Friday, August 31, 2012
Membangun Mimpi, bentuk upaya kemandirian financial keluarga
Wednesday, June 27, 2012
Antri
Sehari sebelumnya saya sudah janjian dengannya untuk datang berkonsultasi dengannya. Ia berpesan spy berkali kali pd saya jk bsk saya sudah datang,saya bisa memberitahu pada perawat di poli tempatnya berpraktek tentang kehadiran saya, tujuannya supaya saya diprioritaskan untuk masuk duluan dan memotong antrian pasien lainnya.
Dan ketika saya melakukan pendaftaran via tlp saya mendapat nomor antrian 36 dan itu diperkirakan pukul 12.30.
Sesampai saya di rs, saya liat antrian pasien yg mengantri gak main2 banyaknya. Memang sempat terlintas keinginan untuk menggunakan fasilitas pertemanan saya dan si dokter agar waktu saya lbh efisien, karena saya masih ditunggu oleh bbrp urusan.
Tapi saya urungkan, saya nikmati saja antrian pasien yg tdk sedikit itu.
Meski waktu yg saya punya ga banyak, tapi buat saya ini resiko, toh ke dokter memang keperluan saya dan semua org disini jg sama2 perlu ke dokter dan juga sama2 punya keperluan lain yg sama banyaknya dengan keperluan saya.
Jadi disini posisi saya dan semua pasien lain itu sama, jadi meski saya bersahabat dengan si dokter saya gak lantas harus berbeda dng orang lain.
Kalo pun ada pasien yg hrs diprioritaskan adl pasien dlm kondisi darurat yaitu harus segera dapat penanganan jika tidak maka akan mencelakakan kesehatannya.
Sebagai sahabat tentu dokter ga mau saya sampai ga nyaman dng mengantri, tp deep inside saya lbh tidak nyaman jika hrs memotong antrian dan memprioritaskan diri saya hanya karena saya tdk mau antri. Mungkin ini idealisme saya yang aneh, tapi buat saya kepentingan semua pasien itu sama, semua hak pasien pun sama, jadi dengan kerendahan hati saya, saya menolak fasilitas itu, dan saya merasa jauh lbh nyaman duduk dibangku ini dan menuliskan ini.
Buat saya antrian adalah sebuah konsekuensi yang harus dilalui, antrian teratur adl gambaran orang saling mengahargai satu sama lain. Antrian yg teratur mengajarkan pada diri kita untuk menghormati hak orang lain.
Sederhana sih, tapi buat saya bermakna banyak, dan teach me a lot.
Have nice day!
Wednesday, June 20, 2012
Melatih anak belajar sebagai bentuk kerja keras
3. Saya adalah seorang ibu yang memiliki kewajiban mendampingi dan mendidik anak saya di rumah
Alasan- alasan itu yang membuat saya merasa masih memiliki kontribusi besar dalam hasil sekolah Lulla.
Saat ini Lulla dalam golden age, saya dituntut membentuk dia untuk terbiasa dalam memperjuangkan sesuatu, meraih sesuatu, memenuhi sebuah qualifikasi tertentu, berkompetisi secara fair, perfectionis terhadap hasil kerja dan bertanggungjawab terhadap waktu. Dan proses belajar dan ujian itu harus dilihat sebagai sebuah sebuah wadah ia berlatih untuk itu semua.
Saya pun menanamkan padanya bahwa dalam hidup harus kerja keras untuk mendapat hasil terbaik, kenapa? karena hidup itu adalah anugrah Allah swt. Hidup itu ada amanah yang kita emban, yaitu waktu dan penggunaan waktu dengna sebaik mungkin adalah kewajiban terutama umat muslim. Jika saya dan ayahnya bekerja keras dengan cara bekerja mencari nafkah dan menjalani kewajiban kami mendidik anak- anak, maka seorang anak punpunya bentuk kerja keras yang tidak sama, yaitu belajar untuk meraih hasil pendidikan terbaik, dan kerja keas adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap umur yang diberikan oleh Allah.
Semester lalu ia mendapat rangking 3, tidak terlalu sempurna, saya tidak memarahinya. Saya mengucapkan selamat padanya, tapi secara fair saya mengatakan padanya bahwa saat ini ia belum maksimal bekerja keras, masih ada 2 teman lainnya yang menduduki rangking 1 dan 2. Artinya mereka lebih baik dari Lulla, Lulla harus sadar itu bahwa ia masih punya 'pe er' untuk mengejar prestasi temannya, karena inilah persaingan, yang dicari adalah yang terbaik, maka selalu semangat ntuk mengejar prestasi untuk menjadi yang terbaik adalah wajib.
Saya bukan ambisius, tapis aya secara fair memberi gambaran pada anak saya bahwa hidup tidak mudah. orang tidak boleh mudah puas atas sesuatu yang dicapai, karena hidup ini isinya ya perjuangan sampai akhir hayat. membiasakan diri bekerja keras menurut saya adalah baik adanya daripada kit amembiarkan kemalasan tumbuh dalam diri anak- anak kita.
Dan dalam golden age ini, saya berusaha semaksimal mungkin membiasakan Lulla untuk bekerja keras, karena insyalah bisa ia lekatkan dalam ingatannya dan ia tanamkan semangat ini seumur hidupnya. Intinya menjadikan bekerja keras adalah kebiasaan dirinya.
