Pages

Showing posts with label Social Issue. Show all posts
Showing posts with label Social Issue. Show all posts

Friday, July 1, 2016

Adversity Quotient Crisis



Yang sudah pada jadi parents kemungkinan pernah membaca tulisan Ibu Elly Risman pakar parenting anak tentang Adversity Quotient. Apakah itu? Berikut petikan saya dari tulisan beliau : 

Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya yg berjudul sama, adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.
Bukannya kecerdasan ini yg jd lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?
Perasaan mampu melewati ujian juga luar biasa nikmatnya. Merasa bisa menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tdk lagi bisa.Setelah di coba melewati kesusahan.Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit nangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan. Akui kesulitan yang sedang dia hadapi,Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan, ajari menangani frustrasi. Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel, apa yang terjadi jika anda tdk bernafas lagi esok hari?Bisa-bisa anak anda ikut mati.
Sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih
Apalagi dg menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi, jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua. Tapi sadarilah hidup penuh dengan ketidakenakan dan masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan. Melewati hujan, badai, dan kesulitan, yang kadang tidak selalu bisa kita hindarkan. Permata hanyalah arang… yang bisa melewati tekanan dengan sangat baik”

Tulisan beliau tentang hal ini sempat diringkas dalam sebuah format JPEG dan menyebar di berbagai media social. Saya bersyukur ada orang sebaik beliau sehingga berkenan membagi ilmunya untuk mengingatkan kita semua sebagai orang tua.
Anak- anak saya memang masih kecil- kecil, kakak 11tahun dan adik baru mau 5 tahun.Tapi bukan berarti saya tidak menjalani peran ibu bagi anak remaja maupun para anak muda, kenapa? Profesi saya sebagai HR dan coach yang mengharuskan saya bertemu dengan berbagai anak remaja dan anak muda beserta problematika mereka.
Bagi saya di tiap pekerjaan saya selaku ibu di rumah maupun “ibu” professional di kantor ini adalah media saya belajar.



Tulisan saya ini adalah sedikit cerita apa yang saya temui di dunia kerja saya.
Sebulan ini saya menemukan 6 kasus anak muda dengan problematikan yang berat, kisaran usianya adalah 20 – 24 tahun. Bukan anak- anak lagi, mereka sudah masuk kategori dewasa.
Dari 6 kasus ceritanya beda- beda, tapi dalam tulisan ini saya ingin membagi bahwa salah satu dari 6 anak muda  itu terdapat seorang pemuda berusia 22 tahun yang ingin saya bagi kisahnya disini.

Jika melihat dari apa yang ibu Elly tuliskan diatas, saya menyimpulkan pemuda ini mengalami Adversity Quotient Crisis, alias tidak tidak memiliki Adversity Quotient yang memadai selaku orang dewasa.
Mengapa saya menyimpulkan demikian?
Awal cerita, saya mendapat laporan dari seorang manager yang mengeluhkan bawahannya memiliki masalah dengan hasil kerjanya, hal ini diakibatkan karena rasa tanggungjawab bwahannya pada pekerjaannya tidak tampak, bawahan tersebut dinilai rapuh, sering tidak masuk kerja untuk alasan sakit- sakit ringan, bahkan kadang sulit diminta untuk mengerjakan lembur. Sebuah perusahaan konsultan seperti kami, lembur bukan sebuah hal baru yang aneh, meskipun kami tidak lembur setiap hari, tetapi di masa sibuk lembur adalah hal biasa, semacam sebuah resiko profesi. Pada  pegawai- pegawai muda lain adanya situasi lembur dijalankan dengan cukup smangat, karena mereka tau ini adalah tantangan untuk menaklukkan deadline. Saya pun ketika seusia mereka akan merasakan hal yang sama.
Namun pada pemuda ini, saya menemukan berbeda. Maka saya memutuskan untuk memanggilnya ke ruangan saya untuk menemukan masalah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya.

