Pages

Showing posts with label Kepribadian. Show all posts
Showing posts with label Kepribadian. Show all posts

Friday, July 1, 2016

Adversity Quotient Crisis



Yang sudah pada jadi parents kemungkinan pernah membaca tulisan Ibu Elly Risman pakar parenting anak tentang Adversity Quotient. Apakah itu? Berikut petikan saya dari tulisan beliau : 

Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya yg berjudul sama, adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.
Bukannya kecerdasan ini yg jd lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?
Perasaan mampu melewati ujian juga luar biasa nikmatnya. Merasa bisa menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tdk lagi bisa.Setelah di coba melewati kesusahan.Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit nangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan. Akui kesulitan yang sedang dia hadapi,Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan, ajari menangani frustrasi. Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel, apa yang terjadi jika anda tdk bernafas lagi esok hari?Bisa-bisa anak anda ikut mati.
Sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih
Apalagi dg menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi, jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua. Tapi sadarilah hidup penuh dengan ketidakenakan dan masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan. Melewati hujan, badai, dan kesulitan, yang kadang tidak selalu bisa kita hindarkan. Permata hanyalah arang… yang bisa melewati tekanan dengan sangat baik”

Tulisan beliau tentang hal ini sempat diringkas dalam sebuah format JPEG dan menyebar di berbagai media social. Saya bersyukur ada orang sebaik beliau sehingga berkenan membagi ilmunya untuk mengingatkan kita semua sebagai orang tua.
Anak- anak saya memang masih kecil- kecil, kakak 11tahun dan adik baru mau 5 tahun.Tapi bukan berarti saya tidak menjalani peran ibu bagi anak remaja maupun para anak muda, kenapa? Profesi saya sebagai HR dan coach yang mengharuskan saya bertemu dengan berbagai anak remaja dan anak muda beserta problematika mereka.
Bagi saya di tiap pekerjaan saya selaku ibu di rumah maupun “ibu” professional di kantor ini adalah media saya belajar.



Tulisan saya ini adalah sedikit cerita apa yang saya temui di dunia kerja saya.
Sebulan ini saya menemukan 6 kasus anak muda dengan problematikan yang berat, kisaran usianya adalah 20 – 24 tahun. Bukan anak- anak lagi, mereka sudah masuk kategori dewasa.
Dari 6 kasus ceritanya beda- beda, tapi dalam tulisan ini saya ingin membagi bahwa salah satu dari 6 anak muda  itu terdapat seorang pemuda berusia 22 tahun yang ingin saya bagi kisahnya disini.

Jika melihat dari apa yang ibu Elly tuliskan diatas, saya menyimpulkan pemuda ini mengalami Adversity Quotient Crisis, alias tidak tidak memiliki Adversity Quotient yang memadai selaku orang dewasa.
Mengapa saya menyimpulkan demikian?
Awal cerita, saya mendapat laporan dari seorang manager yang mengeluhkan bawahannya memiliki masalah dengan hasil kerjanya, hal ini diakibatkan karena rasa tanggungjawab bwahannya pada pekerjaannya tidak tampak, bawahan tersebut dinilai rapuh, sering tidak masuk kerja untuk alasan sakit- sakit ringan, bahkan kadang sulit diminta untuk mengerjakan lembur. Sebuah perusahaan konsultan seperti kami, lembur bukan sebuah hal baru yang aneh, meskipun kami tidak lembur setiap hari, tetapi di masa sibuk lembur adalah hal biasa, semacam sebuah resiko profesi. Pada  pegawai- pegawai muda lain adanya situasi lembur dijalankan dengan cukup smangat, karena mereka tau ini adalah tantangan untuk menaklukkan deadline. Saya pun ketika seusia mereka akan merasakan hal yang sama.
Namun pada pemuda ini, saya menemukan berbeda. Maka saya memutuskan untuk memanggilnya ke ruangan saya untuk menemukan masalah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.