Friday, June 15, 2012
Management Asi Ekslusif
Wednesday, June 6, 2012
Our 8th wedding anniversary
Hari ini adl hari spesial u saya dan tori, kami merayakan 8 th ulang tahun pernikahan kami. Masih seumur jagung, meski rasanya bgitu byk yg sdh kami lewati.Thursday, May 31, 2012
Peran Ayah dan Mengasuh Anak
Thursday, April 19, 2012
Balada working mom
Monday, March 19, 2012
Raport Pertama Lulla di SD
Mungkin hampir seluruh ibu di dunia ini akan merasakan sama dengan apa yang saya rasakan, kawatir dengan prestasi anak- anaknya di sekolah. Yah,sejak Lulla masuk SD saya memang menjadi panik setiap kali dia akan menghadapi ulangan, karena saya tau betul bahwa psikologis anak yang dari TK ke SD itu lumayan berat.
Di TK anak-anak kan belum dituntut banyak, sementara di SD anak dituntut untuk mengejar prestasi. Kejadian pada Lulla, ia masih gak mengerti apa itu ulangan, kenapa harus ada jatah waktu pengerjaan soal, kenapa harus ngerjain PR, apa itu nilai, guna nilai itu apa. Dan lain sebagainya. Hal- hal yang gak mudah untuk dijelaskan.
Dengan kondisi seperti itu membuat Lulla seperti seperti malas2an dalam melakukan review pelajaran. Sebelum ulangan pun sepertinya santai2 saja, kadang malah saya yang sangat tegang dan panik, sementara ia tetap santai saja.
Saya akui Lulla adalah anak yang cerdas,dari sisi IQ ia memiliki keunggulan dengan berada di angka 120 jika diukur dengan skala Wechsler, tentunya tidak sulit baginya menangkap sebuah pelajaran, tapi menilik dari pola santai yang dia terapkan dalam belajar, saya tetap kawatir.
Ditambah dengan kesibukan saya mengurus Brave yang masih bayi dan mengurus karier saya yang juga gak tau kapan santainya, saya jadi terbatas untuk punya waktu mengajar Lulla.
Terkadang saya menyempatkan diri sepulang kerja mereview pelajaran, mengoreksi PR, mengajari pelajaran sekolah dan lain2. Kadang itu juga dirasa tidak kondusif, dimana di fisik saya yang lelah kadang membuat saya hilang kesabaran. Jadi yah, kadang seadanya saja.
Tapi memang kunci mengajar anak bukan kuantitas semata tapi kualitas dan kontinuitas,jadi gak bisa asal2an dan suka2 aja yah. Harus tekun biar mental belajar anak terbentuk disitu. Jujur saya belum sukses untuk itu.
Di bagi raport kemarin saya merasa belum maksimal, dari nilai-nilai raport yang dibagikan oleh sekolah, Lulla mendapat dua angka 10 yaitu di mata pelajaran English dan Bahasa Indonesia, dan nilai paling kecil adalah angka 8 untuk olahraga. Sepintas terlihat memuaskan karena buku raport dihiasi dengan angka 8,9 dan 10, tapi ternyata Lulla hanya berhasil menempati peringkat ke 3 di kelasnya.
Not bad but not really good, ehehehe...masih gak puas aja nih si ibunya ehehehe. Tapi saya cukup mengapresiasi dia atas pencapaian itu, lumayan lah untuk anak yang begitu santainya itu. Jadi saya tetap mengucap terimakasih atas persembahan prestasinya, dan saya juga masih berharap ada peningkatan yang berarti di semester mendatang.
Memang ini adalah fase yang gak mudah, dimana merawat bayi sendiri dengan impian memberi ASI sampai 2 tahun, harus dibarengi dengan memberi bimbingan belajar buat Lulla dan karier yang gak ada santainya, saya Cuma berdoa semoga Allah kasih kemudahan,saya harus tetep semangat dan optimis karena saya harus konsisten sama prinsip hidup saya bahwa "HIDUP HARUS DIISI DENGAN KERJA KERAS AGAR BERMANFAAT BAGI UMAT DAN AGAR JADI AMAL BAIK SEBAGAI BEKAL AKHIRAT..
Friday, February 10, 2012
Datang dan pergi
Jadi setiap ada karyawan yg resign saya selalu ajak diskusi,supaya saya tau penyebabnya,jika ada ketidakpuasan karena kebijakan perusahaan yg tidak bisa diterima atau jikalau ada masalah pada pimpinan nya maka itu akam menjadi bahan evaluasi saya terhadap management. Jadi resignnya karyawan selalu saya pandang sebagai hal yang membangun.
Kadang ada rasa jengkel ketika nerima surat resign seseorang, brati saya harus kembali mencari pengganti,namun pola itu lambat laun harus dikoreksi, bahwa yg ideal adalah perusahaan wajib senantiasa membuat sistem2 darurat jika ada kasus resign.
Saya lebih menyukai sistem regenerasi yang berkelanjutan untuk mencegah kekosongan yang terjadi.
Karena saya berpendapat bahwa sebuah perusahaan yg besar adalah perusahaan yang tidak bergantung pada beberapa gelintir karyawan karena ia memiliki pasukan karyawan dan sistem kerja yang konsisten disegala kondisi.
Wednesday, February 1, 2012
Ibu rumah tangga adalah profesi tersibuk di dunia
Disini saya sebagai sesama kaum ibu merasa prihatin, yang saya tau profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi tersibuk yang ada di bumi ini. Dimana sejak bangun pagi hingga tidur, mata dan pikirannya terus berputar. Dari mulai anak, rumah tangga hingga suami. Sehingga seharusnya keinginan untuk berprilaku negatif tidak sempat terfikir, karena padatnya kesibukan seorang ibu rumah tangga.
