Friday, July 1, 2016
Adversity Quotient Crisis
Tuesday, February 25, 2014
Pentingnya Membangun Integrity dan Character Pada Anak
- Integrity
- Character
- Technical Skill & Language
Tuesday, November 12, 2013
Belajar Public Speaking
Kebiasaan itu terus berlangsung sampai saya lulus kuliah, padahal ketika kuliah cukup aktif di organisasi, tapi ya itu saya tidak kehabisan akal untuk cari orang lain yang bisa saya sodorkan untuk bicara di forum selain diri saya pokoknya! Sampai pada suatu titik saya mau gak mau harus memberanikan diri bicara di depan umum, saat saya jadi HRD, gak ada orang lain yang wajib menyampaikan kebijakan perusahaan selain saya, finaly saya kehabisan gaya untuk meyodorkan orang lain, maka saya pun menghadapi kenyataan, bicara di depan umum untuk pertama kalinya!
2. Kuasai Materi
Kuasai materi training yang akan anda sampaikan, untuk awalan saya anjurkan anda melakukan riset sendiri, menyusun sendiri materi anda meski anda memiliki team persiapan yang cukup. Mengapa? Karena dengan anda menyusun sendiri materi anda, anda menguasinya secara tidak langsung, anda akan hapal luar kepala, tau betul detail- detail yang akan anda sampaikan. Saat anda di hadapan audience anda bukan menjadi orang yang membacakan slide anda, tapi menjadi orang yang menjelaskan isi slide anda, ingat semakin ringkas slide anda semakin terbuka ruang lebar bagi anda untuk menjelaskan isi materi anda.
3. Hadapi Rasa Grogi
Saya percaya, trainer atau public speaker sekaliber apapun pasti memiliki rasa grogi, bohong kalau tidak. Tapi ada beberapa cara menghadapinya, pertama peganglah pulpen di salah satu tangan yang bebas, buat saya pulpen atau pointer adalah benda yang paling mungkin dipegang saat jd trainer, gak mungkin juga megang hp atau dompet kan? Heheh
4. Kenali suara anda
Maksudnya gini, ada orang yang terlahir dengan suara cempreng, nah saya salah satunya, saya kalau bicara biasa sungguh tidak enak didengar, nyanyi pun begitu, jauh dari merdu. Tapi saya realize bahwa jika saya bicara dalam keadaan,serius saya mampu mengeluarkan suara2 yang lebih dalam atau berat. Nah saya latih ini kesekian kali, sampai saya tau ini suara saya yang akan saya tampilkan di public, bukan suara cempreng berisik saya biasanya. Mengapa? Setidaknya orang butuh kenyamanan saat mendengar kita bicara, agar materi yang disampaikan dapat dicerna tanpa harus membuat telinga orang lain sakit.
5. Kontak mata
Ini masalah klasik yang sering timbul bagi public speaker, materi bagus, outlook bagus tapi gak menatap audience, justru menatap ke slide dan seolah hanya membacakan slide saja. Saya jamin trainer seperti ini hanya akan membuat audiencenya ngantuk, karena seolah tidak ada interaksi antara audience dengan trainernya. Anggaplah kita ngobrol dengan audience kita, anggaplah kita berdiskusi atau seolah kita sedang mengemukakan pendapat dihadapan mereka, dengan cara itu anda akan terus jaga kontak mata anda dengan mereka. Belakangan ini saya selalu akan menatap mata audience saya yang terlihat sudah mulai ngantuk atau sering bisik2, tujuannya agar mereka kembali focus kepada saya.
6. Lemparkan Joke dan Berita Masa kini
7. Berpakaianlah dengan wajar
Menjadi pembicara di depan umum, sungguh menimbulkan efek deg- deg an tersendiri, semua orang tampak memperhatikan kita, itu benar adanya. Orang menatap kita, untuk mereka menatap kita tanpa membuat mereka harus melemparkan pandangan aneh apalagi bisik2, cobalah berpakaian yang aman, artinya normal dan tidak mencolok, tapi rapi, resmi dan tanpa aksesoris mencolok, agar sebagai awalan anda tidak perlu cemas atas pandangan orang yang terfokus terhadap pakaian anda.
