Pages

Friday, April 16, 2010

Orang Tua Yang Diktator...

Masih jaman kah kata dictator disandang oleh orang tua?

Seinget saya dengan tumbangnya rezim Soeharto harusnya rezim orang tua diktator juga berlalu..eheheh..tapi ternyata enggak ya,masiih aja banyak orang tua yang kekeuh memerankan sebagai figure diktator dimata anak-anaknya.Basi sih emang..tapi kesian juga kalo masih gak sadar..

Saat ini saya sudah berubah peran menjadi orang tua,saya punya anak yang harus saya didik,tentu saya terus belajar bagimana membuat pola didik yang nantinya membentuk anak anak yang soleh/soleha,berakhlak mulia,sukses hidup dunia dan akhirat. Standarlah..impian semua orang tua terhadap anaknya.

Sedikit flashback, saya tumbuh dan lahir dari keluarga yang gaya didiknya masih rada jadul,artinya masih terselip nuansa diktatorisme di keluarga saya,well jujur saja,papa memerankan tokoh antagonis dictator itu.namun gak mutlak juga itu terjadi,karena mama saya adalah sosok ibu yang mampu menampung aspirasi anak2nya dan memperjuangkannya ke papa,akhirnya papa pun tidak mutlak diktator.Apalagi setelah kami anak2 papa mama selesai kuliah,orang tua saya cenderung meminta kami menata hidup dan memilih jalan hidup sesuai hati nurani kami,dan setelah kami menikah orang tua mempercayakan kami mengatur kehidupan kami sendiri. Mereka menghormati keberadaan pasangan kami masing-masing,mereka pun mencoba memposisikan kami sebagai orang dewasa yang sudah harus bertanggungjawab dunia dan akhirat. Yang jelas, Papa mama cuma mengingatkan bahwa kami harus patuh pada norma social dan norma agama yang kami anut. Orang tua saya tidak pernah mengatur saya mau berkarier dimana,saya mau beli rumah dimana,saya mau pilih mobil apa,saya mau punya anak berapa,dan segala urusan domestic lainnya. Begitu juga saya lihat dari apa yang dirasakan oleh suami saya maupun ipar saya lainnya baik ipar perempuan maupun laki-laki. Kalo orang tua saya bermasalah gak mungkin ipar perempuan saya betah seatap dengan papa mama saya. Yang saya kagumi, orang tua saya menjadikan semua menantu selayaknya anaknya sendiri tanpa ikut-ikutan mencampuri urusan rumah tangga si anak,seberapa pun dekatnya hubungan yang ada. Jadi kesan papa saya diktator itu hanya hidup ketika saya berusaia belia,masih di usia sekolah. Dan setelah itu papa menjadi orang yang human sekali,seorang kakek yang dicintai oleh menantu dan cucu2 yang dimiliki.

Demikian halnya dengan mertua saya, sosok yang merupakan orang tua saya. Papa in law saya, cenderung manut sama anak,di usia yang lanjut dan status duda, papa cenderung memilih ikut anak, memasrahkan hidup diurus oleh anak dan menantu.Enam tahun sudah saya jadi menantunya,papa inlaw saya gak pernah kelihatan memaksakan kehendak maupun mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya.Papa menghormati semua perbedaan yang dimiliki oleh menantu menantunya. Dan tidak heran saya melihat semua menantu dan cucu2 yang dimilikinya,menyayangi beliau.

Persamaan lain yang dimiliki orang tua saya dan mertua saya adalah,mereka menikmati masa tua karena mereka mampu mempercayakan anak-anaknya untuk mewakili mereka dalam menyelesaikan masalah yang ada. Contoh:ketika orang tua saya akan menikahkan anak bungsunya,papa mama saya tidak pusing,karena ketiga anaknya yang sudah menikah mampu mengurus semua keperluan mulai dari pendanaan sampai pelaksanaan. Contoh lagi : ketika mama inlaw saya sakit sampai meninggal dunia,papa inlaw saya tidak pusing mulai dari masalah pembiayaan sampai dengan pelaksanaan penguburan dan lainnya,anak-anaknya menyelesaikan semua urusannya. Papa hanya tinggal mengecek perkembangan yang ada,dan semua pun beres oleh anak-anak.

Saya memperhatikan itu semua, saya merasa betapa kedua orang tua yang saya punya ternyata benar-benar menikmati masa tuanya,anak-anak yang didiknya mampu berbakti kepada mereka dan mereka menikmati itu dihari tuanya.



Saya berfikir,apa yang membuat mereka seberuntung itu?

Ternyata kuncinya, para orang tua terbisa menghormati pendapat anak,orang tua melatih anak-anak untuk menjadi pemimpin yang tangguh.

