itu juga saya terserang sakit pinggang luar biasa. Bahkan pernah pada saat saya berada di Mekkah, seorang tante saya di tanah air titip pesan minta dibelikan parfum di Hilton tower lantai 3, hilton tower terletak disebelah tower hotel say amenginap, logikanya tidak jauh kan? maka saya menunaikan titipan pesan itu, saya dan suami menuju tempat yang dimaksud dan sungguh tidak jauh, namun apa yang terjadi? pinggang saya sakit parah, saat itu saya benar2 dibilang hampir tidak sanggup untuk jalan, boro2 mau melirik barang2 lain atau mau mencari sajadah bagus secara khusus. .Saya hanya sempat belanja oleh2 sedikit untuk orang terdekat, itupun tempat belanja yg hanya dekat dng eskalator hotel, selebihnya saya tidak tertarik apa2. Allah menjawab perkataan saya, saya tidak mau belanja, hal yang tumben sekali datang pada diri saya :)

Kemudian soal makan, saya adalah orang yang cukup picky eater, saya enggak suka makanan timur tengah, saya tidak suka aroma herbs nya. Tapi dari tanah air saya selalu bilang sama diri saya sendiri, makanan disana enak semua, saya enggak mau jajan, saya mau makan apa yang hotel / pihak pnitia sediakan. Dan apa ang terjadi? saya disana tidak ada cerita lesu makan, saya nikamti semua makanan, apakah terpaksa? enggak sama sekali, di lidah saya semua makanan enak. Bahkan ketika sampai di Mekkah, hotel menyajikan setiap sajian adalah international food dan nasi yang tersedia pasti dimasak ala timur tengah, ditamabah lagi tak tersedia sama sekali sambel atau cabai. Lalu apakah saya mogok makan? sama sekali enggak, say atetap lahap makan. Saya pun selalau menanti waktu makan dengan suka cita. Saya sama sekali tidak jajan, ice cream pun dmata saya enggak menarik. Suami saya sampai heran dengan saya yang rajin mengeluh soal makan jadi begitu sangat makan tanpa rewel. Dan alhamdulilah say apun meminta dalam hati say amau sehat, balik ke tanah air dengan sehat. Dan karena pola makan saya yang teratur dan tidak jajan, saya sama sekali tidak terkena batuk, kulit kelupas atau merah pun tidak, semua tampak baik2 saja dan segar- segar saja, betapa Allah mengabulkan semua perkataan maupun bisikan dibatin saya, Subhanallah walhamdulillah :)

Jadi tips dari saya, berdoa lah yang baik- baik, maka Allah akan mengabulkan. Soal nafsu belanja yang hilang pun saya syukuri, karena saya sadar saya perempuan yang cenderung konsumtif karena sering membeli barang tanpa mikir perlu atau tidak, dan Allah melindungi saya dng isi dompet yg terbilang hampir utuh say abawa kembali ke tanah air, alhamdulilah lagi :)
Sungguh perjalanan yang indah dan penuh kenangan indah, jujur saja nagih untuk kembali kesana perasaan hati ini.

Saya berharap dapat diberikan rezeki berlimpah untuk kembali kesana bersama anak2, suami, orang tua dan saudara2 saya. Setiap saya berdoa itulah yang saya ikut panjatkan selain doa- doa saya yang lain.
Beribadah bersama keluarga akan menjadi penglaaman tak terlupakan seumur hidup, dan saya berharap Allah akan mengabulkannya, amin.
Saya pun berharap saya diberi rejeki untuk memberi kesempatan bagi orang lain untuk menikmati kesempatan yang sama, amin :)


Thursday, April 19, 2012

Balada working mom

Bangun pagi,solat subuh,nyiapin makanan bayi untuk all day long,nyiapin anak berangkat sekolah,mandi,mandiin bayi,dandan,masuk ke mobil,antar anak ke sekolah sambil nyuapin bayi sarapan lalu ke daycare antar bayi,trakhir meluncur ke kantor,berkarya skaligus muter otak seharian,plg kantor jemput bayi di daycare,sampe rumah meriksa pr anak,nyiapin anak2 untuk tidur sambil review pelajaran anak sambil ngelonin+nenenin bayi.setelah anak2 sukses bobok,bersihin badan,siap mnunggu suami pulang,sambil upgrade diri baca buku dan al quran..itulah rangkaian padat seharian hidup saya......sungguh hidup gak mudah ya untuk dapetin surga dunia akhirat..

