Pages

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, July 1, 2016

Adversity Quotient Crisis



Yang sudah pada jadi parents kemungkinan pernah membaca tulisan Ibu Elly Risman pakar parenting anak tentang Adversity Quotient. Apakah itu? Berikut petikan saya dari tulisan beliau : 

Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya yg berjudul sama, adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.
Bukannya kecerdasan ini yg jd lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?
Perasaan mampu melewati ujian juga luar biasa nikmatnya. Merasa bisa menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tdk lagi bisa.Setelah di coba melewati kesusahan.Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit nangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan. Akui kesulitan yang sedang dia hadapi,Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan, ajari menangani frustrasi. Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel, apa yang terjadi jika anda tdk bernafas lagi esok hari?Bisa-bisa anak anda ikut mati.
Sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih
Apalagi dg menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi, jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua. Tapi sadarilah hidup penuh dengan ketidakenakan dan masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan. Melewati hujan, badai, dan kesulitan, yang kadang tidak selalu bisa kita hindarkan. Permata hanyalah arang… yang bisa melewati tekanan dengan sangat baik”

Tulisan beliau tentang hal ini sempat diringkas dalam sebuah format JPEG dan menyebar di berbagai media social. Saya bersyukur ada orang sebaik beliau sehingga berkenan membagi ilmunya untuk mengingatkan kita semua sebagai orang tua.
Anak- anak saya memang masih kecil- kecil, kakak 11tahun dan adik baru mau 5 tahun.Tapi bukan berarti saya tidak menjalani peran ibu bagi anak remaja maupun para anak muda, kenapa? Profesi saya sebagai HR dan coach yang mengharuskan saya bertemu dengan berbagai anak remaja dan anak muda beserta problematika mereka.
Bagi saya di tiap pekerjaan saya selaku ibu di rumah maupun “ibu” professional di kantor ini adalah media saya belajar.



Tulisan saya ini adalah sedikit cerita apa yang saya temui di dunia kerja saya.
Sebulan ini saya menemukan 6 kasus anak muda dengan problematikan yang berat, kisaran usianya adalah 20 – 24 tahun. Bukan anak- anak lagi, mereka sudah masuk kategori dewasa.
Dari 6 kasus ceritanya beda- beda, tapi dalam tulisan ini saya ingin membagi bahwa salah satu dari 6 anak muda  itu terdapat seorang pemuda berusia 22 tahun yang ingin saya bagi kisahnya disini.

Jika melihat dari apa yang ibu Elly tuliskan diatas, saya menyimpulkan pemuda ini mengalami Adversity Quotient Crisis, alias tidak tidak memiliki Adversity Quotient yang memadai selaku orang dewasa.
Mengapa saya menyimpulkan demikian?
Awal cerita, saya mendapat laporan dari seorang manager yang mengeluhkan bawahannya memiliki masalah dengan hasil kerjanya, hal ini diakibatkan karena rasa tanggungjawab bwahannya pada pekerjaannya tidak tampak, bawahan tersebut dinilai rapuh, sering tidak masuk kerja untuk alasan sakit- sakit ringan, bahkan kadang sulit diminta untuk mengerjakan lembur. Sebuah perusahaan konsultan seperti kami, lembur bukan sebuah hal baru yang aneh, meskipun kami tidak lembur setiap hari, tetapi di masa sibuk lembur adalah hal biasa, semacam sebuah resiko profesi. Pada  pegawai- pegawai muda lain adanya situasi lembur dijalankan dengan cukup smangat, karena mereka tau ini adalah tantangan untuk menaklukkan deadline. Saya pun ketika seusia mereka akan merasakan hal yang sama.
Namun pada pemuda ini, saya menemukan berbeda. Maka saya memutuskan untuk memanggilnya ke ruangan saya untuk menemukan masalah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.

Dalam sesi obrolan bersama saya, anak ini mensiratkan bahwa ia tidak nyaman dengan kewajiban untuk mengerjakan deadline sampai harus  lembur karena ibunya cukup ketat mengatur perihal kepulangan anak ke rumah, karena sejak kuliah ia harus melaporkan jadwal kegiatannya dan jam pulangnya.  Ia menceritakan setiap hari hp nya harus bisa diakses oleh ibunya untuk dilakukan pengecekan, sehingga darihal itulah ibunya menaruh ketidaksukaan pada sang manager karena merasa anaknya diberikan tugas berat. Saya bertanya kenapa masih dilakukan pengecekan? Padahal kamu adalah laki2 dewasa dengan umur 22 tahun? Alasan ibunya adalah ibunya kawatir akan pengaruh yang ditimbulkan oleh media social pada anaknya, OMG! Pemuda 22 thun bukannya sudah mampu memilih mana yang baik dan tidak? Pada banyak kasus pemuda 22 tahun malah sudah memberanikan diri melamar gadis.
Ibu anak ini sangat tidak mengizinkan anaknya untuk mengikuti aturan main dalam team untuk bekerja keras mencapai target, padahal dalam masa sibuk bukan anak ibu ini saja yang  morat marit mengejar dealine.

Anak ini pun ketika saya gali lebih lanjut menyampaikan bahwa sepanjang hidupnya ia tidak pernah membuat keputusan sendiri, semua hal diputuskan oleh keluarganya bahkan paman dan bibinya ikut ambil bagian untuk memutuskan. Masuk kuliah, jurusan yang dituju dipilihkan;  mau ujian tugas akhir,  dosen pembimbing dipilihkan yang dikenal keluarga;  mau magang pun diambil alih untuk dibantu pamannya yang memiliki koneksi ke perusahaan kami;  termasuk ketika si anak mengalami situasi harus lembur si ibu dan paman bibinya sibuk mencarikan tempat kerja baru agar si anak tidak menemui situasi kerja yang memiliki konsekuensi lembur pada kondisi deadline. Ia bercerita, dalam sebuah kondisi ketika ia sedang membawa pulang pekerjaanya untuk dikerjakan, pamannya ikut membantu ia mengerjakan, padahal yang saya tau pekerjaanya anak ini masih seputar entry level, pekerjaan administratif yang hanya membutuhkan ketekunan, namun keluarganya tidak mengizinkan anak ini mengasah ketekunan dan ketelitiannya dengan cara mengambil alih pekerjaan dengan dalih agar cepat selesai.

Saya mendengarkan anak ini bertutur dalam perasaan yang entah gak karuan, ia bukan anak saya, bukan pula keluarga saya, namun saya seperti prihatin memikirkan kekuatan anak ini menerjang badai hidup di kemudian hari jika ibu, ayah, paman dan bibinya tidak lagi mampu membantunya, akan jadi apa pemuda seperti ini?
Jangankan untuk memikul tanggungjawab membenahi bangsa, jangan- jangan pemuda2 seperti ini malah akan jadi PR bagi bangsa ini karena tidak memiliki Adversity Quotient yang memadai? Bagi saya saja selaku pemberi kerja saya enggan memberi pekerjaan dengan orang seperti ini, karena ia cenderung tidak mampu melangkah bersama perusahaan, ia tidak mampu mengikuti ritme kerja kebanyakan orang, ia tak mampu memiliki kekuatan yang dimiliki umumnya anak seusianya dalam mengemban tanggungjawab. Jika saya memaksakan, anak semacam ini hanya akan menjadi penghambat bagi team kerja. Kapasitas keilmuan anak ini pun sulti dikembangkan, karena setiap mau menginjak fase baru dalam penambahan kapasitas, ia selalu gagal dalam memantain semangat belajar, ia tak mampu berkorban untuk itu. Pada kasus anak ini, sayamengecek pada potensi IQ nya, saya prihatin bahwa Allah menitipkan kapasitas berfikir yang cukup dan memadai,namun dalam pandangan kami, ia tak lebih dari orang yang kurang memiliki potensi yang gemilang, kemampuan kerjanya minim, tangungjawabnya rendah, dan mental kerjanya tidak bisa diperhitungkan. Kasihan skali anak ini?

Ini masalah serius, saya sadar manusia tidak luput dari masalah, itulah yang menguatkan manusia dari hari ke hari. Kita makin dewasa, makin matang dan bijaksana karena kita mampu melewati masalah demi masalah dengan baik. Contoh sederhana adalah latihan beban fitness, untuk membentuk otot yang kuat kita ditempa dengan latihan- latihan berat sehingga kita bercucuran keringat dan mengalami lelah fisik, namun itu ternyata itu satu- satunya caraa yang baik untuk kita membentuk fisik yang perfect, memangkas lemak2 tak perlu, menimbulkan banyak manfaat untuk kesehatan jantung otot dan seluruh tubuh.