Simple memang,tapi sungguh berat menjalaninya pada kondisi nyata. Para orang tua saya mampu untuk mengesampingkan egosentris mereka selaku orang tua,mereka mampu mengesampingkan pemikiran bahwa mereka adalah orang yang lebih dulu menjalani hidup,orang yang lebih dulu tau mana yang benar dan salah,dan orang yang memiliki pengalaman lebih banyak. Dan dengan kesemua yang mereka miliki,mereka tidak bersikap selaku orang tua yang paling tau segalanya,orang tua yang selalu benar dan orang tua yang merasa pendapatnya harus dijalankan oleh semua anaknya. Alhamdulilah sikap diktator itu tidak tumbuh menggurita dalam diri kedua pasang orang tua saya.

Para orang tua saya hanya sedikit memainkan peran agak keras kepada kami saat usia kami yang belia,dimana kami semua selaku anak-anaknya dilatih disiplin.Dan saya sepakat melatih kedisiplinan memang harus dengan ketegasan tersendiri. Setelah kami bisa berfikir sendiri dan sudah dianggap dewasa kami bebas mengemukanan keinginan kami,boleh membuat pilihan ,dan mulai diberi tangungjawab untuk menyelesaikan masalah sendiri, namun semua itu harus dengan catatan, asalkan…sesuai dengan norma agama dan norma social, serta mampu mempertanggungjawabakan resiko yang ada. Lalu setelah kami menikah, orang tua menghormati kami selaku entitas yang berdiri sendiri, sehinga mereka menghormati pilihan kami,keputusan kami dan jalan hidup yang kami jalani.

Saya mulai paham hal itu,maka saya terapkan pada Lulla, dari mulai hal-hal kecil kami menstimulusnya untuk bisa membuat keputusan untuknya sendiri. Lulla sudah mulai saya ajak diskusi. Ketika kami ingin ia memiliki kegiatan ekstra,saya menawarkan les piano,tapi ia menolak,ia memilih ballet.Saya dan suami menghormati keputusannya,meski saya akhirnya memberi segudang wejangan,saya gak mau dia malas-malasan dan main-main saat latihan.Dan ia terima apa yang saya sampaikan,setelah berjalan setahun,Lulla berhasil serius mengikuti les balletnya,ia adalah satu-satunya peserta yang sudah mampu stand dengan posisi kaki yang paling sempurna.Ia menjiwai apa yang menjadi pilihannya.

Begitu juga dengan les membaca,ia mengikuti kelas di sebuah lembaga,kemudian kami berniat memindahkan di lembaga kursus serupa yang baru buka di komplek kami,ia menolak,dengan alasan dia sudah ‘match’ sama teman les di tempat sekarang,padahal tempat les yang sekarang itu lokasinya jauh.Akhirnya saya membiarkannya memilih,tapi saya ajukan syarat,dia harus ambil konsekuensi untuk bangun tidur siang lebih awal dan menjalani perjalanan selama setengah jam tanpa mengeluh capek,dan saya minta progres kemajuannya menulis (tulisannya masih besar-besar belom bagus) dan kalau ia tidak commit lebih baik pindah les di komplek saja. Dia commit atas syarat saya,dia gak lagi ngambek kalo dibangunin tidur siang pas mau berangkat les,dan dia lebih rajin melatih tulisannya agar kecil kecil dan rapih.

Disinilah saya belajar, orang tua memang sebaiknya tidak terus menerus memainkan peran sebagai diktator,alias pihak penguasa yang berhak mengatur dan selalu ingin tau semua aspek hidup anaknya teutama anak yang sudah menikah. Sedari kecil anak harus belajar untuk membuat keputusan dan secara konsekuen menerima resikonya. Ini akan melatih EQ anak,memang dari semua pilihan anak pasti ada kalanya mereka membuat pilihan yang mungkin gak menguntungkan bagi dirinya,disinilah letak anak belajr logika.Pengalaman akan membangun seseorang bukan?baik pengalaman yang menguntungkan dan merugikan.




Dari banyak contoh kehidupan yang saya temui,adanya orang tua yang bersikap diktator hanya akan membuat perpecahan apalagi setelah anak menikah,tentu orang tua gak bisa mengatur mantu seenak mengatur anak sendiri,walau bagaimana menantu bukan anak kita,tetap anak orang lain. Berbeda dengan anak kandung, mau sesakit hati apapun pada orang tuanya pasti akan mudah baik kembali,tapi kalo orang tua menyakiti menantu,akan lebih panjang urusannya,bisa-bisa pihak yang juga merasa sakit hati melebar pada keluarga si menantu. Banyak kan cerita perceraian yang diakibatkan oleh ulah mertua yang mengatur rumah tangga anaknya terlalu jauh???

Untuk itu kita selaku orang tua harus mulai terbiasa membiarkan anak membuat keputusan, mengingatkan tentu boleh tapi mengatur dan mendikte lebih lanjut,please don’t!anak bukanlah boneka yang berhak kita atur dan kita dikte seenak hati kita. Siapapun tidak ingin hidup terus menerus diatur dan tidak diberi kebebasan,semua orang ingin merdeka bukan?mengatur hidupnya sendiri, mewujudkan mimpinya sendiri, menjalani kehidupan yang sesuai kata hatinya sendiri dan hal lain yang ia tentukan sendiri secara dewasa pasti impian semua manusia normal.