Dalam sesi obrolan bersama saya, anak ini mensiratkan bahwa ia tidak nyaman dengan kewajiban untuk mengerjakan deadline sampai harus  lembur karena ibunya cukup ketat mengatur perihal kepulangan anak ke rumah, karena sejak kuliah ia harus melaporkan jadwal kegiatannya dan jam pulangnya.  Ia menceritakan setiap hari hp nya harus bisa diakses oleh ibunya untuk dilakukan pengecekan, sehingga darihal itulah ibunya menaruh ketidaksukaan pada sang manager karena merasa anaknya diberikan tugas berat. Saya bertanya kenapa masih dilakukan pengecekan? Padahal kamu adalah laki2 dewasa dengan umur 22 tahun? Alasan ibunya adalah ibunya kawatir akan pengaruh yang ditimbulkan oleh media social pada anaknya, OMG! Pemuda 22 thun bukannya sudah mampu memilih mana yang baik dan tidak? Pada banyak kasus pemuda 22 tahun malah sudah memberanikan diri melamar gadis.
Ibu anak ini sangat tidak mengizinkan anaknya untuk mengikuti aturan main dalam team untuk bekerja keras mencapai target, padahal dalam masa sibuk bukan anak ibu ini saja yang  morat marit mengejar dealine.

Anak ini pun ketika saya gali lebih lanjut menyampaikan bahwa sepanjang hidupnya ia tidak pernah membuat keputusan sendiri, semua hal diputuskan oleh keluarganya bahkan paman dan bibinya ikut ambil bagian untuk memutuskan. Masuk kuliah, jurusan yang dituju dipilihkan;  mau ujian tugas akhir,  dosen pembimbing dipilihkan yang dikenal keluarga;  mau magang pun diambil alih untuk dibantu pamannya yang memiliki koneksi ke perusahaan kami;  termasuk ketika si anak mengalami situasi harus lembur si ibu dan paman bibinya sibuk mencarikan tempat kerja baru agar si anak tidak menemui situasi kerja yang memiliki konsekuensi lembur pada kondisi deadline. Ia bercerita, dalam sebuah kondisi ketika ia sedang membawa pulang pekerjaanya untuk dikerjakan, pamannya ikut membantu ia mengerjakan, padahal yang saya tau pekerjaanya anak ini masih seputar entry level, pekerjaan administratif yang hanya membutuhkan ketekunan, namun keluarganya tidak mengizinkan anak ini mengasah ketekunan dan ketelitiannya dengan cara mengambil alih pekerjaan dengan dalih agar cepat selesai.

Saya mendengarkan anak ini bertutur dalam perasaan yang entah gak karuan, ia bukan anak saya, bukan pula keluarga saya, namun saya seperti prihatin memikirkan kekuatan anak ini menerjang badai hidup di kemudian hari jika ibu, ayah, paman dan bibinya tidak lagi mampu membantunya, akan jadi apa pemuda seperti ini?
Jangankan untuk memikul tanggungjawab membenahi bangsa, jangan- jangan pemuda2 seperti ini malah akan jadi PR bagi bangsa ini karena tidak memiliki Adversity Quotient yang memadai? Bagi saya saja selaku pemberi kerja saya enggan memberi pekerjaan dengan orang seperti ini, karena ia cenderung tidak mampu melangkah bersama perusahaan, ia tidak mampu mengikuti ritme kerja kebanyakan orang, ia tak mampu memiliki kekuatan yang dimiliki umumnya anak seusianya dalam mengemban tanggungjawab. Jika saya memaksakan, anak semacam ini hanya akan menjadi penghambat bagi team kerja. Kapasitas keilmuan anak ini pun sulti dikembangkan, karena setiap mau menginjak fase baru dalam penambahan kapasitas, ia selalu gagal dalam memantain semangat belajar, ia tak mampu berkorban untuk itu. Pada kasus anak ini, sayamengecek pada potensi IQ nya, saya prihatin bahwa Allah menitipkan kapasitas berfikir yang cukup dan memadai,namun dalam pandangan kami, ia tak lebih dari orang yang kurang memiliki potensi yang gemilang, kemampuan kerjanya minim, tangungjawabnya rendah, dan mental kerjanya tidak bisa diperhitungkan. Kasihan skali anak ini?