Coba ayo kita runut circle kerja ibu rumah tangga, bangun pagi harus ibadah, lalu menyiapkan sarapan bergizi sambil mempersiapkan keperluan anak2 untuk sekolah, belom lagi harus nyiapin baju suami bekerja. lalu sebelum suami bangun harus mandi mempercantik diri, biar suami pergi dilepas dng istri yg enak dipandang. Lalu antar anak2 sekolah, tak lama kepasar untuk menyediakan stok makanan di rumah, sampai rumah harus nyiapin makanan untuk makan siang dan malam, sesiangan harus berkutat dengan urusan rumah tangga lainnya, sampai waktunya jemput anak sekolah harus berangkat lagi, lalu antar anak les. Tibalah sore hari, mengurus anak2 lagi, mengajari anak pr sekolah dan mengajari anak pelajaran sekolah untuk esoknya, waktunya makan malam harus disiapkan dulu, minimal dihangatkan, lalu makan malam dengan anak2, tak lama anak2 disiapkan untuk pergi tidur, mulai dari sikat gigi dan ganti piyama, lalu membacakan dongeng.kemudian retouch wajah dan rambut supaya suami pulang kita kece dilihat. Tak lama suami datang, harus disiapkan makan, disiapkan pakaian tidur dll, lalu diajak ngobrol dan mungkin harus ditutup dengan melayani suami di tempat tidur.
Nah panjang bukan aktifitas harian seorang ibu rumah tangga?kalo dibilang kurang kerjaan sehingga akhirnya membuang waktu aktif di group chat sampe harus terbawa perasaan disana saya melihat itu hal yang kontra produktif sementara urusan rumah tangga sebenernya seabreg.

Namun yang saya cermati belakangan ini, ibu rumah tangga jaman sekarang cenderung menyerahkan tanggungjawabnya kepada pembantu rumah tangga.
Saya sering melihat ibu2 disekitar rumah saya, sampai punya pembantu lebih dari satu padahal kegiatannya di rumah saja, karena terlalu banyak orang yang dipekerjakan,sehingga diri sendiri jadi kurang produktif.
Seperti begini, suatu pagi saya sudah rapih mau ke kantor, sambil gendong si bayi yang mau dititipkan ke daycare, tau- tau saya bertemu para ibu rumah tangga disekitar rumah yang juga sudah rapi jali, saya pikir mau antar anak2 ke sekolah bareng2, ternyata rombongan ibu2 tersebut mau 'menabung' ke Tanah Abang.
Fine kelihatannya, mungkin sekali- sekali boleh lah, tapi ternyata para pembantu mengeluhkan hal itu, si-nyonya terbilang hampir tiap pagi punya agenda yang padat pasca melepas si tuan pergi ngantor, mulai dari ke tanah abang, ngopi ke PIM, reuni sama teman SMA, SMP, gosip berjamaah berkedok pengajian, belom lagi urusan salon dan hang out dengan alasan lainnya, kalo pun dirumah tangan kayak nempel sama blackberry, lalu gak lama senyum2 sendiri ke layar blackberry yang mungkin meyuguhkan sesuatu yg manis. Kalo udah di rumah dengan sindrom ‘ketempelan’ blackberry begini ,maka semua urusan anak pun dikit2 neriakin si pembantu. Keluhan semacam ini saya dapat dari curhat para pembantu ke si Eneng pembantu saya dan curhat pembantu2 lain yang pernah kerja sambilan di rumah saya.
Jadi bisa disimpulkan pendelegasian tugas ke pembantu itu jadi berlebihan. Padahal ada hal2 yang harusnya tetap dipegang peranananya oleh si ibu, seperti:
1. Fungsi pengelolaan buget rumah tangga, saya melihat itu tugas ibu, karena agama yang saya anut menyatakan bahwa tugas perempuan adalah menjaga harta suami. Semakin ia cermat menghabiskannya meski untuk urusan rumah tangga, semakin terjaga harta suaminya. Namun yang terjadi umumnya, para ibu menyerahkan semua urusan ke pembantu, pembantu yg atur menu masakan, pembantu yang berwenang nentuin mau belanja apa aja, si nyonya pun membuang uang untuk urusan hang out dan shopping yang keliwat sering, bahkan ada yang menggunakan fasilitas suaminya berikan untuk flirting/ goda menggoda lawan jenis yang gak halal untuknya hanya dengan alasan kesepian. Ini cara salah menafkahkan harta suami saya menurut saya, jauh dari anjuran agama untuk menjaga harta suami.
2. Lalu fungsi mendidik dan mendampingi anak, banyak yang menyepelekan quality time. Padahal quality time itu bisa diperoleh dari hal-hal kecil, misalnya mengantar anak ke sekolah, di perjalanan sekolah, kita bisa menggali anak-anak tentang apa yang mereka rasakan, sayangnya para ibu yang gak bekerja lebih suka menyuruh pembantu untuk mengantar jempt anak sekolah atau bahkan menaikkan anak ke antar jemput sekolah meski memiliki kendaraan ekstra di rumah. Pada waktu menjemput anak2 itulah waktunya kita mendampingi anak2, ada kalanya anak sedang berkonflik dengan temannya,ada kalanya anak sedang drop mentalnya karena pelajaran yang mungkin sulit baginya dan bagi yang sudah besaran mungkin akan merasakan gejolak jatuh cinta. Intinya hal2 kecil yang dapat digali untuk perbaikan ke depannya. Dan nilai2 baik dapat ditanamkan dari waktu ngobrol yang ada.