Selain itu, menjadi orang tua diktator tentu akan menjadi hal yang menakutkan bagi anak maupun menantu,jangan harap anak dan menantu berani terbuka pada orang tua semacam ini,karena pasti takut jika terbuka akan ditentang atau diatur-atur,mereka akan cenderung menghindar dan mencari aman.Ujung-ujungnya anak dan menantu menjalani hubungan dengan orang tua hanya sebatas hubungan formal belaka bukan pakai hati dan kasih sayang. Lambat laun orang tua jadi sosok yang begitu menakutkan bagi anak dan menantu,jangan-jangan orang tua semacam ini pun tidak dapat mengecap hubungan harmonis dan penuh kasih dari cucu pula, untuk apa masa tua jika tidak dihabiskan dengan bahagia bersama anak dan keturunan?toh dimasa kita tua,kita akan bergantung pada anak dan menantu dan disemangati oleh kehadiran cucu cucu tercinta,jika mereka itu semua menjauhi kita dan menjaga jarak dengan kita,alangkah sedihnya masa tua kita?

Orang tua harusnya bukan menjadi sosok yang menakutkan dan menyebalkan,orang tua harusnya menjadi pihak yang mengayomi dan menjadi teman berbagi bagi anak,baik dimasa anak-anak masih kecil,remaja,dewasa dan menikah. Perlu kita semua sadari,kita memang orang tua yang lebih dulu menjalani hidup,tapi kita bukan orang yang paling benar paling hebat diatas siapapun juga,kita bukan Tuhan.

Thursday, March 25, 2010

Umur Saya ke 29..

Kemarin saya bernyanyi untuk diri saya sendiri,mengucapkan doa dan syukur atas kesempatan saya hidup.Dari tahun ketahun saya sering berfikir betapa saya beruntung dalam mengarungi idup ini..saya sejak kecil hidup di keluarga yang utuh meski bukan keluarga yang memiliki harta berlimpah,saya dididik oleh keluarga yang mengajarkan saya tentang perjuangan hidup,tentang berbagi,tentang perlunya memuliakan anak yatim,tentang kemandirian,tentang demokratisasi dan kebebeasan berpendapat , tentang kesetiaan,tentang emphaty dan tentang bakti kepada orang tua.Di kehidupan yang tidak berlebihan orang tua saya secara kongkrit tentang itu semua,yang selalu saya bangga adalah,ditengah kekurangan yang ada,orang tua saya selalu bersedia menolong orang lain,menampung dan mengurus anak yatim serta berbakti kepada orang tua. Dan kenangan itu semua terekam oleh saya sampai saat ini,bahkan ikut membentuk karakter saya seperti ini.
Lalu ketika saya mulai belajar merantau,saya hidup dengan eyang saya yang membentuk saya sebagai wanita tangguh,wanita yang harus mampu menguasai segala aspek,rumah tangga,karier,anak sampe harmonisasi rumah tangga dan pentingnya menjaga kecantikan.Sampai sekarang ajaran eyang melekat di otak saya,dan membentuk mindset saya sedemikian rupa.

Ketika saya menikah,saya mulai belajar menghargai perbedaan,saya harus mampu mengharmonisasikan perbedaan yang ada antara saya dengan suami,keluarga saya dan keluarga suami saya.Saya belajar untuk iklas terhadap banyak hal,saya belajar menerima kekurangan orang lain,saya belajar menerima keadaan dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Dan saya belajar mengenai arti sebuah kesucian, ketulusan serta perjuangan dalam mencintai dan dicintai…

Dan ketika saya menjadi seorang ibu, keadaan memaksa saya untuk menjadi manusia yang memiliki tanggungjawab lebih, tidak egosentris,dan menerapkan semua kebaikan yang diajar orang tua saya kepada saya. Dan yang pasti seiring dengan dewasanya anak saya,saya semakin ingin memberi yang terbaik,baik itu dari sisi materi maupun dari sisi pemberian contoh sikap prilaku…
Semakin umur saya bertambah saya merasa betapa Allah mengirimkan banyak hikmah tak terkira pada saya,baik pait dan bahagia yang Allah berikan pada saya,ternyata menyimpan sejuta makna dan hikmah.
Semakin hari saya menghargai segala macam hal yang ada pada diri saya,mulai dari suami,anak,orang tua dan mertua. Ditambah lagi di usia saya saat ini,saya sudah kehilangan dua orang yang saya sayangi , eyang saya dan mertua saya. Bagi saya ini adalah pelajaran berarti, saya ingin membahagiakan orang-orang yang saya cintai disaat saya dan mereka masih diperkenankan oleh Allah hidup di dunia…Saya ingin berupaya sebaik mungkin membuat mereka bangga dikala tubuh ini masih sehat untuk berprestasi,dikala pikiran ini masih sehat untuk memberikan kontribusi pemikiran tebaik. Saya ingin membuat sekeliling saya bahagia dan mensyukuri kehadiran saya di sisi mereka…
Dan doa saya kepada Allah adalah,jadikan usia saya sebagai sebuah barokah bagi orang banyak,jadikan kehadiran saya sebagai kebahagiaan bagi orang lain,jadikan diri saya manusia yang berguna bagi orang banyak,jadikan sisa umur saya bermanfaat,jadikan diri saya semakin hari semakin bijaksana,kaya akan kasih sayang,iklas,tulus dan positif thingking. Saya ingin hidup damai dan penuh syukur atas semua yang saya miliki.Dan saya ingin kehidupan saya senantiasa dalam bimbingan dan lindungan Allah…amiin amiiin…