Jika untuk membuat tubuh sehat pun kita harus tertempa dengan kesulitan, lantas apakah untuk membentuk mental yang kuat kita lakukan dengan santai?
Ini pola pikir yang harus diubah. Anak- anak perlu menghadapi masalahnya sendiri, jika kita tak mampu membairkannya menyelesaiakn sendiri, cukup hadir sebagai coach yang mendampinginya saat masa sulitnya, meski dia tetap harus sendiri menghadapinya. Kelak toh ia akan sendiri, saat kita tak ada mereka akan tetap hidup diatas kaki, kemampuan, pemikian, dan kekuatan mereka sendiri.

Mulai hari ini, selain IQ, EQ, SQ, jangan lupa kita bangun AQ untuk anak- anak yang tangguh calon pemimpin umat dan pemimpin bangsa.

Tuesday, February 25, 2014

Pentingnya Membangun Integrity dan Character Pada Anak


Beberapa hari lalu saya diundang oleh sebuah universitas swasta terkemuka di Jakarta untuk memberikan advice ttg kurikulum perkuliahan mereka. Ada kecemasan dari pihak universitas berkaitan dng kualitas lulusan mereka, mereka ingin mengetahui kualitas semacam apa yang diperlukan oleh freshgraduate untuk dapat bersaing di bursa kerja. Saat itu saya duduk bersama dengan beberapa perwakilan dari beberapa kementrian dan beberapa institusi perbankan besar di Indonesia sebagai narasumber.

Sekelumit cerita, selama 10 tahun lebih saya menjadi HRD saya memang merasakan begitu banyak perubahan pada candidate pekerja yg saya test dan interview. Perubahan yang saya tangkap adalah, kualitas freshgraduate saat ini lebih melek teknologi, semua yang berkaitan dng skill computer sampai dengan pem-program-an computer hampir semua dikuasai. Tapi negaatifnya, saya menemukan hampir semua freshgraduate yg kami test memiliki masalah berupa stabilitas emosi dan daya tahan terhadap stress. Setelah 2 masalah ini saya juga menemukan permasalahan persuasive communication,writing skill, inisiatif dan proactive.

Di lapangan kami sebagai HRD sangat mendapat tantangan berat untuk menyuntikkan budaya2 baru kepada anak2muda dengan masalah ini. Kami dihadapkan pada kenyataan bahwa para pekerja baru ini secara mental belum bisa siap dilepas, harus bayak diberikan tantangan dan guidance. Kami punya PR terbesar yaitu harus selalu mencreate program2 yang mampu menstimulus kekurangan anak2 ini.

Kalau jaman dahulu HRD bisa sekedar mengawasi, tapi saat ini HRD harus kreatif membangun sistem2 yang menstimulus, jadi fungsi pengawasan bukan sekedar pengawasan saja. Menjalankan peran develop itu bahkan menjadi tugas utama.

Saat acara di universitas yang saya katakan tadi, kami para narasumber bersepakat bahwa universitas memang perlu memiliki sistem2 yang menstimulus hal itu. Kemampuan teknis adalah hal yang diperlukan, tapi teknis semata tidak cukup untuk membentuk mental pekerja yang professional dan kompeten.

Saya pribadi merumuskan, aspek yang diperlukan bagi seorang calon pekerja dan pekerja adalah :

  1. Integrity
  2. Character
  3. Technical Skill & Language

Saya meletakkan integrity diatas karena saya menilai, seseorang harus tau aturan main secara otomatis. Setiap orang harus tau apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan kesadaran yang kuat akan hal itu maka seseorang akan sangat mudah diberikan tanggungjawab. Tanpa diperintah tanpa diawasi terus menerus orang ini akan menjalani tanggungjawabnya dengan baik dan jujur. Coba lihat kenyataan sekarang para politisi muda yang terlibat korupsi adl orang2 yang berpendidikan tapi sayangnya minim integritas,maka apa yang terjadi, kekuasaan yang dimiliki tidak untuk memperbaiki Negara tapi dipakai untuk kepentingan pribadi dan memperkaya, inilah yang saya artikan bahwa integritas harus diletakakan paling atas.

Saya meletakkan character diurutan kedua, karena saya yakin faktor kepribadian dapat menggerakkan seseorang untuk meraih cita2. Contoh, seseorang yang tidak punya kesempatan menimba ilmu di sekolah terbaik bukan berarti ia tidak akan berhasil, semua berpulang pada kemauan ia untuk bekerja keras, mental yang gigih dan optimis. Serta karakter kepribadian positif lainnya. Saya pernah menemukan di lapangan, ada orang lulusan USA, dng IQ yang tinggi dan kemampuan bahasa yang handal. Namun ia memiliki banyak catatan permaslaahan pada faktor kepribadiannya. Seperti kerjasama, stabilitas emosi, persuasive communication dll. Akhirnya orang ini tidak mampu bekerja dengan baik dalam team kerjanya, ia pun tidak mampu mengendalikan diri saat emosi memuncak. Akhirnya kerjasama yang kami harapakan dng orang ini tidak berjalan baik. Maka dengan sangat menyesal hubungan kerja pun tidak dapat diteruskan.

Dan terakhir adalah faktor technical skill. Untuk beberapa jenis pekerjaan memang kemampuan teknis perlu dimiliki. Kemampuan teknis yang dimaksud adalah kemampuan mengerjakan pekerjaan utamanya. Jikalau konsultan pajak, maka knowledge pajaknya harus mumpuni. Ini memudahkan ia menyelesaikan pekerjannya, memudahkan dirinya meraih prestasi di bidang teknis pekerjaanya.

Tapi jika faktor ketiga dimiliki namun faktor pertama dan kedua tidak dimiliki, saya yakin sepintar dan sehebat apapun teknis yang dikuasai, orang ini tidak akan mampu bekerjasama dengan orang lain, atau mungkin yang lebih parah mungkin tidak akan mmapu diberikan kepercayaan untuk memegang suatu tanggungjawab besar.

Saya pernah menemukan di lapangan, ada seorang lulusan terbaik dari sebuah fakultas bergengsi di Universitas Indonesia, ketika terjun di dunia karier, kariernya mandek, bener2 mandek tidak menunjukkan gerakan positif. Ia mengeluh bahwa lingkungannya didominasi oleh orang2 lulusan luar negeri. Saya prihatin melihat ini. Dari cara ia bertutur pun saya menilai orang ini tidak memiliki karakter siap bersaing, meskipun secara teknis ia setara, saya yakin itu, tidak mungkin salah satu lulusan terbaik dari UI kapasitasnya buruk. Dan ketika saya amati orang ini integritasnya ternyata memang agak menghawatirkan, ia bertutur pada saya sangat ringan bahwa alasan ia bertahan ditempat kerja saat ini karena  bisa leluasa untuk meninggalkan kantor dengan mudah sehingga ia bisa sambil bekerja menjalankan bisnis sampingan dijam kantornya. Saya tidak perlu menjelaskan, saya yakin atasan orang ini pun terganggu dengan habbit orang ini, saya yakin disaat seseorang mencuri2 waktu kerja untuk kepentingan pribadi, pasti achievement kerjanya pun akan menurun. Dan apakah salah bahwa jika orang ini kariernya mandek? Yang salah bukan karena ia lulusan dalam negri dan sekitarnya lulusan luar negeri, tapi apa boleh buat secara mental mungkin orang sekelilingnya jauh lebih bisa diandalkan daripada dirinya. Saya sudah mencoba memberikan masukan ini pada orang itu, tapi saya tidak tau lagi sekarang seperti apa. Tapi disini saya share karena bagi saya ini bukti nyata, bahwa case by case seperti ini terjadi di dunia nyata.

Inilah PR kita semua, tugas bagi semua orang tua dan pendidik di Indonesia. Kita membutuhkan generasi muda yang kuat dan mampu bersaing di era globalisasi. Beberapa tahun lagi disaat pasar bebas mulai masuk di Indonesia, kita harus siap menerima gempuran tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, maka apa kabar dengan anak2 kita jika mereka tidak dibekali system pendidikan yang mengedepankan faktor2 diatas?