Wednesday, June 22, 2011

Persiapan Melahirkan dan Persiapan ASIP

Seperti yang saya ceritakan tempo hari, saya mengalami komplikasi kehamilan, maka hampir dipastikan saya akan mengalami proses kelahiran melalui operasi Caesar. Meski hati saya masih merasa berat, tapi saya mulai pasrah sedikit- sedikit jika harus operasi. Saya sangat menginginkan melahirkan normal, karena selain pemulihannya cepat saya berharap ASI yang keluar pun otomatis dan lancar. Selama ini saya sering dapat keluhan wanita yang melahirkan Caesar kadang mengalami kendala mengeluarkan ASI.

Saya ingin segera menyusui bayi saya nanti, lalu saya sudah mempersiapkan diri untuk memproduksi ASi dan menampung ASIP sebanyak mungkin, jadi jika saya bekerja nanti, produksi ASI tetap banyak dan bayi saya gak kekurangan ASI. Peristiwa Lulla yang berenti ASI di usia 4 bln sungguh memberi saya keinginan kuat untuk menyusui bayi saya nanti minimal 1 tahun, meski saya berfikir jika mungkin saya mau 2 tahun full memberinya ASI.

Dengan semangat itu saya mulai hunting perlengkapan pemerah ASI/ breast pump. Rata- rata teman kantor menggunakan medela, merek BP yang kayaknya cukup nyaman. Ada beberapa jenis yang sudah saya pelajari dan sepertinya saya sreg banget, tentu saya sesuaikan dengan kebutuhan saya dan isi “kantong”.Saat ini saya belom membelinya meski saya sudah punya incaran, insyallah weekend nanti saya beli, nanti review nya saya akan buat kan jika saya sudah memakainya.

Dan untuk proses persalinan, saya saat ini sedang menunggu tanggal yang sudah disepakati yaitu 28 Juni 2011. Bukan karena tanggal special atau apa, tapi ini keputusan murni karena alasan medis, tgl 28 itu adalah tepat pada minggu ke 38 kandungan saya. Dokter menunggu sampai usia yang cukup yaitu di 38 weeks itu. Kalau lebih dikawatirkan ada bahaya pada placenta saya dan mengakibatkan hal fatal pada saya maupun bayi. Untuk itu ketika memasuki 38 weeks, kami segera akan mengeluarkan bayi dari kandungan.

Saat ini ada hal unik, 2 minggu ini, placenta dalam kandungan saya menunjukkan pergerakan menjauhi servics, sehingga terbersit harapan untuk melahirkan normal. Tanggal 27 mendatang, akan diperiksa ulang, jika placenta berada pada titik aman, itu berati merupakan keajaiban dari Allah agar saya bisa melahirkan normal, maka agenda Caesar tgl 28 dibatalkan,namun jika placenta tidak berubah posisi atau hanya bergerak sedikit, saya merasa pasrah saja, bisa hamil lagi saja rasanya sudah spt miracle saja, gak bisa saya gak bersyukur atas ini semua.

Jadi intinya saat ini saya sedang menunggu proses persalinan, dan saya bahagia menantikannya. Soal urusan kantor emang cukup mencemaskan, tapi bismilah saja lah kantor baik-baik saja saya tinggal cuti, toh saya dan team tetep akan menjalin komunikasi yang intens, insyallah semua berjalan lancar

Wednesday, April 20, 2011

Bedrest

Dear All...lagi- lagi lama saya tidak menulis disini, bercerita sedikit ttg my life nowadays...
Saat saya menulis ini saya memasuki usia kehamilan 28 minggu 2 hari, artinya 7 bulan 2 hari. Sudah cukup besar kehamilan saya, Alhamdulilah...