saya dan bunga cantik kiriman Tori,trims Hon!

Dan sedikit cerita hari ini,saya dapet kejutan manis dari suami saya,karena saya dua hari lalu sempat ngambek dan mungkin karena sedang sakit ,saya mulai merajuk…saya sempat menyangsikan kasih sayang dia kepada saya,padahal…dia cukup sayang pada saya,cukup menghargai saya dan sangat menganggap saya sebagai sesuatu yang berarti .Tapi emang dasar saya perempuan yg suka merajuk,saya sempat-sempatnya menganggap dia gak begitu.Tau-tau pagi ini ada sebuket bunga mawar putih cantik di meja kerja saya dari suami saya, dengan kata kata sederhana yang tulus…”happy birthday,semoga mama semakin cantik,bijaksana dan sayang keluarga, I love you honey…”simple,khas suami saya yang gak bisa mengungkapkan perasaan lewat kata2..eheheh. But actually hari ini saya bahagia,meski apa sih sebenernya hari ulang tahun itu selain hari yang harusnya kita manfaatkan untuk mengintrospeksi diri??tapi saya seneng karena saya bertrimakasih atas semua yang ada di hidup saya,pait dan manis itu semua berarti bagi saya..trimakasih Allah…

Tuesday, February 23, 2010

Selamat jalan mama...

Hampir empat puluh hari lalu kami kehilangan mama,mama yang merupakan mertua saya, ibunda tecintanya suami saya. Duka terdalam kami atas kejadian itu, meski mama sudah sakit cukup lama tapi kepergian mama tetap mengukir duka mendalam. Maka selama itu saya gak kuasa untuk menulis tentang hal ini,tentang rasa kehilangan saya.

Mama memang mertua bagi saya,bukan ibu kandung saya,namun sejak saya menikah dengan putra bungsunya, which is my husband,bagi saya mencoba untuk terus mencintai papa dan mama mertua adalah hal yang menjadi keharusan bagi saya. Kenapa saya menyebutnya dengan istilah terus mencoba untuk mencintai?karena saya harus jujur mencintai mertua butuh proses dan latihan agar hati kita mampu menumbuhkan rasa cinta itu. Mertua tetep lah mertua kita, untuk mencintai mereka tentunya bukan hal yang otomatis terbentuk sejak kita menikah dengan anaknya,ini manusiawi..tentu mencintai mertua tidak akan sama besarnya dengan mencintai orang tua sendiri. Tapi apakah kita harus terus mentok disitu?kan enggak..berupaya menumbuhkan benih benih kasih sayang itu perlu, guna menyetarakan kasih sayang yang kita berikan ke orang tua kita. Jangan sampai jomplang atau gak adil,jangan sampai kita jauh lebih sayang orang tua kita sendiri dan tidak memperdulikan mertua, itu salah buat saya….Sejak akad nikah saya dan suami saya,bagi saya mertua adalah orang tua saya, tanggungjawab saya dan ladang amal saya untuk berbakti. Maka saya berupaya semaksimal mungkin menyemai rasa cinta kepada mereka agar bakti saya pada mereka menjadi tulus adanya setulus rasa cinta dan sayang kepada orang tua saya sendiri.

Mudahkan itu semua?apakah itu semua hanya wacana?

Jawabnya memang harus saya akui, sulit…butuh keiklasan dan posistif thingking. Pada hakekatnya manusia kan gak ada yang sama,begitu juga antara saya dan mertua,saya jelas dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan cara mertua saya membesarkan anak-anaknya,pola pikir kami gak bisa disamakan. Disinilah letak menghargai perbedaan. Emang gak mudah…kadang kita merasa pilihan hidup kita adalah yang paling benar,begitu juga mertua kita..sebagai orang tua mereka tentu merasa way of life mereka yang paling bener untuk dicontoh…but…haruskah kita bersiteru hanya karena perbedaan pandangan hidup?