Dalam sesi obrolan bersama saya, anak ini mensiratkan bahwa ia tidak nyaman dengan kewajiban untuk mengerjakan deadline sampai harus  lembur karena ibunya cukup ketat mengatur perihal kepulangan anak ke rumah, karena sejak kuliah ia harus melaporkan jadwal kegiatannya dan jam pulangnya.  Ia menceritakan setiap hari hp nya harus bisa diakses oleh ibunya untuk dilakukan pengecekan, sehingga darihal itulah ibunya menaruh ketidaksukaan pada sang manager karena merasa anaknya diberikan tugas berat. Saya bertanya kenapa masih dilakukan pengecekan? Padahal kamu adalah laki2 dewasa dengan umur 22 tahun? Alasan ibunya adalah ibunya kawatir akan pengaruh yang ditimbulkan oleh media social pada anaknya, OMG! Pemuda 22 thun bukannya sudah mampu memilih mana yang baik dan tidak? Pada banyak kasus pemuda 22 tahun malah sudah memberanikan diri melamar gadis.
Ibu anak ini sangat tidak mengizinkan anaknya untuk mengikuti aturan main dalam team untuk bekerja keras mencapai target, padahal dalam masa sibuk bukan anak ibu ini saja yang  morat marit mengejar dealine.

Anak ini pun ketika saya gali lebih lanjut menyampaikan bahwa sepanjang hidupnya ia tidak pernah membuat keputusan sendiri, semua hal diputuskan oleh keluarganya bahkan paman dan bibinya ikut ambil bagian untuk memutuskan. Masuk kuliah, jurusan yang dituju dipilihkan;  mau ujian tugas akhir,  dosen pembimbing dipilihkan yang dikenal keluarga;  mau magang pun diambil alih untuk dibantu pamannya yang memiliki koneksi ke perusahaan kami;  termasuk ketika si anak mengalami situasi harus lembur si ibu dan paman bibinya sibuk mencarikan tempat kerja baru agar si anak tidak menemui situasi kerja yang memiliki konsekuensi lembur pada kondisi deadline. Ia bercerita, dalam sebuah kondisi ketika ia sedang membawa pulang pekerjaanya untuk dikerjakan, pamannya ikut membantu ia mengerjakan, padahal yang saya tau pekerjaanya anak ini masih seputar entry level, pekerjaan administratif yang hanya membutuhkan ketekunan, namun keluarganya tidak mengizinkan anak ini mengasah ketekunan dan ketelitiannya dengan cara mengambil alih pekerjaan dengan dalih agar cepat selesai.

Saya mendengarkan anak ini bertutur dalam perasaan yang entah gak karuan, ia bukan anak saya, bukan pula keluarga saya, namun saya seperti prihatin memikirkan kekuatan anak ini menerjang badai hidup di kemudian hari jika ibu, ayah, paman dan bibinya tidak lagi mampu membantunya, akan jadi apa pemuda seperti ini?
Jangankan untuk memikul tanggungjawab membenahi bangsa, jangan- jangan pemuda2 seperti ini malah akan jadi PR bagi bangsa ini karena tidak memiliki Adversity Quotient yang memadai? Bagi saya saja selaku pemberi kerja saya enggan memberi pekerjaan dengan orang seperti ini, karena ia cenderung tidak mampu melangkah bersama perusahaan, ia tidak mampu mengikuti ritme kerja kebanyakan orang, ia tak mampu memiliki kekuatan yang dimiliki umumnya anak seusianya dalam mengemban tanggungjawab. Jika saya memaksakan, anak semacam ini hanya akan menjadi penghambat bagi team kerja. Kapasitas keilmuan anak ini pun sulti dikembangkan, karena setiap mau menginjak fase baru dalam penambahan kapasitas, ia selalu gagal dalam memantain semangat belajar, ia tak mampu berkorban untuk itu. Pada kasus anak ini, sayamengecek pada potensi IQ nya, saya prihatin bahwa Allah menitipkan kapasitas berfikir yang cukup dan memadai,namun dalam pandangan kami, ia tak lebih dari orang yang kurang memiliki potensi yang gemilang, kemampuan kerjanya minim, tangungjawabnya rendah, dan mental kerjanya tidak bisa diperhitungkan. Kasihan skali anak ini?

Ini masalah serius, saya sadar manusia tidak luput dari masalah, itulah yang menguatkan manusia dari hari ke hari. Kita makin dewasa, makin matang dan bijaksana karena kita mampu melewati masalah demi masalah dengan baik. Contoh sederhana adalah latihan beban fitness, untuk membentuk otot yang kuat kita ditempa dengan latihan- latihan berat sehingga kita bercucuran keringat dan mengalami lelah fisik, namun itu ternyata itu satu- satunya caraa yang baik untuk kita membentuk fisik yang perfect, memangkas lemak2 tak perlu, menimbulkan banyak manfaat untuk kesehatan jantung otot dan seluruh tubuh.

