Pages

Showing posts with label Uneg uneg. Show all posts
Showing posts with label Uneg uneg. Show all posts

Monday, January 12, 2015

Hidup Sederhana yang makin langka


Sekelumit uneg- uneg saya yang sedang menikmati hujan di meja kerja saya di daerah Selatan Jakarta. Saya pengguna media social yang lumayan aktif, saya memiliki akun Facebook, Twitter, Instagram, dan Path. Memang tidak semuanya aktif, belakangan yang paling aktif adalah path. Karena path lebih dirasa mengasyikkan karena relative lebih privat, kita boleh memilih siapa2 teman yang boleh berteman dengan kita.

Kegiatan saya di path biasanya enggak jauh2 dari memposting tentang masakan saya, makanan kesukaan, mengabadikan kegiatan dng teman, saudara maupun kerabat, tingkah laku konyol2 saya dan teman2 dan sisanya lebih banyak tentang tingkah anak2 saya. Saya rasa itu yang masih sesuai dengan etika kepantasan untuk di share dengan khalayak. Meskipun path cukup limited tetapi saya masih merasa yang ada didalam jejaring path saya kesemuanya bukanlah masuk kategori orang- orang yang merupakan sahabat terdekat saya, saya harus katakan mereka adalah orang lain buat saya.
Untuk itu saya rasa masih perlu untuk memilah mana informasi yang patut dibagikan kepada mereka dan mana yang tidak patut. Sejauh ini saya menutup sekali informasi mengenai hal2 berkaitan dng masalah pribadi terlebih lagi mengenai materi. Buat saya kepemilikan materi adalah privacy, selain itu ada nilai kepantasan yang saya yakini bahwa urusan mengumbar kepemilikan atas materi itu bagian dari sifat pamer. Dan sifat pamer bukan sifat yang dapat dikatakan benar, mengapa? Karena ditinjau dari pemahaman agama sudah jelas salah, ditinjau dari aspek psikologis pun itu salah satu prilaku yang memprihatinkan karena menjurus pada gejala Hedonisme. Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.

Tidak ada yang salah dengan memakai barang yang dirasa nyaman bagi kita apalagi sesuai dengan isi kantong. Tapi yang salah adalah jika situasinya secara sengaja menampilkan materi yang dimiliki apalagi jika tujuannya untuk membanggakan diri apalagi show up materi demi diberi label dirinya mapan dan sesuai dengan standar kekayaan yang menurutnya dianut orang lain.
Coba jika diperhatikan dengan seksama, mungkin teman2 dapat memperhatikan banyaknya teman dalam jejaring socialnya kita masing2 yang aktif memposting foto – foto yang menunjukkan hal ini, seperti, memposting gambar perhiasan emas yang baru dibelinya, gambar tas maupun sepatu koleksinya dengan harus memotret label nya, memajang foto mobil yang digunakannya lengkap dengan plat mobilnya (mungkin supaya semua orang tau itu mobil masih baru), memotret struk belanjaan milikinya, memajang foto2 situasi ruangan lengkap dengan perabot dalam rumahnya, memajang progress pembangunan rumah barunya dan postingan lain sebagainya yang menunjukkan sikap pamer. Bahkan saya pernah menemukan teman yang berpose di toilet (WC) rumah barunya untuk menunjukkan pada dunia tentang kemewahan rumahnya. Sejujurnya yang dilihat ini menimbulkan reaksi berbeda dari banyak orang, mungkin ada yang gerah karena iri, mungkin juga ada yang kecil hati karena tidak memiliki barang yang sama, mungkin juga menjadi jijik karena tidak sepaham dengan kesombongan orang2 ini atau mungkin justru seperti saya dan teman2 yang melihat itu semua malah menjadikannya guyonan karena tindakan itu saya nilai sangat konyol dan tidak menunjukkan sikap yang elegant. 

Dewasa ini jarang  orang memposting kegiatan belanja di pasar, kegiatan sederhana di alam, kegiatan alamiah manusia yang tidak melibatkan proses pamer harta ini, makan makanan kampung, melakukan aktifitas yang sederhana, naik kendaraan umum, maupun kegiatan biasa- biasa saja lainnya. Hanya segelintir orang yang tampil  nyaman dengan dirinya sendiri tanpa membawa embel2 harta seperti ini, jarang sekali orang tampil alamiah layaknya manusia normal. Gaya seperti itu belakangan ini dinilai hal normal, malah cenderung diposting norak dan ketinggalan jaman.
Tapi dibalik itu, tanpa sadar seseorang yang melakukan kegiatan pamer di media social sudah menjatuhkan martabatnya seolah tidak memahami intelektualitas dan etika. Tapi apa daya, saat ini orang tidak banyak berfikir tentang hal itu, orang seperti berlomba2 ingin terlihat kaya, entah ingin pujian atau apa. Yang pasti gejala hedonism ini mulai merambat kemana- mana. Mulai dari orang kaya baru, pegawai swasta, PNS sampai ibu rumah tangga. Semua berlomba untuk menunjukkan gaya hidup jet set. Ini mengerikan, jika dalam sebuah keluarga, ayah maupun ibunya terjangkit virus hedonism akut seperti ini, lantas bagaimana anak2 yang dihasilkan dari keluarga tersebut? 