Ini masalah serius, saya sadar manusia tidak luput dari masalah, itulah yang menguatkan manusia dari hari ke hari. Kita makin dewasa, makin matang dan bijaksana karena kita mampu melewati masalah demi masalah dengan baik. Contoh sederhana adalah latihan beban fitness, untuk membentuk otot yang kuat kita ditempa dengan latihan- latihan berat sehingga kita bercucuran keringat dan mengalami lelah fisik, namun itu ternyata itu satu- satunya caraa yang baik untuk kita membentuk fisik yang perfect, memangkas lemak2 tak perlu, menimbulkan banyak manfaat untuk kesehatan jantung otot dan seluruh tubuh.

Jika untuk membuat tubuh sehat pun kita harus tertempa dengan kesulitan, lantas apakah untuk membentuk mental yang kuat kita lakukan dengan santai?
Ini pola pikir yang harus diubah. Anak- anak perlu menghadapi masalahnya sendiri, jika kita tak mampu membairkannya menyelesaiakn sendiri, cukup hadir sebagai coach yang mendampinginya saat masa sulitnya, meski dia tetap harus sendiri menghadapinya. Kelak toh ia akan sendiri, saat kita tak ada mereka akan tetap hidup diatas kaki, kemampuan, pemikian, dan kekuatan mereka sendiri.

Mulai hari ini, selain IQ, EQ, SQ, jangan lupa kita bangun AQ untuk anak- anak yang tangguh calon pemimpin umat dan pemimpin bangsa.

Monday, January 12, 2015

Hidup Sederhana yang makin langka


Sekelumit uneg- uneg saya yang sedang menikmati hujan di meja kerja saya di daerah Selatan Jakarta. Saya pengguna media social yang lumayan aktif, saya memiliki akun Facebook, Twitter, Instagram, dan Path. Memang tidak semuanya aktif, belakangan yang paling aktif adalah path. Karena path lebih dirasa mengasyikkan karena relative lebih privat, kita boleh memilih siapa2 teman yang boleh berteman dengan kita.

Kegiatan saya di path biasanya enggak jauh2 dari memposting tentang masakan saya, makanan kesukaan, mengabadikan kegiatan dng teman, saudara maupun kerabat, tingkah laku konyol2 saya dan teman2 dan sisanya lebih banyak tentang tingkah anak2 saya. Saya rasa itu yang masih sesuai dengan etika kepantasan untuk di share dengan khalayak. Meskipun path cukup limited tetapi saya masih merasa yang ada didalam jejaring path saya kesemuanya bukanlah masuk kategori orang- orang yang merupakan sahabat terdekat saya, saya harus katakan mereka adalah orang lain buat saya.
Untuk itu saya rasa masih perlu untuk memilah mana informasi yang patut dibagikan kepada mereka dan mana yang tidak patut. Sejauh ini saya menutup sekali informasi mengenai hal2 berkaitan dng masalah pribadi terlebih lagi mengenai materi. Buat saya kepemilikan materi adalah privacy, selain itu ada nilai kepantasan yang saya yakini bahwa urusan mengumbar kepemilikan atas materi itu bagian dari sifat pamer. Dan sifat pamer bukan sifat yang dapat dikatakan benar, mengapa? Karena ditinjau dari pemahaman agama sudah jelas salah, ditinjau dari aspek psikologis pun itu salah satu prilaku yang memprihatinkan karena menjurus pada gejala Hedonisme. Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.