Tapi seperti yang saya pernah ceritakan sebelumnya, saya mengalami beberapa kendala,kehamilan kali ini tidak seperti sebelumnya ketika saya mengandung Lulla. Saya mengalami beberapa kali pendarahan. Pada bulan ke lima saya mengalami pendarahan untuk ketiga kalinya, dan saat itu dilakukan pemeriksaan intensif oleh dokter saya, maka ditemukanlah masalah yang cukup serius, saya mengalami komplikasi kehamilan yaitu Placenta previa.
Teman- teman bisa meng googling sendiri apa itu Placenta Previa sebenarnya, saya disini hny mau menjelaskan sekilas ttg placenta previa yang saya alami.
Placenta pada kehamilan saya kali ini berada di bawah, disebut juga placenta previa totalis.
Keadaan ini yang membuat janin saya menjadi tidak aman, dokter menghawatirkan terjadi pendarahan hebat yang berakibat fatal.
Jalan satu- satunya adalah bedrest, dan itulah yang saya lakukan 2 bulan ini, saya bedrest di rumah untuk menyelamatkan janin ini.
Alhamdulilah semua berjalan relatif baik, meski 2 minggu lalu saya kembali mengalami pendarahan karena kesalahan saya juga, di rumah saya melakukan sedikit aktifitas fisik, yaitu memvacuum kamar saya, ternyata itu hal yang berbahaya bagi janin saya, dan sejak itu saya pikir panjang untuk banyak beraktifitas.

bagaimana dengan kerjaan?
yah...saya cukup tau diri untuk tidak terus memaksakan perusahaan mempertahankan saya, sejak sebulan saya bedrest, saya mengajukan pengunduran diri dari perusahaan. Saya memberi keputusan sepenuhnya pada company, mengingat situasi saya saat ini, saya hanya bisa bekerja dari rumah dan saya berusaha mengarahkan tim saya dari rumah via telpon,ym dan bbm. Namun sebagai Head divisi HRD tentu bekerja di rumah tidak akan efektif. Namun sungguh surprise, direksi saya mempertahankan posisi saya, mereka memaklumi kondisi saya dan mengizinkan saya untuk tetap bekerja dengan situasi darurat ini.
Dan sebagai orang yang pny perasaan, saya kembali mengajukan kepada direksi untuk melakukan peninjauan ulang terhadap gaji saya selama saya berada disituasi ini, saya merasa tidak fair jika harus menerima gaji dan seluruh tunjangan saya dengan utuh padahal kontribusi saya pun tidaklah maksimal. Mendengar itu direktur saya hanya tersenyum, dia setuju meski tidak memberitahukan apakah permohonan saya akan ditindak lanjuti atau tidak.
Disini saya merasa bersyukur bahwa saya bekerja pada orang yang baik, pemimpin yang pengertian, alhamdulilah, cuma itu yang bisa saya ucapkan.

Well...ini saja sekelumit cerita saya, mungkin akan saya lanjutkan dengan suka duka menjalani bedrest, situasi yang wierd sekali bagi saya, dimana saya yang biasa aktif dan gak bisa diem ini tiba- tiba disuruh menghabiskan 3/4 hidup saya untuk leyeh- leyeh....sungguh penyiksaan batin.

Mohon doa, 2 bulan lagi, insyallah akhir June saya akan melahirkan, kemungkinan besar melalui proses Operasi Caesar,karena kondisi placenta yang menutupi jalan lahir...insyallah sebelum itu saya sempet cerita lagi disini...


Cao!

Thursday, March 25, 2010

Umur Saya ke 29..

Kemarin saya bernyanyi untuk diri saya sendiri,mengucapkan doa dan syukur atas kesempatan saya hidup.Dari tahun ketahun saya sering berfikir betapa saya beruntung dalam mengarungi idup ini..saya sejak kecil hidup di keluarga yang utuh meski bukan keluarga yang memiliki harta berlimpah,saya dididik oleh keluarga yang mengajarkan saya tentang perjuangan hidup,tentang berbagi,tentang perlunya memuliakan anak yatim,tentang kemandirian,tentang demokratisasi dan kebebeasan berpendapat , tentang kesetiaan,tentang emphaty dan tentang bakti kepada orang tua.Di kehidupan yang tidak berlebihan orang tua saya secara kongkrit tentang itu semua,yang selalu saya bangga adalah,ditengah kekurangan yang ada,orang tua saya selalu bersedia menolong orang lain,menampung dan mengurus anak yatim serta berbakti kepada orang tua. Dan kenangan itu semua terekam oleh saya sampai saat ini,bahkan ikut membentuk karakter saya seperti ini.
Lalu ketika saya mulai belajar merantau,saya hidup dengan eyang saya yang membentuk saya sebagai wanita tangguh,wanita yang harus mampu menguasai segala aspek,rumah tangga,karier,anak sampe harmonisasi rumah tangga dan pentingnya menjaga kecantikan.Sampai sekarang ajaran eyang melekat di otak saya,dan membentuk mindset saya sedemikian rupa.