Tapi mungkin inilah tantangan kita, gaya hidup hedonism ini memiliki daya tarik yang kuat, apalagi dengan kuatnya pengaruh media social yang membuat orang mudah tergiur untuk eksis dan show off. Ini adalah ujian berat bagi kita untuk mengambil langkah- langkah aman untuk menjauhkan diri kita dari godaan gaya hidup hedonism. Para pihak harus kembali menyadari pentingnya kembali menjalani hidup yang normal, maka mulailah untuk terbiasa menampilkan kesederhanaan dan membiasakan bersikap bersahaja. Karena kita adalah role model generasi kedepan.

Tidak ada yang salah dengan menampilkan citra diri yang mapan, sepanjang tetap memperhatikan sikap sederhana dan tidak pamer. Mulailah berimbang untuk menunjukkan sisi diri kita yang sebenarnya, berhentilah terobsesi membangun image ‘saya orang kaya’. Anda harus sadar anda tidak perlu bersaing dengan siapapun untuk itu, anda cukup membuktikan diri untuk diri anda sendiri bahwa anda adalah orang yang mampu bertahan hidup dengan normal dan memegang teguh prinsip hidup anda, tentu prinsip hidup yang positif. Anda tidak perlu sibuk menunjukkan diri anda sukses, orang yang sebenarnya sukses malah jauh lebih fokus pada hal- hal bermanfaat bukan hal2  yang sama sekali tidak memiliki manfaat seperti pamer.
Anda tidak perlu menjadi orang lain dan menarik perhatian orang lain, yang perlu anda titik beratkan adalah bagaimana anda bisa survive di masa depan anda, bagaimana anda menciptakan generasi berikutnya yang berkualitas bukan yang hedonism.

Wednesday, March 19, 2014

Haters



Minggu lalu saya cuti karena sakit, saya begitu lemah sampe membaca buku pun pusing skali rasanya, akhirnya saya hanya mampu menikmati gambar demi gambar yang ada di media social Instagram supaya tidak bosan di tempat tidur. Saya gak sengaja membuka link Instagram salah seorang putri pasangan artis (yg finaly bercerai) Anang dan Krisdayanti, anak itu mungkin usianya baru 15 tahun, saya enggak terlalu tau. Saya kaget saat melhat instagramnya, bahwa untuk ukuran anak umur segitu haters nya luar biasa banyak. Saya yang ketinggalan jaman atau bagaimna, seingat saya anak ini belum punya karya seperti film layar lebar, sinetron ataupun album sendiri, ia hanyalah (kebetulan) anak sepasang selebrity. Namun yang mencengankan adalah betapa haters anak ini kejam dalam melontarkan hinaan demi hinaan. Yang dihina pun bukan karena karyanya karena anak ini spt saya bilang tadi belum punya karya apa2 dan emang bukan artis. Saya lihat para haters itu mencerca anak itu dengna sangat terang- terangan seperti: dasar lo item, dasar lo jelek, paha lo tuh kayak kaki sapi, entah apalagi saya gak sanggup menuliskan disini.


Hal serupa saya lihat juga di akun instagram salah seorang mantan kekasih putra sulung Ahmad Dhani, yang sama sekali bukan artis, dan hatersnya banyak sekali, yang cercaan-cercaanya begitu tajam, yang jika dilihat juga bukan karena si pemilik akun melakukan foto yang aneh, isinya caci-cacian yang terasa penuh kedengkian.

Saya enggak paham duduk permasalahan para haters ini dengan orang yang bersangkutan. Saya rasa buka urusan orang juga ya melihat ada orang berpose dengan gaya apapun, toh itu media social milik orang tersebut. Kalo tidak suka tinggal unfollow kan beres.Apalagi kalau ada foto- foto yang biasa- biasa saja tapi tetap mendapat cercaan yang enggak nyambung, seperti pose orang lagi sama pacarnya, lalu dihina : dih mau aja lagi dia sama elo dasar jelek, dasar permepuan gak bener. Nah looo kacau kan?
Belum lagi kalau kita menilik prilaku kicauan miring si pengacara yang sedang berusaya mencalonkan diri jd capres RI, Farh*t Ab*s.  Saya melihat kenapa orang ini ringan sekali menghujat orang lain melalui akun twiternya, padahal kemungkinan ia pun tidak mengetahui duduk permasalahan utama yang sedang dihadapi orang yang dijuatnya.

Tapi yang menarik disini, saya melihat orang mulai terkikis rasa tenggang rasa dan saling menghormatinya. Menghujat sudah seperti budaya. Bahkan kedengkian seperti menjadi hal yang lumrah serta cukup sah untuk dilontarkan tanpa malu bahwa apa yang dilontarkan itu menunjukkan kekerdilan jiwanya.
Saya enggak bilang orang yang yang dicecar para haters ini mutlak benar, misal anak seusia belasan tahun tapi gaya berdandan lengkap dan kadang tidak sesuai usianya, ataupun gaya bercelana pendek memamerkan aurat (mohon maaf), emang ada yang yang kurang tepat, tapi itu sekali lagi hak azasi orang itu. Gak perlu ditanggapi dengan hujatan yang sungguh tidak manusiawi.Atau seperti pengacara itu, apakah perlu menanggapi hal- hal remeh yang mungkin tidak penting sementara harusnya ia sibuk dng karier pengacaranya?
Menanggapi anak- anak dibawah umur yang di bully para haters melalui media social pun membuat saya gak paham kemana orang tuanya?
Apa tidak lebih baik meminta anak2 mereka membuat social media mereka dlm kondisi private agar tidak dihampiri haters yang komentar- komentarnya sungguh merusak kepercayaan diri anak2 itu.
Atau jangan2 orang tua anak2 ini pun mementingkan popularitaas sang anak sehingga membiarkan para haters lalu lalang meninggalkan komentar2 kejam seperti itu di media social anaknya?
Kalo terjadi pada Lulla  (amit- amit) mungkin saya akan meminta Lulla mengubah media social mjd lbh private, agar secara mental anak saya pun tidak dirongrong oleh cercaan para haters.
Saya yakin cercaan haters ini pun mampu membangun mental seseorang untuk lebih berbesar hati, namun saya rasa ada waktunya untuk menempa mental seseorang melalui hal tersebut, dan saat yang tepat itu bukanlah usia masih belasan tahun.