Wednesday, November 6, 2013
Kids and Gadgets
Wednesday, June 20, 2012
Melatih anak belajar sebagai bentuk kerja keras
3. Saya adalah seorang ibu yang memiliki kewajiban mendampingi dan mendidik anak saya di rumah
Alasan- alasan itu yang membuat saya merasa masih memiliki kontribusi besar dalam hasil sekolah Lulla.
Saat ini Lulla dalam golden age, saya dituntut membentuk dia untuk terbiasa dalam memperjuangkan sesuatu, meraih sesuatu, memenuhi sebuah qualifikasi tertentu, berkompetisi secara fair, perfectionis terhadap hasil kerja dan bertanggungjawab terhadap waktu. Dan proses belajar dan ujian itu harus dilihat sebagai sebuah sebuah wadah ia berlatih untuk itu semua.
Saya pun menanamkan padanya bahwa dalam hidup harus kerja keras untuk mendapat hasil terbaik, kenapa? karena hidup itu adalah anugrah Allah swt. Hidup itu ada amanah yang kita emban, yaitu waktu dan penggunaan waktu dengna sebaik mungkin adalah kewajiban terutama umat muslim. Jika saya dan ayahnya bekerja keras dengan cara bekerja mencari nafkah dan menjalani kewajiban kami mendidik anak- anak, maka seorang anak punpunya bentuk kerja keras yang tidak sama, yaitu belajar untuk meraih hasil pendidikan terbaik, dan kerja keas adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap umur yang diberikan oleh Allah.
Semester lalu ia mendapat rangking 3, tidak terlalu sempurna, saya tidak memarahinya. Saya mengucapkan selamat padanya, tapi secara fair saya mengatakan padanya bahwa saat ini ia belum maksimal bekerja keras, masih ada 2 teman lainnya yang menduduki rangking 1 dan 2. Artinya mereka lebih baik dari Lulla, Lulla harus sadar itu bahwa ia masih punya 'pe er' untuk mengejar prestasi temannya, karena inilah persaingan, yang dicari adalah yang terbaik, maka selalu semangat ntuk mengejar prestasi untuk menjadi yang terbaik adalah wajib.
Saya bukan ambisius, tapis aya secara fair memberi gambaran pada anak saya bahwa hidup tidak mudah. orang tidak boleh mudah puas atas sesuatu yang dicapai, karena hidup ini isinya ya perjuangan sampai akhir hayat. membiasakan diri bekerja keras menurut saya adalah baik adanya daripada kit amembiarkan kemalasan tumbuh dalam diri anak- anak kita.
Dan dalam golden age ini, saya berusaha semaksimal mungkin membiasakan Lulla untuk bekerja keras, karena insyalah bisa ia lekatkan dalam ingatannya dan ia tanamkan semangat ini seumur hidupnya. Intinya menjadikan bekerja keras adalah kebiasaan dirinya.
Thursday, May 31, 2012
Peran Ayah dan Mengasuh Anak
Thursday, November 4, 2010
Menghadapi Teman Berkebutuhan Khusus
Keberadaan anak autis diantara anak-anak normal kerap dianggap miring oleh beberapa orang tua murid, mungkin karena prilaku anak autis yang kadang tak terkendali membuat kecemasan tersendiri bagi para orang tua murid lainnya.
Saya pun kadang agak kawatir, tapi rasa kawatir kita tidak dapat kita jadikan pembenaran jika kita tidak memberi kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini untuk berkembang. Mereka butuh latihan untuk hidup normal dan memahami aturan main di kehidupan sosial, dan itu bisa mereka pelajari dengan berbaur dengan anak normal. Jadi saya mencoba mengenyahkan rasa kawatir saya dan mencoba untuk mensupport pihak sekolah untuk memanage dengan baik keberadaan anak berkebutuhan khusus ditengah-tengah anak normal.