Tidak ada yang salah dengan memakai barang yang dirasa nyaman bagi kita apalagi sesuai dengan isi kantong. Tapi yang salah adalah jika situasinya secara sengaja menampilkan materi yang dimiliki apalagi jika tujuannya untuk membanggakan diri apalagi show up materi demi diberi label dirinya mapan dan sesuai dengan standar kekayaan yang menurutnya dianut orang lain.
Coba jika diperhatikan dengan seksama, mungkin teman2 dapat memperhatikan banyaknya teman dalam jejaring socialnya kita masing2 yang aktif memposting foto – foto yang menunjukkan hal ini, seperti, memposting gambar perhiasan emas yang baru dibelinya, gambar tas maupun sepatu koleksinya dengan harus memotret label nya, memajang foto mobil yang digunakannya lengkap dengan plat mobilnya (mungkin supaya semua orang tau itu mobil masih baru), memotret struk belanjaan milikinya, memajang foto2 situasi ruangan lengkap dengan perabot dalam rumahnya, memajang progress pembangunan rumah barunya dan postingan lain sebagainya yang menunjukkan sikap pamer. Bahkan saya pernah menemukan teman yang berpose di toilet (WC) rumah barunya untuk menunjukkan pada dunia tentang kemewahan rumahnya. Sejujurnya yang dilihat ini menimbulkan reaksi berbeda dari banyak orang, mungkin ada yang gerah karena iri, mungkin juga ada yang kecil hati karena tidak memiliki barang yang sama, mungkin juga menjadi jijik karena tidak sepaham dengan kesombongan orang2 ini atau mungkin justru seperti saya dan teman2 yang melihat itu semua malah menjadikannya guyonan karena tindakan itu saya nilai sangat konyol dan tidak menunjukkan sikap yang elegant. 

Dewasa ini jarang  orang memposting kegiatan belanja di pasar, kegiatan sederhana di alam, kegiatan alamiah manusia yang tidak melibatkan proses pamer harta ini, makan makanan kampung, melakukan aktifitas yang sederhana, naik kendaraan umum, maupun kegiatan biasa- biasa saja lainnya. Hanya segelintir orang yang tampil  nyaman dengan dirinya sendiri tanpa membawa embel2 harta seperti ini, jarang sekali orang tampil alamiah layaknya manusia normal. Gaya seperti itu belakangan ini dinilai hal normal, malah cenderung diposting norak dan ketinggalan jaman.
Tapi dibalik itu, tanpa sadar seseorang yang melakukan kegiatan pamer di media social sudah menjatuhkan martabatnya seolah tidak memahami intelektualitas dan etika. Tapi apa daya, saat ini orang tidak banyak berfikir tentang hal itu, orang seperti berlomba2 ingin terlihat kaya, entah ingin pujian atau apa. Yang pasti gejala hedonism ini mulai merambat kemana- mana. Mulai dari orang kaya baru, pegawai swasta, PNS sampai ibu rumah tangga. Semua berlomba untuk menunjukkan gaya hidup jet set. Ini mengerikan, jika dalam sebuah keluarga, ayah maupun ibunya terjangkit virus hedonism akut seperti ini, lantas bagaimana anak2 yang dihasilkan dari keluarga tersebut? 

Tapi mungkin inilah tantangan kita, gaya hidup hedonism ini memiliki daya tarik yang kuat, apalagi dengan kuatnya pengaruh media social yang membuat orang mudah tergiur untuk eksis dan show off. Ini adalah ujian berat bagi kita untuk mengambil langkah- langkah aman untuk menjauhkan diri kita dari godaan gaya hidup hedonism. Para pihak harus kembali menyadari pentingnya kembali menjalani hidup yang normal, maka mulailah untuk terbiasa menampilkan kesederhanaan dan membiasakan bersikap bersahaja. Karena kita adalah role model generasi kedepan.