Jika untuk membuat tubuh sehat pun kita harus tertempa dengan kesulitan, lantas apakah untuk membentuk mental yang kuat kita lakukan dengan santai?
Ini pola pikir yang harus diubah. Anak- anak perlu menghadapi masalahnya sendiri, jika kita tak mampu membairkannya menyelesaiakn sendiri, cukup hadir sebagai coach yang mendampinginya saat masa sulitnya, meski dia tetap harus sendiri menghadapinya. Kelak toh ia akan sendiri, saat kita tak ada mereka akan tetap hidup diatas kaki, kemampuan, pemikian, dan kekuatan mereka sendiri.

Mulai hari ini, selain IQ, EQ, SQ, jangan lupa kita bangun AQ untuk anak- anak yang tangguh calon pemimpin umat dan pemimpin bangsa.

Tuesday, February 25, 2014

Pentingnya Membangun Integrity dan Character Pada Anak


Beberapa hari lalu saya diundang oleh sebuah universitas swasta terkemuka di Jakarta untuk memberikan advice ttg kurikulum perkuliahan mereka. Ada kecemasan dari pihak universitas berkaitan dng kualitas lulusan mereka, mereka ingin mengetahui kualitas semacam apa yang diperlukan oleh freshgraduate untuk dapat bersaing di bursa kerja. Saat itu saya duduk bersama dengan beberapa perwakilan dari beberapa kementrian dan beberapa institusi perbankan besar di Indonesia sebagai narasumber.

Sekelumit cerita, selama 10 tahun lebih saya menjadi HRD saya memang merasakan begitu banyak perubahan pada candidate pekerja yg saya test dan interview. Perubahan yang saya tangkap adalah, kualitas freshgraduate saat ini lebih melek teknologi, semua yang berkaitan dng skill computer sampai dengan pem-program-an computer hampir semua dikuasai. Tapi negaatifnya, saya menemukan hampir semua freshgraduate yg kami test memiliki masalah berupa stabilitas emosi dan daya tahan terhadap stress. Setelah 2 masalah ini saya juga menemukan permasalahan persuasive communication,writing skill, inisiatif dan proactive.

Di lapangan kami sebagai HRD sangat mendapat tantangan berat untuk menyuntikkan budaya2 baru kepada anak2muda dengan masalah ini. Kami dihadapkan pada kenyataan bahwa para pekerja baru ini secara mental belum bisa siap dilepas, harus bayak diberikan tantangan dan guidance. Kami punya PR terbesar yaitu harus selalu mencreate program2 yang mampu menstimulus kekurangan anak2 ini.

Kalau jaman dahulu HRD bisa sekedar mengawasi, tapi saat ini HRD harus kreatif membangun sistem2 yang menstimulus, jadi fungsi pengawasan bukan sekedar pengawasan saja. Menjalankan peran develop itu bahkan menjadi tugas utama.

Saat acara di universitas yang saya katakan tadi, kami para narasumber bersepakat bahwa universitas memang perlu memiliki sistem2 yang menstimulus hal itu. Kemampuan teknis adalah hal yang diperlukan, tapi teknis semata tidak cukup untuk membentuk mental pekerja yang professional dan kompeten.

Saya pribadi merumuskan, aspek yang diperlukan bagi seorang calon pekerja dan pekerja adalah :

  1. Integrity
  2. Character
  3. Technical Skill & Language

Saya meletakkan integrity diatas karena saya menilai, seseorang harus tau aturan main secara otomatis. Setiap orang harus tau apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan kesadaran yang kuat akan hal itu maka seseorang akan sangat mudah diberikan tanggungjawab. Tanpa diperintah tanpa diawasi terus menerus orang ini akan menjalani tanggungjawabnya dengan baik dan jujur. Coba lihat kenyataan sekarang para politisi muda yang terlibat korupsi adl orang2 yang berpendidikan tapi sayangnya minim integritas,maka apa yang terjadi, kekuasaan yang dimiliki tidak untuk memperbaiki Negara tapi dipakai untuk kepentingan pribadi dan memperkaya, inilah yang saya artikan bahwa integritas harus diletakakan paling atas.