Saat saya menulis ini saya ingin mengingatkan pada semua pembaca blog saya, bahwa pendidikan tidak mutlak diserahkan kepada pihak sekolah atau universitas, pendidikan paling mendasar bagi anak2 kita dimulai dari rumah. Jangan lelah untuk mencari strategi untuk membangun karakter yang kuat bagi anak2 kita di rumah, jangan menyeplekan komunikasi dng anak2, jangan sekali2 membiarkan anak2 tumbuh begitu saja tanpa perhatian dan kasih sayang. Jangan menyamakan zaman kita dahulu dengan zaman anak2 kita kelak. Bukalah mata, kita memang tidak bisa santai dalam mendidik anak2 kita, karena ini tugas berat.

Tuesday, November 12, 2013

Belajar Public Speaking

Saya senang bergaul dan berteman, dari kecil seperti itu, tapi ternyata cukup pengecut jika harus berbicara di public, apalagi bicara di forum yang serius. Saya saat saat SMA bukan anak bodoh, saya begini begini selalu masuk rangking 3 teratas di kelas, tapi jangan harap guru melihat saya sebagai siswa tauladan yang aktif di kelas, saya jarang bertanya atau kasih pendapat. Karena menurut saya saat itu bersikap begitu kelihatan lebay dan show off, selain itu saya juga grogi jika harus bicara di depan kelas dan menatap mata guru, padahal kalau tidak ada guru saya juara nakal nya di kelas.



Kebiasaan itu terus berlangsung sampai saya lulus kuliah, padahal ketika kuliah cukup aktif di organisasi, tapi ya itu saya tidak kehabisan akal untuk cari orang lain yang bisa saya sodorkan untuk bicara di forum selain diri saya pokoknya!  Sampai pada suatu titik saya mau gak mau harus memberanikan diri bicara di depan umum, saat saya jadi HRD, gak ada orang lain yang wajib menyampaikan kebijakan perusahaan selain saya, finaly saya kehabisan gaya untuk meyodorkan orang lain, maka saya pun menghadapi kenyataan, bicara di depan umum untuk pertama kalinya!

Hal itu akhirnya terus berlangsung, saya mulai terbiasa menerima tugas- tugas untuk menghadapi audience dari internal karyawan di perusahaan tempat saya bekerja.
Saya gak tau awalnya dimana, sampailah akhirnya saya mulai dapat tawaran ngisi seminar-seminar bertemakan soft skill diluar perusahaan dengan audiencenya adalah orang- orang diluar karyawan perusahaan tempat saya bekerja, orang- orang yang betul- betul asing buat saya. Dan hasilnya betul- betul berjalan lancar, bahkan kembali dapat undangan demi undangan serupa. Saya amazed sendiri, saya enggak pernah diajarkan public speaking apalagi kursus public speaking, tau- tau sudah dapat beberapa kali undangan jadi trainer di beberapa universitas.

Secara otodidak pun saya berlatih membuat materi- materi presentasi untuk training – training yang dibawakan, sekali lagi tanpa kursus formal, semua bergulir begitu saja.
Disini saya cuma mau share untuk pembaca yang mungkin memiliki masalah yang sama seperti saya dulu, takut jika harus bicara di depan umum, bagaimana menghadapinya? Saya yang dulunya sama sekali tidak terbayang untuk (akhirnya) memiliki skill ini dan ternyata bisa membuat orang cukup mencerna dan memahami apa yang saya sampaikan, merasa perlu berbagi tips, supaya apa yang saya dapat bisa bermanfaat, minmal untuk pembaca blog ini.

Berikut tips dari saya :
1.      Amati dan adopsi caranya
Amati trainer- trainer professional yang anda temui di media televisi maupun di acara training yang anda hadiri, lihat cara mereka luwes dalam bergerak. Lihat cara mereka berbicara kata perkata, dengan artikulasi yang jelas dan kepercayaan diri yang kuat. Gaya luwes bagaimana mereka memegang mic, saat batuk, saat curious menanggapi pertanyaan,cara mereka memposisikan diri bahkan materi menarik dan gaya joke mereka di panggung.

2.      Kuasai Materi

Kuasai materi training yang akan anda sampaikan, untuk awalan saya anjurkan anda melakukan riset sendiri, menyusun sendiri materi anda meski anda memiliki team persiapan yang cukup. Mengapa? Karena dengan anda menyusun sendiri materi anda, anda menguasinya secara tidak langsung, anda akan hapal luar kepala, tau betul detail- detail yang akan anda sampaikan. Saat anda di hadapan audience anda bukan menjadi orang yang membacakan slide anda, tapi menjadi orang yang menjelaskan isi slide anda, ingat semakin ringkas slide anda semakin terbuka ruang lebar bagi anda untuk menjelaskan isi materi anda.
 
3.      Hadapi Rasa Grogi
Saya percaya, trainer atau public speaker sekaliber apapun pasti memiliki rasa grogi, bohong kalau tidak. Tapi ada beberapa cara menghadapinya, pertama peganglah pulpen di salah satu tangan yang bebas, buat saya pulpen atau pointer adalah benda yang paling mungkin dipegang saat jd trainer, gak mungkin juga megang hp atau dompet kan? Heheh

4.      Kenali suara anda
Maksudnya gini, ada orang yang terlahir dengan suara cempreng, nah saya salah satunya, saya kalau bicara biasa sungguh tidak enak didengar, nyanyi pun begitu, jauh dari merdu. Tapi saya realize bahwa jika saya bicara dalam keadaan,serius saya mampu mengeluarkan suara2 yang lebih dalam atau berat. Nah saya latih ini kesekian kali, sampai saya tau ini suara saya yang akan saya tampilkan di public, bukan suara cempreng berisik saya biasanya. Mengapa? Setidaknya orang butuh kenyamanan saat mendengar kita bicara, agar materi yang disampaikan dapat dicerna tanpa harus membuat telinga orang lain sakit.

5.      Kontak mata
Ini masalah klasik yang sering timbul bagi public speaker, materi bagus, outlook bagus tapi gak menatap audience, justru menatap ke slide dan seolah hanya membacakan slide saja. Saya jamin trainer seperti ini hanya akan membuat audiencenya ngantuk, karena seolah tidak ada interaksi antara audience dengan trainernya. Anggaplah kita ngobrol dengan audience kita, anggaplah kita berdiskusi atau seolah kita sedang mengemukakan pendapat dihadapan mereka, dengan cara itu anda akan terus jaga kontak mata anda dengan mereka. Belakangan ini saya selalu akan menatap mata audience saya yang terlihat sudah mulai ngantuk atau sering bisik2, tujuannya agar mereka kembali focus kepada saya.

6.      Lemparkan Joke dan Berita Masa kini
Saya menyukai gaya trainer yang update, gaul, bisa kasih joke yang terkini dan mengangkat issue2 update. Saya perhatikan audience juga begitu mereka cukup senang jika kita memberi sample- sample kasus yang berkaitan dengan berita yang sedang hangat. Atau saya melemparkan joke2 yang terkait dengan topik2 yang hangat atau saya menampilkan video/ gambar yang terkait dengan issue2 yang sedang happening. Untuk itu banyak-banyaklah membaca berita, dengar radio dan media social yang rajin menyuguhkan berita dan isue2 hangat, combine lah dengan materi- materi training anda.

7.      Berpakaianlah dengan wajar
Menjadi pembicara di depan umum, sungguh menimbulkan efek deg- deg an tersendiri, semua orang tampak memperhatikan kita, itu benar adanya. Orang menatap kita, untuk mereka menatap kita tanpa membuat mereka harus melemparkan pandangan aneh apalagi bisik2, cobalah berpakaian yang aman, artinya normal dan tidak mencolok, tapi rapi, resmi dan tanpa aksesoris mencolok, agar sebagai awalan anda tidak perlu cemas atas pandangan orang yang terfokus terhadap pakaian anda.

 Yah paling saya baru bisa kasih contekan segitu tentang gimana saya melewati masa ketakutan saya saat menghadapi audience. Yang terpenting, semua trainer/ public speaker itu wawasannya luas, membuat dirinya tak habis akal menyampaikan sesuatu, jadi sekali lagi, membaca itu penting buat anda yang mau mulai belajar public speaking! Selamat Belajar J

Wednesday, November 6, 2013

Kids and Gadgets


Jaman udah canggih banget, orang jaman sekarang gak pernah kurang hiburan dan gak pernah kekurangan media ngabisin kejenuhan. Semua udah ada  dalam sebuah benda kecil disebut smartphone semua jenis hiburan bahkan. Handphone maupun tab laris manis di Indonesia,trakhir saya dapat info  Indonesia adalah pengguna Tab terbesar di dunia. Ya gimana enggak, anak 3 tahun jaman sekarang tinggal di Indonesia rata2 punya tab semua, masing2 nenteng gadget modern itu kemana pergi.