Menghadapi hal kayak gitu hanya dengan satu cara, lempeng plus positif thingking. Buat saya tujuan saya satu, saya mau bahagiakan mertua saya seperti saya membahagiankan orang tua saya, saya ingin menyayangi mereka dengan tulus,sehingga apapun yang saya berikan tidak diakhiri dengan dumelan atau itung itungan…Saya ingin surga Allah dan saya ingin memberi pelajaran dan contoh baik bagi putri saya…
Begitu banyak aral melintang mewujudkan itu semua, tentunya banyak kerikil kerikil kecil yang mempertajam perbedaan, dan bahkan karena perbedaan perbedaan itu banyak pihak luar yang berupaya memecah belah hubungan saya dan mertua saya. Tapi Allah maha adil, Allah tau saya dan mertua saya memiliki tujuan yang sama,kami ingin mencoba saling menyayangi,kami ingin langgeng, ingin hidup saling rukun dan mensyukuri ikatan pernikahan yang menakdirkan kami bertemu dalam ikatan mantu dan mertua…dan akhirnya secara alamiah,kami seperti saling mampu menerima kekurangan demi kekurangan yang ada.
Mertua saya pada akhirnya menerima saya si menantu yang super sibuk,yang independence gak bisa dicampuri urusannya,yang kalo bersikap sangat saklek, yang gak suka banyak basa basi,yang kelewat efisien sama waktu dan segala rupa kekurangan saya lainnya. Papa dan mama mertua saya menyayangi saya lengkap dengan segala kekurangan saya. Begitu pula saya dengan mereka,dengan segala perbedaan gaya hidup saya, saya pada akhirnya begitu posesif terhadap mereka,saya terobsesi memanjakan mereka, dan saya harus jujur secara alami memasukkan mereka sebagai unsur penting dalam hidup saya sejajar dengan orang tua saya.

Buat saya melihat mereka bahagia adalah tujuan hidup saya,kerja keras yang saya dan suami lakukan tidak terlepas untuk menjamin kesejahteraan hidup mereka,buat saya keberadaan mereka adalah sebuah motor bagi saya untuk berhasil di karier. Dengan kondisi dimana suami saya adalah tulang punggung bagi keluarganya,saya justru mensyukuri hal itu,buat saya hal itu memberikan saya ‘pintu’ untuk surga Allah, sebuah jalan bagi kami untuk berbagi kasih dan berbagi rezeki. Dan sungguh kalo boleh saya share, betapa Allah tidak tanggung tanggung memberikan kita berkah ketika kita sebagai anak memiliki niat tulus untuk membahagiakan orang tua. Ini kejadian riil yang saya alami,semakin kami memberi yang terbaik bagi orang tua maupun mertua, Allah semakin memberikan berkahnya dengan membalas apa yang kita telah berikan dengan berlipat ganda.

Sejak mama mertua saya sakit keras dan harus dirawat di RS (Saint Carolus Jakarta Pusat),saya dan suami selalu optimis pasti kami mampu membayar berapapun biaya yang akan keluar meskipun pada kenyataanyanya tabungan liquid kami terbatas,saat itu saya tidak peduli jika biaya itu selangit dan harus mengorbankan harta pribadi milik saya yang saya cari dengan keringat sendiri semenjak saya masih gadis,karena saat itu bagi saya yang paling penting adalah kesembuhan mama mertua saya.Ibaratnya berapapun biayanya saya akan kejar,mo ngutang mo gadai barang juga saya gak mikir panjang. Tapi entah gimana, Allah senantiasa memberikan rezeki yang gak disangka-sangka saat itu. Dan bagi saya mungkin itulah jawaban atas doa-doa anak yang dengan tulus mencintai orang tuanya. Begitupula saat mama terakhir kali dirawat di RS dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir, saya dan suami seperti dimudahkan oleh Allah untuk memperoleh rezeki guna memperlancar semua urusan dari mulai biaya RS sampai penguburan.

Kalo ingat ini saya suka merinding sendiri,kadang gak habis pikir bagaimana mungkin kami mampu menanggung biaya pengobatan itu sejak awal mama mertua saya sakit sampai dengan prosesi penguburan yang jika ditotal total sungguh memakan biaya gak sedikit. Disitulah saya percaya kuasa Allah. Allah gak akan pernah menutup pintu rezekinya bagi kita yang niat tulus berbakti pada orang tua. Jadi ini adalah pelajaran bagi anda semua yang kebetulan baca blog saya,jika anda memiliki kemampuan dana maupun kemampuan berupaya,jangan pernah anda itung-itungan atau kikir untuk kepentingan orang lain terutama untuk orang tua/ mertua,karena anda tidak akan pernah kekurangan karenanya.Justru Allah akan melipatgandakan rezeki anda.

Dan jika saya ingat bahwa saat mama sakit saya gak punya pembantu,namun saya tetap konsisten berbagi tugas untuk tetap mengurus mama di RS sampai anak saya Lulla pernah ikut nginap di RS untuk nungguin eyangnya,sementara saya pun harus tetap sibuk dengan pekerjaan saya di kantor. Namun aneh sekali,saya dan keluarga kecil saya ini tetap diberi kesehatan oleh Allah sehingga kami mampu secara maksimal berbagi tugas untuk mengurus mama disaat-saat terakhirnya.Kembali lagi saya katakan,inilah rejeki dari Allah,sepanjang kita iklas dan tulus,Allah akan beri kita kekuatan baik materi maupun kesehatan.