3. Mengajari anak pelajaran sekolah, ini hal kecil yang sering didelegasikan para ibu ke guru les, padahal seorang ibu juga harus menakar kemampuan anak2nya terhadap suatu pelajaran, sehingga jika dilihat ada masalah, para ibu dapat men drive dan menjadi teman diskusi si guru les untuk mencari solusi atas masalah itu.Yang ada dewasa ini, para ibu, menyerahkan semua ke guru les, padahal itu kan anak2 sendiri, kenapa prestasinya digantungkan pada si guru les?jadi terbalik bukan?Padahal saat ini banyak lembaga kursus bagi para ibu untuk mengajari anak2nya, bahkan ada kursus matematikan for mom, sehingga para ibu dapat merefresh kembali ingatannya tentang pelajaran sekolah yang anak2nya akan hadapi, sehingga ia bisa menjadi mitra anak dalam mempelajari pelajaran di sekolah.
4. Melayani suami, suami sibuk bekerja seharian di rumah, sibuk mencari solusi keuangan agar seluruh biaya2 di rumah tangga bisa tertutupi, fasilitas dan masa depan ntuk anak2 bisa dipenuhi, begitu juga memberikan nafkah bagi kita. Sepulang ke rumah, ia layak untuk dibahagiakan, mungkin mencicipi masakan enak bikinan istrinya, merasakan suasana kamar yang selalu segar dilihat, berkomunikasi dengan istrinya dengan lancar dan hangat, dan segala hal lain yang membuat dia merasa hanya istrinya yang dapat memenuhi itu semua.Namun bagaimana itu mau dicapai jika si istri tak kalah sibuk agendanya dengan pergaulannya, namun sayangnya genda sibuknya sama sekali tidak membantu, baik diri sisi financial maupun dari sisi psikologis. Ini yang sangat berbahaya menurut saya.
5. Menjadi role model keluarga, ibu adalah role model keluarga, disadari atau tidak prilaku kita adalah contoh bagi anak2 kita, bahkan kadang mempengaruhi prilaku suami. Lihat saja, seorang ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak, gerak gerik kita dilihat oleh anak, gak jarang anak selalu ingin meniru ibunya. Kadang dalam hal mengerjakan sesuatu si anak selalu menggunakan cara ibunya melakukan pekerjaan itu. Sebagai role model tentu kita harus semangat untuk selalu tampail baik, menjadi orang yang menginspirasikan prilaku baik pada anak2 kita dan keluarga di rumah. Bagaimana caranya?selalu upgrade diri. Banyak membaca, banyak2 membuka wawasan, jangan letih dan bosan untuk belajar hal-hal baru yang bermanfaat, banyak2 menggali informasi yang menunjang sekolah anak2 kita kedepan, banyak2 menggali informasi tentang apa2 yg menjadi hobby suami,agar bisa menjadi mitra sejajar dan teman diskusi bagi suaminya. Jadi menjadi ibu harus pandai menyisipkan waktu untuk kegiatan up grade diri, karena ini mutlak diperlukan untuk menunjang perannya sebagai role model.
Ibu Rumah Tangga Juga Harus Terus Belajar
Jika anak-anak senantiasa belajar di sekolah, para suami mengupgrade diri agar lebih berkualitas dan lebih menghasilkan,maka ibu rumah tangga juga demikian. Jangan merasa menjadi ibu rumah tangga lalu selesai sudah urusan belajar ini. Ibu rumah tangga juga waktu untuk mengupgrade diri, memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menambah ilmu dan pengetahuan.
Untuk apa?
pertama, anak-anak terus berkembang, untuk dapat menjadi orang yang mampu memahami dan mendidik anak2 dengan baik, kita harus dapat mengikuti perkembangannya, supaya dapat memberikan advice dan arahan terbaik bagi mereka.Bagaimana caranya? ya banyak membaca, banyak diskusi dengan orang yang eksperts disitu, perluas jaringan yang memiliki semangat sama yaitu pendidikan anak, dan terus menimba ilmu agar mampu menjadi contoh bagi anak-anak kita bahwa hidup memang harus disi dengan sesuatu yg produktif.
Kedua, suami dengan kariernya diluar rumah itu setiap hari mengalami proses pembelajaran yang tujuannya untuk meningkatkan mutu diri agar penghasilan yang didapat mengikuti kebutuhan yang terus meningkat. Mau tidak mau mereka berkembang, entah sengaja maupun tidak suami mengupgrade dirinya terus, nah kita yang di rumah apakah hanya mau begitu saja?tentu tidak, suami pulang ingin diajak ngobrol, ingin mendapat advice dan ingin punya mitra dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Namun apa yang terjadi jika kita tidak mengembangkan diri?suami hanya pulang secara fisik, ia akan tetap sendiri menyelesaikan urusannya sendiri, lama- kelamaan mungkin kita hanya pihak yang tidak berarti yang senantiasa hanya menggantungkan hidup pada mereka, gak bermakna lebih dari itu semua.
Dan terakhir, kita harus mengupgrade diri adalah untuk diri kita sendiri, hidup harus dimanfaatkan sebaik mungkin, makin berisi 'kepala' seseorang, gak bisa dipungkiri makin wise dirinya menyikapi sesuatu dan akan jauh bermanfaat bagi orang banyak. Jadi karena hidup hanya sekali, kenapa kita hanya berpangku tangan tidak memperbaiki diri sendiri, toh semua kebaikan ganjarannya surga? Jika para ibu merasa kurang ruang gerak sementara energi dan fasilitas di rumah tangganya berlebih, kenapa tidak kembali bekerja, kembali menimba ilmu ataupun aktif di kegiatan sosial dengan hasil kerja yang kongkrit untuk masyarakat?daripada membuang waktu, energi dan fikiran hanya untuk pergaulan apalagi pergaulannya menjurus ke sesuatu yang negatif? Bukankah hidup harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai ungkapan syukur kepada Allah?
