Pages

Wednesday, June 22, 2011

Persiapan Melahirkan dan Persiapan ASIP

Seperti yang saya ceritakan tempo hari, saya mengalami komplikasi kehamilan, maka hampir dipastikan saya akan mengalami proses kelahiran melalui operasi Caesar. Meski hati saya masih merasa berat, tapi saya mulai pasrah sedikit- sedikit jika harus operasi. Saya sangat menginginkan melahirkan normal, karena selain pemulihannya cepat saya berharap ASI yang keluar pun otomatis dan lancar. Selama ini saya sering dapat keluhan wanita yang melahirkan Caesar kadang mengalami kendala mengeluarkan ASI.

Saya ingin segera menyusui bayi saya nanti, lalu saya sudah mempersiapkan diri untuk memproduksi ASi dan menampung ASIP sebanyak mungkin, jadi jika saya bekerja nanti, produksi ASI tetap banyak dan bayi saya gak kekurangan ASI. Peristiwa Lulla yang berenti ASI di usia 4 bln sungguh memberi saya keinginan kuat untuk menyusui bayi saya nanti minimal 1 tahun, meski saya berfikir jika mungkin saya mau 2 tahun full memberinya ASI.

Dengan semangat itu saya mulai hunting perlengkapan pemerah ASI/ breast pump. Rata- rata teman kantor menggunakan medela, merek BP yang kayaknya cukup nyaman. Ada beberapa jenis yang sudah saya pelajari dan sepertinya saya sreg banget, tentu saya sesuaikan dengan kebutuhan saya dan isi “kantong”.Saat ini saya belom membelinya meski saya sudah punya incaran, insyallah weekend nanti saya beli, nanti review nya saya akan buat kan jika saya sudah memakainya.

Dan untuk proses persalinan, saya saat ini sedang menunggu tanggal yang sudah disepakati yaitu 28 Juni 2011. Bukan karena tanggal special atau apa, tapi ini keputusan murni karena alasan medis, tgl 28 itu adalah tepat pada minggu ke 38 kandungan saya. Dokter menunggu sampai usia yang cukup yaitu di 38 weeks itu. Kalau lebih dikawatirkan ada bahaya pada placenta saya dan mengakibatkan hal fatal pada saya maupun bayi. Untuk itu ketika memasuki 38 weeks, kami segera akan mengeluarkan bayi dari kandungan.

Saat ini ada hal unik, 2 minggu ini, placenta dalam kandungan saya menunjukkan pergerakan menjauhi servics, sehingga terbersit harapan untuk melahirkan normal. Tanggal 27 mendatang, akan diperiksa ulang, jika placenta berada pada titik aman, itu berati merupakan keajaiban dari Allah agar saya bisa melahirkan normal, maka agenda Caesar tgl 28 dibatalkan,namun jika placenta tidak berubah posisi atau hanya bergerak sedikit, saya merasa pasrah saja, bisa hamil lagi saja rasanya sudah spt miracle saja, gak bisa saya gak bersyukur atas ini semua.

Jadi intinya saat ini saya sedang menunggu proses persalinan, dan saya bahagia menantikannya. Soal urusan kantor emang cukup mencemaskan, tapi bismilah saja lah kantor baik-baik saja saya tinggal cuti, toh saya dan team tetep akan menjalin komunikasi yang intens, insyallah semua berjalan lancar

Tuesday, June 7, 2011

7 tahun

Saya menulis ini disaat saya sedang merayakan 7th anniversary pernikahan saya dengan suami saya, Tori. Betul sekali, pernikahan kami masih seumur jagung, gak ada apa-apanya dengan orang-orang yang mungkin sudah puluhan tahun dan sukses pula menjalani biduk rumah tangganya. Tapi di tulisan ini, saya bukan bermaksud menggurui karena saya belum terbukti berhasil,saya pun bukan bermaksud untuk memberi tips- tips karena saya juga bukan seorang counselor pernikahan. Saya hanya sekedar seorang yang sedang mengalami proses panjang dalam rangka mewujudkan mimpi membangun rumah tangga yang sukses.

Rumah tangga sukses gak memiliki panduan baku, semua seolah di customize masing- masing dengan kebutuhan tiap keluarga. Karena tiap keluarga mengalami badainya masing- masing. Dan mustahil ada keluarga yang tidak pernah diterpa badai kehidupan/ badai rumah tangga. Bentuk badai rumah tangga ini tentu berbeda- beda, ada yang berupa kesulitan financial, keharmonisan, krisis kesetiaan, krisis perkembangan anak, kesehatan, dan segala bentuk lainnya yang sungguh unpredictable.

Kita selaku pelaku rumah tangga dituntut untuk tangguh bertahan menghadapi badai- demi badai yang menghampiri. Untuk itu kita dituntut untuk siap, bijaksana dan tangguh. Kesiapan semacam apa yang diperlukan?menurut saya sih mental yang kuat dan tawakal. Yakin Allah akan mengulurkan tangannya bagi kita yang beritikad baik untuk menghadapi badai.
Maka sebelum badai datang, kita harus trust dulu sama Allah, bahwa Ia akan membantu kita. Tentu hanya pasrah pun tidak tepat, kita manusia harus berupaya, disini letak sulitnya. Gak banyak orang kuat dan kekeuh untuk berusaha menyelesaikan masalahnya.