Namun di perjalanannya ternyata enggak mudah, putri saya sejak duduk di kelas A kebetulan sekelas dengan seorang anak autis. Dan kebetulan pula anak autis ini memiliki prilaku yang agak agresif,terutama pergerakan tangannya yang begitu kuat dan cepat. Sehingga anak ini sering tanpa sadar mendorong temannya terutama bila sedang excited dan senang. Dan pada tahun lalu Lulla menjadi ‘korban’ keaktifan ini,ia mendorong Lulla saat Lulla akan mengambil wudhu di sekolah, sehingga dengkul Lulla menabrak pembatas keran wudhu. Akibatnya dengkul Lulla memar dan Lulla otomatis menangis sehingga harus di amankan di UKS.
Sepulang sekolah saya mendapat surat laporan ‘kecelakaan’ tersebut, saya kaget dan jelas prihatin dengan luka memar yang Lulla alami. Tapi ada luka lain yang harus saya tangani selain memar ini,yaitu trauma, saya kawatir Lulla trauma terhadap anak autis itu. Ini ‘luka dalam’ yang harus segera di recovery,krn jika Lulla trauma, ia bisa enggan ke sekolah atau bergabung dengan teman-teman sekelasnya,ini kan jadi masalah. Alhamdulilah dari obrolan dan motivasi yang kami berikan, Lulla tidak trauma atau takut berhadapan dengan anak itu, ia pun dengan tegas mengatakan ia memaafkan anak itu. Dan kami juga akhirnya menjelaskan kenapa anak itu berprilaku demikian,kami menjelaskan secara garis besar mengenai penyakit autis,dan sekali lagi saya bersyukur Lulla memahami dan menganggap temannya itu bukan anak nakal,ia memaklumi kekurangan itu.
Ternyata kejadian kecelakaan itu menimbulkan reaksi yang cukup heboh dikalangan orang tua murid lain, berita menyebar bagaikan angin di kalangan ibu-ibu yang rajin kumpul di sekolah. Saya juga heran kenapa bisa seheboh itu, intinya ibu-ibu meributkan dan mengecam keberadaan anak itu disekolah.Sampai ada yg menghubungi saya ke handphone dan mendorong saya memanfaatkan moment itu agar pihak sekolah memisahkan anak autis tersebut. Jelas saya menolak, bukan apa-apa, itu terlalu konyol.
Buat saya, ini bentuk latihan bagi anak saya juga untuk bertahan menghadapi teman-teman yang berbeda dengannya,ia harus punya strategi dan keberanian menghadapi hal-hal seperti itu. Sungguh bukan berarti saya gak sayang anak saya,tapi saya percaya ini adalah bagian dari belajar.Selain itu sangat tidak manusiawi jika kita mengkotakkan anak semacam ini,ia tetap punya kesempatan dan hak yang sama toh untuk berkembang?
Rupanya reaksi diam saya membuat para ibu itu tidak kehabisan akal,mereka mulai melancarkan entah aksi apa sehingga suatu hari saya mendapat telepon dari ibu anak autis tersebut,ia dengan suara tersendat meminta maaf atas kejadian tersebut. Ya Tuhan disitu saya merasa ikut bersedih,saya saja tidak bereaksi,lantas kenapa ibu-ibu lain justru yang protes pada orang tua anak itu?kalo pun mau disalahkan kita bisa menyalahkan shadow yg bertugas mengawasi anak itu,artinya ia lalai,jadi bukan menyalahkan anak autis itu,anak itu kita tau memang punya kekurangan.
Setahun berselang,anak saya kembali dimasukkan dalam kelas yang sama dengan anak autis itu,saya menganggapnya tidak big deal. Dan kejadian serupa pun terjadi meski efeknya tidak sebesar efek yang pertama.Lulla nampak fine, selang beberapa minggu kejadian lagi, dan pelaku serta korbannya masih sama. Saya pun menanggapinya masih biasa,sepanjang Lulla fine ya gak apa-apa. Saya paling memotifasi dirinya untuk bisa menghadapi anak itu,jika perlu lebih waspada jika dekat dengan anak itu,takut anak itu reflek mendorong Lulla sebagai ekspresi gemasnya melihat Lulla.