Berbicara soal haters, saya pun memiliki orang yang diam- diam gemar menghujat dan mencerca saya dibelakang, dari mulai masalah interaksi saya dengan jajaran direksi, kehidupan financial keluarga saya,sampai cara mendidik anak saya. Semua itu dng gamblangnya ia uraikan ke temannya yang kemudian menyampaikan lagi kepada saya akan cercaan- cercaan itu. Tapi karena usia saya yang sudah begini banyak, tentu saya menyikapi orang- orang bermulut jahat dan pendengki  begini dengan sikap lebih legowo dan penuh keiklasan. Tidak perlu terbawa emosi apalagi memasukkan hati, saya cenderung menjadikannya angin lalu, dan hanya dengan kunci memaafkan dengan iklas yang akhirnya membuat saya tidak dendam apalagi sakit hati. Tapi mungkin kalo orang begini berhadapan dengan saya 10 tahun lalu, mungkin saya tidak akan sesabar ini.
Ini mengingatkan saya akan cercaan para haters kepada anak2 ini di media social ang saya sebut diatas, saya rasa 100x lipat lebih jahat dari yang saya terima dari orang ini, apakah anak- anak itu mampu berdiri tegar tanpa emosi sama sekali menerimanya?
Apakah cukup sehat untuk perkembangan psikologis mereka saat kecaman- kecaman yang cenderung tak berdasar itu melukai perasaan mereka setiap harinya?
Yang saya tau banyak case bunuh diri yang dilakukan anak2 muda diluar sana karena ulah haters. Mereka tak kuat menangkal cercaan demi cercaan tersebut sehingga memilih bunuh diri.


Jadi saya pikir, sebagai orang tua mestinya bisa mulai mencermati media social anak2 kita.Jika ada orang tua yang kelak ingin anaknya memiliki popularitas, perlu perencanaan matang langkah yang lebih tepat untuk anak kita agar mampu mengemban popularitas,karena popularitas tidak lepas dari yang namanya para haters dan tidak bisa kita cegah juga keberadaannya. Maka kesiapan mental pun harus dibangun sebelum anak menjadi bulan- bulanan kekejaman manusia iseng diluar sana.

Sementara fenomena banyaknya manusia yang bertransformasi menjadi pendengki yang lebih sering disebut haters ini ,perlu juga kita cermati, jangan sampai anak- anak kita justru berkembang menjadi para haters seperti ini. Yang saya lihat jaman sekarang orang sungguh minim dalam memahami pendidikan moral. Adanya kemajuan teknologi nampaknya tidak disikapi dengan bijaksana, orang cenderung makin mudah menjadi manusia2 kejam dan seenaknya  yang gemar menyakiti perasaan orang. Social skill seseorang pun tidak berkembang, karena orang cenderung berani berhadapan hanya dibalik dunia maya, dan cenderung ciut jika harus berdebat secara langsung atau  berhadap- hadapan secara fair. Bagi para orang- orang yang memang pendengki, tentu ini jadi tameng yang baik sekali untuk mereka, karena tanpa harus memilki keberanian mengkritik dihadapan orangnya langsung secara face to face mereka tetap mampu melontarkan kedengkiannya.

Bagaimana mungkin sifat sejelek itu mampu tumbuh dalam diri seseorang? Ini semua  kembali lagi kepada bagaimana seseorang terdidik, baik dirumah, disekolah dan pergaulan. Tugas utama semua pihak bgmn  bagaimana anak mampu mendapat pendidikan moral yang tepat, agar mereka agar lebih bertenggang rasa, lebih saling menghormati, lebih mampu memahami perbedaan dan jauh dari sikap pendengki.Kita pun punya tugas  menciptakan generasiyang kritis yang  berani mengungkapkan kritik secara gentle karena memang  memiliki alasan kuat atas pendapatnya. Bukan seperti sekarang ini, ketidaksukaan terhadap orang lain tidak dapat dicari dasarnya karena apa, dan kadang hanya dengan enteng mengatakan : “ya pokoknya gue enggak suka aja sama dia”.

Perlu juga adanya penanaman pikiran bahwa gadget dan segala kemajuan teknologi harus disikapi sebagai penyambung silaturahim. Dan terpenting, sejak dini anak2 diajarkan untuk tidak melakukan hal yang sia2, menjadi haters yang gemar menghujat, menggunjingi dan memfitnah orang adalah prilaku yang  sia- sia yang justu dosanya sungguh besar.
Ini menjadi PR bagi kita bagi kita semua, jangan geser kebiasaan kita sebagai manusia berbudaya menjadi manusia yang tak kenaal etika dan budi pekerti.
Dan untuk semua moms, aware lah dengan gadget anak- anak anda, jangan sampai anak2 jadi bahan bully maupun pelaku bully meski melalui media social. 