Bahkan kebanyakan orang merasa sudah berserah diri lantas merasa sudah cukup berikhtiar. Saya percaya bahwa harus ada balancing antara berusaha dan berpasrah diri pada Penguasa Semesta. Berusaha adalah bagian dari implementasi dari rasa syukur karena kita adalah mahluk mulia yang berakal yang tentunya ditakdirkan untuk bisa berfikir dan menelurkan ide- ide dan gagasan- gagasan untuk kebaikan, lantas rasa pasrah pada Tuhan adalah sebuah rem pada diri kita,bahwa sehebat apapun strategi yang kita rancang kita tetap manusia, apalah arti kita dibanding Allah.
Dengan bermodalkan keyakinan perlu adanya balancing kedua hal ini, saya belajar banyak hal, terutama dalam menghadapi badai yang menghampiri rumah tangga saya. Dulu saya selalu berfikir untuk memastikan rumah tangga saya tidak terkena badai, saya sibuk mencari strategi ini dan itu, lama- lama hidup tidak relax. Hidup dipenuhi rasa ketakutan. Belakangan saya mencoba untuk mengurai masalah yang ada di rumah tangga, saya menyusun kembali apa- apa yang selama ini jadi masalah, apa-apa yang berpotensi jadi masalah, apa-apa yang menjadi titik lemah saya dan harus saya perbaiki dan segala macam koreksi diri. Intinya saya mencoba mengenali kelemahan dan kelebihan kami (saya dan tori). Lalu lambat laun, seiring berjalannya waktu kami terus memperbaiki diri dan menyusun prioritas hidup, kami berharap kami dapat kuat menghadapi badai, bukan mati- matian menghindari badai. Semua proses ini dilalui selain dengan kesadaran penuh dari kedua belah pihak, tentu harus disertai pola komunikasi yang lancar dan dua arah. Kadang pola komunikasi kami sering terkendala sehingga harus ada adegan bertengkar dan bersilang pendapat dengan cukup sengit, tapi itu semua jangan membuat kita kapok membangun pola komunikasi,karena komunikasi adl jembatan yang mengantarkan kita pada pencapaian misi hidup kita.

Dan alhamdulilah, sampailah kami di titik ini, masih bergenggaman tangan dan meyakinkan diri bahwa kami saling mencintai dan bersyukur pada Allah karena telah menakdirkan kami bersama. Bersamanya saya belajar banyak dan bersama saya dia pun demikian. Gak semua orang tau apa- apa yang telah saya dan Tori hadapi, kami pun kadang surprise dan suka gak habis pikir bagaimana bisa kami melalui masa- masa sulit itu?

Intinya,apa yg dapat saya bagi disini adalah, badai harus dihadapi bukan dihindari,karena yakinlah badai pasti berlalu dng sukses jika kita gak gentar menghadapinya....


Wednesday, April 20, 2011

Bedrest

Dear All...lagi- lagi lama saya tidak menulis disini, bercerita sedikit ttg my life nowadays...
Saat saya menulis ini saya memasuki usia kehamilan 28 minggu 2 hari, artinya 7 bulan 2 hari. Sudah cukup besar kehamilan saya, Alhamdulilah...

Tapi seperti yang saya pernah ceritakan sebelumnya, saya mengalami beberapa kendala,kehamilan kali ini tidak seperti sebelumnya ketika saya mengandung Lulla. Saya mengalami beberapa kali pendarahan. Pada bulan ke lima saya mengalami pendarahan untuk ketiga kalinya, dan saat itu dilakukan pemeriksaan intensif oleh dokter saya, maka ditemukanlah masalah yang cukup serius, saya mengalami komplikasi kehamilan yaitu Placenta previa.
Teman- teman bisa meng googling sendiri apa itu Placenta Previa sebenarnya, saya disini hny mau menjelaskan sekilas ttg placenta previa yang saya alami.
Placenta pada kehamilan saya kali ini berada di bawah, disebut juga placenta previa totalis.
Keadaan ini yang membuat janin saya menjadi tidak aman, dokter menghawatirkan terjadi pendarahan hebat yang berakibat fatal.
Jalan satu- satunya adalah bedrest, dan itulah yang saya lakukan 2 bulan ini, saya bedrest di rumah untuk menyelamatkan janin ini.
Alhamdulilah semua berjalan relatif baik, meski 2 minggu lalu saya kembali mengalami pendarahan karena kesalahan saya juga, di rumah saya melakukan sedikit aktifitas fisik, yaitu memvacuum kamar saya, ternyata itu hal yang berbahaya bagi janin saya, dan sejak itu saya pikir panjang untuk banyak beraktifitas.

bagaimana dengan kerjaan?
yah...saya cukup tau diri untuk tidak terus memaksakan perusahaan mempertahankan saya, sejak sebulan saya bedrest, saya mengajukan pengunduran diri dari perusahaan. Saya memberi keputusan sepenuhnya pada company, mengingat situasi saya saat ini, saya hanya bisa bekerja dari rumah dan saya berusaha mengarahkan tim saya dari rumah via telpon,ym dan bbm. Namun sebagai Head divisi HRD tentu bekerja di rumah tidak akan efektif. Namun sungguh surprise, direksi saya mempertahankan posisi saya, mereka memaklumi kondisi saya dan mengizinkan saya untuk tetap bekerja dengan situasi darurat ini.
Dan sebagai orang yang pny perasaan, saya kembali mengajukan kepada direksi untuk melakukan peninjauan ulang terhadap gaji saya selama saya berada disituasi ini, saya merasa tidak fair jika harus menerima gaji dan seluruh tunjangan saya dengan utuh padahal kontribusi saya pun tidaklah maksimal. Mendengar itu direktur saya hanya tersenyum, dia setuju meski tidak memberitahukan apakah permohonan saya akan ditindak lanjuti atau tidak.
Disini saya merasa bersyukur bahwa saya bekerja pada orang yang baik, pemimpin yang pengertian, alhamdulilah, cuma itu yang bisa saya ucapkan.