Dari games, playlist music, berita sampe e-book ada semua di tab atau smartphone tiap orang. Saya juga pengguna smartphone. Cukup gemar media social karena bisa berjumpa dan akrab- akrab lagi sama teman- teman lama saya. Lalu saya juga sering ngandelin playlist di smartphone untuk menghibur diri saat naik kereta sepulang kerja, tapi untuk games, berita dan ebook jarang banget pake media smartphone. Saya sendiri gak punya tab, awalnya punya, lalu merasa gak praktis, karena harus bawa2 gadet yang butuh diperhatiin batere nya, ah ribet, akhirnya skrg cuma pake satu smartphone saja, cukup dan tanpa power bank pula, saya bener2 orang jadul yang gak suka ribet.

Saya nulis ini cuma mau menggambarkan bahwa jamak banget bagi orang sekarang menikmati kesendiriannya tanpa harus kesepian. Orang sekarang juga mungkin mulai menikmati masa2 antri panjang menunggu sesuatu karena tak lagi menjemukan. Dan untuk itu semua orang menghibur dirinya dengan gadget- gadget canggih dalam genggaman.

Saya enggak tau ya efek jangka panjangnya orang- orang yang kecanduan menggunakan gadget dan ikut menulari kebiasaan itu pada anak- anaknya. Tapi saya sendiri melihatnya, anak anak emang cenderung meniru dan susah sekali untuk dihentikan sekalinya kita mengajarkan gaya hidup tertentu pada mereka.

Saya ambil contoh soal gadget play station, mungkin anak- anak saya terlihat ndeso saat pergi bersama, mereka tidak menenteng gadget apa2, tidak juga smartphone, ipad atau tab apalagi playstation portable. Tapi saya mensyukuri ini, karena anak2 jadi lebih banyak aktif permainan fisik, dan khusus untuk Lulla ia menaruh minat yang besar pada handcraft. Saya juga mudah mengarahkan Lulla untuk membaca buku. Saya pun akhirnya tidak mengalami masa2 senewen karena harus pake perang melepaskan anak balita saya maupun gadis kecil saya dari kecanduan PSP. Saya pernah lihat teman saya sampe harus marah besar ketika melihat anaknya ngamuk karena harus mematuhi aturan pembatasan main Playstation. Duh kok ya jadi repot ya gara gara benda satu ini  pikir saya.

Buat anak- anak saya, saya ingin mereka tumbuh normal setidaknya mirip seperti saya kecil dulu. Saya kecil bersama abang, adik  dan kakak perempuan saya yang lain, kami tidak pernah difasilitasi mainan mahal, abang saya pernah punya SEGA kala itu anak2 lain sudah main PS, hahah… ktinggalan jaman banget. Saya pun hanya pula 1 buah Barbie yang harus saya mainkan berdua dengan adik saya. Itupun baju barbienya cuma 1 stel itu aja, membuat saya kreatif menjait sendiri baju Barbie saya dengan kain bekas, saat itu usai saya kelas 5 atau kelas 6 SD. Saya dan kakak2 pun jika mau beli buku jarang diprovide beli buku baru di toko buku, tapi lebih banyak diarahkan hunting buku bagus di toko bekas, oleh karena itu saya sampe sekarang saya punya rasa excited besar saat menemukan bazaar buku murah, jaman sekarang beli buku murah kadang jauh lebih hemat dibanding harus nawar di bursa buku bekas.

Saya ingin anak2 menjadi sekuat dan sekreatif itu menjalani hidup. Saya gak setuju jika harus provide apa2 yang sama dengan teman2 nya, bukan karena saya tidak mampu, tapi saya ingin mereka lebih keras meraih keinginan mereka, mereka harus lebih kreatif menggapai keinginan mereka.

Saya memang gak bisa ‘plek’ menyamakan situasi saya kecil yang tumbuh di kota kecil dengan kehidupan sederhana dengan kondisi anak2 saya sekarang, tapi setidaknya hidup sederhana dan penuh perjuangan telah saya tanamkan sejak dini. Konsep hidup hura hura, glamor dan mudah, saya upayakan untuk tidak mereka biasakan dalam hidup mereka. Untuk itu saya mulai dengan kebiasaan mereka untuk tidak saya fasilitasi dengan gadget mahal sepertinya sebuah awalan yang sejiwa dengan prinsip didikan saya.

Saya tidak maksud menyatakan ini pola didikan terbenar bagi semua parents, tapi bagi saya dan suami pola ini yang kami pilih. Bagi para parents lain pasti punya strategi lain yang mungkin lebih cocok dan pas dengan latar belakang maupun visi misi hidupnya.

Wednesday, June 20, 2012

Melatih anak belajar sebagai bentuk kerja keras

Hari ini Lulla bagi rapor semester dua di kelas 1. Saya cukup mengalami kecemasan,dan kecemasan saya ini dianggap berlebihan oleh suami saya.
Sebenarnya saya bukan cuma sekedar cemas sanak saya tidak dapat rangking. Karena buat saya rangking itu bukan barometer kesuksesan seorang anak, salah besar kalau paradigmanya semacam itu.
Tapi nilai rapor buat saya adalah ukuran keberhasilan bagi saya dan anak saya dalam melewati dan menguasai materi yang selama semester ini diberikan oleh guru. kenapa ada unsur saya dalam hal ini?
Saat ini saya tidak bisa menjudge hasil rapor Lulla hanyalah tangungjawabnya sendiri, saya sebagai ibu punya andil besar dalam hal itu, alasannya ;
1. Lulla masih belum terbiasa dengan sebuah tuntutan akademik
2. Lulla masih dalam masa pembentukan cara belajar dan mindset berprestasi
3. Saya adalah seorang ibu yang memiliki kewajiban mendampingi dan mendidik anak saya di rumah
Alasan- alasan itu yang membuat saya merasa masih memiliki kontribusi besar dalam hasil sekolah Lulla.
Saat ini Lulla dalam golden age, saya dituntut membentuk dia untuk terbiasa dalam memperjuangkan sesuatu, meraih sesuatu, memenuhi sebuah qualifikasi tertentu, berkompetisi secara fair, perfectionis terhadap hasil kerja dan bertanggungjawab terhadap waktu. Dan proses belajar dan ujian itu harus dilihat sebagai sebuah sebuah wadah ia berlatih untuk itu semua.



Saya pun menanamkan padanya bahwa dalam hidup harus kerja keras untuk mendapat hasil terbaik, kenapa? karena hidup itu adalah anugrah Allah swt. Hidup itu ada amanah yang kita emban, yaitu waktu dan penggunaan waktu dengna sebaik mungkin adalah kewajiban terutama umat muslim. Jika saya dan ayahnya bekerja keras dengan cara bekerja mencari nafkah dan menjalani kewajiban kami mendidik anak- anak, maka seorang anak punpunya bentuk kerja keras yang tidak sama, yaitu belajar untuk meraih hasil pendidikan terbaik, dan kerja keas adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap umur yang diberikan oleh Allah.
Setiap hari ia sekolah, ada guru yang bersusah payah menyampaikan materi pelajaran, ada uang sekolah yang dibayarkan orang tua agar ia belajar, ada persaingan ketat dihadapannya kelak, dan ada waktu yang tiap hari ia habiskan dalam bersekolah, maka itu semua harus ia pertanggungjawabkan dengan benar. Dan belajar dengan baik adalah sebuah cara ia bertanggungjawab . Sementara ujian atau ulangan adalah cara untuk mengevaluasi kerja kerasnya selama 1 semester.
Semester lalu ia mendapat rangking 3, tidak terlalu sempurna, saya tidak memarahinya. Saya mengucapkan selamat padanya, tapi secara fair saya mengatakan padanya bahwa saat ini ia belum maksimal bekerja keras, masih ada 2 teman lainnya yang menduduki rangking 1 dan 2. Artinya mereka lebih baik dari Lulla, Lulla harus sadar itu bahwa ia masih punya 'pe er' untuk mengejar prestasi temannya, karena inilah persaingan, yang dicari adalah yang terbaik, maka selalu semangat ntuk mengejar prestasi untuk menjadi yang terbaik adalah wajib.
Saya bukan ambisius, tapis aya secara fair memberi gambaran pada anak saya bahwa hidup tidak mudah. orang tidak boleh mudah puas atas sesuatu yang dicapai, karena hidup ini isinya ya perjuangan sampai akhir hayat. membiasakan diri bekerja keras menurut saya adalah baik adanya daripada kit amembiarkan kemalasan tumbuh dalam diri anak- anak kita.
Dan dalam golden age ini, saya berusaha semaksimal mungkin membiasakan Lulla untuk bekerja keras, karena insyalah bisa ia lekatkan dalam ingatannya dan ia tanamkan semangat ini seumur hidupnya. Intinya menjadikan bekerja keras adalah kebiasaan dirinya.