Namun saya sangat kesal ketika kembali lagi masalah yang ada menimbulkan reaksi lagi dari para ibu-ibu di sekolahan. Dan kali ini saya mulai tidak suka karena mereka jadi menyalahkan pihak sekolah karena menerima anak seperti ini yang mereka anggap mengganggu.Kejadian ini yang lantas membuat saya menyurati pihak sekolah untuk berhati-hati apabila ada issue-issue panas semacam ini merebak dikalangan orang tua murid. Saya intinya mengingatkan pihak sekolah untuk be aware.
Disini saya berfikir, betapa menjadi orang tua yang dikaruniai anak-anak normal dan sehat cenderung membuat manusia hilang empati pada orang lain. Padahal memiliki anak yang normal harusnya kita syukuri dengan sangat dan bentuk dari rasa syukur itu kita harusnya membagi dengan orang yang mungkin gak seberuntung kita. Jangan malah mengecam dan menyudutkan. Ini pemahaman yang saya rasa gak wise.
Harusnya pada semua kejadian kita melihat dari sisi positif lalu kita pelajari hal negatifnya untuk menjadi pelajaran berharga. Keberadaan anak dengan kebutuhan khusus dan berprilaku berbeda di tengah-tengah anak-anak normal harusnya jadi ajang belajar bagi anak-anak kita,berikut poin yg saya pikir bisa kita tanamkan pada anak-anak kita:
1. Kenalkan kepada anak-anak kita bahwa manusia itu berbeda-beda, ada yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan. Ajari anak untuk respect terhadap hal itu.
2. Ajari anak untuk berani menghadapi situasi yang sulit, jangan sampai kita meng-kotakkan anak kita ke dalam situasi yang selalu aman tanpa konflik dan masalah. Dengan kesulitan mereka belajar bertahan,dengan adanya masalah mereka belajar menyelesaikan masalah.
3. Tanamkan keberanian pada anak untuk menghadapi situasi dan prilaku orang seperti apapun itu.Stimulus ia untuk survive dan mencari strategi menghadapi orang di dunia luar sana.
4. Tumbuhkan rasa kasih sayang dan emphaty terhadap orang yang tidak beruntung di hati anak kita,kondisi teman yang berkebutuhan khusus adalah sesuatu yang layak mendapat emphaty dari anak kita.
Demikian para bunda, sedikit coretan dari saya, saya juga orang tua yang terus belajar dari anak,dari mereka saya banyak terinspirasi untuk menjalani hidup di masyarakat maupun di karier saya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya…cao!
Tuesday, June 29, 2010
a lot of stories...
Pertama soal gegernya negeri ini akan beredarnya vido porno yang dilakoni artis kenamaan, bahkan dua diantaranya (ada 3 pelaku) adalah orang- orang yang cukup saya kagumi, yeaaay....Ariel peterpan yang menurut saya cukup genius dalam menciptakan lagu dan Luna maya si mata indah, artis bermata paling indah menurut saya. Well, mungkin pendapat saya sama dengan jutaan orang lainnya, sehinga ketika meledaknya kasus video itu,maka luluh lantaklah semua pembritaan nasional, didominasi oleh berita video itu.kasus politik, kisruh kisruh KPK,kepolisian,Korupsi yang dilakukan oleh karyawan pajak si milyarder kagetan Gayus tambunan, semua seolah pyarrrrrrrr oleh berita ini. Sejak pertama bergulir hanya itu kekawatiran saya, yaitu tertutupnya kasus Negara lainnya karena si video gak pantas itu,dan terbukatilah, masyarakat seolah menengok video itu,kasus kasus penting yang lainterabaikan lah,luput dari pandangan.Saya akui kasus ini penting,karena merusak moral anak bangsa kalo didiamkan,tapi diperkarakan bukan berarti peredaran video itu tidak dihentikan, walau bagaimana semua pihak harus mendapat ganjaran, sama-sama kita dalam semangat yang sama anti pornografi!semalatkan mental anak-anak kita kelak…

Kedua, soal Lulla ku yang sudah menginjak kenaikan kelas menuju TK B. Saat ini ia sedang menikmati liburannya. Gak kemana-mana kok, hanya ke Puncak saja weekend ini (3 dan 4 juli 2010), sisanya ia habiskan dengan kursus melukis di Mitrahadiprana Kemang. Saya sengaja atur kegiatan untuknya di pagi hari,sama aja kayak jam pergi sekolah. Kesannya saya kejam ya?anak liburan kok disuruh kursus.