Well...ini saja sekelumit cerita saya, mungkin akan saya lanjutkan dengan suka duka menjalani bedrest, situasi yang wierd sekali bagi saya, dimana saya yang biasa aktif dan gak bisa diem ini tiba- tiba disuruh menghabiskan 3/4 hidup saya untuk leyeh- leyeh....sungguh penyiksaan batin.

Mohon doa, 2 bulan lagi, insyallah akhir June saya akan melahirkan, kemungkinan besar melalui proses Operasi Caesar,karena kondisi placenta yang menutupi jalan lahir...insyallah sebelum itu saya sempet cerita lagi disini...


Cao!

Wednesday, January 26, 2011

Setahun bergulir...

Hari ini 26 Januari 2011, gak kerasa sudah 1 tahun berlalu mama mertua meninggalkan kami. Sungguh waktu berjalan begitu cepat tak terasa, dalam kurun waktu setahun itu mama alm sudah memiliki cucu baru, yaitu anak dari kakak ipar saya, dan kemudian menyusul saya pun hamil. Sedih memang kalo ingat mama, ia begitu berharap saya bisa hamil lagi, memberinya cucu lagi, ia mungkin ingin melihat Tori memiliki momongan lagi. Saya tau ia mengharapkan itu, karena ia begitu interest jika saya bercerita ttg kondisi saya, namun semasa ia hidup Allah belum mengizinkan saya menambah momongan, setelah ia meninggal Allah baru member kami amanah ini.Namun saya yakin ia bahagia disana, melihat saya hamil lagi dan melihat Tori akan memiliki anak lagi.

Berlibur adl bagian dr menghibur papa

Buat saya kehidupan dan kematian adalah jalan hidup tiap manusia, tiap manusia akan merasakan yang namanya kehilangan begitu juga akan merasakan indahnya menyambut manusia baru didunia. Kejadian yang sangat human bagi kita, namun ada orang yang dapat menerima dengan mudah ada juga yang tidak. Tapi siapa juga sih yang kehilangan orang yang paling disayangi dapat dengan mudahnya menerima, pasti ada fase pembelajaran dan pembiasaan. Agak lain ceritanya dengan penerimaan kehadiran manusia baru dalam hidup yang biasa disambut dengan suka cita.

Ada kehendak Allah yang menentukan itu semua. Maka hidup harus terus berlanjut, seberat apapun itu akhirnya. Demikian juga dengan kepergian mama, mungkin ini cukup berat bagi papa dan anak-anaknya. Tapi mengingat semua anak-anak mama telah berkeluarga, tentu yang paling merasa kehilangan adalah papa, karena puluhan tahun mama dan papa adalah pasangan yang saling setia, sampai ketika anak-anak sibuk dengan keluarga sendiri mereka akhirnya saling melekat satu sama lain.
Anak-anak harus memahami kehilangan besar ini, terlebih papa type lelaki yang mutlak bergantung dilayani oleh istri. Kehilangan istri tentu akan sangat berasa, krn kehilangan seseorang yang biasa menjadi teman bicara dan setia melayaninya dengan segenap hati, rasa kesepian yang dirasakan pun tentu bukan kepalang beratnya. Jadi sejak mama pergi, yang harus difikirkan oleh anak-anak adalah papa, bagaimana papa dapat beradaptasi setelah ia kehilangan mama dan bagaimana papa dapat kembali menjalani hidup dengan normal dan penuh semangat. Anak-anak dan menantu bertugas bahu membahu disini, memberikan kenyaman dan rasa kasih sayang padanya. Kita harus kuat dan tegar melanjutkan kehidupan, karena mama menitipkan papa pada kita, begitu pesan saya pada Tori. Saya tidak mau ia sibuk dengan kesedihannya sehingga melupakan sesuatu yang sangat penting yaitu papa dan keberlangsungan hidupnya kedepan.
Alhamdulilah, setahun bergulir, papa memilih hidup nomaden dari rumah anak yang satu ke rumah anak yang lain. Memang sementara ini papa lebih banyak di rumah kami di Depok atau di rumah anak perempuannya, karena anaknya yang satu lagi memiliki 3 anak dan tak memiliki pembantu, tentu sang mantu agak kerepotan jika harus mengurus papa juga. Tapi papa terlihat enjoy dengan pola kehidupan demikian, papa dapat dengan bebas minta dijemput ke rumah anak-anaknya yang manapun sedang ia ingini. Kami memang menyediakan 1 kamar khusus untuk papa di rumah, mengingat kependudukan papa saat ini tercatat di keluarga kami maka ia kami sediakan kamar permanen miliknya sendiri.