Melihat perkembangan kesehatan mama,saya tadinya optimis luar biasa bahwa mama akan bisa pulang meski mama hanya tergolek lemah di tempat tidur (krn strouke sdh menyerang dimana-mana), saya bahkan sampai merancang scenario kepulangan mama ke rumah depok,saya insyallah siap jika harus diamanatkan untuk mengurus mama dikondisi seperti itu . Namun Allah punya kehendak lain, tanggal 26 januari 2010 lalu,bagai geledek di siang bolong,saya dapat kabar kondisi kesehatan mama menurun drastic,dokter hands up. Kami akhirnya semua kumpul,mama masih sadar seratus persen.kami semua bermaaf maafan, sungguh ini kejadian paling memilukan sepanajng hidup saya. Ingin saya menciumi mama dan memintanya tetap tinggal,tapi mama secara tidak langsung mengungkapkan inilah end of her life,mama harus berpulang pada Sang pencipta. Ketika saya mencium keningnya membisikkan kata maaf padanya,ia masih mengucapkan dengan lancar “maafin mama ya,mama selalu merepotkan kamu..”. Kenangan itu begitu memilukan bagi saya…,inilah kali pertama saya untuk mengucapkan kata pisah dengan orang yang saya sayangi untuk menghadap sang Pencipta..

Masih berkelebat di benak saya bagaimana saat saat akhir itu,dimana kami semua mencoba membimbing mama melalui sakratul mautnya yang ia lalui dengan penuh kesadaran dan senantiasa melafazkan istigfar dan nama Allah…Dan pada akhirnya pukul 22.45 pada tanggal yang sama (26 januari 2010) mama menghembuskan nafas terakhirnya dalam suasana yang begitu damai dengan ucapan terakhir berupa bisikan lirih “la ilaahailllah..”.

Ya Allah…, menceritakan ini saja saya masih berlinangan air mata, saya sedih dan bahagia,sedih karena harus berpisah dengan mama mertua saya yang saya sayangi dan saya bahagia akan kepergian mama yang begitu damai,yang insyallah sangat Khusnul Khatimah.Saya pun tak lupa bersyukur telah diberi kesempatan dan waktu untuk memberikan yang tebaik dan menunjukkan rasa kasih yang mendalam kepada almarhumah semasa hidup baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Masih terlintas di benak saya ketika saat akhir saya mengucapakan “mama ..mama..i love you mam…”,jika kata itu yang selalu terucap dihati dan perbuatan saya,saya pun bahagia telah menyampaikan rasa kecintaan saya padanya secara lisan dan diikuti dengan anggukan sebagai balasan rasa cinta saya…

Sulit bagi saya untuk menggambarkan betapa ada empty space di hati saya saat saya sadar mama mertua saya sudah gak ada, ada rasa rindu yang mendalam,ada rasa ingin bertemu dan kembali menghabiskan masa bahagia saat bersama dulu..dan sejuta perasaan kehilangan yang alami…, mengenangnya kembali kadang memancing air mata,bahkan beberapa hari lalu sepulang saya dari perjalanan dinas ke Kalimantan,saya terisak sedih merindukannya,mengingat ketika saya shopping belanja aksesori bebatuan,saya otomatis membeli aksesori bebatuan warna hijau,warna favorit mama dan saat itu ingatan saya adalah membelikan untuknya,saya masih sering lupa kalau beliau udah gak ada…

Ini yang disebut dengan sayang, alam bawah sadar saya menyatakan saya menyayanginya sampai ke dasar hati saya.Saya masih secara reflek memikirkannya layaknya orang yang benar-benar penting bagi hidup saya…namun sebesar apapun saya menyayangi beliau, saya harus menerima kenyataan,ia saat ini jauh lebih bahagia dalam peristirahatan yang damai, Selamat jalan mama…


(mengenang mama Rabiah Abdullah alm, 13 July 1938 – 26 januari 2010)

Thursday, January 7, 2010

Jika Kamu Ber-IQ rendah…

Orang terlahir ke dunia membawa bakat kecerdasan IQ masing-masing, ada yang terlahir memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, rata-rata saja atau dibawah rata-rata, bahkan idiot sekalipun ada. Itu adalah given seperti layaknya paras yang cantik atau jelek. Gak ada yang mampu menafikkan itu semua.

Tapi buat saya, bukan berarti kiamat dan gak ada masa depan bagi mereka-mereka yang terlahir kurang, dalam hal ini saya bicara soal IQ. Well…, saya bukanseorang praktisi psikologis yang mampu meninjau lebih lanjut tentang teori kecerdasan IQ ini, saya hanya praktisi HR yang ngurusin karyawan day by day, saya jadi menelaah prilaku orang dan kadang tanpa sengaja melirik ke latar belakang kecerdasan IQ seseorang ketika melihat pola pikir dan pola tingkah lakunya yang kadang gak masuk akal bagi saya.