Ketika saya menikah,saya mulai belajar menghargai perbedaan,saya harus mampu mengharmonisasikan perbedaan yang ada antara saya dengan suami,keluarga saya dan keluarga suami saya.Saya belajar untuk iklas terhadap banyak hal,saya belajar menerima kekurangan orang lain,saya belajar menerima keadaan dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Dan saya belajar mengenai arti sebuah kesucian, ketulusan serta perjuangan dalam mencintai dan dicintai…

Dan ketika saya menjadi seorang ibu, keadaan memaksa saya untuk menjadi manusia yang memiliki tanggungjawab lebih, tidak egosentris,dan menerapkan semua kebaikan yang diajar orang tua saya kepada saya. Dan yang pasti seiring dengan dewasanya anak saya,saya semakin ingin memberi yang terbaik,baik itu dari sisi materi maupun dari sisi pemberian contoh sikap prilaku…
Semakin umur saya bertambah saya merasa betapa Allah mengirimkan banyak hikmah tak terkira pada saya,baik pait dan bahagia yang Allah berikan pada saya,ternyata menyimpan sejuta makna dan hikmah.
Semakin hari saya menghargai segala macam hal yang ada pada diri saya,mulai dari suami,anak,orang tua dan mertua. Ditambah lagi di usia saya saat ini,saya sudah kehilangan dua orang yang saya sayangi , eyang saya dan mertua saya. Bagi saya ini adalah pelajaran berarti, saya ingin membahagiakan orang-orang yang saya cintai disaat saya dan mereka masih diperkenankan oleh Allah hidup di dunia…Saya ingin berupaya sebaik mungkin membuat mereka bangga dikala tubuh ini masih sehat untuk berprestasi,dikala pikiran ini masih sehat untuk memberikan kontribusi pemikiran tebaik. Saya ingin membuat sekeliling saya bahagia dan mensyukuri kehadiran saya di sisi mereka…
Dan doa saya kepada Allah adalah,jadikan usia saya sebagai sebuah barokah bagi orang banyak,jadikan kehadiran saya sebagai kebahagiaan bagi orang lain,jadikan diri saya manusia yang berguna bagi orang banyak,jadikan sisa umur saya bermanfaat,jadikan diri saya semakin hari semakin bijaksana,kaya akan kasih sayang,iklas,tulus dan positif thingking. Saya ingin hidup damai dan penuh syukur atas semua yang saya miliki.Dan saya ingin kehidupan saya senantiasa dalam bimbingan dan lindungan Allah…amiin amiiin…

saya dan bunga cantik kiriman Tori,trims Hon!

Dan sedikit cerita hari ini,saya dapet kejutan manis dari suami saya,karena saya dua hari lalu sempat ngambek dan mungkin karena sedang sakit ,saya mulai merajuk…saya sempat menyangsikan kasih sayang dia kepada saya,padahal…dia cukup sayang pada saya,cukup menghargai saya dan sangat menganggap saya sebagai sesuatu yang berarti .Tapi emang dasar saya perempuan yg suka merajuk,saya sempat-sempatnya menganggap dia gak begitu.Tau-tau pagi ini ada sebuket bunga mawar putih cantik di meja kerja saya dari suami saya, dengan kata kata sederhana yang tulus…”happy birthday,semoga mama semakin cantik,bijaksana dan sayang keluarga, I love you honey…”simple,khas suami saya yang gak bisa mengungkapkan perasaan lewat kata2..eheheh. But actually hari ini saya bahagia,meski apa sih sebenernya hari ulang tahun itu selain hari yang harusnya kita manfaatkan untuk mengintrospeksi diri??tapi saya seneng karena saya bertrimakasih atas semua yang ada di hidup saya,pait dan manis itu semua berarti bagi saya..trimakasih Allah…

Tuesday, February 23, 2010

Selamat jalan mama...

Hampir empat puluh hari lalu kami kehilangan mama,mama yang merupakan mertua saya, ibunda tecintanya suami saya. Duka terdalam kami atas kejadian itu, meski mama sudah sakit cukup lama tapi kepergian mama tetap mengukir duka mendalam. Maka selama itu saya gak kuasa untuk menulis tentang hal ini,tentang rasa kehilangan saya.