Thursday, May 31, 2012

Peran Ayah dan Mengasuh Anak

Suatu sore saya datang menghadiri Kultum di masjid kantor, acara rutin yang diselenggarakan oleh pengurus masjid kantor. kali ini tema pembahasannya pendidikan anak. Saya type orang yang suka sekali dengna hal2 berbau parenting, menarik untuk disimak.
Biasanya untuk urusan mendidik anak, maka ibu yang yang seolah di kultuskan sebagai ujung tombaknya, tapi kali ini si ustadz mengetengahkan sasaran yang menarik, yaitu ayah sebagai ujung tombak pendidikan anak. mengapa? Selain karena ia mengacu pada banyaknya kisah ayah-anak di Al Quran yang banyak, ia pun melihat dari aspek psikologis anak akan lebih pede dengan kehadiran ayahnya.
Kenapa kita sering mendengar bahwa perceraian orang tua bisa berdampak buruk bagi perkembangan anak?nah saya mendapat jawabannya disini. Seorang anak memang selayaknya tumbuh di keluarga yang utuh, dimana figure ayah dan ibu lengkap tersedia untuk mereka amati, dan hal itu bs tidak terwujud disituasi keluarga yg tidak utuh.
Ini koreksi buat saya dan suami, yang awalnya kami mengkotakkan bahwa urusan anak2 itu urusan saya, suami taunya beres. Ternyata gak semuanya hal itu bener adanya.
Untuk urusan anak, idealnya harus ada pembagian peran, saya dan suami berbagi porsi pengasuhan, idealnya semacam itu, dan kami pun memang sudah merubah situaasi ke arah itu meski belum juga total sempurna.
Sewaktu saya melahirkan Brave, memang kami sepakat, kehadiran suami saya harus kongkrit dirasa oleh Brave, Brave harus dekat dan intim dengan papanya. Tujuannya agar Brave menjadikan papa nya sebagai rolemodel. Ia harus akrab sama papa nya, untuk itu pola yang tadinya semua urusan anak saya yang handle, sejak itu kami ubah.
Suami saya pelan2 ambil bagian dalam ngurus Brave, sekarang aturan di rumah cukup jelas, tiap pagi tugas suami saya adalah memandikan Brave, sepulang kerja jika Brave belum tidur tugas suami saya menimang Brave sampai tidur. Jadi memang suami saya terlibat betul dengan pengurusan Brave, tidak seperti waktu Lulla kecil dulu. Kami yang minim pengetahuan dan begitu banyaknya orang yang siap membantu membuat suami saya berada pada urutan terakhir dalam mengasuh Lulla. Efeknya jelas kami rasa sekarang, Lulla lebih mencontoh saya pada semua hal, dan ia lebih bisa memahami apa yang saya katakan daripada papa nya. Ini kurang seimbang. Terlebih lagi, Lulla kurang percaya diri, tidak suka kegiatan fisik seperti bersepeda dan man keluar rumah,dan yang parahnya Lulla tidak punya keagresifan lelaki saat harus melawan teman2 lelakinya yang kerap nakal,  itusemua karena kurang stimulus yang harusnya ia dapatkan dari papa nya. jadi pendapat si ustadz ada benernya, anak2 perlu mengadokpsi gaya sikap laki2 yang ada pada diri seorang ayah, bagaimana kaum lelaki berfikir secara logis, bagaimana lelaki marah dengan perempuanmarah kan berbeda, jadi kebayang gak kalo seorang anak laki2 menumpahkan rasa marahnya ala perempuan karena minimnya role model dari ayahnya?kan jadi konyol. hal- hal ini yang harus kami perbaiki di pengasuhan Brave yang kebetulan memang anak laki- laki.
Sekarang suami saya kerja keras mengejar ketinggalan itu, maka untuk urusan Lulla seperti les dan lainnya, suami saya banyak melibatkan dirinya. Mudah2an tidak terlalu ketinggalan.
Nah berbicara mengenai peran ayah, ternyata apa yang kami rasakan belakangan ini bahwa peranan ayah itu begitu penting, ini benar adanya, seorang ayah harusnya memiliki kewajiban yang sama dengan ibu dalam hal pengasuhan anak. namun yang kita lihat dilapangan kan berbeda. Banyak kalangan ayah yang sampai rumah benar2 tidak mau berurusan dengan anak. bahkan mertua saya berkisah bahwa kakek suami saya dulunya setiap pulang kerumah dan makan, anak2 nya tidak boleh menggangu, bahkan kakek suami saya itu total tidak ikut pola pengasuhan yang terjadi di rumah, gak tau apa2 tentang perkembangan anak, tau2 gak sadar anakanya udah pada besar saja. Sedikit banyak pola itu diadopsi oleh mertua saya, mertua saya jadi tidak familiar dekat dengan anak2nya, sampai anak2nya dewasa pun mertua saya tidak terbiasa menjadi teman curhat atau tempat berkonsultasi bagi anak2nya. Pada keluarga saya juga terjadi hal yang mirip, papa saya cenderung jadi orang terakhir yang tau tentang kami dibanding mama saya, karena sejak kecil papa saya memang tidak memposisikan sebagai pengasuh kami. Papa cenderung menjalankan tugas sebagai pencari nafkah dan pemberi izin jika kami memerlukan izin keluar dan bepergian.
Kasian sekali saya melihat papa saya dan papa mertua saya saat ini, peran mereka disaat anak2 dewasa jadi terasa nomor dua dibanding para mama. Ini semua menurut saya terjadi karena proses interaksi yang dibangun sejak anak2 kecil. Anak2 selalu diserahkan kepada para ibu, si ayah terima bersih hanya mau dekat anak di kondisi ideal, misalnya si anak lagi gak bersedih dan di kondisi yang sudah rapih, giliran disaat mood anak lagi down, anak sakit, anak lagi butuh bantuan, semua ditangani oleh ibunya,maka memori akan orang paling setia buat anak2 adalah ibunya, si ayah menjadi tidak menonjol.
Jadi para bapak harusnya berfikir lagi jika mau menjalankan pola lama tentang interaksinya dengan anak, saat anak2 masih kecil inilah saatnya merekatkan ingatan anak2 akan peran ayah, jangan sampai dimata anak2 peran ayah hanya si pencari nafkah dan pemberi izin, ternyata setelah anak2 dewasa ingatan akan hal itu tidak membekas sama sekali di benak anak. para ayah hanya akan menjadi orang nomor kesekian dibenak anak2nya.
jadi sebelum para ayah merasa kelak anak2 setelah dewasa durhaka, ada baiknya saat anak2 kecil lakukanlah peran sebagai ayah yang baik, jangan sampai kita menuntut anak tidak durhaka ketika mereka besar ternyata dimasa mereka kecil ayahnya malah menjadi orang tua yang durhaka karena hanya mau kebagian bagian yang 'enak'nya saja, sementara disaat sulit ayah cenderung 'cuci tangan'.

Thursday, November 4, 2010

Menghadapi Teman Berkebutuhan Khusus

Putri saya bersekolah di sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus dalam hal ini anak autis. Sudah sangat umum anak autis diterima di sekolah normal. Tentunya anak autis mempunyai porsi pendidikan lain selain di sekolah normal,mungkin ada theraphy theraphy lain yang dapat menstimulus kemampuan social anak-anak semacam ini. Saya salah satu kelompok orang yang setuju dengan adanya anak autis yang mulai digabung dengan anak normal, asal kondisi pendukungnya juga memadai, seperti adanya pengawasan dan pendampingan dari guru shadow yang mumpuni.