Saya awalanya kekeuh berpendapat bahwa IQ bukan segalanya, saya punya pemikiran bahwa IQ gak berpengaruh di dunia kerja. Tapi pemikiran saya itu agaknya harus saya ralat sedikit.Ini terjadi karena apa yang saya alami dan apa yang saya temui di tempat kerja saya, dan amatan saya bertahun-tahun membuahkan pikiran bahwa IQ itu relative penting di dunia kantoran.Meskipun untuk menjadi sukses di kantor orang gak harus ber IQ super, rata-rata pun sudah cukup mampu memikul beban kerja yang diberikan menurut saya…

Contohnya gini, saya pertama kali bekerja di tempat kerja saya, saya ditugaskan untuk membenahi kantor dengan formasi karyawan yang sudah cukup padat, artinya jaman dulu kala sejak perusahaan berdiri, perusahaan banyak merecruit orang tanpa pikir-pikir apakah perusahaan benar-benar butuh orang kayak gini atau tidak, gak heran banyak orang dulunya masuk perusahaan ini karena unsur titipan si ini dan si itu…karena sifatnya yang titipan itu sehingga management tidak melihat lagi kualitas orang tersebut,bisa kerja atau tidak,punya pengalaman atau tidak, intinya masa lalu membuat management terbebani sama orang-orang yang sama sekali gak kompeten. Dulu saat perusahaan masih kecil tentu keberadaan manusia2 gak kompeten ini tidak terlihat mengganggu,tapi lihatlah ketika perusahaan growing up, orang-orang ini justru menjadi penghalang kemajuan, bukan karena gak bisa ditertibkan,tapi justru karena mereka gak siap menghadapi perubahan untuk maju, sehingga mereka seolah seperti keong ditengah orang-orang yang melompat seperti kelinci menghadapi perubahan.

Saya mencoba mengidentifikasi manusia-manusia keong ini, saya mencoba menganalisa perilaku mereka, dan pihak management pun akhirnya melakukan test psikologi serentak untuk melihat kesiapan orang-orang untuk tumbuh pesat bersama perusahaan. Dan hasilnya,manusia-manusia yang saya identifikasi sebagai manusia keong itu ternyata benar adanya merekalah karyawan-karyawan dengan IQ rendah dibawah rata-rata.

Lama saya berfikir,apa karena IQ yang rendah membuat orang-orang ini sulit diajak berkembang?

Dan dengan waktu yang berjalan, maka saya dapat jawaban, bahwa benar adanya bahwa ada hubungannya antara IQ dan kemampuan orang berfikir taktis dan cekatan dalam bekerja. Orang dengan IQ dibawah normal harus diberi pekerjaan yang benar-benar jelas instruksinya,jangan berharap mereka mampu mengambil inisiatif maupun membuat terobosan. Meskipun untuk pekerjaan yang sudah diarahkan dengan detail, orang semacam ini perlu mendapat pengawasan ekstra ketat,karena jika tidak, apapun pekerjaan yang diberikan meskipun jelas directionnya,jika tidak terus menerus diawasi, lambat laun tidak akan dikerjakan oleh orang-orang ini,karena mereka cenderung gak memiliki keinginan untuk berjalan sendiri secara otomatis. Jujur saja orang seperti ini akan bikin capek atasannya…Sehingga para atasan yang memiliki staff atau bawahan seperti ini harus ekstra sabar dan terpaksa harus lebih pay attention dengan pekerjaan orang-orang ini. It will be takes time, karena si bawahan jadi tidak bisa dilepas sendiri,entah sampai kapan…



Tapi….bagi orang-orang dengan IQ kurang bukan berarti harus menenggelamkan diri dengan rendah diri dan tidak semangat, saya selalu yakin, bahwa orang yang terlahir dengan kondisi sekurang apapun pasti memiliki jalan keluar untuk mengantisipasi kekurangan yang dimiliki. Begitu pula dengan orang yang terlahir dengan IQ kurang pasti memiliki solusi untuk maju, saya mencoba mencari kunci untuk sukses di dunia kantoran bagi orang-orang semacam ini yaitu memiliki semangat yang besar untuk berusaha,memiliki kedisiplinan diri yang tinggi dan keinginan untuk menerima kritik.

Pertama adalah Semangat yang besar untuk berusaha, orang dengan kapasitas ini harus mampu melihat kedalam dirinya, bahwa ia terlahir dengan kapasitas yang kurang,sehingga effort yang dibutuhkan untuk sama seperti orang itu jauh lebih keras,maka harus jauh lebih semangat belajar mengejar ketinggalan. Logikanya gini,kalo orang terlahir sudah cerdas, mereka cukup mengamati sesuatu tanpa perlu mempelajari lebih dalam,mereka akan sudah bisa mengerjakan penugasan dengan sempurna, nah itu berbanding terbalik dengan orang ber IQ kurang, mereka harus mampu 1000 x lipat berupaya untuk mencerna sesuatu hingga ia bisa mengerjakan sebuah penugasan dengan sempurna.