Mama memang mertua bagi saya,bukan ibu kandung saya,namun sejak saya menikah dengan putra bungsunya, which is my husband,bagi saya mencoba untuk terus mencintai papa dan mama mertua adalah hal yang menjadi keharusan bagi saya. Kenapa saya menyebutnya dengan istilah terus mencoba untuk mencintai?karena saya harus jujur mencintai mertua butuh proses dan latihan agar hati kita mampu menumbuhkan rasa cinta itu. Mertua tetep lah mertua kita, untuk mencintai mereka tentunya bukan hal yang otomatis terbentuk sejak kita menikah dengan anaknya,ini manusiawi..tentu mencintai mertua tidak akan sama besarnya dengan mencintai orang tua sendiri. Tapi apakah kita harus terus mentok disitu?kan enggak..berupaya menumbuhkan benih benih kasih sayang itu perlu, guna menyetarakan kasih sayang yang kita berikan ke orang tua kita. Jangan sampai jomplang atau gak adil,jangan sampai kita jauh lebih sayang orang tua kita sendiri dan tidak memperdulikan mertua, itu salah buat saya….Sejak akad nikah saya dan suami saya,bagi saya mertua adalah orang tua saya, tanggungjawab saya dan ladang amal saya untuk berbakti. Maka saya berupaya semaksimal mungkin menyemai rasa cinta kepada mereka agar bakti saya pada mereka menjadi tulus adanya setulus rasa cinta dan sayang kepada orang tua saya sendiri.

Mudahkan itu semua?apakah itu semua hanya wacana?

Jawabnya memang harus saya akui, sulit…butuh keiklasan dan posistif thingking. Pada hakekatnya manusia kan gak ada yang sama,begitu juga antara saya dan mertua,saya jelas dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan cara mertua saya membesarkan anak-anaknya,pola pikir kami gak bisa disamakan. Disinilah letak menghargai perbedaan. Emang gak mudah…kadang kita merasa pilihan hidup kita adalah yang paling benar,begitu juga mertua kita..sebagai orang tua mereka tentu merasa way of life mereka yang paling bener untuk dicontoh…but…haruskah kita bersiteru hanya karena perbedaan pandangan hidup?

Menghadapi hal kayak gitu hanya dengan satu cara, lempeng plus positif thingking. Buat saya tujuan saya satu, saya mau bahagiakan mertua saya seperti saya membahagiankan orang tua saya, saya ingin menyayangi mereka dengan tulus,sehingga apapun yang saya berikan tidak diakhiri dengan dumelan atau itung itungan…Saya ingin surga Allah dan saya ingin memberi pelajaran dan contoh baik bagi putri saya…
Begitu banyak aral melintang mewujudkan itu semua, tentunya banyak kerikil kerikil kecil yang mempertajam perbedaan, dan bahkan karena perbedaan perbedaan itu banyak pihak luar yang berupaya memecah belah hubungan saya dan mertua saya. Tapi Allah maha adil, Allah tau saya dan mertua saya memiliki tujuan yang sama,kami ingin mencoba saling menyayangi,kami ingin langgeng, ingin hidup saling rukun dan mensyukuri ikatan pernikahan yang menakdirkan kami bertemu dalam ikatan mantu dan mertua…dan akhirnya secara alamiah,kami seperti saling mampu menerima kekurangan demi kekurangan yang ada.
Mertua saya pada akhirnya menerima saya si menantu yang super sibuk,yang independence gak bisa dicampuri urusannya,yang kalo bersikap sangat saklek, yang gak suka banyak basa basi,yang kelewat efisien sama waktu dan segala rupa kekurangan saya lainnya. Papa dan mama mertua saya menyayangi saya lengkap dengan segala kekurangan saya. Begitu pula saya dengan mereka,dengan segala perbedaan gaya hidup saya, saya pada akhirnya begitu posesif terhadap mereka,saya terobsesi memanjakan mereka, dan saya harus jujur secara alami memasukkan mereka sebagai unsur penting dalam hidup saya sejajar dengan orang tua saya.

Buat saya melihat mereka bahagia adalah tujuan hidup saya,kerja keras yang saya dan suami lakukan tidak terlepas untuk menjamin kesejahteraan hidup mereka,buat saya keberadaan mereka adalah sebuah motor bagi saya untuk berhasil di karier. Dengan kondisi dimana suami saya adalah tulang punggung bagi keluarganya,saya justru mensyukuri hal itu,buat saya hal itu memberikan saya ‘pintu’ untuk surga Allah, sebuah jalan bagi kami untuk berbagi kasih dan berbagi rezeki. Dan sungguh kalo boleh saya share, betapa Allah tidak tanggung tanggung memberikan kita berkah ketika kita sebagai anak memiliki niat tulus untuk membahagiakan orang tua. Ini kejadian riil yang saya alami,semakin kami memberi yang terbaik bagi orang tua maupun mertua, Allah semakin memberikan berkahnya dengan membalas apa yang kita telah berikan dengan berlipat ganda.