Semoga berkenan  :)

Monday, December 2, 2013

Kelas Menengah Ngehe

Lagi rame nih orang ngomong soal kelas menengah ngehe, hahha entah lah apa definisi yang tepat untuk menjelaskan ini. Tapi fenomena ini hampir banyak kita temui dimana pun kapan pun, hehe. Mungkin karena saking besarnya populasi middle class di masyarakat, sehingga perubahan style pergaulan orang dari kalangan masyarakat ini akan jauh lebih teridentifikasi.

Saya gak tau apa batasan yang disebut kelas menengah ngehe ataupun kelas menengah biasa aja. Justru saya ini merasa sebagai manusia kelas menengah, kenapa saya bilang begitu karena saya bukan jutawan sekelas Abu Rizal Bakrie dan keturunannya, namun saya merasa relative hidup berkecukupan dibanding dengan orang pekerja bawahan yang berpenghasilan kecil dibawah UMR.  Artinya saya ada ditengah2 dua kalangan ini, tepat kalo saya menyebut diri saya adalah kalangan menengah. Tapi kalo dibilang kelas menengah ngehe, saya gak bisa bilang iya, karena sebagai masyarakat kalangan ini saya merasa tidak memaksakan keadaan maupun berperilaku berbeda.
 Saya dulu diawal membangun rumah tangga memiliki pekerjaan yang lumayan dan sudah mampu memenuhi basic need dengan baik, spt berhasi beli rumah yang ukurannya gak sempit, kebeli mobil serta pendapatan yang tersisa terasa banyak meski telah selesai memenuhi basic need, akhirnya membuat saya menghabiskan uang sisa itu tanpa tujuan jelas dan ujung2nya membiasakan hidup dengan barang2 branded,memiliki gaya hidup modern dari mall ke mall, travelling kemana- mana tanpa mikirin apakah jumlah tabungan dan investasi saya sepadan dengan pengeluaran hura- hura saya, saya pun masih cenderung ikut- ikutan  dengan gaya hidup orang. Saat itu untuk beli makanan anak saja saya harus belanja ke ranch market, makanan lulla saya lebih percayakan pada produk impor, tanpa mikir sudah halal kah? Untuk beli pakaian harus branded, saya gak bisa liat kata sale dikit, bahkan saya pernah ngantri beli diskonan mark and spencer dengan antrian kasir yg gak wajar.
Saat itu saya rasa saya tepat jika disebut kelas menengah ngehe.

Namun karena semakin usia bertambah, saya makin berfikir bijaksana, bahwa gaya hidup itu pilihan kita masing2. Setiap orang punya tujuan, maka setiap orang punya kebebasan menentukan bagaimana ia menyusun prioritas hidupnya. Apakah mau memprioritaskan diri dengan memperlihatkan tampilan lahiriah dan gaya hidup (seolah) jetset tapi ketahanan financial ga maksimal atau lebih memilih menjadi orang yang terlihat biasa2 saja tapi memiliki ketahanan financial yang cukup kuat untuk menyongsong masa depan?

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai menata diri dan menentukan prioritas hidup saya, saya memandang hidup bagi saya makin baik jika lebih memiliki persiapan yang memadai untuk menyonsong masa depan dengan cara mempersedikit pengeluaran tidak perlu, hidup lebih santai tidak terbebani akan trend , meminimalisir hutang  dan  lebih mengembangkan investasi maupun tabungan.
Tabungan dan investasi saya bedakan, karena investasi saya lebih maksudkan untuk property, asuransi, emas maupun surat berharga, sementara tabungan lebih pada tabungan berupa dana liquid dan tabungan berjangka. Untuk meraih ini, saya dengan sangat  logis memangkas biaya2 tidak perlu, seperti cermat dalam belanja makanan, mengurangi kebiasaan hangout yang menyedot biaya tidak sedikit, saya tidak lagi minded harus belanja di tempat dan merk tertentu, saya lebih banyak mengunjungi pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan makan harian daripada supermarket, karena selain jauh lebih murah, beberapa item seperti ayam, saya menyaksikan sendiri proses pemotongannya yg insyallah halal. Saya pun mengendalikan kebiasaan menginginkan barang yang tidak saya perlukan, saya mengedepankan konsep membeli karena butuh bukan karena ingin. Untuk pembelian kendaraan, saya memilih pembelian dng cara cash agar tidak menimbulkan beban tambahan. Saya pun tidak mainded harus diantar jemput dengan mobil meski punya supir pribadi, saya mencoba praktis dengan moda transportsi tercepatdan terefisien. Saya mengikis agenda jalan2 ke mall rutin mingguan bersama anak2, saya coba ganti dengan kegiatan anak2 yang lebih outdoor atau kegiatan penuh kreatifitas, dengan mengadakan kegiatan2 menyenangkan seperti masak bareng maupun mengerjakan project bersama seperti membuat handcraft. Saya pun kemudian membuat agenda2 travelling yang proporsional, saya menargetkan jumlah tabungan terlebih dahulu baru menentukan agenda travelling.
 