Day by day saya coba meluangkanbanyak waktu untuk bersama papa jika papa sedang ada di Depok, pulang cepat, meniadakan agenda hang out dengan teman2 dan menghindari kerja lembur adalah bagian dari usaha saya menyisihkan waktu. Saya juga berupaya memperhatikan asupan makanan papa, walau saya tidak punya waktu memasak setiap hari kerja, tapi saya memperhatikan betul menu makanan yang pengurus rumah saya sediakan untuk papa, dari mulai sarapan,makan siang makan malam, buah dan camilan sore. Saya sebagai menantu tentu tidak akan mampu sempurna mengurusnya, sungguh tidak akan sebanding apabila dilihat dari cara mama mengurus papa. Tapi buat saya ini adalah proses belajar,kami saling menyesuaikan diri, yang terpenting saya mendasari ini semua dengan semangat ingin membahagiakan papa dan juga mama alm.
Dan setahun pun bergulir, saya ingin terus mempunyai kesempatan mengabdi kepada orang tua, mertua dan suami saya, buat saya inilah bentuk kasih sayang saya pada keluarga, maafkan jika memang belum sempurna…

Monday, January 17, 2011

Menjadi Kaya

Apa arti menjadi kaya?memiliki banyak uang?

Pasti itu yang menjadi pikiran orang tentang apa itu konsep kaya, tapi buat saya enggak. Kenapa?

Coba perhatikan deh disekeliling kita, ada orang yang menurut kita berkecukupan dan memiliki uang banyak, tapi tampak selalu ‘ganas’ kalo melihat uang, gak peduli itu hak nya atau bukan. Bahkan gak segan- segan untuk meminta- minta sesuatu yang bukan hak nya.

Di lingkungan saya sehari-hari saya sering menemui sikap- sikap orang yang hampir pas jika disebut rakus dan tidak pernah cukup. Sikap yang paling sering mengganggu saya adalah sikap orang- orang yang tidak pernah puas atas apa yang mereka terima, dan selalu tanpa segan meminta lebih tanpa berfikir apakah ia telah meminta sesuatu yang emang berhak ia minta?

Saya kadang geleng- geleng, kenapa enteng banget seseorang meminta sesuatu yang bukan hak nya, bahkan maksa dan pake ancaman. Misalnya : “saya mau ditugaskan kesana untuk 2 hari, tapi catatannya saya dibolehkan membawa keluarga saya dengan biaya kantor.”padahal orang ini dapat uang saku untuk kepentingan perjalanan ini, tapi ia tak puas dengan itu, ia menodong lebih untuk membawa serta keluarga, emangnya jalan-jalan?lha wong urusan kerja kok ya?

Meminta sesuatu itu buat saya bukan hal yang salah, tapi jika apa yang kita minta itu bukan hak kita, apakah itu nyaman dilakukan? Etikanya seperti apa sih?

Secara etika professional sikap orang yang saya contoh kan tadi sudah jelas jauh dari professional. Tujuan kerja jadi seperti plesiran, pernah liat kan kasus anggota DPR yang kunjungan ke daerah turut serta membawa keluarga?yang lebih parahnya gak mau mengeluarkan uang sendiri, ini kan namanya nodong orang. Padahal tiap institusi pasti punya perencanaan keuangan, gak bisa dounk kita sebagai pejabat maupun konsultan yang ditunjuk institusi tersebut dapat seenaknya minta fasilitas ini dan itu selama menjalankan tugas, jikalau dipenuhi, please lah koreksi diri kita, kita sudah jadi orang yang membebani orang lain padahal kita diundang secara professional untuk menangani suatu masalah bukan plesiran apalagi jalan-jalan bawa keluarga.

Kenapa sih orang bisa ‘enak’ bersikap seperti itu, apa yang mendorong orang jadi gak punya malu?

Menurut saya ini masalah mental, orang yang meng-etiskan hal yang gak etis seperti contoh diatas itu adalah orang yang tidak memiliki mental kaya. Bukan masalah uang yang dimilikinya banyak atau sedikit, tapi masalah mental yang dimilikinya itu jelas jauh dari mental orang kaya.

Apa itu mental orang kaya?

Menurut saya menjadi seorang yang kaya bukan terletak pada jumlah harta yang dimilikinya, mau banyak atau sedikit kalo orang itu dapat merasa cukup dan tidak perlu menjadi rakus tentulah orang itu sudah merasa apa yang dimilikinya telah membuatnya tenang.Apalagi dengan harta yang dimilikinya ia tetap mau berbagi pada orang lain.

Lain halnya apabila ada orang yang diketahui secara luas memiliki harta melimpah, tapi gak pernah puas, ia bahkan gak malu untuk meminta-minta sesuatu yang bukan haknya gak ubahnya pengemis , mencuri sesuatu yang bukan hak nya apalagi menipu orang. Artinya orang ini masih merasa gak cukup atas apa yang dimilikinya sampai mau bertingkah seperti itu, ia rela mengesampingkan rasa malu dan moralitasnya sendiri.

Tapi ada juga seorang tukang sayur yang merasa bahagia atas apa yang ia peroleh setiap harinya, ia tidak mengeluh, tidak menipu dan tidak meminta- minta, ia merasa cukup,bahkan masih menyempatkan diri berbagi dengan orang lain dan inilah orang kaya yang sebenarnya, ia seolah telah memiliki segalanya, seakan uang bukanlah masalah.

Memang kita boleh berusaha untuk mencapai kemapanan finasial, lakukan lah dengan cara- cara yang etis, perhatikan etika profesionalitas kerja. Ambil sesuatu yang emang hak kita, dan jauhkan menuntut sesuatu yang bukan hak kita apalagi berpotensi membebani orang lain, jangan biarkan diri kita menjadi ‘penodong’ yang meminta sesuatu dari orang lain yang orang lain gak bisa menolaknya meski itu berat buatnya.

Hidup akan terasa lebih indah jika kita merasa cukup, memintalah pada Allah semata, Tuhan yang kita sembah, jangan pada manusia lain, karena rejeki datangnya dari Tuhan.