Mengutip dari statement Nurcholis Majid,”bahwa bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulilah dan istigfar”, ini berlaku BUKAN hanya untuk orang2 yang memiliki karier, tapi juga para Ibu rumah tangga yang memiliki profesi paling sibuk di dunia ini, yaitu: Ibu Rumah Tangga, dengan komitment seumur hidup, bahkan ini adalah profesi yang tidak mengenal istilah cuti.
Monday, January 30, 2012
Efek Reuni via BBM group
Pertama kali saya pakai BB mungkin sekitar 3 tahun lalu, itu didorong oleh nyamannya teknologi email yg bisa diakses dngan mudah dari layar handphone semudah menggunakan SMS. Dulu saya berfikir, wah asiknya ada alat begini, dimana aja kapan aja saya bisa jawab seluruh email, saya bisa kerja dan meremote kerjaan dari mana saja. Awalnya itu saja yang menjadi sasaran saya. Lama kelamaan seluruh team kerja management di kantor memiliki BB, lalu terbentuklah group BBM (black berry messenger) urusan kantor, saya cukup merasakan kenyamanan, dimana kesibukan seluruh pemimpin perusahaan seperti disatukan dalam ruang itu, nyaman dan mudah.Rasanya meeting koordinasi bisa dipindahkan ke ruang itu tanpa kami harus saling bertemu, ada yg di Kalimantan, di Pengadilan, di WC kantor, dimanapun semua bs ikut berdiskusi masalah kantor di group chat itu. Tak lama muncul group- group serupa, mulai dari teman sepergaulan, teman kuliah, teman SMP,teman SMA dan teman kenal- kenal saja.
Awalnya harus jujur saya akui, saya menikmati keberadaan group2 tersebut, seperti makin punya banyak teman, seperti berada lebih dekat dengan teman2 dan sahabat2 lama. bahkan yang sudah tidak bertemu sejak SMP pun akhirnya bisa berakrab-akrab lagi.Disitu pula biasanya ada ajakan untuk kopi darat alias reuni, namun sampai detik ini saya hanya nyanggupin kegiatan reuni semacam itu 1 kali saja. Selain karena agenda hidup saya cukup sibuk, saya pun merasa ada kejanggalan jika kegiatan kongkow baik melalui kopi darat maupun melalui group chat yang aktif dilakukan terlampau sering.Saya merasa kurang wajar aja karena yang namanya reuni masa lalu akan hilang rasa nya jika terlalu sering dilakukan.Yang namanya masa lalu ya masa lalu gak perlu di bongkar bolak balik, dipakasakan sejalan dengan apa yang ada di hidup kita sekarang. Toh tak bertemu juga sudah bertahun- tahun, maka tujuan hidup dan kesibukannya pun jadi beda, jadi akan terkesan maksain kalo dari berbagai perbedaan itu disatukan dalam satu ruang yang intens, itu menurut cermatan saya.
Dan benar saja, diperjalanan saya merasa gak nyaman dengan komunikasi masa lalu yang intens kembali itu. Saya perhatikan member dari group sekolah itu seperti terbawa ke alam masa lalu, dimana saat itu semua adalah anak remaja dalam status 'orang bebas' seolah saat ini semua jadi mengidap amnesia saja, lupa bahwa masing2 sudah punya pasangan dan anak2. Ini terlihat dari tidak segannya mengumbar obrolan seputar mantan pacar, mantan gebetan, becandaan yang kekanakan dan obrolan gombal yang tidak pantas, nah belum lagi trafic pengiriman gambar/video berbau pornografi yang seolah begitu wajarnya. Padahal seharusnya tidak demikian, mengingat masa-masa itu sudah lewat, kita sekarang bertemu lagi dalam situasi dan kondisi yg sudah berbeda, sebagian besar sudah menikah, sudah memiliki keluarga dan tanggungjawab.Dan ada aturan berupa etika pergaulan yang membatasi itu. Karena tidak dibatasinya interaksi yang demikian, tentu akan membuat orang jadi lupa dirinya, lupa statusnya. Bahkan mungkin jika ada seorang member yang sedang tidak harmonis malah bisa membuat group sebagai pelarian, atau bagi member yang memiliki pasangan yang tidak suka melihat interaksi semacam itu jadi tersinggung, atau parahnya dengan ketersinggungan itu bisa mengakibatkan keretakan rumah tangganya.
Jadi saya melihat potensi- potensi bahaya disini jika semua orang dalam group tidak memahami etika yang baik dalam bergaul.
Saya yang tadinya (diawal terbentuknya group) cukup rajin membalas sapaan teman- teman, makin kesini makin sering mengabaikan, selain karena kesibukan, saya juga kawatir saya terbawa jauh, jadi saya memagari diri saya sebelum saya merasa ketidak nyamanan mengganggu diri saya. Namun karena semakin banyak group, emang BB jadi lemot, itu juga yang membuat saya malas pakai BB, jadi gak praktis dan jadi kurang gesit fungsi si BB itu.