Saya meletakkan character diurutan kedua, karena saya yakin faktor kepribadian dapat menggerakkan seseorang untuk meraih cita2. Contoh, seseorang yang tidak punya kesempatan menimba ilmu di sekolah terbaik bukan berarti ia tidak akan berhasil, semua berpulang pada kemauan ia untuk bekerja keras, mental yang gigih dan optimis. Serta karakter kepribadian positif lainnya. Saya pernah menemukan di lapangan, ada orang lulusan USA, dng IQ yang tinggi dan kemampuan bahasa yang handal. Namun ia memiliki banyak catatan permaslaahan pada faktor kepribadiannya. Seperti kerjasama, stabilitas emosi, persuasive communication dll. Akhirnya orang ini tidak mampu bekerja dengan baik dalam team kerjanya, ia pun tidak mampu mengendalikan diri saat emosi memuncak. Akhirnya kerjasama yang kami harapakan dng orang ini tidak berjalan baik. Maka dengan sangat menyesal hubungan kerja pun tidak dapat diteruskan.

Dan terakhir adalah faktor technical skill. Untuk beberapa jenis pekerjaan memang kemampuan teknis perlu dimiliki. Kemampuan teknis yang dimaksud adalah kemampuan mengerjakan pekerjaan utamanya. Jikalau konsultan pajak, maka knowledge pajaknya harus mumpuni. Ini memudahkan ia menyelesaikan pekerjannya, memudahkan dirinya meraih prestasi di bidang teknis pekerjaanya.

Tapi jika faktor ketiga dimiliki namun faktor pertama dan kedua tidak dimiliki, saya yakin sepintar dan sehebat apapun teknis yang dikuasai, orang ini tidak akan mampu bekerjasama dengan orang lain, atau mungkin yang lebih parah mungkin tidak akan mmapu diberikan kepercayaan untuk memegang suatu tanggungjawab besar.

Saya pernah menemukan di lapangan, ada seorang lulusan terbaik dari sebuah fakultas bergengsi di Universitas Indonesia, ketika terjun di dunia karier, kariernya mandek, bener2 mandek tidak menunjukkan gerakan positif. Ia mengeluh bahwa lingkungannya didominasi oleh orang2 lulusan luar negeri. Saya prihatin melihat ini. Dari cara ia bertutur pun saya menilai orang ini tidak memiliki karakter siap bersaing, meskipun secara teknis ia setara, saya yakin itu, tidak mungkin salah satu lulusan terbaik dari UI kapasitasnya buruk. Dan ketika saya amati orang ini integritasnya ternyata memang agak menghawatirkan, ia bertutur pada saya sangat ringan bahwa alasan ia bertahan ditempat kerja saat ini karena  bisa leluasa untuk meninggalkan kantor dengan mudah sehingga ia bisa sambil bekerja menjalankan bisnis sampingan dijam kantornya. Saya tidak perlu menjelaskan, saya yakin atasan orang ini pun terganggu dengan habbit orang ini, saya yakin disaat seseorang mencuri2 waktu kerja untuk kepentingan pribadi, pasti achievement kerjanya pun akan menurun. Dan apakah salah bahwa jika orang ini kariernya mandek? Yang salah bukan karena ia lulusan dalam negri dan sekitarnya lulusan luar negeri, tapi apa boleh buat secara mental mungkin orang sekelilingnya jauh lebih bisa diandalkan daripada dirinya. Saya sudah mencoba memberikan masukan ini pada orang itu, tapi saya tidak tau lagi sekarang seperti apa. Tapi disini saya share karena bagi saya ini bukti nyata, bahwa case by case seperti ini terjadi di dunia nyata.

Inilah PR kita semua, tugas bagi semua orang tua dan pendidik di Indonesia. Kita membutuhkan generasi muda yang kuat dan mampu bersaing di era globalisasi. Beberapa tahun lagi disaat pasar bebas mulai masuk di Indonesia, kita harus siap menerima gempuran tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, maka apa kabar dengan anak2 kita jika mereka tidak dibekali system pendidikan yang mengedepankan faktor2 diatas?