Keberadaan anak autis diantara anak-anak normal kerap dianggap miring oleh beberapa orang tua murid, mungkin karena prilaku anak autis yang kadang tak terkendali membuat kecemasan tersendiri bagi para orang tua murid lainnya.
Saya pun kadang agak kawatir, tapi rasa kawatir kita tidak dapat kita jadikan pembenaran jika kita tidak memberi kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk berkembang. Mereka butuh latihan untuk hidup normal dan memahami aturan main di kehidupan sosial, dan itu bisa mereka pelajari dengan berbaur dengan anak normal. Jadi saya mencoba mengenyahkan rasa kawatir saya dan mencoba untuk mensupport pihak sekolah untuk memanage dengan baik keberadaan anak berkebutuhan khusus ditengah-tengah anak normal.




Namun di perjalanannya ternyata enggak mudah, putri saya sejak duduk di kelas A kebetulan sekelas dengan seorang anak autis. Dan kebetulan pula anak autis ini memiliki prilaku yang agak agresif,terutama pergerakan tangannya yang begitu kuat dan cepat. Sehingga anak ini sering tanpa sadar mendorong temannya terutama bila sedang excited dan senang. Dan pada tahun lalu Lulla menjadi ‘korban’ keaktifan ini,ia mendorong Lulla saat Lulla akan mengambil wudhu di sekolah, sehingga dengkul Lulla menabrak pembatas keran wudhu. Akibatnya dengkul Lulla memar dan Lulla otomatis menangis sehingga harus di amankan di UKS.

Sepulang sekolah saya mendapat surat laporan ‘kecelakaan’ tersebut, saya kaget dan jelas prihatin dengan luka memar yang Lulla alami. Tapi ada luka lain yang harus saya tangani selain memar ini,yaitu trauma, saya kawatir Lulla trauma terhadap anak autis itu. Ini ‘luka dalam’ yang harus segera di recovery,krn jika Lulla trauma, ia bisa enggan ke sekolah atau bergabung dengan teman-teman sekelasnya,ini kan jadi masalah. Alhamdulilah dari obrolan dan motivasi yang kami berikan, Lulla tidak trauma atau takut berhadapan dengan anak itu, ia pun dengan tegas mengatakan ia memaafkan anak itu. Dan kami juga akhirnya menjelaskan kenapa anak itu berprilaku demikian,kami menjelaskan secara garis besar mengenai penyakit autis,dan sekali lagi saya bersyukur Lulla memahami dan menganggap temannya itu bukan anak nakal,ia memaklumi kekurangan itu.

Ternyata kejadian kecelakaan itu menimbulkan reaksi yang cukup heboh dikalangan orang tua murid lain, berita menyebar bagaikan angin di kalangan ibu-ibu yang rajin kumpul di sekolah. Saya juga heran kenapa bisa seheboh itu, intinya ibu-ibu meributkan dan mengecam keberadaan anak itu disekolah.Sampai ada yg menghubungi saya ke handphone dan mendorong saya memanfaatkan moment itu agar pihak sekolah memisahkan anak autis tersebut. Jelas saya menolak, bukan apa-apa, itu terlalu konyol.
Buat saya, ini bentuk latihan bagi anak saya juga untuk bertahan menghadapi teman-teman yang berbeda dengannya,ia harus punya strategi dan keberanian menghadapi hal-hal seperti itu. Sungguh bukan berarti saya gak sayang anak saya,tapi saya percaya ini adalah bagian dari belajar.Selain itu sangat tidak manusiawi jika kita mengkotakkan anak semacam ini,ia tetap punya kesempatan dan hak yang sama toh untuk berkembang?

Rupanya reaksi diam saya membuat para ibu itu tidak kehabisan akal,mereka mulai melancarkan entah aksi apa sehingga suatu hari saya mendapat telepon dari ibu anak autis tersebut,ia dengan suara tersendat meminta maaf atas kejadian tersebut. Ya Tuhan disitu saya merasa ikut bersedih,saya saja tidak bereaksi,lantas kenapa ibu-ibu lain justru yang protes pada orang tua anak itu?kalo pun mau disalahkan kita bisa menyalahkan shadow yg bertugas mengawasi anak itu,artinya ia lalai,jadi bukan menyalahkan anak autis itu,anak itu kita tau memang punya kekurangan.

Setahun berselang,anak saya kembali dimasukkan dalam kelas yang sama dengan anak autis itu,saya menganggapnya tidak big deal. Dan kejadian serupa pun terjadi meski efeknya tidak sebesar efek yang pertama.Lulla nampak fine, selang beberapa minggu kejadian lagi, dan pelaku serta korbannya masih sama. Saya pun menanggapinya masih biasa,sepanjang Lulla fine ya gak apa-apa. Saya paling memotifasi dirinya untuk bisa menghadapi anak itu,jika perlu lebih waspada jika dekat dengan anak itu,takut anak itu reflek mendorong Lulla sebagai ekspresi gemasnya melihat Lulla.
Namun saya sangat kesal ketika kembali lagi masalah yang ada menimbulkan reaksi lagi dari para ibu-ibu di sekolahan. Dan kali ini saya mulai tidak suka karena mereka jadi menyalahkan pihak sekolah karena menerima anak seperti ini yang mereka anggap mengganggu.Kejadian ini yang lantas membuat saya menyurati pihak sekolah untuk berhati-hati apabila ada issue-issue panas semacam ini merebak dikalangan orang tua murid. Saya intinya mengingatkan pihak sekolah untuk be aware.

Disini saya berfikir, betapa menjadi orang tua yang dikaruniai anak-anak normal dan sehat cenderung membuat manusia hilang empati pada orang lain. Padahal memiliki anak yang normal harusnya kita syukuri dengan sangat dan bentuk dari rasa syukur itu kita harusnya membagi dengan orang yang mungkin gak seberuntung kita. Jangan malah mengecam dan menyudutkan. Ini pemahaman yang saya rasa gak wise.
Harusnya pada semua kejadian kita melihat dari sisi positif lalu kita pelajari hal negatifnya untuk menjadi pelajaran berharga. Keberadaan anak dengan kebutuhan khusus dan berprilaku berbeda di tengah-tengah anak-anak normal harusnya jadi ajang belajar bagi anak-anak kita,berikut poin yg saya pikir bisa kita tanamkan pada anak-anak kita:

1. Kenalkan kepada anak-anak kita bahwa manusia itu berbeda-beda, ada yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan. Ajari anak untuk respect terhadap hal itu.
2. Ajari anak untuk berani menghadapi situasi yang sulit, jangan sampai kita meng-kotakkan anak kita ke dalam situasi yang selalu aman tanpa konflik dan masalah. Dengan kesulitan mereka belajar bertahan,dengan adanya masalah mereka belajar menyelesaikan masalah.
3. Tanamkan keberanian pada anak untuk menghadapi situasi dan prilaku orang seperti apapun itu.Stimulus ia untuk survive dan mencari strategi menghadapi orang di dunia luar sana.
4. Tumbuhkan rasa kasih sayang dan emphaty terhadap orang yang tidak beruntung di hati anak kita,kondisi teman yang berkebutuhan khusus adalah sesuatu yang layak mendapat emphaty dari anak kita.

Demikian para bunda, sedikit coretan dari saya, saya juga orang tua yang terus belajar dari anak,dari mereka saya banyak terinspirasi untuk menjalani hidup di masyarakat maupun di karier saya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya…cao!

Tuesday, June 29, 2010

a lot of stories...

Lama saya gak nulis disini,banyak yang telah terjadi, huh u huw..banyak terjadi kayak apa aja.
Pertama soal gegernya negeri ini akan beredarnya vido porno yang dilakoni artis kenamaan, bahkan dua diantaranya (ada 3 pelaku) adalah orang- orang yang cukup saya kagumi, yeaaay....Ariel peterpan yang menurut saya cukup genius dalam menciptakan lagu dan Luna maya si mata indah, artis bermata paling indah menurut saya. Well, mungkin pendapat saya sama dengan jutaan orang lainnya, sehinga ketika meledaknya kasus video itu,maka luluh lantaklah semua pembritaan nasional, didominasi oleh berita video itu.kasus politik, kisruh kisruh KPK,kepolisian,Korupsi yang dilakukan oleh karyawan pajak si milyarder kagetan Gayus tambunan, semua seolah pyarrrrrrrr oleh berita ini. Sejak pertama bergulir hanya itu kekawatiran saya, yaitu tertutupnya kasus Negara lainnya karena si video gak pantas itu,dan terbukatilah, masyarakat seolah menengok video itu,kasus kasus penting yang lainterabaikan lah,luput dari pandangan.Saya akui kasus ini penting,karena merusak moral anak bangsa kalo didiamkan,tapi diperkarakan bukan berarti peredaran video itu tidak dihentikan, walau bagaimana semua pihak harus mendapat ganjaran, sama-sama kita dalam semangat yang sama anti pornografi!semalatkan mental anak-anak kita kelak…