Namun suami saya yang memiliki beberapa group BBM, jadi sempat merasakan dampak negatif dari groupnya. Dikarenakan alasan yang sama, suami saya sempat menikmati pertemanan melalui BBM. Maka ia rajin mengirim joke2 lucu dan terbawa suasana obrolan yang ngalor ngidul kalo bisa dibilang hampir kurang bermanfaat. Saya rajin mengingatkan tapi karena ia orang yang lempeng, ia merasa warning saya gak akan terjadi. Ternyata dan ternyata dari komunikasi di group gak bisa dihindari ada yang saling tersinggung yang menimbulkan sakit hati, sehingga kadang dari becandaan di group akhirnya ada yang leave group dengan alasan yang kurang enak, yaitu tersinggung. Ada juga yang pasangannya tersinggung.
Sebenarnya situasi-situasi tersebut tidak serta merta membuat suami saya yang tadinya aktif di group jadi leave group, namun yang terjadi adalah terdapat indikasi negative dari pertemanan group bbm ini ‘mampir’ ke kehidupan kami. Ada seorang teman member group bbm yang memiliki ketertarikan negative pada suami saya yang mengarah ingin masuk ke rumah tangga saya dan suami, bahkan dengan gamblang pelaku mengadakan pendekatan intes ke privat messenger (japri) bahkan dengan berani menyakan rasa sukanya pada suami saya, padahal situasinya wanita itu bersuami dan dia tau persis suami saya sudah memiliki keluarga.Awal ketertarikan negative itu memang diakui si wanita berawal dari intensitas percakapan di group, dari lelucon2 yang kerap suami saya sampaikan di group, dari sikap ramah suami saya yang tergambar di interaksi group dan hal-hal baik yang dinilai simpatik akhirnya mengantarkan pada rasa suka wanita ini kepada suami saya, dimana rasa suka itu adalah rasa suka yang tidak pada tempatnya ini. Dan yang cukup parah, ada seorang teman dari group tersebut yang seolah berperan menjadi ‘mak comblang’ alias provokator, dimana dia tau wanita ini menempatkan perasaan yang salah pada suami saya, namun si provokator bukannya melerai malah seperti memberi angin segar dan dari percakapan yang saya baca si provokator member reaksi yang sama sekali tidak mencegah bahkan malah mensupport. Padahal si provokator adalah istri orang juga, entah apa pikirannya perempuan2 ini, bagaimana jika kondisi itu terjadi pada suaminya yang sedang di rayu wanita lain sementara ada wanita lain yang ‘menseponsori’? apa tidak sakit hati kita sebagai istrinya??
Akhirnya suami saya menarik kesimpulan ini group jadi gak sesuai semangat awal lagi, yaitu untuk menjalin silaturahmi, dan malah menjurus pada arah sebaliknya. Jadi melalui diskusi panjang dengan saya, ia menarik kesimpulan untuk menarik diri dari group, bukan berarti benci pada member group, tapi lebih pada memagari diri dari hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Saya appreciate dia yang mau mengambil langkah itu meskipun dia adalah orang yang cukup aktif di group tersebut. Jadi proteksi diri itu perlu dilakukan manakala kita merasa apa yang terjadi sudah tidak sejalan lagi dengan semangat membangun masa depan yang baik.
Pertemanan yang awalanya diharapakan adalah pertemanan yang positif dimana saling mendorong untuk kebaikan, baik kehidupan profesi maupun keluarga, namun yang terjadi sebaliknya, dengan tidak menafikkan rasa suka orang, menurut kami rasa suka harus ada rem nya dan tepat sasarannya, karena kita orang2 beriman, mengganggu rumah tangga orang dengan alasan karena suka atau mencintai atau ingin memiliki atau apalah itu juga, menurut kami itu hanya akan membawa dampak buruk bagi kehidupan orang lain, jadi sebagai orang beriman sebaiknya mampu menahan dirinya. Disituasi ini, suami saya berinisiatif untuk melepaskan diri dari itu semua, agar tidak ada satu pihak pun yg terperosok lebih jauh lagi.

Dan sekilas yang saya dapat simpulkan, bahwa kemajuan teknologi jika tidak diperuntukkan sesuai dengan manfaatnya, emang jadi menimbulkan banyak mudarat daripada manfaat.
Berikut beberapa penglihatan saya efek negatif yang bisa terjadi bila tidak menempatkan reuni via bbm di tempat yang benar:
1. group sekolahan yang dimaknai sebagai ruang hidup yang baru kurang tepat membangun kedewasaan jika diisi dengan trafic pembicaraan yang mayoritas ttg masa lalu maupun pepesan kosong, namun jika diisi dengan pertukaran informasi yang membangun mungkin akan lain dampaknya.
2. group sekolah yang terlalu aktif berlebihan berpotensi menggangu kesinambungan hidup orang, karena tidak berhentinya percakapan yg terjadi, membuat efek tidak konsentrasi bagi org yang memang butuh untuk konsentrasi
3. group sekolah berpotensi membangkitkan cinta masa sekolah dan merusak kehidupan rumah tangga yang sedang berjalan.
4.group sekolah yang diisi dengan postingan-postingan yang tidak membangun (contoh artikel/gambar/video porno) mendorong kemaksiatan bukan kebaikan.
5.group sekolah berpotensi membuat seseorang addicted untuk terus mencurahkan waktunya berbincang didalamnya sehingga tidak mengindahkan kehidupan di dunia real nya.
6.group sekolah yang tidak diatur etika komunikasi dan batasan becandanya berpotensi menimbulkan perpecahan antara member group maupun antara member group dengan keluarganya.
7.group sekolah yang dibuai atmosphere masa lalu sehingga menimbulkan efek amnesia bahwa semua member sudah berkeluarga berpotensi dapat menimbulkan cinta- cinta2 terlarang yang gak seharusnya berkembang.