Saya sadar sepenuhnya bahwa saya adalah kalangan menengah, diatas saya banyak orang yang memiliki keberlimpahan materi bahkan mungkin gak habis tujuh turunan. Saya cukup tau diri apa yang saya miliki saat ini belum ada apa2nya. Pemahaman ini membuat saya senantiasa mencoba untuk selalu rendah hati, gak mau berhenti berupaya dan selalu bijaksana menggunakan uang. Disamping itu adanya pemahaman bahwa saya cukup beruntung karena memilki kehidupan yang jauh lebih baik dari orang2 berpenghasilan dibawah UMR, dimana untuk basic need saja orang2 itu kesulitan, membuat saya merasa bersyukur atas karunia Allah ini, saya merasa harus menjadi lebih baik lagi menjalani ibadah saya kepada Nya, saya pun merasa punya tanggungjawab lebih untuk dapat membagi rezeki saya kepada kaum yang gak seberuntung saya.
Sehingga saya berkesimpulan bahwa menjadi kalangan menengah gak semestinya menjadi ngehe, ada baiknya disikapi dengan bijaksana, bersyukurlah kita bisa hidup lebih normal, karena dalam pandangan saya hidup terlalu kaya itu tidak enak, terlalu miskin pun sungguh sengsara. Bersyukur dan tau diri adalah kunci menjadi kalangan menengah yang tidak ngehe, karena efek dari ungkapan kelas menengah ngehe adalah karena adanya sebuah realita bahwa beberapa masyarakat yang berangkat dr kaum menengah banyak yang bergaya bagai orang kaya baru dan bersikap sombong seolah telah menggenggam dunia. Jika semua kaum menengah menyikapi hidup cukupnya dengan tetap rendah hati saya rasa gak akan ada ungkapan ini.

Menurut pandangan saya jika kita diberi kelimpahan materi saat ini, (mungkin dulu belum seperti ini), kita harus jauh lebih bersyukur,berhentilah berfikiran untuk dianggap sukses itu berarti harus punya materi seperti apa, harus bergaya hidup jetset,harus bisa beli ini dan itu yang kemudian harus dipamerkan berlebihan dan ogah terlihat hidup biasa saja.
Buat saya hidup cukup dan siap menyongsong masa depan dengan ketahanan financial yang baik adalah sebuah goal hidup yang cukup logis dan proporsional. Tapi sekali lagi, pilihan hidup ada pada diri kita masing2, saya menghormati seluruh orang dengan prilaku yang mengarah pada kelas menegah ngehe sekalipun, saya gak berani judging bahwa yang begitu itu norak atau apa meskipun sebagian besar tentu merasa terganggu dng org2 berprilaku demikian.

Meski tidak mudah, saya rasa untuk dapat hidup berdampingan dengan nyaman saat bertemu segelintir orang dengan type kelas menengah ngehe begini, ada baiknya kita mengedepankan pemikiran  tiap orang punya kebebasan menentukan akan dihabiskan untuk apa hidupnya, pandangan semacam ini juga mungkin bisa mengurangi dosa kita supaya gak jadi nyela orang ataupun memandang orang miring :)
Selamat memasuki bulan Desember, salam hangat saya untuk semua sahabat!

Thursday, November 21, 2013

Prestasi di raport pertama Lulla

Ini adalah cerita saya waktu pertama kali mendapat Raport akademik sekolah Lulla. Tidak sempat terposting, tapi sekarang saya posting ya :)

________________________________________________________________________________

Mungkin hampir seluruh ibu di dunia ini akan merasakan sama dengan apa yang saya rasakan, kawatir dengan prestasi anak- anaknya di sekolah. Yah,sejak Lulla masuk SD saya memang menjadi panik setiap kali dia akan menghadapi ulangan, karena saya tau betul bahwa psikologis anak yang dari TK ke SD itu lumayan berat.

Di TK anak-anak kan belum dituntut banyak, sementara di SD anak dituntut untuk mengejar prestasi. Kejadian pada Lulla, ia masih gak mengerti apa itu ulangan, kenapa harus ada jatah waktu pengerjaan soal, kenapa harus ngerjain PR, apa itu nilai, guna nilai itu apa. Dan lain sebagainya. Hal- hal yang gak mudah untuk dijelaskan.
Dengan kondisi seperti itu membuat Lulla seperti seperti malas2an dalam melakukan review pelajaran. Sebelum ulangan pun sepertinya santai2 saja, kadang malah saya yang sangat tegang dan panik, sementara ia tetap santai saja.
Saya akui Lulla adalah anak yang cerdas,dari sisi IQ ia memiliki keunggulan dengan berada di angka 120 (superior) jika diukur dengan skala Wechsler, tentunya tidak sulit baginya menangkap sebuah pelajaran, tapi menilik dari pola santai yang dia terapkan dalam belajar, saya tetap kawatir.
Ditambah dengan kesibukan saya mengurus Brave yang masih bayi dan mengurus karier saya yang juga gak tau kapan santainya, saya jadi terbatas untuk punya waktu mengajar Lulla.

Terkadang saya menyempatkan diri sepulang kerja mereview pelajaran, mengoreksi PR, mengajari pelajaran sekolah dan lain2. Kadang itu juga dirasa tidak kondusif, dimana di fisik saya yang lelah kadang membuat saya hilang kesabaran. Jadi yah, kadang seadanya saja.