Sejak mama mertua saya sakit keras dan harus dirawat di RS (Saint Carolus Jakarta Pusat),saya dan suami selalu optimis pasti kami mampu membayar berapapun biaya yang akan keluar meskipun pada kenyataanyanya tabungan liquid kami terbatas,saat itu saya tidak peduli jika biaya itu selangit dan harus mengorbankan harta pribadi milik saya yang saya cari dengan keringat sendiri semenjak saya masih gadis,karena saat itu bagi saya yang paling penting adalah kesembuhan mama mertua saya.Ibaratnya berapapun biayanya saya akan kejar,mo ngutang mo gadai barang juga saya gak mikir panjang. Tapi entah gimana, Allah senantiasa memberikan rezeki yang gak disangka-sangka saat itu. Dan bagi saya mungkin itulah jawaban atas doa-doa anak yang dengan tulus mencintai orang tuanya. Begitupula saat mama terakhir kali dirawat di RS dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir, saya dan suami seperti dimudahkan oleh Allah untuk memperoleh rezeki guna memperlancar semua urusan dari mulai biaya RS sampai penguburan.

Kalo ingat ini saya suka merinding sendiri,kadang gak habis pikir bagaimana mungkin kami mampu menanggung biaya pengobatan itu sejak awal mama mertua saya sakit sampai dengan prosesi penguburan yang jika ditotal total sungguh memakan biaya gak sedikit. Disitulah saya percaya kuasa Allah. Allah gak akan pernah menutup pintu rezekinya bagi kita yang niat tulus berbakti pada orang tua. Jadi ini adalah pelajaran bagi anda semua yang kebetulan baca blog saya,jika anda memiliki kemampuan dana maupun kemampuan berupaya,jangan pernah anda itung-itungan atau kikir untuk kepentingan orang lain terutama untuk orang tua/ mertua,karena anda tidak akan pernah kekurangan karenanya.Justru Allah akan melipatgandakan rezeki anda.

Dan jika saya ingat bahwa saat mama sakit saya gak punya pembantu,namun saya tetap konsisten berbagi tugas untuk tetap mengurus mama di RS sampai anak saya Lulla pernah ikut nginap di RS untuk nungguin eyangnya,sementara saya pun harus tetap sibuk dengan pekerjaan saya di kantor. Namun aneh sekali,saya dan keluarga kecil saya ini tetap diberi kesehatan oleh Allah sehingga kami mampu secara maksimal berbagi tugas untuk mengurus mama disaat-saat terakhirnya.Kembali lagi saya katakan,inilah rejeki dari Allah,sepanjang kita iklas dan tulus,Allah akan beri kita kekuatan baik materi maupun kesehatan.

Melihat perkembangan kesehatan mama,saya tadinya optimis luar biasa bahwa mama akan bisa pulang meski mama hanya tergolek lemah di tempat tidur (krn strouke sdh menyerang dimana-mana), saya bahkan sampai merancang scenario kepulangan mama ke rumah depok,saya insyallah siap jika harus diamanatkan untuk mengurus mama dikondisi seperti itu . Namun Allah punya kehendak lain, tanggal 26 januari 2010 lalu,bagai geledek di siang bolong,saya dapat kabar kondisi kesehatan mama menurun drastic,dokter hands up. Kami akhirnya semua kumpul,mama masih sadar seratus persen.kami semua bermaaf maafan, sungguh ini kejadian paling memilukan sepanajng hidup saya. Ingin saya menciumi mama dan memintanya tetap tinggal,tapi mama secara tidak langsung mengungkapkan inilah end of her life,mama harus berpulang pada Sang pencipta. Ketika saya mencium keningnya membisikkan kata maaf padanya,ia masih mengucapkan dengan lancar “maafin mama ya,mama selalu merepotkan kamu..”. Kenangan itu begitu memilukan bagi saya…,inilah kali pertama saya untuk mengucapkan kata pisah dengan orang yang saya sayangi untuk menghadap sang Pencipta..