Gak gak gitu, jgn salah paham dulu sama saya, ide aawalanya adalah saya ingin Lulla punya kebiasaan untuk selalu aktif.Saya rada gak suka sama orang yang punya kebiasaan membuang- buang waktu untuk bermalas-malasan. Okelah jika weekend, tapi kalo sepanjang hidupnya ia malas-malasana dan tidak menghargai kehidupan yang diberikan Allah, saya gak setuju. Jadi sejak kecil saya mengajarkan Lulla untuk mampu memanfaatkan waktu yang dia miliki untuk sesuatu yang berguna yang mampu meng improve dirinya. Dengan adanya waktu libur selama 3 minggu,saya gak mau melihat Lulla membiasakan diri bangun siang, selain alasan yang tadi saya sebutkan, saya juga gak mau ketika nantinya tiba mulai masuk sekolah lagi Lulla jadi sulit dibangunkan kalo pagi hari.Saya lagi yang repot.

Ide kursus harus benar-benar dicermati oleh orang tua, mengisi liburan anak dengan kursus gak boleh sembarangan ditentukan oleh orang tua. Kembali lagi tanyakan pada anak, akan minatnya kegiatan apa?lukis kah, menari,berenang,bola,robot,bahasa,music atau apa?
Sebelum anda menawarkan ada hal mendasar yang perlu dilakukan, mulailah kenali hobby anak anda sejak dini,jika anda mengenal apa minat anak anda,maka mulai lah perkenalkan kegiatan-kegiatan realnya. Misalnya,pada anak laki-laki ada yang suka mainin bola, gak ada salahnya sekali-kali sejak ia bisa berjalan perkenalkan permainan bola di rumput lapangan terdekat dengannya,seiring bertambahnya umur gak ada salahnya jika ia mulai diperkenalkan permainan bola di tv lalu aturan main bola.Jika itu memang minatnya ia kan memilih minat itu untuk menjadi hobbynya.
Jika anak suka menyanyi, gak ada salahnya anda mulai memperkenalkan alat music, insyallah lambat laun stimulus anda akan berjalan.

Tapi sekali lagi, jangan memaksa,biarkan anak anda melakukan karena ia ingin dan terhibur selama melakoninya.
Apa yang menurut anda baik belom tentu disukai anak anda, jadi gak ada gunannya memaksa nak-anak atas hobby yang ia tidak suka.
Sekedar tips dari saya…back to Lulla, ia mengikuti kegiatan melukis sejak holiday tahun lalu, ia kepincut dunia corat coret ini sejak 7 bulan, ia sudah kenal pensil warna.anehnya itu pensil sudah dia pahami untuk menggambar bukan digigit gigit. Sejak itu saya mulai menstimulus dengan menyiapkan fasilitas seperti menyediakan alat gambar,buku sketsa dan lainnya. Kami bahkan mengapresiasikan untuk menempel karyanya di pintu kulkas.Ia makin semangat.
Lalu setelah ia berumur 4 tahun kami mengajak nya untuk menghabisi liburan dengna melukis, dan ia sangat semangat karenanya. Ia semangat untuk membuat karya terbaik nya. Maka ia pun menjadi tidak sabar tiap kali harus datang ke Mitrahadiprana..
Gak terasa mulai 12 Juli ia duduk di kelas B,ia masih kerepotan membaca kalo kata-katanya panjang,ia mulai menyukai menghitung menggunakan metode jarimatika, dan yang selalu stabil adalah maslah art.
Masalah di sekolah, ia baru-baru ini berkonflik dengan teman yang membuat gank (omaigat anak tk bikin gank?), saya selaku orang tua gak mau juga membuat anak saya takut menghadapi prilaku teman seperti itu (rada suka bullying dan mengganggu) tapi juga saya gak mau membuat anak saya jadi dendeman,jadi saya mengajarkannya untuk tetap jadi diri sendiri dan memperbanyak teman, kaloa da yang nyebelin ya tinggalkan,masih banyak teman lain.Sofar Lulla sukses melalui nya.Dan siapa sangka hasil rapornya bagus,begitu banyak pujian sekolah terhada[pnya, terutama kemampuannya menangani konflik dan kedewasaanya dalam bersikap.Sungguh rasa malu menjalari saya, saya gak banyak waktu untuknya,tapi ia berkembang dengan dewasa dan bijaksana, darimana ia belajar semua itu?