8.bagi beberapa pihak yang mengalami masalah cenderung melarikan diri ke group dan bukan mencarai penyelesaian masalah.
Dan entah apa efek lainnya, tapi inilah yang kerap terjadi disekeliling saya, bahwa reuni yang tergabung dalam group bbm teman-teman sekolah kadang jika tidak disikapi secara benar dapat menimbulkan kerugian. Dilingkungan terdekat saya sudah terjadi beberapa kasus perceraian akibat perselingkhuhan yang diawali dengan adanya intensitas pergaulan di dalam group bbm semacam ini.
Jadi menurut pandangan saya,penyikapan reuni harus dalam tataran wajar, bahwa pertemanan masa lalu adalah bagian dari kisah lalu, jika harus kembali lagi di masa sekarang masuk kedalam kehidupan kita, maka tempatkan di tempat seharusnya. Karena setiap orang dalam kurun waktu yang lama tentu sudah mengalami perubahan, baik perubahan pendidikan, lingkungan sosial, pola pikir, tujuan masa depan dan tanggungjawab, jadi pertemanan yang sudah lama tidak terjalin, jika harus terjalin kembali situasinya jangan dimundurkan ke masa lalu tapi di tempatkan sesuai ruangnya di kehidupan masa sekarang dan harus memberikan implikasi positif untuk masa depan bukan sebaliknya.
Semoga berkenan, Happy Monday all, tetap semangat ya...
Monday, January 2, 2012
baby brave suka buku






surprise sekali,beberapa bulan lalu saya coba kasih brave buku,dia excited melihat lihat isinya.saya yakin krn kebiasaan di daycare nya yg sering membacakan dongeng.dan ktika eranya eksplorasi mulut dan gusi hya sedang gatal seperti sekarang,semua benda dimasukkan ke mulut,tapi lucunya buku tidak demikian,ia tidak sm sekali terlihat mengemut buku yg diberikan padanya,sudah tau ya nak buku itu fungsinya apa?hehehe
Wednesday, December 21, 2011
ASI Ekslusif dan Ibu Bekerja
Saya janji yah mau nulis tentang gmn perkembangan pemberikan asi ekslusif (ASIX) kpd Brave. Sekaian di tulisan ini saya mau mereview penggunaan Breast Pump (BP) Medela Swing.
Sejarahnya dulu saya tulisin kenapa saya ngotot ingin anak kedua saya diberikan ASIX, krn pengalaman ketika melahirkan anak pertama sungguh tidak menyenangkan. Saya yang saat itu minim akan pengetahuan tentang asi ditambah lagi begitu banyak intervensi orang tua, mertua dan eyang yang notabenennya adalah orang jaman dulu yang belum punya info yang lengkap juga tentang asi, sehingga membuat saya ‘kecolongan’ dengan tidak memberikan ASIX kepada Lulla. Perkembangan Lulla bayi saat itu emang gak ada masalah, Lulla sehat, berat badannya juga tidak kurang dari bayi normal, perkembangan lainnya pun tepat sesuai dengan waktunya, namun efek pemberian MP ASi dini (makanan Pengganti Asi dini) terlihat ketika usia Lulla 3 tahun.
Saat itu saya dan suami kewalahan dengan alergi kulit yang Lulla alamin, dia gak bisa kena panas, maka kulitnya ruam, dia gak bisa pegang mainan dari karet yang tidak bersahabat dengan kulit sehingga kulitnya akan terkelupas kelupas, dia tidak bisa bersinggungan dengan logam logam tertentu, dan masih banyak alergi kulit lainnya. Saya jadi ekstra hati2 memberikan produk perawatan kulit untukknya. Ketika mulai masuk Play Group, masalah baru muncul, padahal masalah alergi kulit belum beres. Ia batuk2 dalam term yang panjang, aneh sekali. Kami kawatir ia mengalami masalah di paru2, maka kami lakukan rontgen dan tes matoux, hasilnya negative. Berbagai dokter didatengin, sampai ke ahli paru anak dr Noenoeng dan dr nastiti, dan hasilnya juga negative. Lalu kami ke dr ahli alergi Prof karnen, Lulla di test alergi, dan hasilnya, beneran alergi Lulla berderet. Saya sedih dan merasa bersalah, saya yakin alergi anak saya dipicu dari pemberian asi yang gak maksimal. Dan dari info sana sini yang diperoleh emang alasan itu masuk akal. Sejak dinyatakan alergi thd berbagai zat itu, Lulla pun kami kelola hidupnya dengan begitu banyak aturan main, sampai dia sendiri hafal dengan apa yg boleh dan tidak boleh baginya. Baik untuk dia krn dia mulai bisa menjaga dirinya sendiri. Dan buat saya jelas jadi pelajaran paling berharga, saya bertekat di anak kedua, saya enggak akan lagi semudah itu menyerah memberikan ASIX pada bayi saya.