Kedua adalah kedisiplinan diri yang tinggi, orang dengan IQ rendah kembali lagi harus punya kedisiplinan untuk terus menerus mengasah diri, ia harus membiasakan diri untuk terus disiplin dalam artian focus menjalani proses belajar maupun melaksanakan penugasan. Logikanya gini,jika orang yang memiliki IQ cerdas dapat dengan cepat mengejakan penugasan karena mereka memiliki daya pikir yang taktis sehingga memiliki cara kerja cepat tersendiri,maka orang dengan kapasitas IQ kurang harus senantiasa focus dan disiplin menjaga konsentrasi kerja mereka sehingga mampu memanfaatkan waktu kerja sebaik-baiknya, mereka juga dituntut untuk senantiasa disiplin dalam pengelolaan waktu yang dimiliki sehingga mampu mencapai target kerja dan target belajar tanpa mengganggu jalannya team.Coba bayangkan jika anda dengan IQ rendah yang sudah bisa dipastikan gak mudah untuk bekerja dengan taktis sementara harus banyak membagi waktu anda untuk misalnya,minat social yang tidak penting,pasti pekerjaan anda gak akan selesai tepat waktu,dan efeknya anda malah menjadi beban bagi team anda karena anda akan berada paling belakang menuju garis finis.

Ketiga Keinginan menerima kritik, kenapa saya bilang demikian?karena terlahir dengan IQ kurang,kadang mempengaruhi cara berfikir,kadang ia berfikir sesuatu dan merasa apa yang ia pikirkan itu sudah benar tapi pada kenyataannya tidak terfikir olehnya jika itu merugikan orang lain atau berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Orang semacam ini kadang tidak memiliki kemampuan menganalisa dampak-dampak jauh didepan atas tindakannya,maka kuncinya adalah harus mau dikritik, harus terima jika diarahkan yang benar, orang semacam ini gak boleh egosentris dan merasa benar sendiri,ia harus melihat ke dalam dirinya dan menyadari kekurangannya. Dan mencoba menerima kritik sebagai rambu-rambunya bertindak dan berpendapat dilain kesempatan.

Selain ketiga hal diatas yang perlu ditingkatkan, ada 2 hal yang harus dihindari yaitu :

  1. Positif Thingking, orang dengan IQ yang kurang harus senantiasa menjaga sikap positif thingking karena sekali saja anda terpengaruh dengan pemikiran negative, pikiran anda akan terhanyut terus kesana, padahal kapasitas berfikir anda tidak besar jadi anda seperti membuang-buang energy dengan berfikir negative sementara begitu banyak hal yang harus anda kejar dan itu membutuhkan seluruh kemampuan berfikir anda.
  2. Menjaga Minat Sosial Secukupnya, Hal penting lainnya adalah mereka yang memiliki kapasitas IQ seperti ini harus menjaga minat social yang dimiliki, artinya gini…dengan diri anda yang tidak pandai menganalisa dampak perkataan atau pendapat anda terhadap orang lain,saya sarankan untuk lebih menjaga lisan, jangan berani-berani menyebarkan informasi atau sesuatu yang menurut anda masih di pikiran anda tanpa anda tau kebenarannya, dan jangan terlalu menenggelamkan waktu dan pemikiran anda untuk sesuatu yang sifatnya pergaulan social terutama di kantor,karena anda jauh lebih dibutuhkan untuk konsentrasi bekerja dan konsentrasi mengelola diri anda menghadapi target kerja,jangan sekali-kali mengorbankan target kerja dengan minat social anda, karena sudah dapat dipastikan anda gak memiliki kemampuan membagi bagi pikiran.Dan karena daya analisa orang semacam ini lemah,kadang membuat orang seperti ini kurang pandai memperlakukan orang lain dengan bijaksana,sehingga kehadirannya kadang malah dianggap mengganggu apalagi kalo orang tersebut keinginannya besar untuk berkomentar dan ingin diperhatikan.Bukankah kita harus sama-sama ingat bahwa tong kosong nyaring bunyinya,kan malu udah salah berkoar-koar pula…eheheh

Intinya, orang semacam ini harus memiliki effort keras untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya. Mengingat daya analisis yang kurang,kemampuan bekerja taktis yang lemah, kemampuan mencerna sesuatu yang baru juga lemah dan kemampuan menemukan suatu terobosan kerja yang sulit. Jika anda terlahir dengan given seperti ini,saya sarankan untuk lebih banyak mengkoreksi diri,dan mulailah 3 tips yang saya katakan diatas dan hindari 2 aspek yang say asebut diatas agar anda tidak makin terpuruk.

Suatu proses memperbaiki diri dan mengakselerasi diri memang berat tapi saya yakin ada hasilnya. Kuncinya ada pada anda,mau meratapi takdir seumur hidup atau seumur hidup berupaya keras untuk merubah takdir itu menjadi sebuah kesuksesan??