Saya percaya Allah akan membuka jalan pada orang –orang yang terus berusaha dan bersyukur, bahkan mungkin jalan dan rejeki yang diberikan jauh lebih besar daripada yang dapat manusia lain berikan pada kita.

Mungkin pada kenyataannya harta yang kita miliki tidak seberapa, tapi kita akan lebih terhormat dengan berprilaku yang etis dan jujur. Tak ada seorang pun yang akan menganggap kita miskin apabila kita tidak meminta-minta pada orang lain, tak ada satupun yang mengatakan kita rakus apabila kita senantiasa jujur dan tidak melakukan korupsi, gak ada pula yang mengatakan kita manusia tercela jika kita tidak pernah menipu orang.

Mulai sekarang teman- teman, jadilah orang yang kaya yang sebenarnya dengan cara bersyukur, merasa cukup dan merasa terhormat dengan hidup menjadi diri sendiri tanpa harus meminta minta, korupsi maupun menipu.

Wednesday, January 12, 2011

Poligami, surga atau neraka?

Banyak orang mengatakan poligami adalah jalan untuk mengikuti jejak Rasul,mengingat Rasul adalah contoh sukses pelaku poligami. Bahkan beberapa pria yang saya pernah temui menyatakan poligami adalah cita-citanya, entah apa perasaan istrinya jika punya suami yang berkelakar / bercita-cita untuk berpoligami.

Saya bukan ahli agama, saya perempuan biasa , seorang istri dan seorang ibu yang merasakan betul bahwa berumah tangga dan memiliki anak itu tidak mudah, saya juga melihat suami saya pun berfikir demikian. Membangun rumah tangga yang ‘sehat’ itu gak semudah membalikkan telapak tangan,apalagi mendidik anak, menciptakan anak-anak yang sukses nantinya. Wacana itu sudah kami sama-sama bahas, dan butuh kerja keras luar biasa untuk mewujudkan itu semua.itu baru membangun satu keluarga ya, gmn kalo beberapa keluarga atau kalo istilah teman saya adalah gimana kalo 'rumah tangganya buka cabang'?

Banyak contoh di sekitar saya yang ‘gagal’ dalam menerapkan poligami seperti yang Rasul contohkan. Banyak yang cenderung malah mengantarkan keluarga mereka yang tadinya baik-baik saja menjadi keluarga yang kualits hidupnya menurun, bahkan malah hancur berkeping-keping.

Seorang yang saya kenal melakukan poligami, awalnya saya dengar istri pertama setuju,lalu tak lama kemudian terlihat sekali gejala ketidakrukunan antara istri pertama dan kedua,bahkan dua perempuan ini berlomba-lomba melahirkan anak, bahkan gak tanggung-tanggung dalam waktu yang berdekatan. Akhirnya si suami morat-marit menghidupi keluarganya yang makin hari anggotanya makin membengkak jumlahnya. Kualitas hidup yang tadinya dimilikinya saat beristri satu beranak 4 bisa dilbilang cukup menjadi kekurangan, karena dari penghasilan suami yang gak juga meningkat pesat si suami sekarang harus menghidupi 2 istri dan 11 anak, dalam kurun waktu 5 tahun lelaki itu sudah memporakporandakan kualitas hidup yang tadinya ia, istrinya dan anak-anaknya miliki. Si suami saat ini sudah tidak konsentrasi bekerja, setiap hari kerjaanya hanya mencari uang untuk menutupi kebutuhan ini dan itu buat keluarganya. Yang paling parah adalah pinjam sana pinjam sini, menumpuk hutang disana- sini hanya untuk menutupi kebutuhan hari-hari. Kualitas hidup apa yang didapat dari kehidupan yang bergantung dari satu utang ke utang lainnya?
Ada juga kasus menarik di masyarakat,yaitu kasus perceraian dai kondang AA Gym yang diduga dipicu dari poligami, nah lu..kalo dai kondang aja bisa gagal apalagi masyarakat biasa yang pemahaman agamanya pas pas an?



Poligami ini gak mudah, selain soal materi yang harus benar-benar mampu, soal pemenuhan rasa keadilan bagi tiap pihak itu perlu sekali. Karena wanita berfikir selalu dengan perasaannya, tentu perempuan mudah merasa cemburu dan tersaingi. Istri Rasul saja bisa cemburu apalagi perempuan biasa?

Selain itu, poligami jika tidak berhasil,maka akan mempertaruhkan masa depan anak-anak yang ada di keluarga itu. Betapa menyakitkan bagi anak-anak yang awalnya hidup tenang lalu tiba2 harus ikut terguncang karena keputusan nekat ayahnya untuk menambah istri. Semua anak tentu ingin hanya ada ayah dan ibunya dalam keluarganya,anak-anak jauh lebih posesif untuk tidak membagi keutuhan itu, jadi sedikit saja ada yang berani menyandingkan ibunya dengan wanita lain, tentu menjadi hal yang gak mudah diterima oleh anak-anak.

Bayangkan, apabila tadinya keluarga itu bahagia dan sejahtera, dan setelah ada perempuan lain itu keadaan berubah sehingga mereka merasa kurang bahagia dan jauh dari sejahtera, tentu anak-anak lah yang terpengaruh dampak ini. Mungkin yang dulunya setiap malam anak-anak dapat berbagi kemanjaan dengan sang ayah, maka setelah poligami, anak-anak harus gigit jari apabila giliran ayahnya sedang tidak pulang karena harus ‘menggilir’ ibu lain mereka. Tentu anak-anak harus mengorbankan quality time mereka dengan sang ayah.