Kedua, soal Lulla ku yang sudah menginjak kenaikan kelas menuju TK B. Saat ini ia sedang menikmati liburannya. Gak kemana-mana kok, hanya ke Puncak saja weekend ini (3 dan 4 juli 2010), sisanya ia habiskan dengan kursus melukis di Mitrahadiprana Kemang. Saya sengaja atur kegiatan untuknya di pagi hari,sama aja kayak jam pergi sekolah. Kesannya saya kejam ya?anak liburan kok disuruh kursus.
Gak gak gitu, jgn salah paham dulu sama saya, ide aawalanya adalah saya ingin Lulla punya kebiasaan untuk selalu aktif.Saya rada gak suka sama orang yang punya kebiasaan membuang- buang waktu untuk bermalas-malasan. Okelah jika weekend, tapi kalo sepanjang hidupnya ia malas-malasana dan tidak menghargai kehidupan yang diberikan Allah, saya gak setuju. Jadi sejak kecil saya mengajarkan Lulla untuk mampu memanfaatkan waktu yang dia miliki untuk sesuatu yang berguna yang mampu meng improve dirinya. Dengan adanya waktu libur selama 3 minggu,saya gak mau melihat Lulla membiasakan diri bangun siang, selain alasan yang tadi saya sebutkan, saya juga gak mau ketika nantinya tiba mulai masuk sekolah lagi Lulla jadi sulit dibangunkan kalo pagi hari.Saya lagi yang repot.


Ide kursus harus benar-benar dicermati oleh orang tua, mengisi liburan anak dengan kursus gak boleh sembarangan ditentukan oleh orang tua. Kembali lagi tanyakan pada anak, akan minatnya kegiatan apa?lukis kah, menari,berenang,bola,robot,bahasa,music atau apa?
Sebelum anda menawarkan ada hal mendasar yang perlu dilakukan, mulailah kenali hobby anak anda sejak dini,jika anda mengenal apa minat anak anda,maka mulai lah perkenalkan kegiatan-kegiatan realnya. Misalnya,pada anak laki-laki ada yang suka mainin bola, gak ada salahnya sekali-kali sejak ia bisa berjalan perkenalkan permainan bola di rumput lapangan terdekat dengannya,seiring bertambahnya umur gak ada salahnya jika ia mulai diperkenalkan permainan bola di tv lalu aturan main bola.Jika itu memang minatnya ia kan memilih minat itu untuk menjadi hobbynya.
Jika anak suka menyanyi, gak ada salahnya anda mulai memperkenalkan alat music, insyallah lambat laun stimulus anda akan berjalan.







Tapi sekali lagi, jangan memaksa,biarkan anak anda melakukan karena ia ingin dan terhibur selama melakoninya.
Apa yang menurut anda baik belom tentu disukai anak anda, jadi gak ada gunannya memaksa nak-anak atas hobby yang ia tidak suka.
Sekedar tips dari saya…back to Lulla, ia mengikuti kegiatan melukis sejak holiday tahun lalu, ia kepincut dunia corat coret ini sejak 7 bulan, ia sudah kenal pensil warna.anehnya itu pensil sudah dia pahami untuk menggambar bukan digigit gigit. Sejak itu saya mulai menstimulus dengan menyiapkan fasilitas seperti menyediakan alat gambar,buku sketsa dan lainnya. Kami bahkan mengapresiasikan untuk menempel karyanya di pintu kulkas.Ia makin semangat.
Lalu setelah ia berumur 4 tahun kami mengajak nya untuk menghabisi liburan dengna melukis, dan ia sangat semangat karenanya. Ia semangat untuk membuat karya terbaik nya. Maka ia pun menjadi tidak sabar tiap kali harus datang ke Mitrahadiprana..
Gak terasa mulai 12 Juli ia duduk di kelas B,ia masih kerepotan membaca kalo kata-katanya panjang,ia mulai menyukai menghitung menggunakan metode jarimatika, dan yang selalu stabil adalah maslah art.

Masalah di sekolah, ia baru-baru ini berkonflik dengan teman yang membuat gank (omaigat anak tk bikin gank?), saya selaku orang tua gak mau juga membuat anak saya takut menghadapi prilaku teman seperti itu (rada suka bullying dan mengganggu) tapi juga saya gak mau membuat anak saya jadi dendeman,jadi saya mengajarkannya untuk tetap jadi diri sendiri dan memperbanyak teman, kaloa da yang nyebelin ya tinggalkan,masih banyak teman lain.Sofar Lulla sukses melalui nya.Dan siapa sangka hasil rapornya bagus,begitu banyak pujian sekolah terhada[pnya, terutama kemampuannya menangani konflik dan kedewasaanya dalam bersikap.Sungguh rasa malu menjalari saya, saya gak banyak waktu untuknya,tapi ia berkembang dengan dewasa dan bijaksana, darimana ia belajar semua itu?



Ya itulah perkembangan saat ini, saya masih di pekerjaan saya,ngurus karyawan, saya belom juga hamil dan ini membuat saya jadi begitu kepikiran, dan saat ini Tori sedang banyak-banyaknya membela klien di persidangan dan persidangannya di daerah pula, jadi semingu kami hanya bertemu 2- 3 hari saja di rumah…
Ya begitulah ulasan dan pemanasan saya untuk kembali menulis..cao!

Friday, April 16, 2010

Orang Tua Yang Diktator...

Masih jaman kah kata dictator disandang oleh orang tua?

Seinget saya dengan tumbangnya rezim Soeharto harusnya rezim orang tua diktator juga berlalu..eheheh..tapi ternyata enggak ya,masiih aja banyak orang tua yang kekeuh memerankan sebagai figure diktator dimata anak-anaknya.Basi sih emang..tapi kesian juga kalo masih gak sadar..

Saat ini saya sudah berubah peran menjadi orang tua,saya punya anak yang harus saya didik,tentu saya terus belajar bagimana membuat pola didik yang nantinya membentuk anak anak yang soleh/soleha,berakhlak mulia,sukses hidup dunia dan akhirat. Standarlah..impian semua orang tua terhadap anaknya.

Sedikit flashback, saya tumbuh dan lahir dari keluarga yang gaya didiknya masih rada jadul,artinya masih terselip nuansa diktatorisme di keluarga saya,well jujur saja,papa memerankan tokoh antagonis dictator itu.namun gak mutlak juga itu terjadi,karena mama saya adalah sosok ibu yang mampu menampung aspirasi anak2nya dan memperjuangkannya ke papa,akhirnya papa pun tidak mutlak diktator.Apalagi setelah kami anak2 papa mama selesai kuliah,orang tua saya cenderung meminta kami menata hidup dan memilih jalan hidup sesuai hati nurani kami,dan setelah kami menikah orang tua mempercayakan kami mengatur kehidupan kami sendiri. Mereka menghormati keberadaan pasangan kami masing-masing,mereka pun mencoba memposisikan kami sebagai orang dewasa yang sudah harus bertanggungjawab dunia dan akhirat. Yang jelas, Papa mama cuma mengingatkan bahwa kami harus patuh pada norma social dan norma agama yang kami anut. Orang tua saya tidak pernah mengatur saya mau berkarier dimana,saya mau beli rumah dimana,saya mau pilih mobil apa,saya mau punya anak berapa,dan segala urusan domestic lainnya. Begitu juga saya lihat dari apa yang dirasakan oleh suami saya maupun ipar saya lainnya baik ipar perempuan maupun laki-laki. Kalo orang tua saya bermasalah gak mungkin ipar perempuan saya betah seatap dengan papa mama saya. Yang saya kagumi, orang tua saya menjadikan semua menantu selayaknya anaknya sendiri tanpa ikut-ikutan mencampuri urusan rumah tangga si anak,seberapa pun dekatnya hubungan yang ada. Jadi kesan papa saya diktator itu hanya hidup ketika saya berusaia belia,masih di usia sekolah. Dan setelah itu papa menjadi orang yang human sekali,seorang kakek yang dicintai oleh menantu dan cucu2 yang dimiliki.