Ya itulah perkembangan saat ini, saya masih di pekerjaan saya,ngurus karyawan, saya belom juga hamil dan ini membuat saya jadi begitu kepikiran, dan saat ini Tori sedang banyak-banyaknya membela klien di persidangan dan persidangannya di daerah pula, jadi semingu kami hanya bertemu 2- 3 hari saja di rumah…
Ya begitulah ulasan dan pemanasan saya untuk kembali menulis..cao!
Friday, April 16, 2010
Orang Tua Yang Diktator...
Masih jaman kah kata dictator disandang oleh orang tua?
Seinget saya dengan tumbangnya rezim Soeharto harusnya rezim orang tua diktator juga berlalu..eheheh..tapi ternyata enggak ya,masiih aja banyak orang tua yang kekeuh memerankan sebagai figure diktator dimata anak-anaknya.Basi sih emang..tapi kesian juga kalo masih gak sadar..
Saat ini saya sudah berubah peran menjadi orang tua,saya punya anak yang harus saya didik,tentu saya terus belajar bagimana membuat pola didik yang nantinya membentuk anak anak yang soleh/soleha,berakhlak mulia,sukses hidup dunia dan akhirat. Standarlah..impian semua orang tua terhadap anaknya.
Sedikit flashback, saya tumbuh dan lahir dari keluarga yang gaya didiknya masih rada jadul,artinya masih terselip nuansa diktatorisme di keluarga saya,well jujur saja,papa memerankan tokoh antagonis dictator itu.namun gak mutlak juga itu terjadi,karena mama saya adalah sosok ibu yang mampu menampung aspirasi anak2nya dan memperjuangkannya ke papa,akhirnya papa pun tidak mutlak diktator.Apalagi setelah kami anak2 papa mama selesai kuliah,orang tua saya cenderung meminta kami menata hidup dan memilih jalan hidup sesuai hati nurani kami,dan setelah kami menikah orang tua mempercayakan kami mengatur kehidupan kami sendiri. Mereka menghormati keberadaan pasangan kami masing-masing,mereka pun mencoba memposisikan kami sebagai orang dewasa yang sudah harus bertanggungjawab dunia dan akhirat. Yang jelas, Papa mama cuma mengingatkan bahwa kami harus patuh pada norma social dan norma agama yang kami anut. Orang tua saya tidak pernah mengatur saya mau berkarier dimana,saya mau beli rumah dimana,saya mau pilih mobil apa,saya mau punya anak berapa,dan segala urusan domestic lainnya. Begitu juga saya lihat dari apa yang dirasakan oleh suami saya maupun ipar saya lainnya baik ipar perempuan maupun laki-laki. Kalo orang tua saya bermasalah gak mungkin ipar perempuan saya betah seatap dengan papa mama saya. Yang saya kagumi, orang tua saya menjadikan semua menantu selayaknya anaknya sendiri tanpa ikut-ikutan mencampuri urusan rumah tangga si anak,seberapa pun dekatnya hubungan yang ada. Jadi kesan papa saya diktator itu hanya hidup ketika saya berusaia belia,masih di usia sekolah. Dan setelah itu papa menjadi orang yang human sekali,seorang kakek yang dicintai oleh menantu dan cucu2 yang dimiliki.
Demikian halnya dengan mertua saya, sosok yang merupakan orang tua saya. Papa in law saya, cenderung manut sama anak,di usia yang lanjut dan status duda, papa cenderung memilih ikut anak, memasrahkan hidup diurus oleh anak dan menantu.Enam tahun sudah saya jadi menantunya,papa inlaw saya gak pernah kelihatan memaksakan kehendak maupun mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya.Papa menghormati semua perbedaan yang dimiliki oleh menantu menantunya. Dan tidak heran saya melihat semua menantu dan cucu2 yang dimilikinya,menyayangi beliau.