Ada pula yang merasakan keputusan poligami sampai mengganggu kesejahteraan financial anak-anak ini, mungkin yang dulunya mereka bisa berekreasi bersama,sekarang tidak lagi, mungkin yang dulunya mereka bisa memilih sekolah terbaik manapun karena punya biaya sekarang jadi gak bisa karena sang ayah harus membagi penghasilan untuk keluarga lainnya.Sekali lagi anak yang menjadi korban.

Apalagi jika poligami yang dilakukan sang ayah sampai menimbulkan pertengkaran demi pertengkaran dengan ibu mereka, selain emosional anak akan terganggu karena melihat orang tua mereka tidak akur, seorang ibu yang hatinya hancur pun pasti tidak maksimal mendampingi anak-anaknya, disinilah anak-anak kembali di rugikan, keutuhan keluarga yang mereka miliki sebelummnya sekan terenggut dari mereka, kebahagiaan yang dulu mereka raih dengan melihat kerukunan kedua orang tuanya sudah tak mereka dapatkan. Padahal keluarga yang rukun tentu akan membawa dampak positif bagi seorang anak.

Dan bagaimana jadinya jika poligami berujung pada perceraian?siapa yang paling dirugikan?tentu anak-anak?saya gak perlu jelaskan seberapa hancurnya perasaan anak2 yang harus melihat ayah dan ibu nya ‘bubar jalan’ meninggalkan komitmen mereka.
Menurut saya, poligami itu bukan sekedar pemenuhan hasrat, ada banyak hal yang harus dipikirkan lebih lanjut. Alasan poligami pun harus benar-benar tepat,apabila hanya karena sebuah hasrat semata seseorang berani mengambil langkah poligami tanpa mempertimbangkan masak-masak, ini akan terlalu besar resikonya. Nasib masa depan anak-anak dipertaruhkan disini, padahal kita hidup lalu diberikan amanah anak itu untuk apa sih? Apalagi kalo bukan untuk menjadikan mereka anak-anak yang sukses dunia dan akhirat kan? Bagaiamana kit amau meraih itu jika kita tidak mampu memberikan kualitas hidup dan kualitas kasih sayang yang memadai,apalagi sampai menghancurkan mental mereka?Apa jadinya jika karena hasrat kita hancurkan amanah ini?Jangan-jangan poligami yang dilakoni malah bukan mengantarkan seseorang ke surga melainkan neraka.

Friday, December 31, 2010

Lemahnya Perlindungan Konsumen

Hari ini saya kesal luar biasa, saya yang merupakan benar-benar diperlakukan secara tidak adil oleh Produsen toko buku besar Gramedia.

Ceritanya gini, saya dan rekan kantor saya sore ini berangkat ke Gramedia Pejaten Village, kami kesana untuk berbelanja gift buat karyawan, pilihan kami jatuh pada Pulpen Parker, sebuah brand pulpen yang lumayan bagus. Saya membeli dua macam Pulpen Parker, satu jenis sebanyak 9 buah, sejenis lainnya sebanyak 12 buah. Yang 12 buah ini harga satuannya Rp.168.000,-, kata si penjaga counter Parker bernama Ayu, harga itu belum termasuk harga discount. Lantas saya mengatakan,”kalo discount jadi berapa?”

Ia mengatakan, “sebentar saya hitung bu”,lalu ia hitung dan ia memberikan harga pada saya, sekilas saya lihat hitungna yang ia sodorkan dan saya setuju. Tak lama Ayu membuat nota,saya melihat ia sampai dua kali mengganti nota yangia buat,tapi buat saya yah mungkin emang prosedurnya begitu, saya gak mengecek kembali perkalian yang ia lakukan. Lalu nota diberikan ke saya dan saya pun melakukan pembayaran, tak lama kemudian Ayu dan rekan SPG lainnya mengemasi pulpen-pulpen yang saya beli. Setelah saya menyerahkan tanda pelunasan dari kasir,saya cukup lama menunggu para SPG dan Ayu membungkus mungkin sekitar satu jam,karena cukup lama saya pun sempat belanja barang-barang keperluan gift lainnya. Ketika saya sampai kembali di kantor dan bahkan sudah bersiap akan pulang, tiba-tiba saya dapat telepon dari Gramedia mengatasnamakan dari counter Parker tersebut,mereka menuntut kekurangan harga pembelian atas barang yang saya beli tadi.

Saya kan bingung?saya salah apa?

Saya bayar sesuai nota yang mereka berikan, lalu kenapa saya dikerjain sekarang untuk diminta kembali ke Gramedia Pejaten Village untuk membayar kekurangan uang yang terjadi bukan karena kesalahan saya. Kesalahan ternyata terjadi saat si penjaga counter bernama Ayu itu melakukan penghitungan di nota.Ia salah dalam memberikan harga,harusnya harga yang ia berikan setelah discount bukan senilai yang ia tulis di nota,harusnya sedikit lebih besar dari apa yang ia tulis pada nota yang ia berikan ke saya.

Saya heran, kesalahan ini kan kesalahan mereka, ini bukti ketidak telitian mereka. Saya sebagai konsumen kan bayar sesuai nota,saya pun tadi disana menunggu cukup lama. Jika mereka kerja benar, mereka harusnya menghitung ulang,jikalau ada kesalahan yang mereka temukan saat saya masih disana pasti tadi langsung saya bayar kekurangannya. Ini setelah hampir 2 jam berlalu mereka baru menyadari,ini kan kacau.