Masih berkelebat di benak saya bagaimana saat saat akhir itu,dimana kami semua mencoba membimbing mama melalui sakratul mautnya yang ia lalui dengan penuh kesadaran dan senantiasa melafazkan istigfar dan nama Allah…Dan pada akhirnya pukul 22.45 pada tanggal yang sama (26 januari 2010) mama menghembuskan nafas terakhirnya dalam suasana yang begitu damai dengan ucapan terakhir berupa bisikan lirih “la ilaahailllah..”.

Ya Allah…, menceritakan ini saja saya masih berlinangan air mata, saya sedih dan bahagia,sedih karena harus berpisah dengan mama mertua saya yang saya sayangi dan saya bahagia akan kepergian mama yang begitu damai,yang insyallah sangat Khusnul Khatimah.Saya pun tak lupa bersyukur telah diberi kesempatan dan waktu untuk memberikan yang tebaik dan menunjukkan rasa kasih yang mendalam kepada almarhumah semasa hidup baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Masih terlintas di benak saya ketika saat akhir saya mengucapakan “mama ..mama..i love you mam…”,jika kata itu yang selalu terucap dihati dan perbuatan saya,saya pun bahagia telah menyampaikan rasa kecintaan saya padanya secara lisan dan diikuti dengan anggukan sebagai balasan rasa cinta saya…

Sulit bagi saya untuk menggambarkan betapa ada empty space di hati saya saat saya sadar mama mertua saya sudah gak ada, ada rasa rindu yang mendalam,ada rasa ingin bertemu dan kembali menghabiskan masa bahagia saat bersama dulu..dan sejuta perasaan kehilangan yang alami…, mengenangnya kembali kadang memancing air mata,bahkan beberapa hari lalu sepulang saya dari perjalanan dinas ke Kalimantan,saya terisak sedih merindukannya,mengingat ketika saya shopping belanja aksesori bebatuan,saya otomatis membeli aksesori bebatuan warna hijau,warna favorit mama dan saat itu ingatan saya adalah membelikan untuknya,saya masih sering lupa kalau beliau udah gak ada…

Ini yang disebut dengan sayang, alam bawah sadar saya menyatakan saya menyayanginya sampai ke dasar hati saya.Saya masih secara reflek memikirkannya layaknya orang yang benar-benar penting bagi hidup saya…namun sebesar apapun saya menyayangi beliau, saya harus menerima kenyataan,ia saat ini jauh lebih bahagia dalam peristirahatan yang damai, Selamat jalan mama…


(mengenang mama Rabiah Abdullah alm, 13 July 1938 – 26 januari 2010)

Tuesday, September 1, 2009

Selamat jalan Eyang

Ini puasa pertama tanpa eyang tercinta, memang saat-saat ini terasa begitu tak nyata rasanya..Yang bisa saya ingat eyang masih ada di rumah Pekayon, demikian yang secara reflek ada di pikiran saya,tapi ketika mencoba mengingat kembali fakta yang mencuat ke benak saya adalah eyang sudah tidak ada, beliau telah berpulang kepada Allah.

Kejadiannya adalah Sabtu 2 pekan lalu, 15 Agustus 2009 pukul 06.20 pagi di RS Kardiovaskular Puri Cinere. Sebenarnya sudah beberapa minggu lalu,tapi saya masih tidak sanggup membuka folder foto2 saat pemakaman,hati masih terasa sedih. Saya memberanikan diri memposting karena sudah beberapa teman mengingatkan,maka saya pun akhirnya memberanikan diri.




Memang seperti yang saya critakan sebelumnya eyang sempat kritis, kami telah pasrah dan iklas. Saya mencintainya tapi Allah jauh lebih mencintainya,ketika Eyang berpulang pun kami pasrah. Ketika mendengar kabar, saya ada di rumah, yang bertugas menunggu eyang adalah Mama saya dan Tante Betty, ditemani beberapa sepupu saya Rizki, Adit dan Yudha. Eyang pergi begitu tenang, bahkan bisa dibilang hampir tidak ketahuan. Tau-tau para perawat dan dokter jaga sudah masuk ke ruangan karena menangkap signal denyut nadi melemah dari ruang kontrol, dan itu berlangsung kurang dari 10 menit. Mengingat sebelumnya eyang masih di sonde (memasukkan cairan makanan dari hidung) dan mandi pagi dalam keadaan denyut nadi,jantung dan tekanan darah yang normal, meski kesadaran sudah masuk tingkat koma. Menurut mama dan tante betty, eyang pergi layaknya orang tidur saja, tidak ada gerakan ekstrem sebagai tanda maupun hembusan nafas panjang. Insyallah ia pergi begitu tenang…