Persamaan lain yang dimiliki orang tua saya dan mertua saya adalah,mereka menikmati masa tua karena mereka mampu mempercayakan anak-anaknya untuk mewakili mereka dalam menyelesaikan masalah yang ada. Contoh:ketika orang tua saya akan menikahkan anak bungsunya,papa mama saya tidak pusing,karena ketiga anaknya yang sudah menikah mampu mengurus semua keperluan mulai dari pendanaan sampai pelaksanaan. Contoh lagi : ketika mama inlaw saya sakit sampai meninggal dunia,papa inlaw saya tidak pusing mulai dari masalah pembiayaan sampai dengan pelaksanaan penguburan dan lainnya,anak-anaknya menyelesaikan semua urusannya. Papa hanya tinggal mengecek perkembangan yang ada,dan semua pun beres oleh anak-anak.
Saya memperhatikan itu semua, saya merasa betapa kedua orang tua yang saya punya ternyata benar-benar menikmati masa tuanya,anak-anak yang didiknya mampu berbakti kepada mereka dan mereka menikmati itu dihari tuanya.
Saya berfikir,apa yang membuat mereka seberuntung itu?
Ternyata kuncinya, para orang tua terbisa menghormati pendapat anak,orang tua melatih anak-anak untuk menjadi pemimpin yang tangguh.
Simple memang,tapi sungguh berat menjalaninya pada kondisi nyata. Para orang tua saya mampu untuk mengesampingkan egosentris mereka selaku orang tua,mereka mampu mengesampingkan pemikiran bahwa mereka adalah orang yang lebih dulu menjalani hidup,orang yang lebih dulu tau mana yang benar dan salah,dan orang yang memiliki pengalaman lebih banyak. Dan dengan kesemua yang mereka miliki,mereka tidak bersikap selaku orang tua yang paling tau segalanya,orang tua yang selalu benar dan orang tua yang merasa pendapatnya harus dijalankan oleh semua anaknya. Alhamdulilah sikap diktator itu tidak tumbuh menggurita dalam diri kedua pasang orang tua saya.
Para orang tua saya hanya sedikit memainkan peran agak keras kepada kami saat usia kami yang belia,dimana kami semua selaku anak-anaknya dilatih disiplin.Dan saya sepakat melatih kedisiplinan memang harus dengan ketegasan tersendiri. Setelah kami bisa berfikir sendiri dan sudah dianggap dewasa kami bebas mengemukanan keinginan kami,boleh membuat pilihan ,dan mulai diberi tangungjawab untuk menyelesaikan masalah sendiri, namun semua itu harus dengan catatan, asalkan…sesuai dengan norma agama dan norma social, serta mampu mempertanggungjawabakan resiko yang ada. Lalu setelah kami menikah, orang tua menghormati kami selaku entitas yang berdiri sendiri, sehinga mereka menghormati pilihan kami,keputusan kami dan jalan hidup yang kami jalani.
Saya mulai paham hal itu,maka saya terapkan pada Lulla, dari mulai hal-hal kecil kami menstimulusnya untuk bisa membuat keputusan untuknya sendiri. Lulla sudah mulai saya ajak diskusi. Ketika kami ingin ia memiliki kegiatan ekstra,saya menawarkan les piano,tapi ia menolak,ia memilih ballet.Saya dan suami menghormati keputusannya,meski saya akhirnya memberi segudang wejangan,saya gak mau dia malas-malasan dan main-main saat latihan.Dan ia terima apa yang saya sampaikan,setelah berjalan setahun,Lulla berhasil serius mengikuti les balletnya,ia adalah satu-satunya peserta yang sudah mampu stand dengan posisi kaki yang paling sempurna.Ia menjiwai apa yang menjadi pilihannya.