Mulai ketika hami Brave saya rajin cari info BP yang bagus, bagus bukan berarti harus mahal, setidaknya saya mengenali kekurangan saya, yaitu produksi ASI saya tidak melimpah dan kulit saya tipis, jadi saya harus cari pompa asi yang nyaman untuk sering2 dipakai, karena sekali dua kali mompa saja gak akan menutupi kebutuhan. Seorang teman merekomendasikan medela freestyle, saya tertarik sekali, tapi harganya mahal, emang buat anak jangan pelit, tapi sungguh itu terlalu mahal buat saya, ditambah lagi saat itu medela baru naik harga. Akhirnya saya memilih medela swing, karena teknologinya sudah 2 phase, bisa diatur sendiri kekuatan sedotannya, jadi saya bisa mengatur jika sedotannya terlalu keras, lalu corongnya sudah menggunakan silicone lembut tidak seperti corong plasti BP biasanya jadi menurut saya, cukup amanlah buat diri saya. Sedikit review dari saya, memompa dng medela swing sangat recommended yah, emang sih kalo punya dana lebih, silahkan pilih freestyle, yakin nayaman banget karena kia bisa memompa sambil mengerjakan hal lain krn di botol dan pompa gak harus dipegangi. Tapi kalo dana terbatas, dan punya masalah sama seperti saya, yaitu kulit mudah lecet, swing mungkin bisa dijadikan pilihan. Review dari teman saya pengguna mine electric, medela swing jauh lebih lembut sedotannya, hampir mirip dengan sedotan bayi, sangat soft.
Saya mulai belajar memompa asi 3 hari setelah melahirkan, saat itu jujur aja bikin down, bayangin deh, dengan kondisi payudara yang rasanya penuh asi, namun ketika dipompa kok dapaetnya sedikit banget, mungkin 20ml juga tidak sampai. Saya dan mama saya sampai saling melihat dengan cemas, apa yang salah. Saya telpon teman2, mereka menyemangati, mereka bilang emang baru latihan ya segitu aja. Lalu pas mau pulang dr RS, Brave dinyatakan ‘kuning’ dan harus diblue light untuk beberapa waktu. Karena Brave tidak room in lagi krn harus masuk ruang penyinaran khusus, mau gak mau saya bolak balik merah asi saya untuk ‘disetor’ ke ruang perawatan Brave. Disitu asi mulai meningkat dari 30 ml ke 40 ml lalu ke 50 ml. Sampai di rumah, saya masih mompa karena penasaran ingin menaikkan jumlah, ternyata gak sia2, setiap subuh saya bangun, ketika Brave tidur pulas saya mempompa asi saya, dan hasilnya lama2 meningkat bahkan bisa 150ml sekali pompa, seneng bukan main. Selain rajin mompa saya juga melawan kebiasaan saya malas makan, mungkin karena saya kurus, jadi kebiasaan makan sedikit, kapasitas perut jadi gak nampung banyak. Namun saya siasati terus, asupan nasi saya kurangi, saya gantikan dng lauk pauk seperti sayuran dan protein pun dilipatgandakan. Saya suka air putih, namun saat itu jumlah air putih yg saya minum saya combine banyaknya dng susu yg saya tegak, mungkin bs 1 liter sehari susu yg saya habiskan. Saya pilih susu yg saya suka, gak mesti susu khusus untuk ibu menyusui. Lalu saya tiadakan agenda mengemil kripik2 mapun makanan ringan lain yg tak bermutu, saya gantikan rebusan kacang2an/ sayur bening maupun rebusan labu kecil. Dan untuk memperbanyak asi, selain asupan, pompa asi yg nyaman, saran saya adalah coba kelola emosi, meski kita lelah kalo emosi kita stabil rasanya kita bisa. Saya ingat banget selama saya cuti melahirkan saya punya masalah dng pembantu sebanyak 2 kali, terpaksa sambil urus bayi saya ngurus rumah tangga karena purely sendirian di rumah, alhamdulilah asi masih jalan terus. Intinya optimis dan coba kesampingkan masalah untuk tidak ngoyo dipikirin, jalani saja apa yang kita mampu, insyallah kita bisa.
Lalu sayapun mulai menyetok, sekalianlatihan sekalian nabung asi jika saya masuk kantor. Lalu pada usia Brave 17 hari, Brave dinyatakan harus di rawat di NICU krn bilirubin melonjak. Saya panic sekali krn pihak RS sangat straight tidak membolehkan saya untuk sering2 menyusui secara langsung, jadi saya harus punya cadangan asi yg cukup. Benar saja deh, stok asi saya ludes kepake saat brave dirawat 3 hari itu. Mungkin kalo enggak ada stok, gak terkejar deh kebutuhan susu dengna produksi saya. Bersyukur sekali dan jadi pelajaran penting. Sejak itu saya rajin mompa, semangat berkobar lah istilahnya.
Sampai pada tanggal 27 September, hari dimana saya akhirnya masuk kantor, saya memiliki 55 kantong asi, dengan isi sekitar 75- 80 ml masing2 kantong. Seneng bukanmain, alhasil saya berangkat ngantor dengan hati relative ringan, setidaknya stok asi saya memadai.
Di kantor karena kesibukan, saya hanya bisa mompa sehari 2 kali, dibawah jam 12 siang dan hampir jam 5 sore, pendapatan bisa dibilang lumayan, bisa mencapai 450ml seharian mompa, paling jelek yah dapat 300ml sekali mompa. Saya syukuri saja sampai saat ini, insyallah seminggu lagi brave 6 bulan, maka saya selesai memberinya ASIX, namun saya masih punya stok asi memang gak banyak mungkin sekitar 35 bungkus asi, masing2 80-100ml perbungkusnya. Saya lega bener, setidaknya 6 bulan ini saya purely memberinya asi saja.
Niat saya mau meneruskan memberinya asi sampai Brave berusia 2 tahun, saya pikir-pikir enggak terlalu sulit juga, jadi yah saya semangat banget.bagi ibu2 diluar sana yg masih berjuang, ayo saya semangati yg pasti coba kelola emosi, tetap optimis, perbaiki asupanmakan dan take it easy aja…