Tapi memang kunci mengajar anak bukan kuantitas semata tapi kualitas dan kontiunuitas,jadi gak bisa asal2an dan suka2 aja yah. Harus tekun biar mental belajar anak terbentuk disitu. Jujur saya belum sukses untuk itu.
Di bagi raport kemarin saya merasa belum maksimal, dari nilai-nilai raport yang dibagikan oleh sekolah, Lulla mendapat dua angka 10 yaitu di mata pelajaran English dan Bahasa Indonesia, dan nilai paling kecil adalah angka 8 untuk olahraga. Sepintas terlihat memuaskan karena buku raport dihiasi dengan angka 8,9 dan 10, tapi ternyata Lulla hanya berhasil menempati peringkat ke 3 di kelasnya.
Not bad but not really good, ehehehe...masih gak puas aja. Karena saya yakin jika diasah dengna baik anak ini pencapaiannya akan lebih dari ini. Tapi saya cukup mengapresiasi dia atas pencapaian itu, lumayan lah untuk anak yang begitu santainya itu. Jadi saya tetap mengucap terimakasih atas persembahan prestasinya, dan saya juga masih berharap ada peningkatan yang berarti di semester mendatang.

Memang ini adalah fase yang gak mudah, dimana merawat bayi sendiri,mewujudkan impian memberi ASI sampai 2 tahun, harus dibarengi dengan memberi bimbingan belajar buat Lulla dan karier yang gak ada santainya, semoga Allah kasih kemudahan, karena balik ke prinsip hidup saya : HIDUP HARUS DIISI DENGAN KERJA KERAS AGAR BERMANFAAT BAGI UMAT DAN AGAR JADI AMALAN BEKAL AKHIRAT, ehehehhe...

Thursday, April 11, 2013

If i could

Sore ini,saya merasakan kepenatan luar biasa. Pekerjaan sedang lumayan loadnya, tapi pekerjaan sebagai HR dan counselor internal kadang membuat saya 'lelah'.
Bukan cuma lelah karena byknya case yg saya temui,tapi perasaan saya kadang terhanyut pada apa yang 'pasien' saya hadapi.
Saya nampaknya bekerja dng segenap hati saya,sehingga terkadang kepaitan yg 'pasien' saya alami akan terbawa dihati saya.
Ternyata menjadi counselor spt ini pun gak seringan yg dibayangkan.
Kadang saya ingin membatasi bhw apa yg dicounseling kan kpd saya hanya boleh yg berkaitan dng pekerjaan.
Tapi kadang ada orang2 yg terganggu kinerjanya krn mslh eksternal perusahaan. Kemudian disinilah saya berada,mendengarkan,membantu mencari jalan keluar dan menyemangati mereka untuk keluar dari masalahnya dan kembali bekerja dng semangat dng produktifitas yg tinggi.
Namun saya harus realize bhw kekuatan saya berbatas,dan mjd counselor sungguh butuh 'stamina' hati dan otak yg luar biasa.
If i could.. Saya ingin bantu semua orang, yaah tapi saya hanya seorang counselor yang mungkin masih amatir..

Monday, January 14, 2013

Promosi Jabatan

Desember adalah masa sibuk bagi saya dan team saya, selain harus mempersiapkan materi rapat tahunan, membuat laporan kerja, menyusun bugeting tahun depan, menyusun program kerja tahun depan, menyusun proyeksi kenaikan gaji dan promosi tahun depan disertai dengan kesibukan untuk mengkoordinir terselenggaranya rangkaian rapat akhir tahun.
Sehingga kesibukan yang terjadi benar2 serius, saya dan team saya sampai lembur gila- gilaan untuk mengejar smua agenda terselesaikan. Kami cuma bertiga, maka kami harus bahu membahu menyelesaikan semua agenda. Disela kesibukan menyiapkan itu semua, kami pun harus tetap eksis memberikan pelayanan kepada karyawan. Saya bahkan tidak menutup pintu saya sama sekali untuk menerima konseling, dimana konseling adl hal yang cukup berat, krn selain menguras energy juga menguras fikiran, jadi bisa dibayangkan betapa repotnya Desember.
Namun itu semua terbayar ketika perkerjaan rampung, atasan puas dengan hasil kerja yang lengkap dan komprehensif, selain itu agenda besar seperti rapat tahunan yang dibarengi dengan kegiatan employee gathering berjalan sukses dan seru, maka rasa lelah itu seperti terbayarkan tunai.
Namun ada surprise lanjutan, saya dapat kesempatan promosi naik jabatan, hehe… senang senang enggak sebenarnya.Saya senang karena merasa saya di apresiasi, prestasi kerja saya dan team diapresiasi oleh management dengan mereka mempercayakan jabatan ini kepada saya.Namun saya rada kawatir dengan jabatan baru ini, saya tidak kawatir masalah tantangan ke depan, saya merasa semua tantangan pasti ada jalan, tapi diluar tantangan pekerjaan saya memiliki tantangan besar lainnya, yaitu ego saya.Someday, saya harus menanggalkan karier ini untuk kembali ke rumah, lebih banyak waktu sama anak2 dan bahu membahu membangun usaha suami, lantas jika sdh diposisi jabatan ini apa saya bisa dengan mudah melepasnya? Ego saya akan berperang dengan panggilan tugas saya menunaikan tugas saya yang sebenarnya.Ini adalah tantangan terberat saya, semoga Allah memberi jalan agar saya kelak dapat dengan iklas dan mudah melepaskan karier ini.

Friday, October 12, 2012

Pilihan untuk Bekerja


Setiap hari saya pergi bekerja, dari pagi hingga petang. Hal yang sungguh enggak mudah, selain lelah perjalanan, juga lelah fikiran karena rasanya tiada hari tanpa sibuk dan harus menyelesaikan berbagai tumpukan tanggungjawab. Lebih lagi saya adalah seorang istri dan ibu sekaligus. Saya mungkin sudah ratusan kali mengalami kejenuhan, kecapean dan demotivasi terhadap rutinitass kerja saya ini.