Saat saya menulis ini saya ingin mengingatkan pada semua pembaca blog saya, bahwa pendidikan tidak mutlak diserahkan kepada pihak sekolah atau universitas, pendidikan paling mendasar bagi anak2 kita dimulai dari rumah. Jangan lelah untuk mencari strategi untuk membangun karakter yang kuat bagi anak2 kita di rumah, jangan menyeplekan komunikasi dng anak2, jangan sekali2 membiarkan anak2 tumbuh begitu saja tanpa perhatian dan kasih sayang. Jangan menyamakan zaman kita dahulu dengan zaman anak2 kita kelak. Bukalah mata, kita memang tidak bisa santai dalam mendidik anak2 kita, karena ini tugas berat.

Wednesday, November 20, 2013

Menuju Life Satisfaction



M
anusia tidak akan pernah cukup, istilah yang sering sekali kita dengar. Meski itu benar adanya, saya berpendapat tiap manusia perlu untuk memiliki rasa kepuasan dalam hidupnya, setidaknya berdamai dengan diri atas takdir dan kehidupan yang Allah berikan kepadanya. Meski kita tidak boleh menyerah dan segera puas atas apa yang kita peroleh, namun sebagai manusia yang bijak, anda punya hak untuk memilah mana yang anda anggap cukup dan mana hal yang anda anggap harus terus diperbaiki dan upayakan untuk jadi yang terbaik diantara manusia lainnya.
Kemampuan memilah ini saya kaitkan dengan life satisfaction seseorang. Kalau menurut literatur, life satisfaction adalah komponen kognitif dalam subjective well being, subjective well being mengacu pada perasaan subjektif individu bahwa kehidupannya berjalan dengan baik. Subjective well being ini diidentifikasi sebagai positif affect dan negative affect. Komponen afektif ini mengacu pada evaluasi langsung terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya, meliputi perasaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami individu dalam hidupnya. Kepuasan hidup sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman- pengalamannya yang disertai dengan tingkat kegembiraanya. Dan life satisfaction dapat diukur dari seberapa baik dan memuaskan hal- hal yang sudah dilakukan individu tersebut dalam kehidupannya secara menyeluruh dan atas area utama dalam hidup yang mereka anggap penting, seperti hubungan interpersonal, kesehatan, pekerjaan, pendapatan, spiritualitas dan aktifitas di waktu luang. Dan hal ini berpatokan dari kepercayaan orang tersebut dalam menilai kehidupannya, ia yang dapat menilai apakah situasi dan kondisi kehidupannya positif dan memuaskan atau tidak.
Intinya seberapa besar seseorang merasa cukup puas atas kehidupannya, setidaknya untuk aspek- aspek penting dalam hidupnya. Saya yakin sekali life satisfaction akan berkaitan erat dengan rasa syukur seseorang atas kehidupan yang Allah berikan.
Mengapa demikian?
Karena, kadang kita sebagai manusia sering lupa, bahwa hidup kita sudah cukup, bahkan jauh lebih cukup dari orang lain. Contoh, saya pernah menemukan seseorang yang telah memiliki pernikahan, anak-anak, rumah sendiri dan kendaraan, tapi orang itu tidak puas atas apa yang dimilikinya, ia mudah terpancing ketika tetangganya membeli mobil baru yang lebih bagus dari miliknya, ia kadang kurang bisa menerima dengan lapang dada melihat orang lain naik jabatan sementara ia tidak. Padahal jika dilihat dari apa yang ia miliki, ia memiliki hidup yang lebih dari cukup, namun kehidupan orang yang ia nilai lebih baik dari dirinya membuat ia terusik, resah dan mencari cari kesalahan pada banyak hal.
Saat menemukan hal- hal semacam ini, menurut saya cobalah tenang, jangan tergesa- gesa melakukan judging pada banyak hal, entah pada tingkat keberhasilan diri anda meraih materi ,maupun pertanyaan mengapa anda tidak meraih prestasi tertentu, ada baiknya anda ‘bicara’ dengan diri sendiri terlebih dahulu. Anda sebaiknya mengembalikan pada pemikiran bahwa tiap orang punya beban hidup dan prioritas masing- masing yang sudah pasti tidak sama dengan anda. Dan jika anda melihat orang meraih prestasi tertentu, pernah kah anda berfikir lebih bijaksana, bagaiamana cara agar anda  mampu meraih prestasi yang sama baiknya, apakah anda memiliki kapasitas sebaik orang itu, apakah kontribusi anda sebesar kontribusi orang itu? jika belum bagaimana meraihnya?.
Jika anda melihat orang memiliki barang yang lebih bagus dari milik anda, pernahkah anda berfikir apakah benda yang sama suitable for me? Dalam artian sudah pantaskah anda memiliki hal yang sama, baik dari sisi kecukupan dana, maupun kesesuaian antara barang tersebut dengan kebutuhan/ prioritas dalam hidup anda?
 