Begitu juga dengan les membaca,ia mengikuti kelas di sebuah lembaga,kemudian kami berniat memindahkan di lembaga kursus serupa yang baru buka di komplek kami,ia menolak,dengan alasan dia sudah ‘match’ sama teman les di tempat sekarang,padahal tempat les yang sekarang itu lokasinya jauh.Akhirnya saya membiarkannya memilih,tapi saya ajukan syarat,dia harus ambil konsekuensi untuk bangun tidur siang lebih awal dan menjalani perjalanan selama setengah jam tanpa mengeluh capek,dan saya minta progres kemajuannya menulis (tulisannya masih besar-besar belom bagus) dan kalau ia tidak commit lebih baik pindah les di komplek saja. Dia commit atas syarat saya,dia gak lagi ngambek kalo dibangunin tidur siang pas mau berangkat les,dan dia lebih rajin melatih tulisannya agar kecil kecil dan rapih.
Disinilah saya belajar, orang tua memang sebaiknya tidak terus menerus memainkan peran sebagai diktator,alias pihak penguasa yang berhak mengatur dan selalu ingin tau semua aspek hidup anaknya teutama anak yang sudah menikah. Sedari kecil anak harus belajar untuk membuat keputusan dan secara konsekuen menerima resikonya. Ini akan melatih EQ anak,memang dari semua pilihan anak pasti ada kalanya mereka membuat pilihan yang mungkin gak menguntungkan bagi dirinya,disinilah letak anak belajr logika.Pengalaman akan membangun seseorang bukan?baik pengalaman yang menguntungkan dan merugikan.
Dari banyak contoh kehidupan yang saya temui,adanya orang tua yang bersikap diktator hanya akan membuat perpecahan apalagi setelah anak menikah,tentu orang tua gak bisa mengatur mantu seenak mengatur anak sendiri,walau bagaimana menantu bukan anak kita,tetap anak orang lain. Berbeda dengan anak kandung, mau sesakit hati apapun pada orang tuanya pasti akan mudah baik kembali,tapi kalo orang tua menyakiti menantu,akan lebih panjang urusannya,bisa-bisa pihak yang juga merasa sakit hati melebar pada keluarga si menantu. Banyak kan cerita perceraian yang diakibatkan oleh ulah mertua yang mengatur rumah tangga anaknya terlalu jauh???
Untuk itu kita selaku orang tua harus mulai terbiasa membiarkan anak membuat keputusan, mengingatkan tentu boleh tapi mengatur dan mendikte lebih lanjut,please don’t!anak bukanlah boneka yang berhak kita atur dan kita dikte seenak hati kita. Siapapun tidak ingin hidup terus menerus diatur dan tidak diberi kebebasan,semua orang ingin merdeka bukan?mengatur hidupnya sendiri, mewujudkan mimpinya sendiri, menjalani kehidupan yang sesuai kata hatinya sendiri dan hal lain yang ia tentukan sendiri secara dewasa pasti impian semua manusia normal.
Selain itu, menjadi orang tua diktator tentu akan menjadi hal yang menakutkan bagi anak maupun menantu,jangan harap anak dan menantu berani terbuka pada orang tua semacam ini,karena pasti takut jika terbuka akan ditentang atau diatur-atur,mereka akan cenderung menghindar dan mencari aman.Ujung-ujungnya anak dan menantu menjalani hubungan dengan orang tua hanya sebatas hubungan formal belaka bukan pakai hati dan kasih sayang. Lambat laun orang tua jadi sosok yang begitu menakutkan bagi anak dan menantu,jangan-jangan orang tua semacam ini pun tidak dapat mengecap hubungan harmonis dan penuh kasih dari cucu pula, untuk apa masa tua jika tidak dihabiskan dengan bahagia bersama anak dan keturunan?toh dimasa kita tua,kita akan bergantung pada anak dan menantu dan disemangati oleh kehadiran cucu cucu tercinta,jika mereka itu semua menjauhi kita dan menjaga jarak dengan kita,alangkah sedihnya masa tua kita?
Orang tua harusnya bukan menjadi sosok yang menakutkan dan menyebalkan,orang tua harusnya menjadi pihak yang mengayomi dan menjadi teman berbagi bagi anak,baik dimasa anak-anak masih kecil,remaja,dewasa dan menikah. Perlu kita semua sadari,kita memang orang tua yang lebih dulu menjalani hidup,tapi kita bukan orang yang paling benar paling hebat diatas siapapun juga,kita bukan Tuhan.