Adalah bohong jika ada manusa yang tidak pernah jenuh, capek dan demotivasi dlm menjalani rutinitas kerja sehari hari, karena pada dasarnya semua manusia selalu ingin hidup enak dan bahagia.

Tapi ini kan hidup, mana bisa isinya seneng terus, mana bisa isinya mudah terus, pasti ada titik enggak enaknya dan titik susahnya.

Jadi saya melihat kerja itu bukan sebagai beban, tapi sesuatu yang emang suatu pilihan yang harus dijalanin. Ketika harus berhenti nanti ya bukan karena pertimbangan yang sepele atau bukan karena emosional. Apalagi gak bisa terus kerja karena alasan dikeluarin orang atau karena dipaksa dengan alasan kita tidak produktif lagi dan jadi beban orang.

Kerja itu saya buat sebagai salah satu bentuk ibadah saya sama Allah. Saya kerja bukan cuma sekedar nutupin kebutuhan hidup. Saya memang bekerja motivasi awalnya untuk anak2 saya, yap! Saya punya mimpi besar atas masa depan mereka, dan biaya untuk itu saya rasa tidak sedikit, dengan saya bekerja maka saya memiliki income yang bisa saya persiapkan untuk itu. Tapi karena ini untuk masa depan anak-anak maka saya mau income yg masuk itu harus lewat jalur halalan thoyiban, artinya halal dan atas ridho Allah SWT. Saya enggak mau se-sen pun income saya masuk dengan unsur ketidakadilan. Saya mau income saya emang setara dengan hasil kerja saya. Artinya, saya mau kerja keras dan atas itu pula saya ingin dibayar pantas. Saya enggak mau kalo saya magabut (makan gaji buta) karena saya anti jika tidak menunaikan kewajiban saya dengan baik sementara saya dapat hak saya utuh. Oleh karena itu effort kerja saya minimal harus sepadan dengan apa yg perusahaan bayar ke saya. Ini ada kaitannya dengan barokahnya pendapatan saya yang saya peruntukkan untuk anak2. Bayangin kalo dari sisi dana simpanannya aja enggak barokah, gmn jalan kedepan anak2 saya? Jangan2 saya malah jadi org tua yg tidak amanah krn memasukkan rezeki tidak halal untuk anak2 saya yang kemudian menjadi penghalang masa depan mereka? Na’udzubilaminzalik.

Itu alasan utama saya, alasan kedua saya ingin anak- anak punya role model yang memberikan mereka referensi tentang kerja keras, orang tua mereka memperlihatkan betul kehadapan mereka bahwa hidup itu tidak mudah, semua harus dikejar dengan kerja keras. Setiap manusia punya peran, dan itu semua harus berjalan dengan baik dan penuh tanggungjawab.

Alasan ketiga , saya ingin punya prestasi yang saya persembahkan untuk anak- anak saya, saya tidak semata mengincar jabatan demi pendapatan, tapi saya ingin mewarisi gaya kerja yg professional, berintegritas dan penuh prestasi. Karena saya pun melihat papa saya dulu bekerja penuh dengan integritas, bahkan bisa senantiasa menjaga prinsip dirinya di sebuah instansi kerja yang lumayan dinilai terkorup di negeri ini. Saya percaya anak2 akan melihat apa yg orang tuanya lakukan.

Jadi sebagai ibu bekerja, saya ingin sedikit berbagi perasaan, bahwa saat kalian para ibu memilih untuk bekerja dengan pertimbangan apapun, lakukanlah dengan penuh tanggungjawab kepada Allah swt. Karena peran kita sesungguhnya adalah ibu, pendidik anak- anak, maka jangan pernah memilih untuk berkarier hanya karena untuk status/ prestige dan prinsip asal dapat uang bulanan sementara cara kerja seenaknya, tidak berintegritas,professional dan tidak jujur, apalagi sering membohongi perusahaan dengan mengatasnamakan anak supaya dapat dispensasi untuk malas- malasan.

Ingat setiap kita pergi bekerja, sesungguhnya kita telah merenggut waktu yang seharusnya kita peruntukkan untuk anak2, jadi jika memilih untuk bekerja jangan sampai pilihan itu malah membawa keburukan kepada anak2 kita, seperti rezeki yang tidak halal, kita memupuk keburukan karena sikap kerja kita yang pemalas, tidak professional, tidak jujur maupun mental kerja buruk lainnya, jangan pula kita mewariskan atau mencontohkan mental kerja yang buruk semacam itu kepada anak2.

Pilihan menjadi pekerja ada pada diri masing2 orang, tapi bekerja itu harus dikembalikan kepada tujuan yang hakiki, bahwa hak dan kewajiban kita selaku pekerja dan mahluk Allah harus memenuhi unsur adil, agar hasil kerja kita dan waktu yang kita habiskan untuk bekerja mendapat ridho Allah dan barokah buat anak- anak kita…

 

Selamat berjuang!

Monday, January 17, 2011

Menjadi Kaya

Apa arti menjadi kaya?memiliki banyak uang?

Pasti itu yang menjadi pikiran orang tentang apa itu konsep kaya, tapi buat saya enggak. Kenapa?

Coba perhatikan deh disekeliling kita, ada orang yang menurut kita berkecukupan dan memiliki uang banyak, tapi tampak selalu ‘ganas’ kalo melihat uang, gak peduli itu hak nya atau bukan. Bahkan gak segan- segan untuk meminta- minta sesuatu yang bukan hak nya.