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan berupaya untuk meraih sesuatu, yang salah adalah jika kita TIDAK menyusun prioritas pencapaian dengan baik, dan kita terlalu sibuk melihat dengan barometer diluar diri kita tanpa melihat kedalam diri kita sendiri.
Jika kembali mengangkat pada apa yang terjadi pada contoh yang saya berikan tadi, dimana seseorang mudah terpancing melihat orang membeli kendaraan yang lebih bagus dari miliknya lalu ia otomatis membentuk mindset bahwa “wah saya jangan sampe kalah dari dia”, lalu mati- matian mengupayakan untuk memiliki benda yang sama, saya kawatir orang ini menyusun prioritas yang salah dalam hidupnya. Karena sebuah benda tidak merefleksikan apa- apa tentang diri anda. Dalam hal ini kendaraan hakikatnya adalah kebutuhan dan berkaitan dengan kemampuan, tanpa memiliki kendaraaan yang sama atau lebih baik dari yang dimiliki orang, anda akan tetap hidup baik-baik saja dan tidak sengsara. Jika orang itu punya prioritas tertentu, anda tentu memiliki prioritas lain dalam hidup, mungkin anda bisa lebih fokus mempersiapkan hal hal yang lebih penting bagi kehidupan anda. Jika memang prioritas penting dalam hidup anda sudah terpenuhi, anda pun ternyata memiliki kebutuhan yang membuat anda harus membeli kendaraan yang lebih baik dari yang dimiliki sekarang dan ternyata anda masih memiliki dana lebih dari cukup, itu artinya anda memang patut memilikinya tanpa harus memaksakan diri. Sekali lagi tujuannya bukan karena anda ingin dilihat oleh orang atau terlihat lebih hebat dari orang, tapi karena prioritas hidup anda sudah beres, anda pun membutuhkannya untuk kemudahan hidup anda sekeluarga serta anda pun punya dana lebih untuk hal itu.
Inilah realita hidup yang saat ini kita hadapi, orang kadang terpancing untuk aktif mengawasi hidup orang lain dan mengabaikan Life Satisfaction nya sendiri.
Untuk itu cobalah tips berikut ini :
1.           Susunlah prioritas- prioritas hidup anda sesuai dengan porsi hidup anda, jangan mengacu pada kehidupan orang, karena hidup kita, pandangan kita, kebutuhan kita dan rezeki kita tentu tidak sama dengan orang lain.
2.         Berbahagia atas apa yang anda punya, ikutlah berbahagia atas keberhasilan orang, dan jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi dan energy positif yang ikut mendorong anda untuk bahagia dan menjadi kekuatan anda dalam mengejar mimpi bukan sebagai pengusik rasa bahagia dan tujuan hidup.
3.         Jujur atas hidup anda, buat diri anda percaya diri atas diri anda bukan barang- barang atau hal- hal lain yang melekat di diri anda. Menjadi percaya diri bukan berarti merasa selalu lebih baik dari orang lain, menjadi percaya diri artinya mencoba jujur dihadapan orang atas kekurangan diri anda, mau belajar, mau menerima kritik dan dengan fair mengakui kesalahan dan meyakini diri sendiri untuk dapat memperbaikinya. Jangan pernah menjadi orang yang gemar mencari kesalahan orang lain dan mengkambing hitamkan orang lain atas kekurangan atau kesalahan anda, karena hal ini dapat menghalangi proses belajar pada diri anda sendiri.
 
Menjadi pribadi seperti dikatakan tips diatas akan membuat anda selalu merasa bersyukur dan secara damai dapat menerima kenyataan apa yang anda dimiliki dan tidak dimiliki, secara tidak langsung hal itu  akan membuat anda berpacu melakukan perbaikan diri dengan cara yang positif, saya yakin pula anda akan jauh lebih bahagia, lebih menghargai diri dan hidup tenang tanpa harus berhenti berusaha memperbaiki diri. Jika sudah demikian, maka katakan selamat datang pada Life Satisfaction!
(ErryTMRiyadi)