Demikian halnya dengan mertua saya, sosok yang merupakan orang tua saya. Papa in law saya, cenderung manut sama anak,di usia yang lanjut dan status duda, papa cenderung memilih ikut anak, memasrahkan hidup diurus oleh anak dan menantu.Enam tahun sudah saya jadi menantunya,papa inlaw saya gak pernah kelihatan memaksakan kehendak maupun mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya.Papa menghormati semua perbedaan yang dimiliki oleh menantu menantunya. Dan tidak heran saya melihat semua menantu dan cucu2 yang dimilikinya,menyayangi beliau.

Persamaan lain yang dimiliki orang tua saya dan mertua saya adalah,mereka menikmati masa tua karena mereka mampu mempercayakan anak-anaknya untuk mewakili mereka dalam menyelesaikan masalah yang ada. Contoh:ketika orang tua saya akan menikahkan anak bungsunya,papa mama saya tidak pusing,karena ketiga anaknya yang sudah menikah mampu mengurus semua keperluan mulai dari pendanaan sampai pelaksanaan. Contoh lagi : ketika mama inlaw saya sakit sampai meninggal dunia,papa inlaw saya tidak pusing mulai dari masalah pembiayaan sampai dengan pelaksanaan penguburan dan lainnya,anak-anaknya menyelesaikan semua urusannya. Papa hanya tinggal mengecek perkembangan yang ada,dan semua pun beres oleh anak-anak.

Saya memperhatikan itu semua, saya merasa betapa kedua orang tua yang saya punya ternyata benar-benar menikmati masa tuanya,anak-anak yang didiknya mampu berbakti kepada mereka dan mereka menikmati itu dihari tuanya.



Saya berfikir,apa yang membuat mereka seberuntung itu?

Ternyata kuncinya, para orang tua terbisa menghormati pendapat anak,orang tua melatih anak-anak untuk menjadi pemimpin yang tangguh.

Simple memang,tapi sungguh berat menjalaninya pada kondisi nyata. Para orang tua saya mampu untuk mengesampingkan egosentris mereka selaku orang tua,mereka mampu mengesampingkan pemikiran bahwa mereka adalah orang yang lebih dulu menjalani hidup,orang yang lebih dulu tau mana yang benar dan salah,dan orang yang memiliki pengalaman lebih banyak. Dan dengan kesemua yang mereka miliki,mereka tidak bersikap selaku orang tua yang paling tau segalanya,orang tua yang selalu benar dan orang tua yang merasa pendapatnya harus dijalankan oleh semua anaknya. Alhamdulilah sikap diktator itu tidak tumbuh menggurita dalam diri kedua pasang orang tua saya.

Para orang tua saya hanya sedikit memainkan peran agak keras kepada kami saat usia kami yang belia,dimana kami semua selaku anak-anaknya dilatih disiplin.Dan saya sepakat melatih kedisiplinan memang harus dengan ketegasan tersendiri. Setelah kami bisa berfikir sendiri dan sudah dianggap dewasa kami bebas mengemukanan keinginan kami,boleh membuat pilihan ,dan mulai diberi tangungjawab untuk menyelesaikan masalah sendiri, namun semua itu harus dengan catatan, asalkan…sesuai dengan norma agama dan norma social, serta mampu mempertanggungjawabakan resiko yang ada. Lalu setelah kami menikah, orang tua menghormati kami selaku entitas yang berdiri sendiri, sehinga mereka menghormati pilihan kami,keputusan kami dan jalan hidup yang kami jalani.

Saya mulai paham hal itu,maka saya terapkan pada Lulla, dari mulai hal-hal kecil kami menstimulusnya untuk bisa membuat keputusan untuknya sendiri. Lulla sudah mulai saya ajak diskusi. Ketika kami ingin ia memiliki kegiatan ekstra,saya menawarkan les piano,tapi ia menolak,ia memilih ballet.Saya dan suami menghormati keputusannya,meski saya akhirnya memberi segudang wejangan,saya gak mau dia malas-malasan dan main-main saat latihan.Dan ia terima apa yang saya sampaikan,setelah berjalan setahun,Lulla berhasil serius mengikuti les balletnya,ia adalah satu-satunya peserta yang sudah mampu stand dengan posisi kaki yang paling sempurna.Ia menjiwai apa yang menjadi pilihannya.

Begitu juga dengan les membaca,ia mengikuti kelas di sebuah lembaga,kemudian kami berniat memindahkan di lembaga kursus serupa yang baru buka di komplek kami,ia menolak,dengan alasan dia sudah ‘match’ sama teman les di tempat sekarang,padahal tempat les yang sekarang itu lokasinya jauh.Akhirnya saya membiarkannya memilih,tapi saya ajukan syarat,dia harus ambil konsekuensi untuk bangun tidur siang lebih awal dan menjalani perjalanan selama setengah jam tanpa mengeluh capek,dan saya minta progres kemajuannya menulis (tulisannya masih besar-besar belom bagus) dan kalau ia tidak commit lebih baik pindah les di komplek saja. Dia commit atas syarat saya,dia gak lagi ngambek kalo dibangunin tidur siang pas mau berangkat les,dan dia lebih rajin melatih tulisannya agar kecil kecil dan rapih.

Disinilah saya belajar, orang tua memang sebaiknya tidak terus menerus memainkan peran sebagai diktator,alias pihak penguasa yang berhak mengatur dan selalu ingin tau semua aspek hidup anaknya teutama anak yang sudah menikah. Sedari kecil anak harus belajar untuk membuat keputusan dan secara konsekuen menerima resikonya. Ini akan melatih EQ anak,memang dari semua pilihan anak pasti ada kalanya mereka membuat pilihan yang mungkin gak menguntungkan bagi dirinya,disinilah letak anak belajr logika.Pengalaman akan membangun seseorang bukan?baik pengalaman yang menguntungkan dan merugikan.




Dari banyak contoh kehidupan yang saya temui,adanya orang tua yang bersikap diktator hanya akan membuat perpecahan apalagi setelah anak menikah,tentu orang tua gak bisa mengatur mantu seenak mengatur anak sendiri,walau bagaimana menantu bukan anak kita,tetap anak orang lain. Berbeda dengan anak kandung, mau sesakit hati apapun pada orang tuanya pasti akan mudah baik kembali,tapi kalo orang tua menyakiti menantu,akan lebih panjang urusannya,bisa-bisa pihak yang juga merasa sakit hati melebar pada keluarga si menantu. Banyak kan cerita perceraian yang diakibatkan oleh ulah mertua yang mengatur rumah tangga anaknya terlalu jauh???

Untuk itu kita selaku orang tua harus mulai terbiasa membiarkan anak membuat keputusan, mengingatkan tentu boleh tapi mengatur dan mendikte lebih lanjut,please don’t!anak bukanlah boneka yang berhak kita atur dan kita dikte seenak hati kita. Siapapun tidak ingin hidup terus menerus diatur dan tidak diberi kebebasan,semua orang ingin merdeka bukan?mengatur hidupnya sendiri, mewujudkan mimpinya sendiri, menjalani kehidupan yang sesuai kata hatinya sendiri dan hal lain yang ia tentukan sendiri secara dewasa pasti impian semua manusia normal.

Selain itu, menjadi orang tua diktator tentu akan menjadi hal yang menakutkan bagi anak maupun menantu,jangan harap anak dan menantu berani terbuka pada orang tua semacam ini,karena pasti takut jika terbuka akan ditentang atau diatur-atur,mereka akan cenderung menghindar dan mencari aman.Ujung-ujungnya anak dan menantu menjalani hubungan dengan orang tua hanya sebatas hubungan formal belaka bukan pakai hati dan kasih sayang. Lambat laun orang tua jadi sosok yang begitu menakutkan bagi anak dan menantu,jangan-jangan orang tua semacam ini pun tidak dapat mengecap hubungan harmonis dan penuh kasih dari cucu pula, untuk apa masa tua jika tidak dihabiskan dengan bahagia bersama anak dan keturunan?toh dimasa kita tua,kita akan bergantung pada anak dan menantu dan disemangati oleh kehadiran cucu cucu tercinta,jika mereka itu semua menjauhi kita dan menjaga jarak dengan kita,alangkah sedihnya masa tua kita?

Orang tua harusnya bukan menjadi sosok yang menakutkan dan menyebalkan,orang tua harusnya menjadi pihak yang mengayomi dan menjadi teman berbagi bagi anak,baik dimasa anak-anak masih kecil,remaja,dewasa dan menikah. Perlu kita semua sadari,kita memang orang tua yang lebih dulu menjalani hidup,tapi kita bukan orang yang paling benar paling hebat diatas siapapun juga,kita bukan Tuhan.