Di lingkungan saya sehari-hari saya sering menemui sikap- sikap orang yang hampir pas jika disebut rakus dan tidak pernah cukup. Sikap yang paling sering mengganggu saya adalah sikap orang- orang yang tidak pernah puas atas apa yang mereka terima, dan selalu tanpa segan meminta lebih tanpa berfikir apakah ia telah meminta sesuatu yang emang berhak ia minta?

Saya kadang geleng- geleng, kenapa enteng banget seseorang meminta sesuatu yang bukan hak nya, bahkan maksa dan pake ancaman. Misalnya : “saya mau ditugaskan kesana untuk 2 hari, tapi catatannya saya dibolehkan membawa keluarga saya dengan biaya kantor.”padahal orang ini dapat uang saku untuk kepentingan perjalanan ini, tapi ia tak puas dengan itu, ia menodong lebih untuk membawa serta keluarga, emangnya jalan-jalan?lha wong urusan kerja kok ya?

Meminta sesuatu itu buat saya bukan hal yang salah, tapi jika apa yang kita minta itu bukan hak kita, apakah itu nyaman dilakukan? Etikanya seperti apa sih?

Secara etika professional sikap orang yang saya contoh kan tadi sudah jelas jauh dari professional. Tujuan kerja jadi seperti plesiran, pernah liat kan kasus anggota DPR yang kunjungan ke daerah turut serta membawa keluarga?yang lebih parahnya gak mau mengeluarkan uang sendiri, ini kan namanya nodong orang. Padahal tiap institusi pasti punya perencanaan keuangan, gak bisa dounk kita sebagai pejabat maupun konsultan yang ditunjuk institusi tersebut dapat seenaknya minta fasilitas ini dan itu selama menjalankan tugas, jikalau dipenuhi, please lah koreksi diri kita, kita sudah jadi orang yang membebani orang lain padahal kita diundang secara professional untuk menangani suatu masalah bukan plesiran apalagi jalan-jalan bawa keluarga.

Kenapa sih orang bisa ‘enak’ bersikap seperti itu, apa yang mendorong orang jadi gak punya malu?

Menurut saya ini masalah mental, orang yang meng-etiskan hal yang gak etis seperti contoh diatas itu adalah orang yang tidak memiliki mental kaya. Bukan masalah uang yang dimilikinya banyak atau sedikit, tapi masalah mental yang dimilikinya itu jelas jauh dari mental orang kaya.

Apa itu mental orang kaya?

Menurut saya menjadi seorang yang kaya bukan terletak pada jumlah harta yang dimilikinya, mau banyak atau sedikit kalo orang itu dapat merasa cukup dan tidak perlu menjadi rakus tentulah orang itu sudah merasa apa yang dimilikinya telah membuatnya tenang.Apalagi dengan harta yang dimilikinya ia tetap mau berbagi pada orang lain.

Lain halnya apabila ada orang yang diketahui secara luas memiliki harta melimpah, tapi gak pernah puas, ia bahkan gak malu untuk meminta-minta sesuatu yang bukan haknya gak ubahnya pengemis , mencuri sesuatu yang bukan hak nya apalagi menipu orang. Artinya orang ini masih merasa gak cukup atas apa yang dimilikinya sampai mau bertingkah seperti itu, ia rela mengesampingkan rasa malu dan moralitasnya sendiri.

Tapi ada juga seorang tukang sayur yang merasa bahagia atas apa yang ia peroleh setiap harinya, ia tidak mengeluh, tidak menipu dan tidak meminta- minta, ia merasa cukup,bahkan masih menyempatkan diri berbagi dengan orang lain dan inilah orang kaya yang sebenarnya, ia seolah telah memiliki segalanya, seakan uang bukanlah masalah.

Memang kita boleh berusaha untuk mencapai kemapanan finasial, lakukan lah dengan cara- cara yang etis, perhatikan etika profesionalitas kerja. Ambil sesuatu yang emang hak kita, dan jauhkan menuntut sesuatu yang bukan hak kita apalagi berpotensi membebani orang lain, jangan biarkan diri kita menjadi ‘penodong’ yang meminta sesuatu dari orang lain yang orang lain gak bisa menolaknya meski itu berat buatnya.

Hidup akan terasa lebih indah jika kita merasa cukup, memintalah pada Allah semata, Tuhan yang kita sembah, jangan pada manusia lain, karena rejeki datangnya dari Tuhan.

Saya percaya Allah akan membuka jalan pada orang –orang yang terus berusaha dan bersyukur, bahkan mungkin jalan dan rejeki yang diberikan jauh lebih besar daripada yang dapat manusia lain berikan pada kita.

Mungkin pada kenyataannya harta yang kita miliki tidak seberapa, tapi kita akan lebih terhormat dengan berprilaku yang etis dan jujur. Tak ada seorang pun yang akan menganggap kita miskin apabila kita tidak meminta-minta pada orang lain, tak ada satupun yang mengatakan kita rakus apabila kita senantiasa jujur dan tidak melakukan korupsi, gak ada pula yang mengatakan kita manusia tercela jika kita tidak pernah menipu orang.

Mulai sekarang teman- teman, jadilah orang yang kaya yang sebenarnya dengan cara bersyukur, merasa cukup dan merasa terhormat dengan hidup menjadi diri sendiri tanpa harus meminta minta, korupsi maupun menipu.