Tidak ada yang salah dengan menampilkan citra diri yang mapan, sepanjang tetap memperhatikan sikap sederhana dan tidak pamer. Mulailah berimbang untuk menunjukkan sisi diri kita yang sebenarnya, berhentilah terobsesi membangun image ‘saya orang kaya’. Anda harus sadar anda tidak perlu bersaing dengan siapapun untuk itu, anda cukup membuktikan diri untuk diri anda sendiri bahwa anda adalah orang yang mampu bertahan hidup dengan normal dan memegang teguh prinsip hidup anda, tentu prinsip hidup yang positif. Anda tidak perlu sibuk menunjukkan diri anda sukses, orang yang sebenarnya sukses malah jauh lebih fokus pada hal- hal bermanfaat bukan hal2  yang sama sekali tidak memiliki manfaat seperti pamer.
Anda tidak perlu menjadi orang lain dan menarik perhatian orang lain, yang perlu anda titik beratkan adalah bagaimana anda bisa survive di masa depan anda, bagaimana anda menciptakan generasi berikutnya yang berkualitas bukan yang hedonism.

Monday, July 14, 2014

Mari kita menciptakan Pemilu Damai



Mungkin ada dari pembaca blog sama merasakan hal yang sama dengan saya, muak dengan PILPRES!
Ini yang saya rasakan, awalnya saya semangat menyonsong PILPRES, saya pun sibuk mencari bahan untuk membuka cakrawala pemikiran saya, karena PILPRES kali ini terasa begitu ketat, sungguh dari hati yang paling dalam saya sulit memilih, bukan saja karena dua-duanya bagus,tapi dua- duanya punya ‘catatan’ bagi saya.

Saya diawal merasa pantas jika disebut swing voters, karena benar2 gamang mau milih Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK. Saya benar2 cukup mengandalkan riset pribadi dan mengamati Debat Capres. Pada debat Capres kedua,saya akhirnya bulat membuat keputusan, saya punya kepastian mau milih siapa di PILPRES ini. Saya enggak perlu sebut pilihan saya di sini ya, karena cukuplah FB, PATH, Twitter sekitar saya saling serang gara- gara beda pilihan ini.

Saya nulis ini karena saya sungguh muak, muak semuak muaknya dengan para pendukung Capres yang seperti orang gila membabi buta.
Satu sisi saya senang melihat orang- orang sekarang punya concern dalam memilih presidennya, mau punya peduli pada politik negaranya. Tapi ternyata masih juga ada yang tidak siap dalam mengemban demokrasi. Orang2 awam yang dadakan paham politik ini tau- tau mulai aktif dan massif. Mereka dengan pengetahuan yang mungkin baru segitu tidak diimbangi kebesaran jiwa dan memaknai demokrasi dengan benar.
Sehingga dengan info sedikit yang juga belum tentu benar, akhirnya siap menyerang siapa saja yang berbeda dengannya. Dan enggak pandang bulu, mau saudara kandung, mau orang tua, mau sahabat, mau kenal mau enggak, pokoknya kalo beda ya wajib serang.
Apa sebutan yang pantas disematkan dengan prilaku seperti ini? Egois?? Mungkin, saya enggak tau yang pasti saya lelah dan muak liat sikap2 itu.

Saya menyimpan rapat pilihan saya di dalam hati, mungkin suami saya tau siapa pilihan saya, tapi kami pun  enggak banyak membahasnya. Saya sering lihat orang2 di lingkaran pergaulan media social saya sering menyanjung Capres Pilihannya yang sering juga beda dengan pilihan saya, tapi saya enggak pernah mau nyerang. Saya berfikir, ini demokrasi, silahkan pilih yang anda suka karena saya menghormati anda, dan saya ingin anda melakukan hal yang sama terhadap saya.
Tapi lain kenyataannya dengan beberapa orang di lingkaran media social saya, yang kadang melihat orang lain yang menyanjung capres pilihannya lantas ‘diserbu’, disudutkan, diolok bahkan berujung pada adu argument.