Pagi itu saat dikabarkan,saya segera bersiap, hampir dikatakan saya tidak menangis,saya berusaha untuk itu. Tapi apa daya di kamar mandi saat saya sendiri tiba-tiba saya seperti flashback mengingat hari-hari yang lalu yang pernah saya lalui bersama eyang,dan disitulah air mata saya tak tebendung,kenangan-kenangan itu terasa begitu indah dan mengharukan.





Banyak kenangan begitu indah kami lewati bersama,begitu banyak mimpi2 indah bersama kami wujudkan. Eyang selalu ingin dan berdoa memiliki cicit sebelum wafat,dan Alhamdulillah untuk pertamakalinya saya mempersembahkan cicit baginya dari rahim saya,Calulla lalu disusul oleh saudara2 saya lainnya yang ikut memberinya cicit.Begitu banyak rasa sayang dan bangga yang ia curahkan pada saya dan putri saya,kadang saya merasa saya ke-g e er-an kalo dia selalu memuji putri saya,seolah putri saya adalah kebanggannya.Kadang masih terngiang di telinga saya bagaimana perasaan saya ketika mengangkat telepon yang langsung terdengar sapaanya “Hellow sayaaaang..”. Saya teringat tahu isi bikinannya,saya teringat huzaren sla kebanggaannya,saya teringat bincang2 kami sambil minum the membahas gossip selebrity, saya pun kerap teringat sama diskusi seru tentang Negara dan demokrasi antara Tori dan eyang,secara eyang adalah salah satu pejuan di jaman jepang.Semua itu sungguh indah dan ‘ngangenin.




Eyang di semayamkan di rumah Cinere, sampai sana saya langsung sibuk-sibuk mengurus segala keperluan, hingga rasa kehilangan tergantikan dengan kesibukan mempersiapkan pemakaman. Saya sempat ikut memandikan eyang,saat itu kami semua anak dan cucu perempuan partisipasi memandikannya. Tapi lagi2 saya cengeng,well…saya nangis,meski terkendali. Terasa banget kalau saya telah kehilangannya.Saya sangat bersyukur memiliki suami seperti Tori,pada saat itu dia begitu tanggungjawab mengurus semua keperluan makam di TPU Kampung Kandang mewakili keluarga,dan semua alhamdulilah berjalan lancar dan mulus.Terimakasih Tori.Hari itu juga eyang dimakamkan, lebih baik disegerakan begitu sunahnya.



Itulah end of life Eyang, sedih jelas kami rasakan,tapi saya pribadi merasa lega karena sampai akhir hidupnya saya sempat memberikan kebahagiaan padanya sebagai balasan semua kbaikan dan kebahagiaan serta kasih sayang yang ia berikan. Di hari-hari akhirnya,saya sempat mengurusnya,menemaninya,menghibur sakitnya dan menunjukkan rasa kasih kepadanya. Allah berkehendak lain,Allah menyayanginya dan memintanya kembali ke pangkuannya. Saya melepasnya dengan iklas, mencoba tegar dan melepasnya dengan senyum, dan membisikkan dalam hati how I love her.

Sehari sebelum meninggalnya beliau,saya bertemunya untuk terakhir kali di RS, saya menciumnya dan mengatakan “Eyang,I love you”,saya tau dia masih memiliki kesadaran meski hanya 40%,saya tau ia mendengar saya,ketika saya meletakkan kepala saya di sebelah kepalanya ia menekukkan tangan dan memegang kepala saya, ternyata itu salam perpisahan,keesokannya eyang sudah pergi.mengingat moment itu saya ingin menangis, betapa kami berpisah dengan saling mengungkapkan rasa sayang satu sama lain.

Yang pasti saat ini saya masih suka dejavu kalo eyang masih ada, saya belom terbiasa untuk menyatakan eyang sudah enggak ada. Mungkin lebaran nanti saya baru terasa,kalo eyang sudah gak bersama kami.

Selamat jalan eyang…We love you!

(Dedicated to Our beloved Eyang, Ny.Hj.Siwi Syamsini Soesilo Djoyosoediro 13 Mei 1925 – 15 Agustus 2009)