Sementara kita sebagai konsumen,kalo sampai salah beli barang atau kita beli buku yang ternyata ada kerusakan,kita gak bisa minta ganti atau minta balikin. Peringatan ini kan jelas tertulis pada struk pembayaran yang kita dapat kan seusai membayar di kasir.

Namun apa jadinya jika kesalahan ada pada pihak mereka?mereka meneror kita terus untuk bertanggungjawab atas kesalahan mereka. Ini sungguh gak adil.Ini bukti kongkrit bahwa peringatan “BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK DAPAT DIKEMBALIKAN” merupakan pernyataan yang berat sebelah, mementingkan produsen, sementara kita konsumen masih tetap harus direpotkan oleh keteledoran dan kecerobohan Produsen. Disini saya melihat kita selaku Konsumen sama sekali tidak diperlakukan adil di negri ini, Produsen besar bertingkah laku penuh kuasa pada konsumennya. Melalui tulisan ini saya melawan atas kelumpuhan perlindungan konsumen yang terjadi. Saya tidak mau peduli pada kesalahan yang mereka buat sepertinya mereka tidak peduli pada apa yang menimpa konsumennya.

Maaf jika tulisan saya tidak berkenan bagi pihak2 tertentu,agar menjadi pelajaran bersama.

Wednesday, December 29, 2010

Menghadapi Suami Cuek

Seberapa banyak pria yang perhatian pada pasangan?
Gak banyak, terutama ini di Indonesia, atmosfer masyarakat patriarki yang membuat pria terbiasa menjadi manusia yang selalu diunggulkan. Pria Indonesia dikenal cuek pada pasangan,kurang helpful,tidak romantic dan tidak gemar memuji. Beda dengan pria Amerika atau Eropa yang biasa dengan kemandirian sehingga cukup helpful di rumah tangga, gamblang dan biasa menganggap romantis adalah hal yang gak cengeng.
Beberapa hari lalu saya melihat keluhan seorang teman di FB yang menumpahkan uneg-uneg tentang sikap cuek suaminya. Ini bukan pertama buat saya melihat hal serupa,bahkan banyak kasus cueknya si lelaki sampai merusak rumah tangga yang dibangun. Ketidakpuasan istri akan sikap suami jelas memicu keributan terus menerus,sehingga masalah semakin hari semakin besar.



Kecuekan pasangan biasanya kalo didiamkan akan menjadi parah dari hari ke hari,awalnya dia akan cuek pada istri lama-lama dengan adanya anak pun ia bisa cuek lepas tangan semua urusan anak kepada istri,yang lebih parah apabila si istri biasa memenuhi kebutuhan hidup sendiri,lama-lama nafkah materi yang harusnya ia terima pun terancam tidak diterima karena kecuekan suami.Ini bisa saja terjadi,jika tidak dikomunikasikan terus menerus.
Jangan tanya saya kenapa pria begitu cuek?entah karena system pola pikirnya yang praktis membuat mereka enggan melihat detail kebutuhan perasaan perempuan atau apa saya juga gak mengerti,saya yakin dari aspek psikologis pasti ada penjelasan mengenai hal ini.
Tapi selaku perempuan yang juga memiliki suami dengan sikap cuek, tentu saya puas merasakan asam garam perseteruan gara-gara hal ini.
Sampe sekarang saya masih sering mengalami,meski sedikit banyak si cuek yang menjadi mitra sekamar saya itu udah mulai berubah,padanya saya menerapkan sebuah prinsip. Kalo prinsip yang saya anut adalah “mengalah dulu lalu berperang”.
Prinsip saya itu saya terapkan di rumah, pertama saya memang cenderung mengalah,saya bukan type istri yang banyak nuntut, saya membiarkan dia tetap bebas mengelola uang pribadinya,berhubungan dengan keluarga,taman dan hobbynya, saya membiarkan ia menikmati hidupnya,intinya saya bersikap sangat toleran padanya. Tapi dibalik itu saya membuat perhitungan jika sikap cuek dia sudah mulai mengganggu. Sikap mengalah saya tentu gak bisa terus- terusan, jika apa yang ia minta selalu saya kabulkan,maka sekali-kali permintaan saya juga wajib dia turuti dounk?setidaknya dia tau kalo saya sampe marah dan complain itu artinya ada sesuatu yang diluar batas toleransi saya pada dia.

Emang biasanya saya ngomel, kalo ngomel gak mempan, saya akan memberi jarak padanya untuk sementara,yang biasanya saya memanjakannya maka untuk sementara saya akan pasang aksi mogok memberikan kasih sayang saya padanya,saya biarkan dia berfikir bahwa gak enak hidup tanpa perhatian dan kasih sayang dari orang yang kita sayangi. Biasanya dalam 2 hari dia sadar,betapa dia salah.
Kedua jika dia cuek pada anak,rajin –rajinlah menasehatinya agar tidak cuek pada anak,karena efeknya akan terasa jangka panjang. Berilah contoh kasus2 yang anda temui di masyarakat yang diakibatkan anak tumbuh pincang kasih sayang,angkat masalah orang yang berkaitan dengan hal ini,ajak ia diskusi, dengan diskusi sesering mungkin anda akan memperoleh kesepakatan visi dan misi dalam mendidik anak-anak, insyallah iapun akan memiliki kesadaran dan semangat yang sama untuk mengubah kecuekannya pada anak.
Intinya,jangan lelah menegurnya dan mengajarkannya cara memperlakukan pasangan dengan baik. Memperlalukannya dengan baik dan penuh hormat adalah investasi ajaran anda padanya, sehingga bila suatu hari nanti ada hal yang tidak berkenan padanya,anda dapat mengingatkan dia tentang bagaimana cara anda memperlakukan dia dan anda ingin diperlakukan sama. Jangan biarkan dia bingung dalam menentukan langkah untuk memperlakukan anda seperti apa.