Suami saya yang dikenal cukup vocal pernah ikut menyuarakan isi kepalanya, ia menulis sesuatu di laman FB nya tentang pilihannya, saya pikir itu gak salah. Toh selama ini teman2 di FB saya banyak yang begitu, dan saya pikir itu hak azasi dia, kalo saya enggak sepakat ya saya gak usah capek2 mikirin apalagi ngabisin waktu mendebat. Karena media social bukan tempat paling fair untuk berdebat.
Lagi pula apa sih yang perlu diperdebatkan, toh salah satu Capres akan jadi presiden kita. Apakah kalau presiden pilihan kita kalah kita akan diusir dari Negara ini?
Apakah pula kalau presiden pilihan kita terpilih kita pun tiba2 jadi kaya mendadak atau dikasih jabatan mentri? Enggak kan? Kita akan menjalani hidup kayak biasanya kan apapun itu?
Jadi kenapa kalau hidup akan berjalan seperti biasa siapapun yang terpilih, kenapa kita harus kehilangan sahabat, saudara, kerabat maupun kenalan hanya karena ini?

Saya merasa hubungan silaturahim dengan semua orang adalah hal penting, saya enggak mau menjadi orang yang gegabah dalam menentukan sikap. Yang saya pahami, hidup saat ini tidak bisa dipandang hitam atau putih, tapi ada abu- abu yang kita mungkin gak mampu menterjemahkannya.
Didalam ketidakpastian itu, kita akan tetap hidup dalam masyarakat, kita tetap hidup bersama di Negara ini, sebuah perpecahan gak berguna apa2 untuk kita, gak akan membangun apa2 buat Negara kita. 

Maka dalam tulisan ini, saya mau bilang pada semua orang, jangan menjadi pemicu masalah dengan terus menerus terpancing emosi dan memancing emosi orang lain dalam urusan Pilpres, apapun hasilnya, Negara kita harus tetap dipimpin seorang Presiden dan Negara kita harus maju. Gak akan ada kemajuan sebuah bangsa yang dng adanya perpecahan apalagi sebuah kerusuhan. Mari dukung
kedamaian untuk Indonesia.

Wednesday, March 19, 2014

Haters



Minggu lalu saya cuti karena sakit, saya begitu lemah sampe membaca buku pun pusing skali rasanya, akhirnya saya hanya mampu menikmati gambar demi gambar yang ada di media social Instagram supaya tidak bosan di tempat tidur. Saya gak sengaja membuka link Instagram salah seorang putri pasangan artis (yg finaly bercerai) Anang dan Krisdayanti, anak itu mungkin usianya baru 15 tahun, saya enggak terlalu tau. Saya kaget saat melhat instagramnya, bahwa untuk ukuran anak umur segitu haters nya luar biasa banyak. Saya yang ketinggalan jaman atau bagaimna, seingat saya anak ini belum punya karya seperti film layar lebar, sinetron ataupun album sendiri, ia hanyalah (kebetulan) anak sepasang selebrity. Namun yang mencengankan adalah betapa haters anak ini kejam dalam melontarkan hinaan demi hinaan. Yang dihina pun bukan karena karyanya karena anak ini spt saya bilang tadi belum punya karya apa2 dan emang bukan artis. Saya lihat para haters itu mencerca anak itu dengna sangat terang- terangan seperti: dasar lo item, dasar lo jelek, paha lo tuh kayak kaki sapi, entah apalagi saya gak sanggup menuliskan disini.


Hal serupa saya lihat juga di akun instagram salah seorang mantan kekasih putra sulung Ahmad Dhani, yang sama sekali bukan artis, dan hatersnya banyak sekali, yang cercaan-cercaanya begitu tajam, yang jika dilihat juga bukan karena si pemilik akun melakukan foto yang aneh, isinya caci-cacian yang terasa penuh kedengkian.

Saya enggak paham duduk permasalahan para haters ini dengan orang yang bersangkutan. Saya rasa buka urusan orang juga ya melihat ada orang berpose dengan gaya apapun, toh itu media social milik orang tersebut. Kalo tidak suka tinggal unfollow kan beres.Apalagi kalau ada foto- foto yang biasa- biasa saja tapi tetap mendapat cercaan yang enggak nyambung, seperti pose orang lagi sama pacarnya, lalu dihina : dih mau aja lagi dia sama elo dasar jelek, dasar permepuan gak bener. Nah looo kacau kan?
Belum lagi kalau kita menilik prilaku kicauan miring si pengacara yang sedang berusaya mencalonkan diri jd capres RI, Farh*t Ab*s.  Saya melihat kenapa orang ini ringan sekali menghujat orang lain melalui akun twiternya, padahal kemungkinan ia pun tidak mengetahui duduk permasalahan utama yang sedang dihadapi orang yang dijuatnya.

Tapi yang menarik disini, saya melihat orang mulai terkikis rasa tenggang rasa dan saling menghormatinya. Menghujat sudah seperti budaya. Bahkan kedengkian seperti menjadi hal yang lumrah serta cukup sah untuk dilontarkan tanpa malu bahwa apa yang dilontarkan itu menunjukkan kekerdilan jiwanya.
Saya enggak bilang orang yang yang dicecar para haters ini mutlak benar, misal anak seusia belasan tahun tapi gaya berdandan lengkap dan kadang tidak sesuai usianya, ataupun gaya bercelana pendek memamerkan aurat (mohon maaf), emang ada yang yang kurang tepat, tapi itu sekali lagi hak azasi orang itu. Gak perlu ditanggapi dengan hujatan yang sungguh tidak manusiawi.Atau seperti pengacara itu, apakah perlu menanggapi hal- hal remeh yang mungkin tidak penting sementara harusnya ia sibuk dng karier pengacaranya?
Menanggapi anak- anak dibawah umur yang di bully para haters melalui media social pun membuat saya gak paham kemana orang tuanya?
Apa tidak lebih baik meminta anak2 mereka membuat social media mereka dlm kondisi private agar tidak dihampiri haters yang komentar- komentarnya sungguh merusak kepercayaan diri anak2 itu.
Atau jangan2 orang tua anak2 ini pun mementingkan popularitaas sang anak sehingga membiarkan para haters lalu lalang meninggalkan komentar2 kejam seperti itu di media social anaknya?
Kalo terjadi pada Lulla  (amit- amit) mungkin saya akan meminta Lulla mengubah media social mjd lbh private, agar secara mental anak saya pun tidak dirongrong oleh cercaan para haters.
Saya yakin cercaan haters ini pun mampu membangun mental seseorang untuk lebih berbesar hati, namun saya rasa ada waktunya untuk menempa mental seseorang melalui hal tersebut, dan saat yang tepat itu bukanlah usia masih belasan tahun.

Berbicara soal haters, saya pun memiliki orang yang diam- diam gemar menghujat dan mencerca saya dibelakang, dari mulai masalah interaksi saya dengan jajaran direksi, kehidupan financial keluarga saya,sampai cara mendidik anak saya. Semua itu dng gamblangnya ia uraikan ke temannya yang kemudian menyampaikan lagi kepada saya akan cercaan- cercaan itu. Tapi karena usia saya yang sudah begini banyak, tentu saya menyikapi orang- orang bermulut jahat dan pendengki  begini dengan sikap lebih legowo dan penuh keiklasan. Tidak perlu terbawa emosi apalagi memasukkan hati, saya cenderung menjadikannya angin lalu, dan hanya dengan kunci memaafkan dengan iklas yang akhirnya membuat saya tidak dendam apalagi sakit hati. Tapi mungkin kalo orang begini berhadapan dengan saya 10 tahun lalu, mungkin saya tidak akan sesabar ini.
Ini mengingatkan saya akan cercaan para haters kepada anak2 ini di media social ang saya sebut diatas, saya rasa 100x lipat lebih jahat dari yang saya terima dari orang ini, apakah anak- anak itu mampu berdiri tegar tanpa emosi sama sekali menerimanya?
Apakah cukup sehat untuk perkembangan psikologis mereka saat kecaman- kecaman yang cenderung tak berdasar itu melukai perasaan mereka setiap harinya?
Yang saya tau banyak case bunuh diri yang dilakukan anak2 muda diluar sana karena ulah haters. Mereka tak kuat menangkal cercaan demi cercaan tersebut sehingga memilih bunuh diri.