Gak mudah menghadapi sikap ini, butuh kesabaran dan ketelatenan,saya juga belum berhasil total kok, suami saya masih sering ‘kumat’, tapi setidaknya mengajarinya bagaimana bersikap sedikit banyak mengingatkan dia,”oh iya istri saya sudah luar biasa memperlakukan saya,saya gitu gak ya ke dia?”,rajin rajin menegur dan berdiskusi.

Jangan juga berharap tiba-tiba suami anda akan menjadi seromantis Richard Gere di film-film cinta, lihat pada hal-hal yang esensi, misalnya pada saat anda sakit, apakah ia sudah mulai lebih ber emphaty dan mau membantu anda mengurus anak-anak dan mengurus anda, jika itu terjadi, jangan lupa katakan terimakasih,hargai apa yang ia lakukan.Lakukan perubahan secara bertahap dan dari hal-hal yang bersifat essensial dan logis. Intinya jangan terlalu muluk ingin suami anda berubah drastis, hargai proses,karena gak mudah merubah prilaku yang sudah tumbuh berkembang puluhan tahun di diri seseorang bukan?

Thursday, December 9, 2010

Kehamilan kedua dan cobaannya

Jumat pekan lalu saya beraktifitas seperti biasa,memang agak beda dari biasanya,saya rada mondar mandir dan sore hari nya saya mengikuti simulasi pemadaman kebakaran gedung, mengingat peran saya sebagai HRD,setidaknya saya harus belajar dasar-dasar penyelamatan jika ada kebakaran. Menurut saya aktifitas itu tidak melelahkan,tapi ternyata berefek pada bayi dalam kandungan saya, terjadi pendarahan ringan pada rahim saya.

Sore itu juga saya ke RS, setelah melewati pemeriksaan, saya diminta untuk bedrest beberapa hari. Tentu hal ini cukup bikin ngeri, dokter cukup tegas meminta saya untuk mengurangi aktifitas dan berbagai rambu lain diberlakukan pada saya, sampai minggu ke 16 kehamilan saya nanti di bulan Februari,lama ya?

Ini hal yang gak mudah bagi orang kantoran dengan segudang aktivitas dan tanggungjawab seperti saya,apalagi secara fisik saya merasa sehat dan baik-baik saja, tentu pelarangan untuk banyak bergerak bagai penjara bagi saya,namun demi baby dalam kandungan ini,saya pasrah,saya akan berupaya.

Kehamilan kedua ini memang berbeda dari kehamilan pertama waktu mengandung Lulla. Saat itu saya gagah luar dalam, masa kehamilan tidak menjadi begitu berat untuk saya. Tidak ada aktivitas yang dikurangi,sampai-sampai saat itu orang lain yang menghawatir kondisi saya,saking lincahnya saya.

kondisi baby di minggu ke 8


Di kehamilan kedua ini Kadang saya gak bisa pungkiri fisik saya relative kepayahan,saat ini rasa mual jauh lebih hebat melanda diri saya,kalo dulu saya hanya mual malam hari tanpa mengganggu aktivitas kantor,kali ini berbeda, hampir setiap siang saya mual dan mengalami berbagai rasa gak enak lainnya, yang namanya muntah jangan ditanya,saya sering sekali muntah dan mengalami sebah yang luar biasa.berbeda jauh dari sebelumnya.

Namun saya tetap mencoba membawa diri dengan semangat yang sama,namun sekuat tenaga saya mengkondisikan diri saya sekuat mungkin, tetap saja kandungan saya kali ini tidak sekuat sebelumnya.

Suatu malam saya bertanya pada Allah,mengapa?kenapa kehamilan kedua dan pertama berbeda?kenapa gak senyaman kehamilan pertama?

Saya akhirnya membuat kesimpulan sendiri, saat ini ujian yang harus saya hadapi sedang diubah.

Dulu waktu kehamilan pertama, kehidupan ekonomi saya sedang tidak stabil, kondisi baru menikah tentu sedang membangun perekonomian sendiri,mengingat kami memulai hidup benar-benar dengan ‘kaki sendiri’ maka saat itu adalah titik nol dari kehidupan rumah tangga kami.Rumah masih ngontrak,kendaraan belum punya,gaji masih jauh dari cukup maka Allah menguji saya dengan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan saya untuk menghadapinya.

Saat ini kondisi jauh lebih mendingan, sedikit banyak kehidupan ekonomi sudah berjalan normal, setidaknya enggak morat marit, fasilitas alhamdulilah ada, yang bantuin nganter kemana-mana dan ngurus rumah tangga juga ada, itu semua saya anggap sebagai kekuatan saya,maka Allah pun menguji saya dengan mengukur kekuatan yang saya miliki saat ini.

Pemikiran itu yang mengantarkan saya pada rasa syukur, intinya dulu dan sekarang saya sama-sama dikasih cobaan,tapi jenisnya beda,meski sama-sama berat tapi itulah cobaan dari setiap anugrah dan sebuah nikmat. Kehamilan ini adalah anugrah dan nikmat dari Allah, dan cobaan yang diberikan saat ini adalah bagian dari tangga untuk meraihnya. Semoga Allah memberi cobaan yang memang saya kuat menghadapinya…