Jadi saya pikir, sebagai orang tua mestinya bisa mulai mencermati media social anak2 kita.Jika ada orang tua yang kelak ingin anaknya memiliki popularitas, perlu perencanaan matang langkah yang lebih tepat untuk anak kita agar mampu mengemban popularitas,karena popularitas tidak lepas dari yang namanya para haters dan tidak bisa kita cegah juga keberadaannya. Maka kesiapan mental pun harus dibangun sebelum anak menjadi bulan- bulanan kekejaman manusia iseng diluar sana.

Sementara fenomena banyaknya manusia yang bertransformasi menjadi pendengki yang lebih sering disebut haters ini ,perlu juga kita cermati, jangan sampai anak- anak kita justru berkembang menjadi para haters seperti ini. Yang saya lihat jaman sekarang orang sungguh minim dalam memahami pendidikan moral. Adanya kemajuan teknologi nampaknya tidak disikapi dengan bijaksana, orang cenderung makin mudah menjadi manusia2 kejam dan seenaknya  yang gemar menyakiti perasaan orang. Social skill seseorang pun tidak berkembang, karena orang cenderung berani berhadapan hanya dibalik dunia maya, dan cenderung ciut jika harus berdebat secara langsung atau  berhadap- hadapan secara fair. Bagi para orang- orang yang memang pendengki, tentu ini jadi tameng yang baik sekali untuk mereka, karena tanpa harus memilki keberanian mengkritik dihadapan orangnya langsung secara face to face mereka tetap mampu melontarkan kedengkiannya.

Bagaimana mungkin sifat sejelek itu mampu tumbuh dalam diri seseorang? Ini semua  kembali lagi kepada bagaimana seseorang terdidik, baik dirumah, disekolah dan pergaulan. Tugas utama semua pihak bgmn  bagaimana anak mampu mendapat pendidikan moral yang tepat, agar mereka agar lebih bertenggang rasa, lebih saling menghormati, lebih mampu memahami perbedaan dan jauh dari sikap pendengki.Kita pun punya tugas  menciptakan generasiyang kritis yang  berani mengungkapkan kritik secara gentle karena memang  memiliki alasan kuat atas pendapatnya. Bukan seperti sekarang ini, ketidaksukaan terhadap orang lain tidak dapat dicari dasarnya karena apa, dan kadang hanya dengan enteng mengatakan : “ya pokoknya gue enggak suka aja sama dia”.

Perlu juga adanya penanaman pikiran bahwa gadget dan segala kemajuan teknologi harus disikapi sebagai penyambung silaturahim. Dan terpenting, sejak dini anak2 diajarkan untuk tidak melakukan hal yang sia2, menjadi haters yang gemar menghujat, menggunjingi dan memfitnah orang adalah prilaku yang  sia- sia yang justu dosanya sungguh besar.
Ini menjadi PR bagi kita bagi kita semua, jangan geser kebiasaan kita sebagai manusia berbudaya menjadi manusia yang tak kenaal etika dan budi pekerti.
Dan untuk semua moms, aware lah dengan gadget anak- anak anda, jangan sampai anak2 jadi bahan bully maupun pelaku bully meski melalui media social. 

Semoga berkenan  :)